AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
77. Not good


__ADS_3

[Author's POV]


Lima belas menit telah berlalu. Mereka sudah berada di posisi yang sudah ditentukan, berlatih dengan pembimbing mereka masing-masing.


Kelima mutan itu berlatih dengan konsentrasi penuh, dan fokus tanpa teralihkan sekali pun. Namun, kecuali Axelia.


Perempuan itu membagi konsentrasinya pada dua hal. Yang satu untuk sungguh-sungguh mendengarkan arahan Kevin, yang satu lagi untuk memperhatikan keempat temannya dengan jeli. Axelia pun tak tahu sejak kapan ia bisa *multitasking *pada dua hal berbeda yang sama-sama membutuhkan fokus penuh itu. Tapi untungnya, ia bisa melakukannya.


"Sebenarnya kau ini seperti pemeran utama di film horror, Lia." ujar Kevin sambil tersenyum miring. Meledek.


Axelia menghela napasnya. "Yaaa.... tak bisa kubantah juga sih.. memang kenyataannya aku seperti itu." Axelia menoleh pada sekelilingnya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Kevin, pembimbingnya. "Tapi aku heran, di sini mengapa tak ada hantunya ya?"


Kevin menaikkan kedua alisnya, "Eh serius?" ia menoleh ke kanan-kirinya dengan raut wajah kaget. "Mungkin belum ada yang meninggal di sini?" Kevin mengendikkan bahunya, "Entahlah. Ayo fokus lagi!"


Axelia menghela napas pelan,* 'Memangnya tak boleh berbincang lebih lama ya...?'* ujarnya dalam hati.


"Oke.. oke.."


"Coba lagi, keluarkan rohmu dari tubuhmu. Kali ini lebih fokus!" ujar Kevin dengan raut wajah serius.


Ini adalah percobaan yang kedua. Di pelajaran yang pertama ini, Axelia sudah disuruh mengeluarkan rohnya dari tubuhnya sendiri. Ini sudah hal yang paling dasar untuk kekuatannya, kata Kevin.


"Letakkan kedua tanganmu tepat pada tulang selangkamu."


Axelia meletakkan kedua tangannya pada tulang selangkanya.


"Lalu beri dorongan pada tulang selangkamu, hampir seperti sedang melakukan *CPR *pada dirimu sendiri."


"Kemudian berusahalah semaksimal mungkin, kalau perlu, pejamkan matamu agar dapat menembus alam bawah sadarmu." lanjut Kevin menginstruksi.


Axelia melakukan apa yang dikatakan pembimbingnya itu, ia menekan-nekan bagian tulang selangkanya dengan kedua tangannya. Namun ia tak bisa memejamkan kedua matanya, karena ia masih harus mengawasi keempat temannya.


Axelia memberi tekanan yang lebih besar lagi, berharap sesuatu terjadi.


Ia dapat merasakan detak jantungnya.


Hingga tekanan ketiga, ia menekan area di bagian tulang selangkanya cukup kencang. Sampai tiba-tiba, kedua matanya berkedip empat kali dengan cepat. Bukan Axelia yang menghendaki itu.


Kemudian matanya terpejam rapat-rapat, Axelia merasakan tubuhnya tertarik ke belakang dengan kencang.


"A-AAAAHH!!" gadis itu berteriak panik.


Sepersekian detik kemudian ia menyernyit, tak ada yang menganggapi teriakannya.


Kevin... pria itu masih saja fokus memperhatikan-


"E-EEHHH??! KOK BISA BEGITU?!!" teriaknya kaget bukan main. Axelia melihat tubuhnya sendiri.


Masih berdiri tegap tanpa terjatuh, matanya terpejam rapat, seolah sedang berusaha berkonsentrasi.


Axelia membulatkan matanya panik, ia melihat kedua tangannya. "T-transparan..." kemudian beralih pada kakinya. Gadis itu menutup mulutnya kaget. Kedua kakinya juga tampak transparan.


Ia masih terpelanga, tak mampu berkata-kata. Tapi ia memutuskan untuk berjalan maju... menghampiri Kevin. "Bahkan lantai ini tak ada rasanya.. aku seperti berjalan di atas angin." gumamnya, kemudian berdiri di hadapan Kevin, lalu mengibaskan tangannya di depan wajah pria itu.


Tak ada respon. Kevin bahkan tak berkedip sama sekali."


Axelia berdecak kesal. "Sial... biasanya aku yang melihat hantu, sekarang aku yang jadi hantunya."


Ia mengulurkan tangan kanannya, berusaha menepuk pundak Kevin, namun nihil. Tangannya menembus tubuh pria itu.


Setelah berkali-kali mencoba meraih pundak Kevin, Axelia menghentikan pergerakannya. "Jangan deh... nanti kalau tak sengaja aku merasuki dia gimana.."


Axelia kembali memperhatikan sekujur rohnya. Masih lengkap dengan pakaian yang sedang tubuhnya pakai, tak ada luka apapun seperti yang di film horror tampilkan. Semuanya baik-baik saja, kok!


"Berarti aku berhasil menguasai hal dasar dari kekuatanku!" Axelia itu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. Namun tak sampai lima detik, senyumannya memudar.

__ADS_1


Ia menyadari sesuatu..


Axelia mematung, sadar dirinya dalam masalah besar sekarang.  "Tapi... gimana caranya masuk ke tubuhku lagi?"


○○○


Sementara itu, keempat mutan yang lain masih berlatih dengan konsentrasi penuh.


Jack sudah membuat dua belati berukuran sedang yang terbuat dari es. Satu pedang yang besar, dan satu pistol. Semuanya itu terbuat dari es. Berwarna biru muda, mengkilap dan tajam (untuk pedang dan belatinya), dan tak mencair.


Ia membuat semua itu dalam lima belas menit, berbekal instruksi dari pembimbingnya yang hanya mengatakan satu kalimat saja. "Bayangkan barang-barang yang ingin kau ciptakan dengan imajinasimu, kemudian barang itu akan terbentuk di tanganmu."


Satu instruksi, langsung jadilah lima senjata di tangan lelaki itu.


"Bagaimana kau menggunakan itu?" Arthur, pembimbing Jack itu menautkan alisnya sambil menunjuk pistol es yang sedang Jack pegang.


Bahkan pembimbingnya saja terheran-heran dengan kemampuan Jack yang sangat terasah. Seolah sudah terbiasa dengan kekuatan super.


"Aku membayangkan struktur dalamnya juga, jadi ini bisa digunakan sungguhan." ujar Jack sambil memperhatikan pistol es yang ia genggam.


Arthur menyernyit, "Kau tahu struktur bagian dalam pistol?" tanya pria itu tak percaya.


Jack mengangguk singkat, membuat Arthur semakin menyernyit kebingungan.


'Bukankah dia masih 21 tahun? Pernah merakit pistol kah?' Arthur bertanya-tanya dalam hati.


Bukan suatu hal yang biasa untuk seorang lelaki muda yang sudah mempunyai wawasan se-detail itu tentang senjata. Arthur menebak-nebak dalam hati, apakah Jack dulunya adalah semacam pembunuh bayaran?


Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menyudahi asumsi berlebihannya itu.


"Ya sudah, mau buat lagi? Lumayan kalau dikoleksi nanti." tanya Arthur. Agak merasa kalau... sepertinya Jack tak membutuhkannya lagi, bahkan lelaki ini lebih unggul dari pada Arthur sendiri.


Namun Jack terdiam sejenak. Kalau diperhatikan, sepasang mata hitam pekatnya dari tadi tak henti-hentinya melirik ke arah Hera, lalu ke arah Axelia di tengah sana. Begitu terus bergantian.


Arthur yang menyadari itu akhirnya membuka suara. "Kau kenapa memperhatikan mereka terus-terusan?" tanyanya bingung. Tambah bingung lagi ketika melihat raut wajah Jack yang tampaknya sangat serius memperhatikan kedua gadis itu bergantian.


Sebenarnya yang ia takutkan adalah, karena ia tak bisa selalu mengawasi Hera dengan kedua matanya, maka seharusnya Axelia yang menjaga Hera dari jauh. Karena menurut yang ia lihat, di sini mereka bertiga sudah pandai mengendalikan kekuatan masing-masing (apalagi Alex, yang dari tadi sudah membuat berbagai macam hewan dari api, tapi untungnya ia dapat mengendalikannya agar tak membakar ruangan ini).


Maka dari itu, tugasnya tinggal mengawasi Hera saja. Namun Axelia malah tertidur sambil berdiri di tengah sana.


Mengandalkan Alice tidak mungkin. Selain sifatnya yang apatis, posisinya juga jauh. Diagonal dengan posisi Hera.


Arthur menghela napasnya. "Ya sudah lah, kalian tak akan kenapa-napa. Kan sudah ada pembimbing masing-masing."


*'Oh, satu lagi orang apatis di sini.' *ujar Jack dalam hati.


Jack mengangguk, hanya agar topik ini cepat berganti, tapi sebenarnya ia masih mengawasi Hera dari jauh.


 Sia-sia, Arthur tak mengerti. Walau pria itu lebih tua tujuh tahun darinya, tetapi pengalaman mereka berdua berbeda.


Jiwa pemimpin selalu melekat pada diri Jack, karena nasibnya memang... sejak dulu ditunjuk menjadi pemimpin dari sekelompok mutan dengan misi berbahaya. Kalau sudah jadi pemimpin, mana bisa apatis?


Mungkin dari luar, orang-orang selalu menganggapnya dingin dan acuh tak acuh. Tapi sebenarnya, dia lah yang paling memperhatikan detail sekecil apa pun yang berada di sekitarnya.


Arthur menjentikkan jarinya di depan wajah Jack. "Kalau begitu ayo, jangan melamun!"


○○○


"Ini membosankan. Maaf-maaf saja." Alice melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa maksudmu?" Helen, pembimbing Alice, menyernyit bingung.


"Maksudku.. lihatlah! Aku tak punya orang sebagai eksperimen untuk kuubah tatanan gravitasinya." Alice menghembuskan napasnya. "Aku hanya bisa terbang di sekitar sini.." ia menoleh ke sekelilingnya, "tempat ini bahkan tak cukup luas untukku berkelana."


Helen memutar matanya malas. Sudah sepuluh menit gadis di hadapannya itu menggerutu. "Ke hutan sana kalau mau berkelana." ujarnya lelah.

__ADS_1


"Tak mungkin." Alice lagi-lagi menghela napasnya.


Helen menyernyit, "Tak mungkin apa?"


"Tak mungkin boleh. Aku kan aset berharga ketua professor itu. Kalau aku hilang nanti kalian juga yang repot." ujar Alice enteng dengan senyuman miring.


Gadis ini masih berumur 17 tahun. Tapi ia sudah menjadi orang penting di Mars. Di usia mudanya, Alice sudah menjadi orang terberharga sekaligus ter-menyebalkan yang sangat dibutuhkan oleh Mars.


Alice Lourdes. Dari kesan pertamanya, orang-orang pasti sudah tahu kalau dia adalah gadis yang pintar (walau sebenarnya lebih dari itu), tapi di kehidupan perkuliahannya, ia selalu mengasingkan diri, seolah sengaja supaya tak disadari keberadaannya. Sebenarnya usahanya itu gagal, karena.... tolonglah, gadis secantik dia mana bisa di sembunyikan?


Namun itulah kemauannya, karena menurutnya, dirinya sendiri sudah cukup dan mampu memajukan kehidupan orang-orang di masa ini, berkat kepintarannya.


Gadis ini nyaris sempurna, yang membuatnya tak sempurna adalah pola pikirnya yang seperti itu. Faktanya, kepintarannya memang bisa berdampak sangat besar untuk kemajuan kehidupan, tapi ia tak bisa sendirian untuk memperoleh kepercayaan orang-orang. Apalagi dengan cara bicaranya yang masih congkak dan ketus.


"Baiklah, coba yang satu ini." ujar Helen. Tiba-tiba ia mempunyai ide untuk memberi Alice tantangan.


"Apa?"


"Kau masih ingat percepatan gravitasi bumi kan?"


Alice memutar matanya. "Ya pasti lah."


"Sekarang beri jarak di antara kedua kakimu."


Alice menyernyit bingung, tapi ia tetap mengikuti anjuran Helen. Ia berdiri degan kedua kakinya berjarak sekitar 60 cm.


"Sekarang coba kau ubah tatanan gravitasi di pijakan kaki kirimu, menjadi gravitasi planet Neptunus. Sedangkan pijakan di kaki kananmu tetap gravitasi Mars." ujar Helen.


Alice terbelalak, "Untuk apa begitu?! Kau tahu kan tubuh manusia tak bisa seenaknya disuruh beradaptasi dengan gravitasi yang berbeda dalam waktu singkat?!"


Helen terkekeh. "Kau kan bukan manusia lagi."


Sungguh, niat Helen sebenarnya hanya karena penasaran, bagaimana jadinya jika kedua pijakan kaki memiliki gravitasi yang berbeda. Dan karena ia masih manusia, tubuhnya tak bisa menyanggupi itu.


"Gravitasi Neptunus dan gravitasi Mars berbeda jauh, berat sebelah!" ujar Alice, masih bersikeras.


"Coba saja dulu, kuyakin kau tak akan kenapa-napa." Helen mencoba meyakinkan gadis itu.


Alice menghembuskan napasnya kasar, "Malah aku yang dijadikan eksperimen.." gerutunya. Meski begitu, ia tetap akan melakukannya, karena sebenarnya ia juga penasaran.


Semoga saja, tubuh mutannya bisa menyanggupi perubahan gravitasi yang akan berat sebelah itu.


"Ayoo! Satu.. dua.. sudah siap belum?" ujar Helen memastikan. Jantungnya berdegup kencang, ia tak sabar melihat apa yang akan terjadi nanti.


Alice mengangguk pelan. Ia sudah siap di posisinya, ia mengulurkan tangannya di atas lantai tempat kedua kakinya berpijak, siap mengubah tatanan gravitasinya. Tentu saja tak akan sampai ke inti Mars, paling jauh akan sampai ke lapisan mantel silikat planet Mars. Jadi tak akan berbahaya untuk sekitarnya.


"Satu.. dua.. tig-"


"ARRGHHH!!!"


Sebuah erangan keras terdengar dari ujung sana, membuat semua orang di ruangan itu menoleh.


Terlihatlah Hera, dengan kedua tangannya diselimuti oleh percikan-percikan kilat yang menyambar sampai ke lantai tempat kakinya berpijak. Kemudian tampak pembimbingnya sudah tergeletak lemas di lantai, sejauh empat meter darinya.


Jack berlari menghampiri gadis itu tanpa ragu, ia sempat menoleh ke arah Axelia, seolah meminta bantuan darinya.


Namun lelaki itu tetap menghampiri Hera terlebih dahulu, meninggalkan Arthur yang meneriaki namanya supaya jangan mendekat, namun tetap tak ditanggapi.


Saat Jack sudah berhadapan dengan Hera, tanpa menunggu lama lagi, ia langsung menelungkupkan kedua tangan Hera dengan tangannya.


Semua orang yang menyaksikan itu pun terpelanga. Tak terkecuali Alice.


Kedua tangan Hera adalah sumber dari kekuatan berbahayanya itu, tapi Jack malah menelungkupkan tangannya tanpa ragu.


"Maaf, hanya sebentar saja..." ujar lelaki itu, kemudian melepas kedua tangan Hera...

__ADS_1


... yang sudah menjadi es.


__ADS_2