AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
28. Alexa Already Knows?


__ADS_3

[Claire’s POV]


Aku sudah membaringkan tubuhku di atas kasur empuk ini. Sekarang sudah pukul 2 pagi, aku dan Val baru saja sampai di kamar asrama. Setelah perjalanan bolak-balik dari AOM ke IHS, yang tentunya diantar oleh Zav dengan teleportasinya saat kami pulang tadi.


Kim juga sudah dipulangkan ke kamar asramanya. Ruby bilang mereka sekamar, hmm... tapi bagaimana reaksi roommate yang satu lagi saat melihat Kim pingsan, ya?


Ah, iya. Ada Val. Pantas saja dia tadi sempat masuk ke kamar Kim sebentar.


Val sudah terlelap sekarang, tubuhnya terbungkus dengan selimut yang tebal. Wajar, sudah mulai musim dingin, hawa beku ini membuatku menggigil setiap saat.


Aku letih, tubuhku sudah meminta diistirahatkan, mataku juga sudah pedas rasanya. Tapi... tak bisa.


Perkataan Kim tadi membuatku tidak bisa tidur, berargumen dengan benakku sendiri.


Maksudku, bagaimana bisa keadaannya yang sudah pingsan, tapi bisa memanggil namaku, lalu dalam sekejap ia membuka matanya, dengan mata barunya itu, lalu menyeringai padaku?


Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?


Apa maksud seringaiannya?


Kok aku jadi takut begini, sih...


Apa sih maksudnyaa? Aduuh!!


Ah, aku jadi pusing...


Harusnya disaat seperti ini pembimbingku ada di sini...


Huft, Kak Brian...


... kau kemana sih?


***


"Claire, bangun..."


"Kleir.."


Aishh... aku masih mengantuk...


"Lima menit lagi...” gumamku.


"Lima menit lagi kita sudah telat, Claire." Ujar Val sepertinya...


Perlahan, aku terpaksa membuka mataku. Aku melihat Val y ang sudah siap dengan tasnya, ia sedang membangunkan Nancy juga.


Lah? Nancy juga belum bangun ternyata.


"Nensiii, ayooo banguuunn.. astaga, sudah berapa kali aku membangunkan kamu daritadiii,


ayooo!" ujar Val sambil menarik tangan Nancy dengan kuat.


Nancy berdecak pelan, "Aku masih mengantuk..." ujarnya masih dengan mata


terpejam.


"Semalam... aku begadang... hoaamm." Nancy menguap, sambil menarik kembali tangannya


yang dipegang Val.


"Lagian memang kamu begadangnya dimana sih? Kok kemarin di kamar gak ada?"


Pertanyaan dari Val tak direspon Nancy, dia sibuk merenggangkan tubuhnya.


"Hoaamm." aku ikut menguap lalu berjalan ke kamar mandi.


Aku mandi dengan asal karena mengingat kata Val 'lima menit lagi kita sudah telat'.


Saat aku keluar dari kamar mandi, tak lama kemudian Nancy juga keluar dari kamar


mandi yang satunya.


Wah cepat juga!


Jangan-jangan cuma sabunan asal doang sepertiku! Hehe..


Setelah bersiap-siap, aku, Val dan Nancy berlari keluar kamar, memasuki lift, dan

__ADS_1


langsung berlari lagi sampai gedung sekolah.


Sebenarnya kalau mau simpel kita bisa saja meminta bantuan Zav, tapi bukankah itu terlalu


merepotkan? Apalagi kita telat karena aku dan Nancy sendiri.


Setelah sampai di koridor kelas-kelas, aku berpisah dengan Val dan Nancy dan masuk ke


kelas masing-masing.


Begitu sampai di kelas aku langsung duduk di kursiku yang semeja dengan-


Lah?


Kok tumben Alexa belum datang?


Padahal aku ini sudah telat, biasanya dia datangnya kan pagi-pagi sekali!


"Hana, lihat Alexa gak? Kok tumben belum datang?" Tanyaku pada Hana, si


sekertaris kelas.


Dia yang sedang berbincang-bincang dengan temannya, menoleh ke arahku.


"Wah... iya ya,” ia menengok pada bangku Alexa yang kosong, lalu menoleh lagi padaku,


“gak liat tuh, belum datang kayaknya."


"Alexa ya?" Tanya Vero, teman dekat Lexa juga.


Aku mengangguk.


"Iya, dari semalam juga di-chat gak di balas, sampai kutelpon,tapi nomornya gak


aktif."


Dari semalam?


Kok bisa? Jangan-jangan ada sesuat-


Tok tok


Matanya menjelajahi seisi kelas ini, lalu berhenti padaku.


Mengenali tatapan-tatapan membunuh dari para perempuan di kelasku ini, aku kembali


mengarahkan pandanganku pada lelaki berambut silver itu, aku mengerutkan keningku padanya, dengan maksud ‘Apa sih, ah!’


Ia menatapku datar, lalu tanpa diduga-duga, IA MALAH MASUK!


Aduh, mau apa sihh? Mau aku mati ya di tangan para perempuan di sini? Iya? Begitu?


“Ayo.” Ujarnya saat sampai di depanku, lalu tanpa aba-aba, ia menarikku keluar dari


kelas ini.


“Kau gak lihat tatapan mereka ya?” bisikku sambil menyamakan langkahnya, “kayak mau


bunuh orang tau, dan orang itu aku!”


Ia melirikku sekilas, “Memang ada yang bisa membunuhmu?”


Wow, kalau ini pujian, terima kasih! Aku tersanjung. Tapi bukan itu maksudku... ah sudah lah.


“Kita mau kemana lagi?” tanyaku.


Aneh, ia menarikku berjalan menaiki tangga demi tangga sedari tadi.


“Alexa, temanmu kan?”


Eh?!


“Iya! Ada apa dengannya?“


“Ada di rooftop.” Ujarnya, lalu menambah kecepatannya.


Aishh.

__ADS_1


T-tapi.. omong-omong, untuk apa Alexa ada di rooftop?


Sebentar... kalau ia tak bisa dihubungi dari semalam, apa mungkin saja dia ada di *rooftop *semalaman?!


 “Bisa-bisanya teman sendiri hilang tapi gak kau cari, gimana sih.”


LAH?!


K-kok dia marah... hehe, aduh gimana ini.


“Y-ya iya sih, tapi kan aku gak sadar, semalam kan kita ke AOM, mana sempat kuawasi-“


“Tak ada alasan.” Ia menoleh padaku, “Kau sudah lalai dengan tugasmu,” ia kembali


mengalihkan pandangannya ke tangga di depan, “kau kuhukum.” Ujarnya datar.


Aku mengerutkan alisku, “Hukum?!”


Aishh. Ih, yang benar saja!


“Tak usah mengelak, aku punya hak konkrit sebagai leader para agen dan juga ketua


OSIS di sini.” Ujarnya enteng, membuatku kehabisan kata-kata untuk menyerang


balik.


Ck, iya juga sih!


Aku berdesis, “Iya tapi-“


Aku menggantungkan perkataanku, karena Jack tiba-tiba berhenti.


E-eh? Kita sudah sampai di rooftop ternyata! Wah, gak terasa! Atau jangan-jangan Jack punya kekuatan yang seperti Rylan tanpa kusadari?


Ia menuntunku ke sisi belakang rooftop yang sedikit tertutup jika dilihat dari pintu. Lalu tiba-tiba ia berhenti. “Di sekitar sini.” Ujarnya lalu melepas genggamannya.


Aku menoleh padanya.


UWAA MATA BAGUS NYA ITU ADA LAGI!


OH SEDARI TADI YA?


Kok aku gak sadar??


“Kenapa?” ujarnya sambil balas menatapku.


Ia mengedipkan mata kanannya.


A-aku...


OHH SEPERTI ITU CARANYA MENGEMBALIKAN MATA NORMALNYA! A... haha..


Ya jangan sambil menatapku dong.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, “Gak apa-apa.”


Baiklah, sekarang giliranku.


Aku memejamkan mataku, memusatkan energiku lagi. Aku pernah melakukan ini sebelumnya, untuk Alexa juga. Mengapa selalu dia yang jadi korbannya ya? Aku tak mengerti.


Gelap.


Tentu saja gelap, aku memejamkan mataku.


Tapi, seperti sebelumnya, aku melihat samar-samar bayang an seseorang-yang kuyakin adalah Alexa- di depanku.


Sekitar 4 meter dari posisiku, jangan tanya berapa derajatnya dari sumbu y dengan nol yang berada di posisiku, karena aku tak akan menjawabnya! Yang jelas aku akan langsung berjalan menghampirinya.


Aku berjalan perlahan... karena aku memejamkan mata, supaya tak tersandung.


Begitu sampai tepat di depannya, aku menunjuk tepat di depanku ini, “Di sini.” Ujarku pada Jack. Lalu aku mendengar derap langkahnya menghampiriku.


Aku melanjutkan ritual mencari Alexa ini, kupusatkan semua energiku pada kedua tanganku. Saat kurasa cukup, aku mengangkat tanganku tegak lurus dengan mataku, lalu aku mengeluarkan energiku tepat di depan bayangan Alexa ini.


Sampai bayangan Alexa di benakku menghilang, maka Alexa yang asli akan menjadi visible.


Begitulah cara kerjanya.

__ADS_1


Sedikit lagi...


__ADS_2