AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
73. Their Assets


__ADS_3

[Author's POV]


Pintu besi yang sangat tinggi itu berwarna hitam. Ukurannya sangat besar, bisa-bisa seukuran pesawat, itu pun baru pintunya. Belum isi ruangannya. Pintu besi itu terbuka ke samping dengan perlahan.


"Inilah ruang penyimpanan aset mutan." ujar Zen dengan senyuman bangga, terlebih kepada Alice. Seolah sedang menunjukkan karyanya.


Alice mengangguk pelan sebagai apresiasi. Ya, segitu saja sudah apresiasi namanya (untuk Alice seorang).


Jack menjelajahi seluruh ruangan megah itu dengan kedua matanya. Ukuran ruangan itu sangat amat besar, sepertinya akan muat untuk dua pesawat. Dan cukup gelap, mungkin karena Zen belum menyalakan lampu-lampunya. Disepanjang jalan ruangan itu, di kanan-kirinya terdapat segala macam senjata, alat-alat perang, sampai peralatan yang tak pernah Jack lihat sebelumnya, tergantung pada seluruh dinding. Jadi, dinding ruangan ini memang penuh dengan senjata dan alat-alat mutan.


Omong-omong, mengenai ukuran ruangan yang 'muat untuk dua pesawat' itu memang benar. Terparkir dua pesawat jet di bagian tengah ruangan.


"Waaah!! Lengkap sekali!" Alex menoleh kekanan dan kekiri tanpa mengedipkan matanya, "Ada jetnya juga lagi!" ia menunjuk ke arah kedua jet itu.


Kedua jet itu berbeda. Jet yang di samping kanan terlihat seperti jet biasa. Tetapi yang di sebelah kiri bentuknya lebih aneh... atau lebih baik disebut... keren.


"Prof! Kedua jet itu apa bedanya??" tanya Hera penasaran. Sedari tadi ia berdiri di antara Zen dan Ally, membuatnya terlihat seperti anak Zen dan Ally. Alasan ia menempel terus-terusan dengan kedua professor itu adalah.. karena gadis itu sedikit tak nyaman selalu diperhatikan oleh Axelia dan Jack.


Zen tersenyum simpul, "Yang di sebelah kanan jet biasa, nah... yang di sebelah kiri sebenarnya bukan jet... tetapi pesawat luar angkasa," Zen menunjuk pesawat luar angkasa itu, "Tubuh pesawat ini terbuat dari adamantine, dan setiap kacanya terbuat dari kaca metalik, terkuat di dunia."


"WAAAHH!" Alex terpelanga lebar. Ia tak dapat berkata-kata lagi. Sama seperti Hera, matanya berbinar-binar semangat.


Hera menoleh pada Zen, "Aku mau coba sentuhh! Boleh tidak, Prof?" ujarnya antusias.


"Biasanya kalau properti penting begitu jarang dibersihkan, Ra. Jadi nanti perlu dibersihkan dulu.. ya kan, Yah?" ujar Axelia, secara tidak langsung berkata: 'Jangan, kotor!'


Hera menyernyit bingung, "Justru yang penting bukannya harus lebih diurus??" ia menoleh pada Zen, kemudian Ally.


Sebelum salah satu dari professor itu menjawab pertanyaan itu, Alice lebih dulu membuka suara. "Ya iyaa, soalnya kan selama ini gak pernah ada masalah yang penting. Makanya properti penting gak pernah dipakai."


Zen mengangguk bangga, sementara Ally mengerutkan alisnya sedikit tak suka. Sepertinya apa saja yang keluar dari mulut Alice, ia akan selalu sinis.


Tapi ya memang benar. Alasannya adalah karena tak ada hal penting yang sampai memerlukan pesawat luar angkasa terkuat di dunia jika tiga tahun belakangan ini aman-aman saja, ya kan?


"Kalian bisa melihat-lihat di sini. Tapi tolong jangan sentuh apapun, ya." ujar Ally memberi tahu. Keudian ia mengutak-utik tablet hologram yang ia pegang, sepersekian detik kemudian, semua lampu yang terpasang dalam ruangan itu menyala.


Sekarang semuanya jadi terlihat dengan jelas.


"Di sini kalian bisa memakai alat atau senjata apapun untuk berlatih selama seminggu. Tapi jangan sampai melukai yang lain ya." Ally menatap mereka dengan serius. "Kalian sudah bisa latihan memakai peralatan ini, tapi kusarankan dari yang familiar dulu."

__ADS_1


Mereka berlima mengangguk paham.


Satu dua kalimat diucapkan lagi oleh Zen, sebagai peringatan dan pesan supaya berhati-hati dalam menggunakan semua peralatan itu. Setelah itu, Zen dan Ally memutuskan untuk meninggalkan mereka berlima.


"Jadwal hari ini adalah latihan menggunakan peralatan yang ada di sini. Aku dan Ally akan kembali masuk ke gedung penelitian, tapi nanti akan ada ahli senjata dan aset yang akan datang kesini, mengajari kalian." ujar Zen menjelaskan.


Hera menunduk sedih, ia menghela napas pelan.


Melihat itu, Ally mengelus bahu gadis itu dengan lembut. "Kamu bisa sendiri kan, Ra? Sama teman-teman kamu, yaa?" ujarnya halus.


Hera tersentak, kaget mendapat perlakuan selembut ini dari Professor Ally. Meski baru membuntuti Ally itu selama di lapangan, Hera dan Ally sudah lumayan dekat. Kesan pertama Hera bagi Ally, Hera adalah seorang gadis yang luar biasa berbahaya. Tapi tidak lagi, setelah Ally memperhatikan gerak-gerik gadis petir itu, yang ternyata masih polos dan terbilang menggemaskan untuk seorang gadis yang berumur 18 tahun.


Sebenarnya Ally pun masih menimbang-nimbang ide Zen untuk mengikutsertakan Hera ke dalam misi berbahaya ini. Karena diantara yang lain... gadis itu bisa dibilang... paling tidak siap, tak tahan banting, dan sepertinya ia adalah tipikal gadis yang jika jarinya tergores belati, akan langsung menangis.


Hera mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum manis. "Ah, gak apa-apa kok! Aku bisaa!" ujarnya antusias.


Melihat perubahan ekspresi gadis itu, Ally jadi sedikit ragu. 'Dia benar-benar bisa atau cuma meyakinkanku supaya gak khawatir, ya?' tanyanya dalam hati.


Akhirnya Ally mengangguk.


Tak lama kemudian, Zen dan Ally pergi dari gudang senjata itu, meninggalkan mereka berlima.


Axelia berjalan di belakang Alice, memperhatikan satu-persatu peralatan yang tergantung di seluruh dinding.


Kalau Alex, ia sudah semangat berlari menuju jet luar angkasa itu. Warnanya hitam, dengan sedikit garis-garis merah tua. Kaca metaliknya berwarna keemasan, dan ukirannya terlihat seperti kristal. Walau tubuh pesawat itu berdebu dan kotor, tetapi sudah terlihat jelas bahwa pesawat luar angkasa itu sangat keren.


Mumpung tak diawasi, Alex ingin melihat-lihat lebih dekat. Bahkan kalau ada kesempatan... ia mau mencoba mengintip kedalamnya.


"Jangan sentuh." suara berat lelaki terdengar. Saat Alex menoleh ke belakang, Jack sudah menatapnya dari jauh dengan sorot tajam.


"Iya.. iya.." Alex mengurungkan niatnya, tadi, tangannya memang sudah hampir menyentuh bagian pesawat luar angkasa itu. Ia pun memutuskan untuk pergi dari sana, lalu berjalan menyusuri ruangan itu dengan semangat.


Peralatan yang tergantung di seluruh dinding disusun berdasarkan ukuran. Yang paling besar berada di paling bawah, dan ukuran yang lebih kecil berada di paling atas. Yang paling mudah digapai adalah peralatan yang berukuran besar. Dan rata-rata peralatan yang berukuran besar itu adalah senjata yang familiar. Seperti senjata-senjata uranium dengan ukuran besar, sampai ke kecil. Semakin ke atas semakin uniklah bentuk peralatan itu. Bahkan ada banyak yang Jack dan Alice tidak ketahui.


Dari sekian banyak senjata dan aset aneh yang terpajang pada seluruh sisi dinding itu, Kedua netra lelaki bernama Jack itu tak kunjung lepas dari Hera. Gadis itu sedang berdiri mengamati sebuah senjata yang berkukuran agak besar dengan uranium sebagai peluru simpanannya. Anehnya, senjata dengan ukuran besar itu terletak di bagian atas. Mungkin setengah meter lebih tinggi dari Hera.


Semantara itu, Jack masih memperhatikannya dari jauh.


Setelah memandangi senjata uranium itu selama dua menit, gadis itu memutuskan untuk mengangkat tangannya, mencoba menggapai benda itu.

__ADS_1


Ia sempat menyernyit bingung, katanya jarang dibersihkan, tapi kenapa mengkilap sekali?


Sedikit lagii... berhasil diraih.


Sedikit lagii...


Sayangnya, hasil jinjit gadis itu hanya bisa menyentuh senjata itu. Saat tersentuh, Hera tersentak. Ternyata senjata itu licin, sehingga yang tadinya Hera ingin menggapai senjata itu, tapi ia malah membuat benda itu lepas dari kaitannya pada dinding.


"Eh?!" refleks Hera kaget.


Senjata besar itu terjatuh dengan kecepatan seperempat m/s dan akan membuat Hera gegar otak ringan dalam waktu dua detik.


Tetapi kurang dari dua detik, lelaki di ujung sana berlari secepat kilat dan langsung menangkap senjata besar dengan bobot 10 kg itu, tepat sebelum mengenai puncak kepala Hera.


Otot tangan Jack mengeras, menahan beban dari senjata itu.


Hera yang masih memejamkan matanya rapat-rapat itu menyernyit bingung. Ia kira benda itu akan mengenai kepalanya... tapi tak terjadi apapun.


"Ambil yang paling bawah. Lebih ringan." ujar Jack dingin. Membuat Hera membuka matanya seketika, kaget mendengar ada orang di sebelahnya.


Manik biru laut gadis itu bertemu dengan manik hitam pekat milik Jack. Ia terperangkap dalam sorot dingin lelaki itu untuk sesaat. Meski sebenarnya, keduanya larut dalam pikirannya masing-masing, selagi bertatapan.


Akhirnya Hera tersadar.. ia sedang berhadapan dengan siapa (lelaki yang selalu memperhatikannya dengan sorot dingin, seram...).


"Te-terimakasih!" Hera menunduk. Tak berani menatap lelaki itu lebih lama lagi.


Tanpa repot-repot menjawab, Jack mengembalikan senjata itu lagi ke tempatnya, yang ternyata berbeda tipis dengan tingginya.


Lelaki itu melirik Hera sekilas, lalu berjalan pergi dengan acuh tak acuh. Meninggalkan Hera yang masih menunduk, menunggu kata 'sama-sama' dari Jack (yang sudah pasti tak akan keluar dari bibirnya).


Jack berjalan menjauh, sejauh mungkin dari gadis itu.


Ia menelan ludahnya, kemudian diam-diam berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


 


 


"Mirip sekali.." gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2