
[Alex's POV]
Aku dan Axelia berjalan keluar dari gedung ini, dan langsung disambut dengan tiupan angin yang lumayan dingin, tapi menyegarkan.
Di sini seperti lapangan hijau biasa, kedua kakiku menapak di atas rumput hijau yang sangat pendek. Pemandangan di sekitar sini bisa dibilang kosong, tapi cukup bagus. Cuacanya cerah, awan pun terlihat dimana-mana dengan jelas.
Di jarak yang lumayan jauh, terlihat lima orang sedang berdiri sambil bercengkerama. Dua diantaranya memakai jas bewarna putih, yang kuyakin adalah Professor Ally dan Professor Zen.
"Ayo, Lex." Axelia menyenggol lenganku pelan, lalu berjalan lebih dulu untuk menghampiri mereka.
Aku segera mengikutinya.
Semakin dekat, aku semakin bisa melihat dengan jelas kelima orang itu.
Tentu saja yang paling pertama mencuri perhatianku adalah si petir, Hera.. dan juga Alice.
"Sudah lama menungguku, ya?" ujaku pada Hera, sedetik setelah sampai di hadapan mereka.
Hera menoleh ke arahku, ia mengerjapkan matanya dengan ekspresi polos. "Iya, kamu ditungguin dari tadi." ia tersenyum manis.
ADUHHHH!
"Lain kali yang terlambat dikenai sanksi, ya." celetuk Professor Zen.
"Ih, tadi tuh dia lama mandinya!" Axelia menunjukku dengan alis berkerut.
Aku menyengir, "Hehehe... maaf."
Tiba-tiba, Alice berdecak.
Eehh iyaa, calon pacarku yang kedua inii, masih saja jutek yaa? Hmm... tak apa, aku bisa meluluhkan hatinya seiring berjalannya waktu, lihat saja!
"Ayo mulai cepat!" ujar Alice tak sabaran.
Tumben dia terlihat semangat.. bagus deh!
Alice memakai pakaian ang kurang lebih sama seperti milik Axelia, begitu juga Hera. Apakah para perempuan diberi pakaian seragam?
__ADS_1
Semantara Jack memakai kaos berwarna hitam dengan bawahan celana training berwarna abu-abu, serta sepatu sport.
"Baiklah, karena semuanya sudah lengkap, mari kita mulai." ujar Professor Zen, sambil menaikkan posisi kacamatanya.
"Di sini, kalian akan berlatih selama seminggu. Bebas menggunakan kekuatan super kalian untuk berlatih. Tenang saja, di lapangan ini mempunyai lapisan penahan cahaya dan kekuatan apapun yang akan keluar. Jadi, tak akan terlihat oleh orang luar. Dan kekuatan kalian tak akan bisa menembus lapisan perisai ini." Professor Zen menjelaskan.
"Tapi berhati-hatilah dengan orang yang di dalam, di sekitar lapangan ini, mereka bisa terkena dampak dari kekuatan kalian." tambah Professor Ally.
Aku memperhatikan ke sekelilingku, "Hah? Mana?" gumamku bingung. Aku tak bisa melihat lapisan perisai atau apapun itu.
"Transparan, Lex. Agar kalian masih bisa melihat pemandangan langit itu." ujar Professor Zen yang ternyata mendengarku.
Aku ber-oh ria.
Waaahhh, tingkat keamanan dalam gedung ini benar-benar patut diacungi jempol.
Tapi walau begitu, bagaimana kalau ada seseorang yang lepas kendali?
[Author's POV]
Pertanyaan demi pertanyaan menyerbu Professor Zen dan Professor Ally. Paling banyak ditanyakan oleh Alex, sih.
Begitu juga dengan Jack.
Mereka berdua memandangi orang yang sama, tanpa tahu sebabnya.
Terimakasih juga untuk ketidak-pekaan Hera, yang sama sekali tak sadar sedang dilihat terus menerus ole dua orang itu. Ia sibuk mejelajahi sekitarnya dengan matanya. Terpana dengan sejuknya angin dan indahnya pemandangan di lapangan hijau ini, mungkin?
Jack merasa... berapa kali pun ia mengelak bahwa Hera mirip dengan seseorang, dalam hatinya, ia tetap merasa familiar dengan sosok perempuan itu.
Akhirnya, pandangan Jack teralihkan kepada Axelia.
Ia mengerutkan alisnya, 'Alexa juga memperhatikan dia?' tanyanya dalam hati. Dengan masih terbiasa memakai nama samaran Axelia selagi bersekolah di bumi.
Semakin dalam lagi rasa penasaran Jack, ia menduga-duga... apa mungkin Axelia terus memperhatikan Hera karena alasan yang sama?
Sebenarnya, Jack sudah setengah yakin bahwa dugaannya itu pasti benar.
__ADS_1
Lagi pula, apakah kebetulan, ia dipertemukan dengan gadis itu di sini? Dengan misi seperti ini?
Siapa pun akan tertawa melihatnya. Yang seperti ini... tak mungkin sebuah kebetulan.
Hera tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Jack, ia memiringkan kepalanya bingung.
Manik mereka bertemu untuk yang pertama kalinya.
Keduanya hanyut dalam tatapan satu sama lain. Hera terkunci pada manik hitam pekat milik lelaki itu, sementara Jack menatap Hera dalam.
Ia diam seribu bahasa.
Tapi satu yang mendominasi pikirannya...
'Gadis ini.. sangat terasa familiar.'
"Aku akan memperlihatkan kalian bagaimana bentuk lapisan perisai itu." Professor Zen mengambil alih perhatian. "Siapa tahu kalian penasaran." ujarnya, lalu menoleh kepada Ally. Secara tidak langsung menyuruhnya untuk melepas lapisan transparan pada perisai itu.
Ally mengutak-utik tablet hologramnya, lalu ia mengadah ke atas, ke arah langit. Yang lain pun mengikutinya mengadah ke arah langit.
Langit biru yang cerah, serta gumpalan awan-awan yang terlihat jelas itu perlahan sirna. Digantikan oleh sebuah dinding dengan ukuran yang luar biasa besar, berbentuk setengah lingkaran, dan berwarna merah tua. Melingkupi seluruh lapangan dengan sempurna.
Mereka seperti berada di lapangan hijau dengan atap yang berupa cangkang kura-kura berwarna merah tua. Begitu istilah tidak kerennya.
"Aku lebih suka saat transparan." ujar Alice datar.
Walau tanpa ekspresi, tapi perkatannya mendapat persetujuan dari keempat (calon) teman seperjuangannya itu. Yang tadinya langit cerah dan indah, menjadi merah tua gelap yang suram.. karena tertutup lapisan perisai itu.
Alex mengangguk, "Iya... jadi suram sekali sekarang." ujarnya, membuat Professor Zen terkekeh pelan.
"Ya, ini supaya gak penasaran saja.." Zen menoleh lagi kepada Ally, menyuruh asistennya itu untuk mengembalikan lapisan transparan pada dinding perisai itu.
Axelia mengangguk, "Lumayan, Yah." ujarnya mengapresiasi sistem keamanan milik ayahnya itu.
__ADS_1
"Selanjutnya, aku akan memperlihatkan kalian tempat persediaan aset-aset mutan."