AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
62. Mutation Super Power


__ADS_3

"Aku masih tak habis pikir, Zen! Sungguh!" Ally menatap Zen tak percaya.


Mereka berdua telah berada di ruang kerja mereka, sepulang dari rumah sakit dan menerjang pusaran angin tadi, Ally hanya terpelanga kehabisan kata-kata saat melihat Zen keluar dari pusaran angin membawa seorang perempuan dengan petir-petir kecil di tangannya.


Zen bahkan tak membiusnya!!


Bagaimana bisa?!


"Sudahlah Ally, aku lelah. Kau tau rasanya menerjang badai seperti tadi, huh?" Zen menutup matanya sejenak, ia sedang duduk di kursi kerjanya.


"Aku bahkan tak melihat luka di tubuhmu!!" Ally bangkit dari kursinya, menatap Zen lekat-lekat. "Cara ajaib apa yang kau gunakan untuk membujuk gadis petir itu??"


Ally melangkah mendekati Zen yang masih memejamkan matanya. "Kau merayu dia, ya?" tanya Ally curiga.


Zen terbelalak seketika.


Ia bahkan tak terpikir hal seperti itu sekalipun!


Malas menjawab pertanyaan aneh itu, Zen menanyakan hal yang lebih penting, "Berapa lama obat bius nya akan bertahan?"


Ally memutar matanya, pertanyaannya tak dijawab, menyebalkan.


"Tiga jam lagi."


'Itu cukup' batin Zen.


"Apa mereka sudah ada di ruangan masing-masing?"


"Sudah. Masing-masing ruangan dijaga oleh 2 anak buahku. Kecuali ruangan si gadis petir itu."


Zen menoleh, "Namanya Hera."


"Ada berapa di ruangannya?" lanjut Zen.


"Lima belas."


Zen terbelalak, "Apa?! Dia bukan setan!"


Ally mengedikan bahunya acuh, "Lebih aman lebih bagus."


Zen menghela napas pasrah, ia kembali memejamkan matanya.


Sementara itu, Ally berjalan keluar ruang kerja mereka. Ia memasuki ruang lab, dan juga tempat pemantauan keadaan luar angkasa.


"Ada perkembangan apa sejauh ini, Lea?" Tanya Ally pada salah satu ilmuwan yang sedang mengutak-utik layar hologram.


Lea terdiam, menatap kosong hologram di depannya.


"Lea? Apa kau mendengarku? Apa yang terjad-" Ally terbelalak kaget, "tidak mungkin."


Ally mematung, hologram itu menunjukkan sebuah data bahwa jumlah makhluk hidup di Bumi yang tadinya hanya 1, sekarang menjadi 200 juta orang... dalam sehari.


"Ada yang tidak beres, Prof." ujar Lea masih dengan tatapan kosong ke layar hologram di depannya.


Tanpa menghiraukan Lea lagi, Ally segera keluar dari ruang lab itu lalu kembali ke ruang kerjanya, dimana Zen berada.


"ZEN!"


Zen yang masih duduk di kursinya, menoleh dengan kedua alisnya terangkat.


"Kita dalam masalah besar."


...•••...

__ADS_1


Zen dan Ally sedang berada di ruang lab utama, dimana puluhan ilmuwan ada disana, meneliti dan memantau perkembangan yang terjadi melalui media hologram.


"Aku yakin mutan itu sedang membuat pasukannya sekarang." ujar Zen sambil berjalan mondar-mandir, memikirkan apa saja kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


"Kita harus memikirkan pasukan seperti apa yang ia buat, mungkinkah semacam... zombie?" Ally menggigiti kukunya gelisah.


"Jika mutan itu memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan isi bumi, maka sangat mudah baginya untuk membuat pasukan yang jauh lebih kuat dari dugaanmu itu, Ally." Ujar Zen, jantungnya mulai berdegup kencang.


Zen berhenti. Ia menyadari sesuatu.


"Ada apa? Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Ally. Ia tak kalah takutnya dengan Zen.


Zen masih mematung, "Mutan."


"Apa?" Ally tak mengerti.


Zen melemas seketika. "Pasukan mutan."


"Baiklah.. aku akan mati disini."


...•••...


"Jadi, aku akan memberitahu kalian tentang data orang-orang ini." Ujar Zen pada sejumlah professor genius serta para ilmuwan yang sedang duduk di kursi rapat mereka masing-masing.


Zen sedang mengadakan rapat kecil untuk para ilmuwan-ilmuwan yang nanti akan mengurus 5 orang yang menjadi harapannya terakhirnya.


Ia menyalakan hologram besar dengan tombol pada alat di sampingnya.


"Ini yang pertama." Ujarnya lalu hologram itu menunjukkan sebuah data.


Nama: Jack Grayson.


Umur: 21 tahun.


Latar belakang: Orang terakhir yang dievakuasi ke planet Mars setelah kehancuran yang disebabkan oleh mutan.


Jenis mutan: pengendali es.


Para profesor dan ilmuwan itu tertegun saat membaca kata-kata'pengendali es'.


"Kukira kau akan membuat kekuatan yang pasif." ujar salah satu ilmuwan dengan alis yang bertaut.


Zen menghela napas.


"Mutan itu sudah membuat 200 juta pasukan di luar sana! Dan aku yakin ia akan membuat lebih banyak lagi, bagaimana bisa 5 orang ini melawan mereka hanya dengan teleportasi, telepati atau kekuatan yang serupa!?" Bentaknya.


"Zen..." Ally mencoba menenangkannya. Ia tahu lelaki didepannya ini sudah frustasi. Dua ratus juta pasukan mutan bukanlah hal yang pernah di duga oleh Zen.


Zen menghela napas, lagi.


"Ally, tolong lanjutkan data yang lain." Ujar Zen sambil memijat pelipisnya.


Nama: Alice Lourdes.


Umur: 17 tahun.


Pekerjaan: Mahasiswi semester awal.


Latar belakang: Anak dari miliyarder terkaya ke-3 di Mars.


Jenis mutan: Pengetahuan luar biasa. Pengendali gravitasi.


"Woah, 17 tahun sudah mahasiswi semester awal.."  komentar salah satu ilmuwan lagi.

__ADS_1


'Um, aku sudah hampir lulus kuliah saat 17 tahun..'  batin Ally.


Tak bisa dipungkiri, Zen memang tak salah memilih asisten professor.


Ally melanjutkan datanya.


Nama: Alex Benedict.


Umur: 20 tahun.


Pekerjaan: -


Latar belakang: Pemilik puluhan bar dan klub di kota Mezax.


Jenis mutan: Pengendali api.


"Bagaimaimana bisa ia tak bekerja tetapi bisa memiliki puluhan bar dan klub!?" Salah satu ilmuwan berkomentar lagi.


"Kurasa dari orang tuanya."


Ally memutar matanya malas, lalu melanjutkan datanya.


Nama: Axelia Kozuki.


Umur: 19 tahun.


Pekerjaan: -


Latar belakang: Orang jepang. Memiliki kemampuan melihat hantu.


Jenis mutan: Mengendalikan roh.


"Ah, itu anakmu kan, Zen?" tanya salah seorang professor, mengetahui bahwa istri Zen berdarah jepang.


Professor Zen mengangguk singkat, kemudian melirik Ally untuk melanjutkan datanya.


"Dan yang terakhir..." ujar Ally lalu bergegas melanjutkan datanya, sebelum ada yang berkomentar lagi.


Nama: Hera.


Umur: 18 tahun.


Pekerjaan: Murid sekolah menengah atas.


Latar belakang: Tersambar petir hari ini.


Jenis mutan: -


"Profesor Zen.." salah satu professor membuka suaranya, "mengapa tak ada keterangan tentang mutasinya?" tanyanya heran. Begitu pun dengan profesor yang lain.


Informasi mengenai gadis yang satu ini tidak lengkap dan tidak spesifik. Entah apa rencana Zen dengannya.


Zen tersenyum kecil.


"Rapat kita sudah selesai. Sekarang bersiaplah kalian di keempat ruang lab. Masing-masing dari kalian, 3 orang di setiap ruang lab." Ujar Zen menginstruksi.


Para professor dan ilmuwan pun ikut berdiri bersiap meninggalkan ruang rapat.


"Hanya empat? Bukankah ada 5 orang yang akan dimutasi?" Tanya seorang profesor.


Ally menoleh pada Zen, menunggu jawaban dari Zen yang sebenarnya sudah ia ketahui.


"Kita tak perlu mengubah dia. Dia saja sudah cukup."

__ADS_1


__ADS_2