AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
32. She Has It All, We're Dead


__ADS_3

[Claire’s POV]


Aku sudah di kelas sekarang.


Baru saja sampai, Alexa sudah menghampiriku ke ambang pintu dengan wajah antusiasnya.


"Kenapa, Xa?"


"Claire! Ih kamu tuh ya! Masa sudah jadian gak bilang-bilang sih?!" Ujarnya dengan lantang.


"Aduh Lexa,” aku melihat ke sekeliling, orang-orang sedang memperhatikanku dan Alexa, berkat suara lantangnya tadi, “apa sih?"


"IHH ITU LOH YANG SAMA KAK JACK!" ujarnya dengan.sangat.kencang.


Shit.


Sekarang fans Si Uban itu akan menelanku. Oh tidak.


"Lexa! Aku gak pacaran! Sudah deh, kamu ngaco."


Aku menuntunnya ke tempat duduk, aku juga capek berdiri. "Bohong... kemarin Kak Jack bilang by by an itu apa hayoo?" ujar Alexa, ia belum berhenti mengoceh.


Aku berdecak, "Itu ubii, Alexa kusayang..." Aku meletakkan tasku, lalu duduk. Keadaan sudah mulai terkendali, suara Alexa tak lantang lagi, aku bisa bernapas lega.


"Oohhh... ehehe." Ujarnya sambil meringis tanpa dosa.


Lalu, semua orang kembali pada kegiatannya masing-masing. Ck, Alexa ada-ada saja


astaga.


"Oh iyaa, Claire! Kamu kemana saja sih tadi? Ini sudah kelewatan telatnya tahu!"


Ingat kata Kimberly kawan-kawan: ya sudah lah ya pintar ini!


Hehe.


Alexa mendekatkan wajahnya, “Kamu bertemu dengan... mutan yang lain, ya?” bisiknya dengan wajah serius.


Aku terdiam.


Haruskah aku meladeninya dengan topik ini? Apa diperbolehkan? Tapi kalau dipikir-pikir, tak ada gunanya juga kusembunyikan lagi darinya, Alexa kan sudah tahu yang sebenarnya.


Aku mengangguk pelan dengan senyuman tipis. Diam-diam, sebenarnya aku ingin bel pergantian pelajaran cepat berbunyi, agar kita tak membahas ini lebih dalam lagi.


Rahang Alexa terjatuh, ia menganga kaget. “Astaga! Itu pasti keren sekalii!!” bisiknya.


Aku mengangguk lagi, “Hehehe... iya, begitu lah.”


“Omong-omong, mengapa kau tak kaget saat tahu aku adalah mutan?” tanyaku penasaran. Bahkan aku masih ingat jelas saat ia terkekeh setelah mengetahui bahwa aku memang bukan manusia biasa.


Wajah antusiasnya berubah menjadi serius yang aku tahu hanya dibuat-buat, ia memicingkan matanya, “Eumm... rahasia.” Ujarnya dengan nada sok misterius.


Aku mengerutkan alisku, lalu terkekeh. Bagaimana bisa hal sesimpel itu menjadi rahasia, sementara aku yang mempertaruhkan seluruh karirku dengan tidak meminta tolong Val untuk menghapus ingatannya, menjadi biasa saja dimatanya?  *“Ah, c’mon, you already know my secret, so lemme know yours.”  *


KRINGG


KRINGG


Alexa tersenyum puas, "Ke kantin yuk!" ujarnya mengalihkan topik.


“Hei, jawab dulu!”


Ia terkekeh, “Sudaah ayo, aku lapar nih.” Ia menarik tanganku dengan kuat.


Aku menghela napas pasrah, dan akhirnya mengikutinya ke kantin.


Wah, aku harus mempertimbangkan lagi untuk meminta tolong Val menghapus ingatan Alexa.

__ADS_1


Berkat kelaparan Alexa ini, ia sudah menarikku sampai kantin.


Letak kantin memang hanya dua lantai di atas kelasku. Lantai paling bawah adalah deretan kelas sepuluh, lantai satu adalah deretan kelas sebelas, lantai dua adalah deretan kelas dua belas, tempat Zav, Rylan, dan Jack berada, lantai tiga adalah kantin—kantin sekolahku bisa di bilang sangat luas—dan di sebelahnya adalah ruang guru, lantai paling atas adalah rooftop. Lapangan sekolahku ada di luar gedung sekolah, agak berdekatan dengan taman belakang sekolah.


Saat aku menemani Lexa membeli makanan, aku mendengar kumpulan orang yang duduk di seberangku, mereka sedang berbincang-bincang.. tapi aku sempat mendengar mereka menyebut namaku(?)


Aku mencoba menajamkan pendengaranku.


"Itu tuhh, yang di depanku persis, itu yang namanya Claire." Ujar seorang perempuan dengan gincu yang... merahnya... agak kelewatan, hahaha, maaf.


"Oohh ituu yang merebut Kak Jack dari Kimberly..."


Aku tertegun.


Merebut?


Apa maksudnya?


"Iya, lagi pula Kak Jack dengan Kimberly sudah cocok... dua-duanya cool."


"Katanya dia yang suka dekat-dekat Kak Jack duluan yaa? Ih ya ampun..."


:)


Tahan Claire...


Ada sambal?


Ingin kucocol mulut mereka pakai sambal.


Eh? Salah gak sih?


Ingin kucocol sambal pakai mulut mereka.


Lah??


Ingin kucocol sambalnya terus kucocol ke mulut mereka(?)


Ah sudah lah. Aku menyerah dengan diriku.


"Si Claire itu juga suka bolos katanya, tapi nilainya bagus terus masa... jangan-jangan pakai dukun?"


“PFFTTT.” Aku hampir memuncratkan ice coffee yang sedang kuminum ini. Yang benar saja? Dukun?!


HAHAHAHAHA!


Sepertinya Val dan Kim lebih mahir dari dukun. Lagi pula, penyihir palsu seperti itu memangnya masih tenar?


"Oh iya! Jangan-jangan Kak Jack dipelet?!"


Nah kan, semakin ngaco...


Aku bingung, kenapa mereka membicarakan orang lain saat ada orangnya, ya?


Aku bangun dari tempat dudukku untuk menghampiri mereka.


Tapi saat sudah di depan mereka, tiba-tiba Jack datang entah darimana, lalu


menghalangiku.


Tak ada angin, tak ada hujan, Si Hantu Ubanan ini menyodorkan segelas strawberry frappuccino kepadaku. "Nih, minum." Ujarnya dengan ekspresi datar.


"Apa sih? Gak mau."


“Sudah kubelikan.” Ia mendekatkan sedotannya ke bibirku, membuatku mau tak mau membuka


mulutku dan meminumnya.

__ADS_1


Puas kau, hm?


Mau apa lagi dia.


Saat aku sedang menyeruput minuman ini, aku bisa membaca gerakan mulutnya, 'Tenang.. jangan marah, ya?'


Aku memutar mataku malas. Asal tahu saja, aku kan tadinya mau ikut bergosip dengan


mereka! Bukan mau marah...


"Nih, pegang dong." ujarnya dengan seulas senyuman. sepertinya, senyuman pertama yang ia tunjukkan di sekolah ini. Terlihat dari beberapa perempuan yang pipinya jadi memerah.


Sekarang hampir semua orang di kantin ini menoleh padaku dan Jack. Lelaki ini memangtidak mengerti, ya? Kalau dia benar-benar bisa membuatku ditelan penggemarnya. Huh!!


"Makasih." Aku memegang minumannya, “But, for your info, i was gonna gossiping with them.” Aku tersenyum, “Ellas hablan de mi gracias a ti.”


Aku menggandeng Alexa--yang sedang menganga sedari tadi—pergi meninggalkan kantin, dan... Jack yang mematung.


Sambil berjalan keluar, aku masih dapat mendengar perkataan Jack jauh di belakangku.


"Jangan berani bicara sembarangan lagi tentangnya."


Diam-diam, aku terkekeh pelan.


‘Ellas hablan de mi gracias a ti’, artinya adalah ‘mereka membicarakanku karenamu’. Sengaja kuucapkan dalam Bahasa Spanyol, karena aku tahu banyak orang yang sedang memperhatikan kita, jadi... yang dapat mengerti hanya aku dan Jack.


OBCOBOB


Aku kembali ke kelas bersama Alexa, dengan strawberry frappuccino ini yang kudapatkan gratis. Hehe.


"Claire!" Aku menoleh kearah Lexa dengan wajah datar yang kubuat-buat, supaya kayak dingin-dingin gitu.


"Astagaaa! Kamu sudah dekat sekali ya dengan Kak Jack? Atau bersahabat? Atau pacaran?!" Tanyanya yang kubalas dengan eye rolling.


"Apa sih, gak kok."


"Ihh iya kann!! Gak mungkin gak! Itu Kak Jack sampai memberi kamu minuman, masa iya kebetulan!”


“Kita itu sepupu.” Ujarku asal, lalu menikmati minumanku lagi.


Alexa terkekeh, "Hahaha, dasar... ya sudah kalau sudah jadian bilang ya, nanti teraktir aku."


Aku memutar mataku lagi. "Sudah lah Xa-"


"Claire!!"


Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kim sedang berlari ke arahku.


"Ada apa Kim??" Tanyaku padanya yang sedang mengatur napas.


"Aku mau bicara berdua denganmu!" ujarnya masih terengah-engah. Lalu ia menoleh pada Alexa, "Alexa, kan? Aku pinjam Claire-nya dulu ya, sorry." lanjutnya yang dibalas anggukan oleh Alexa.


Setelah itu, Kim menarikku dan berlari. Aku pun mau tidak mau ikut berlari tanpa tahu sebabnya. "Kenapa sih, Kim? Kamu dikejar orang apa gimana?"


"Gak! Bukan aku, tapi kamu!" jawabnya sambil mempercepat larinya.


Hah?


Aku?


Jadi duta sha-


Dikejar maksudku.


"Maksudnya apa?"


Kim tiba-tiba berhenti, lalu dia celingukkan aneh, masih dengan keadaan panik.

__ADS_1


"Kim, jawab aku... kenapa?"


Ia menoleh kebelakang—kearahku---dan menatapku panik, "Apesta itu mau bertemu kamu sebentar lagii! Ayo! Kamu harus kabur! Akan kubantu."


__ADS_2