
Sementara itu, Zav dan Val..
[Author’s POV]
Zav dan Valerie sudah sampai di AOM bagian barat. Memang, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana, tanpa ada kendala.
Tapi manusia di sebelah lelaki itu yang ada kendala. Sedari tadi dia diam-diam saja.
“Kamu gak akan bisa bohongin aku.” Ujar Zav yang kesekian kalinya.
Val menghindari tatapannya, yag membuat Zav yakin pasti ada sesuatu yang serius. Zav sudah bertanya ada apa dari awal, karena wajah Val benar-benar murung, tak seperti biasanya. Tapi tetap saja, dia tak mau memberitahu Zav.
Mereka sedang berjalan dari tempat parkir untuk masuk ke gedung AOM Barat.
Zav menghela napas. “Sejak kapan kamu se-batu ini menyembunyikan sesuatu dariku, Val?” bisiknya, sebelum para penjaga menyadari kehadiran mereka.
Ada dua penjaga di depan lobby yang megah itu, mereka berseragam serba putih, sama seperti gedug AOM Barat yang didominasi warna putih. Bisa di bilang, gedung AOM Barat adalah gedung ter-elit yang dimiliki AOM Amerika. Semua dindingnya berupa kaca, saat masuk, bisa dipastikan pemandangan hologram di setiap ruangan akan ada dimana-mana. Penjagaan di dalam gedung sudah diatasi dengan pasukan robot. Bukan lagi manusia. Sehingga penyusupan tak pernah terjadi di sini. Rapat. Tanpa celah.
Kedua penjaga manusia itu memiliki dua pistol di saku belakang jas putih mereka. Tanpa menunggu lama, mereka membungkuk 90 derajat pada Val dan Zav.
Setelah itu, salah satu penjaga menyalakan earzoom-nya, “Tim inti sudah datang.” Bisiknya pada earzoom-nya. Setelah itu mendapat konfirmasi, ia mengangguk pada penjaga yang lain.
Mengerti akan hal itu, penjaga yang satunya mengeluarkan sebuah benda berwarna putih dari sakunya. Benda itu memiliki tombol berwarna hitam. Lalu ia menekannya. “Perlindungan laser sudah dinonaktifkan.”
Salah satu penjaga yang tadi melapor, menatap Zav dengan senyuman hangat.
“Selamat datang kembali, silahkan masuk.”
Zav balas tersenyum, “Terimakasih.” Ujarnya, lalu menggenggam tangan Valerie dan menggandengnya masuk.
Mereka berjalan berdampingan memasuki lobby. Saat masuk, perhatian mereka langsung terarah pada sinar biru hologram ada di setiap sudut ruangan, drone-drone yang berterbangan, fasilitas lengkap dengan benda-benda yang belum pernah Valerie lihat sebelumnya, design dan visual yang asing itu membuat Val melongo. “Teknologi di sini curang sekali! Di sini teknologinya jauh sudah lebih hebat daripada di AOM lain..” ujar Val kagum.
Zav tertawa, “Terimakasih.”
Val menoleh seketika, ia menautkan alisnya. “Kayak kamu yang punya aja.” Ujarnya lalu berjalan lebih dulu, meninggalkan Zav dibelakang.
Diam-diam Zav terkekeh.
Tak lama kemudian, salah satu robot wanita menghampiri Zav. Robot itu memakai seragam yang sama dengan para penjaga di luar tadi, bisa diambil kesimpulan kalau ia adalah penjaga bagian dalam lobby. “Apa perlu saya beritahu professor kalau anda sudah datang, tuan?” ujar robot wanita itu tanpa ekspersi.
“Tak perlu. Penjaga di depan tadi sudah memberitahunya,” ujar Zav sedikit berbisik, agar Val tak menoleh ke belakang, “dan jangan panggil aku ‘tuan’ saat dia ada di sini.” Zav menunjuk Valerie. Sepersekian detik kemudian, robot itu mengangguk mengerti.
Selama ini Valerie dan teman-temannya memang tak tahu kalau Zav Piere adalah pemilik gedung AOM Barat.
Itu adalah salah satu alasan mengapa Brian Alejandro merekrut Zav. Agar koneksinya semakin luas, dan akses mereka jadi lebih mudah.
Zav berjalan cepat menyusul Val, sehingga mereka bisa berjalan beriringan lagi. “Kamu ingat gak, pertama kali kita bertemu di sini?” Tanya Zav mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Zav dan Valerie bertemu di AOM Amerika Barat empat tahun lalu, tepat saat Pak Brian sedang mengumpulkan anggota untuk tim inti Agen of Mutant. Saat itu, Kimberly belum direkrut.
Saat itu, anggota Agent of Mutant inti hanya Valerie, Rylan, Jack, dan Ruby. Lalu mereka dan Brian datang ke Amerika utuk merekrut Zav. Rekrutan tim inti dipertimbangkan dari rekomendasi seluruh cabang AOM diseluruh dunia.
Dan pemimpin dari semua AOM adalah Brian Alejandro, dia merekrut orang yang terbaik dari yang terbaik, dan kalau dipikir-pikir, lembaga rahasia ini memang tertutup dari publik, tapi sebenarnya jangkauan mereka lebih luas dari yang dibayangkan. Sangat luas. Itu dia mengapa mereka, sebagai anggota tim inti, terdiri dari orang-orang dari Negara yang berbeda-beda.
“Ingat gak yaa… ? Gak tuh. Aku lupa ingatan, nih.” Val menatap Zav dengan tatapan bingung, “I’m sorry, who are you tho?”
Zav terkekeh, merasa sedikit lega Val sudah bisa bercanda lagi. Zav mendekatkan wajahnya dengan Val, ”I’m your lover, baby.”
Pipi Valerie memerah seketika. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. “Ck, ayo cepat!” ujarnya lalu kembali berjalan di depan, “tuh kan, setiap aku bisa bercanda, dia selalu menggodaku!” gumamnya yang masih terdengar oleh Zav, membuat lelaki itu terkekeh geli.
Setelah melewati ruangan-ruangan kaca yang tak ada habisnya, mereka berdua akhirnya berada di lantai empat. Berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya yang dipenuhi robot-robot sebagai pekerja dan drone yang berterbangan, lantai ini berisi manusia.
Ya, manusia biasa.
“Karena di lantai ini tak ada lab satupun, tempat penyimpanan aset teknologi juga tak ada di sini, hanya ada ruangan-ruangan biasa untuk manusia. Makanya tak butuh penjagaan ketat.” Jelas Zav, seolah mengerti kebingungan Valerie.
Val mengangguk paham, “Kau tahu banyak ya soal gedung AOM di sini.”
“Ahaha… iya, kan aku dulu direkrut di sini.” Ujar Zav mencoba tak terdengar gugup.
Zav menghentikan langkahnya. “Kita sudah sampai.”
Val mengerutkan alisnya bingung. Masalahnya, di depan mereka sekarang… tak ada apa-apa. Benar-benar tempat kosong. Seluruh lantainya terbuat dari marmer berwarna putih, bersih, benar-benar tak ada apapun.
“Mana? Tak ada apapun di sini.”
“Apa? Ada laser lagi?? Haduh, siapa sih yang membuat banyak penjagaan seperti ini? Nanti kalau tubuhku tercincang jadi lima bagian, gimana?” gerutu Val.
Zav menyeringai, tebakan Valerie sepenuhnya salah. “Itu ruangannya ada di depan kita persis.” Ujarnya, yang tentu saja membuat Val melotot melihat ke depan dengan saksama, tapi tetap saja tak ada apapun.
Zav menekan tombol berwarna hitam pada benda itu, lalu dalam sekejap, muncullah sebuah ruangan yang sangat luas dan mewah, dindingnya terbuat dari kaca yang terlihat hitam dari luar.
“A-ada ruangan?” Val terlihat kaget dengan ruangan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
“Ruangan ini transparan sampai aku menekan tombol aksesnya. Yuk, masuk.” Ujar Zav lalu berjalan lebih dulu ke arah pintunya yang juga terbuat dari kaca juga, untuk memasukkan password akses masuk.
Val menyipitkan matanya, menatap Zav curiga. “Kamu kok… bisa-“
“Ayo, masuk.” Ujar Zav dengan seulas senyum, sekalian mengalihkan Val dari pertanyaan yang tak ia inginkan.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu, pada awalnya, ruangan itu terasa sepi, seperti tak ada orang. Fasilitas di dalam ruangan ini juga tak tampak seperti gedung AOM yang ciri khasnya adalah teknologi, malah, ruangan itu terlihat seperti kamar hotel yang mewah.
Val mulai curiga, tapi ia tetap mencoba berpikir positif. Tiba-tiba Zav menggenggam tangannya, lalu menggandeng Val melewati sebuah tempat tidur.
“Zav…” panggil Val ragu-ragu, “Aku tidak...”
__ADS_1
Saat lelaki itu menoleh, ia kaget melihat kedua pipi Val sudah memerah, raut wajahnya seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tidak pakai lama, tentu saja Zav mengerti maksudnya apa. Ia tertawa kencang, “Hahahaha! Shit, she’s so cute. No babe, I didn’t mean to.. you can calm down.” Ujarnya sambil tertawa geli.
Kedua pipi Val semakin memerah, “Ck! K-kau mengagetkanku!” ujar Val kesal.
Zav menyubit pipi perempuan itu gemas.
“Where she is then?” Tanya Val.
Zav kembali menggandengnya menuju sebuah pintu. “Hopefully she don’t make me upset.” Ujarnya lalu membuka pintu itu.
Terlihatlah seorang perempuan sedang duduk bersilang di sofa. Ia menyeruput tehnya dengan tenang.
Lagaknya yang selalu tenang itu yang paling membuat Zav kesal.
“Wahh, kalian sudah datang rupanya!” ujar perempuan itu.
Diam-diam, Val menghela napas malas.
Yap! Perempuan itu adalah orang yang waktu itu malas Val temui juga.
“Ah, ayolah, Val! Masa kau menggerutu seperti itu padaku? Kau tahu ‘kan aku juga bisa tahu?” ujar perempuan itu dengan seringaian.
Val berhenti berkata-kata dalam hati, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi.
Memang benar, perempuan itu bisa membaca pikiran.
“Bagaimana perjalanan kalian?” Perempuan itu bangkit dari sofa, ia berjalan dan mendekat pada Valerie, “Sejauh ini… apakah lancar?” bisiknya tepat pada telinga Val.
Valerie membeku di tempat. Ia paling benci jika ia sudah mendekat seperti ini, seolah insting bertahan hidupnya memudar. Perempuan ini… membuat siapapun yang ada di dekatnya merasa… tak memiliki harapan hidup.
Hanya dengan keberadaan perempuan itu… seseorang bisa merasa tercekik.
“S-semua… lancar.” Jawab Val terbata.
Perempuan itu menyeringai, “Bagus… anjing-anjingku yang penurut.” Bisiknya pelan.
Zav mengepalkan tangannya, ia mulai geram.
Perempuan itu melirik kepalan tangan Zav, “Oh! Anjing yang ini juga tak suka padaku sepertinya…” ujarnya, lalu ia mendekatkan wajahnya dengan Zav. “Ingat… kalian butuh aku… maka… jadilah anjing penurut.” Bisik perempuan itu sambil mengusap wajah Zav lembut.
Ia menyeringai. “Oh! Silahkan duduk! Mari kita membicarakan rencana kita selanjutnya sebelum Claire datang.”
○○○
Salah.
__ADS_1
Satu hal yang perempuan itu tak tahu.
Dibalik tampang tertekan itu, mereka telah merencanakan hal yang sebaliknya.