AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
66. Alex and Axelia


__ADS_3

03.00


[Author's POV]


"Zen, kau bisa diam tidak?"


Zen melihat Ally sekilas. "TIDAK!!" ujarnya lantang. Walau begitu, Ally tahu Zen bukan bermaksud membentaknya. Itu hanya ungkapan perasaan campur aduk Zen saja. Pria itu sudah menghabiskan dua cangkir kopi sejak jam 9 tadi.


Ia begitu sangat campur aduk selama 6 jam, untuk menunggu ke-5 manusia andalannya itu menyelesaikan proses mutanisasinya.


"Ini sudah jam 3 pagi, Zen. Tenang saja, sebentar lagi mereka akan kemari." hibur Ally yang tentu saja tak berpengaruh sedikitpun pada Zen.


Nyatanya, pria itu tetap mondar-mandir sambil mengusap-usap tangannya gelisah. "Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau mereka tak kuat menahan efek sampingnya? BAGAIMANA KALAU AKU MEMBUNUH ORANG?"


Ally menjadi ikut parno karena melihat gelagat Zen yang gelisah terus-terusan. "Diamlah, Zen! Aku jadi ikut takut." sepersekian detik kemudian, ia menyesali perkataannya. Tak semestinya ia mengaku takut di depan orang yang lagi panik.


"Tapi aku percaya padamu, Zen! Hasil penelitianmu tak pernah melenceng sedikitpun, kok!" ujar Ally berusaha menebus rasa bersalahnya.


Zen menarik napas, lalu menghembuskannya. "Iya... tapi kali ini objeknya adalah manusia, Ally-"


Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, seorang professor berlari masuk ke ruang rapat dimana Zen dan Ally berada sekarang.


Zen berlari menghampiri professor itu, "Bagaimana?!! Apa berhasil?!" tanya Zen menggebu-gebu. Detak jantungnya berdetak sangat cepat.


Professor itu tersenyum lebar, "SELAMAT ZEN! KAU BERHASIL!"


Zen terduduk lemas seketika. Ia sangat.amat.lega.


Ally menghampiri Zen dengan antusias, "APA KUBILANG!! SELAMAT, ZEN!!" ujarnya dengan senyum sumringah.


"Damn.. i made a mutant." gumam Zen tak percaya.


Professor itu tersenyum, "Mereka akan datang satu-persatu."


"Siapa... yang pertama?" tanya Zen masih dengan nada lemas. Ia masih tak menyangka.


Tok! Tok!


Pintu terbuka.


Tampaklah seorang lelaki dan seorang professor yang berjalan di depannya.


Lelaki itu memiliki wajah yang tampan dengan rahang tegasnya, ditambah lagi, ia terlihat mencolok karena rambut* red ginger*-nya yang juga sewarna dengan suatu hal yang keluar dari kedua tangannya.


Api.

__ADS_1


Rahang Ally terjatuh, ia terkesima dengan apa yang dilihatnya itu. "T-tangannya tak terbakar..." gumamnya pelan.


Mata lelaki itu menjelajahi seluruh sudut ruangan, sampai maniknya bertemu dengan manik Zen.


Ia menyengir, "Hai, Professor!"


Zen tersenyum, "Alex Benedict, selamat datang." ujar Zen ramah.


Tak ada yang bisa mengukur betapa senangnya Zen sekarang. Melihat secara langsung manusi- ralat, mutan yang berhasil ia buat. Tanpa merenggut nyawa, bahkan tak ada goresan atau luka sedikit pun.


Cengiran Alex semakin lebar,* "I'm your biggest fan!" *ujarnya pada Zen. Yang tentu saja bohong, ia saja baru tahu kalau ada professor bernama Zen hidup di dunia ini. Jelas saja ia hanya terbawa mood-nya yang sedang antusias dengan kekuatannya.


Zen terkekeh, ia tahu Alex berbohong. "Duduk di sini, Alex." ujarnya seraya menunjuk satu kursi yang berada di pinggir meja bundar itu.


Alex pun duduk di tempat yang sudah disediakan. Memang tumben ia menurut, karena ia sedang sibuk dengan dunianya sendiri sekarang. Ia sibuk memperhatikan kobaran api yang muncul dari telapak tangannya.


"Ini benar-benar gila... kalian harus memanggilku Hades mulai sekarang!!" ujar Alex dengan sumringah. Membawa-bawa nama Hades yang ada di dalam mitologi yunani, sebagai dewa neraka. Yang dengan kata lain juga pengendali api, seperti Alex sekarang.


Zen tersenyum, sedikit terpaksa lama-lama. Ia agak heran mengapa orang pilihannya begini.


"WOAHH! LIHAT! AKU BISA MEMBUAT DUGONG!" teriak Alex antusias saat tak sengaja bisa membentuk dugong dengan apinya.


Professor yang tadi datang bersama Alex, mendekat pada Zen, "Kau harus sabar dengannya. Memang sedikit gila." bisiknya.


"Bukan sedikit sepertinya." Ally menyahut pelan. Jujur saja, ia terperangkap pada pesona Alex saat pertama kali melihatnya, ia kira Alex se-tegas dan se-serius penampilannya. Ternyata jauh kemana-mana.


Tok! Tok!


Pintu terbuka.


Ally mengerutkan alisnya, belum sempat ia bertanya, Zen sudah terlebih dahulu menyerobot. "Masukla-"


"LIA!!" belum sempat juga Zen menyelesaikan perkataannya, Alex sudah berteriak duluan. Ia berdiri dari kursinya, terbelalak melihat perempuan itu.


Yup! Perempuan itu adalah Axelia, sang rekan seperklub-an Alex.


Alex langsung berlari menghampiri Axelia, memperhatikannya dari atas sampai bawah, "Kok pakaianmu ganti?! Saat terbangun sudah diganti?! Berarti diganti saat kau terbius? Siapa yang menggant-"


Alexa menempelkan jari telunjuknya di bibir Alex, "SSSUUUTT!!" ujar Axelia panik. Ia melangkah mundur, memperhatikan Alex dari atas sampai bawah dengan mata terbelalak, setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada Ally dan Zen yang sedari tadi juga bingung melihat Alex dan Axelia, "DIAM DISITU! SEMUANYA DIAM DITEMPAT!!!" ujarnya lantang.


Sepersekian detik kemudian, ia mengusap-usap matanya tak percaya. Membuat ketiga orang di situ saling bertukar pandang, ikut kebingungan.


"Lia! Kau ini kenap-?"


"Ya Tuhan... tolong ampunilah dosa-dosaku, aku bersumpah Alex yang selalu mengajakku ke klub. Lagipula itupun hanya untuk pura-pura jadi pelakor, Ya Tuhan... aku benar-benar tak akan berdosa lagi, toloongg hidupkan aku kembali!!" ujar Axelia tiba-tiba, ia berlutut menghadap angin kosong.

__ADS_1


"Lia! Kau kenapa sih?! Kau itu masih hidup!!" ujar Alex akhirnya, masih dengan alis yang bertaut.


Perkataan Alex membuat Axelia menoleh seketika. Ia terpelongo lebar. "Aku... bukannya sudah mati?" tanyanya heran. Sepersekian detik kemudian, ia terkesiap, "AH IYA! AKU MASIH HIDUP, KALIAN YANG SUDAH MATI! EH- ALEX?! KOK KAU BISA MATI?!" ujarnya Axelia panik bukan main.


"Mati?? Apa maksudmu? Kami masih hidup." Ally akhirnya membuka suara, ia tak tahan akan ketidakjelasan ini.


"Lah??" Axelia terpelongo lagi, "Lalu kenapa aku bisa melihat roh kalian semua dengan jelas... ?"


Zen mengerutkan alisnya, ia benar-benar tak mengerti. Mengapa orang-orang pilihannya tak waras semua?


"M-MENGAPA... AKU BISA MELIHAT ROH KALIAN?"


Zen menghampiri Axelia penasaran, dalam hati ia berpikir keras, apa ini karena pengaruh serum mutanisasinya? Atau...


"Ah, ya ampun!" ujarnya tiba-tiba. Ia menepuk jidatnya, baru teringat sesuatu, "Axelia, ini adalah kekuatan barumu. Jangan panik, kau masih hidup, kami juga masih hidup."


Zen membantu Axelia berdiri, lalu mempersilahkan perempuan itu untuk duduk di kursi yang ia sediakan di sebelah Alex. Axelia pun duduk perlahan, masih dengan wajah kebingungan.


"Kekuatan?" Axelia menoleh pada Alex, "Kekuatan apa sih maksud- WHAAA!! A-API! ADA API DI TANGANMU!" teriaknya ketakutan.


"Bukan, bukan... itu bukan seperti yang kau lihat, kok. Tangan Alex tak terbakar, tak terluka, bukan kebakaran, bukan sulap. Tapi itu kekuatannya, Axelia." ujar Zen cepat-cepat menerangkan. Ia tak mau ruang rapat ini menjadi semakin ribut.


"Professor J sudah menjelaskan semuanya secara detail kepadamu, kan? Mulai dari perubahan genetik yang termutanisasi, efek samping, dan kekuatan yang akan mengalir dalam tubuhmu, apa kau ingat?" Ally menambahkan.


Axelia terkesiap untuk yang kesekian kalinya, ia baru ingat semuanya itu. "Aku... sekarang adalah... mutan?" ujarnya kagum. Ia benar-benar baru mengingat semua perkataan professor J sesaat sebelum ia dibius dengan dosis tinggi untuk dimutanisasi.


Professor J bilang padanya bahwa ia akan bisa melihat roh semua orang yang mati maupun yang masih hidup. Memang kedengarannya membuat Axelia semakin tertekan, tapi ia memutuskan untuk menyetujuinya karena suatu kehebatan dari kekuatannya.


Yaitu, pengendali roh.


Alex mengulurkan tangan kanannya ke depan Axelia, membuat sebuah kobaran api. Sekaligus memamerkan kemahirannya yang sudah bisa membentuk dugong yang lebih bagus, "Sama, aku juga mutan." ujarnya dengan senyuman bangga.


Raut wajah Axelia yang tadinya sudah senang, sekarang berubah menjadi jijik, "EW! HARUS SEKALI YA, DUGONG?"


Alex mengerutkan alisnya, lalu melihat karya seninya itu, "Bukannya bagus?"


Melihat kedua orang yang sudah tenang itu, Zen ikut bernapas lega. Ia menoleh ke arah Ally, "Yang berikutnya suruh masuk."


Ally menyalakan alat komunikasinya yang sudah terpasang di telinga sebelah kanannya, "Professor H, kau sudah bisa membawanya masuk." bisiknya.


Tak lama kemudian, setelah Ally mendengar jawaban dari Professor H, raut wajahnya berubah. Ia tersenyum lebar.


"Kenapa? Apa katanya?" tanya Zen yang menyadari perubahan raut wajah Ally.


"Kita tak bisa menemui orang selanjutnya di sini." Ally berdiri dari kursinya dengan semangat.

__ADS_1


Kening Zen berkerut, "Apa maksudmu?"


"Dia bisa terbang, Zen."


__ADS_2