
[Author’s POV]
Hening.
Claire menyeryit. Ia menghentikan tangannya yang sudah siap melayangkan serangan. Tak berbeda dengan Claire, teman-temannya juga mengerutkan alis mereka bingung. Mereka saling bertukar pandang keheranan.
Diam-diam, Nancy menyeringai saat melihat Claire menghentikan serangannya.
“Kak?” ujar Claire bingung. Meski begitu, ia tak lengah dan tetap waspada pada perempuan di depannya.
Nancy mengadah, sudut-sudut bibirnya terangkat menjadi senyuman tipis. Tanpa berkata apapun, ia bangkit berdiri perlahan.
Tanpa diduga, sebuah cahaya muncul dari puncak kepala Nancy. Cahaya itu berputar mengitari puncak kepalanya, lalu turun sedikit demi sedikit.
Saat cahaya itu turun, rambut cokelat terangnya berubah menjadi hitam, semakin turun melewati wajah, wajah Nancy berubah total mulai dari dahi ke dagu… menjadi wajah orang yang berbeda. Cahaya itu berputar di sekeliling tubuhnya, semakin turun sampai ke ujung kakinya.
Kini perempuan di depan mereka adalah orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari sosok fisik Nancy Katherina. Satu-satunya yang tak berubah adalah manik cokelat terangnya.
Gadis itu memiliki rambut hitam lurus se-bahu, manik cokelat terang dengan tatapan tajam dan dingin, wajahnya sama sekali tak terlihat lebih tua dari mereka, tubuhnya yang tegap dan tak terlalu tinggi itu memakai pakaian yang sama persis dengan Claire, hanya saja, setelan miliknya berwarna merah gelap.
Penampilannya membuat orang seisi ruangan itu terkesiap kaget.
Itu… adalah pertama kalinya.
Mereka benar-benar terkejut… ‘Nancy’ sangat mirip dengan Claire.
Saking miripnya… mereka seperti…
“Lama tak bertemu, Kak.” Ujar gadis itu dengan senyuman tipis.
Claire menutup mulutnya, tangannya gemetar, kakinya melemas serasa akan jatuh. Ia bahkan tak dapat percaya akan apa yang dilihatnya itu.
“… Rhea?”
Ke-enam agen itu menyernyit kebingungan saat mendengar Claire menyebut nama ‘Rhea’. Tapi mereka bisa menyimpulkan suatu asumsi yang kemungkinan besar benar.
Sementara itu, Claire merasa darahnya telah mendidih, ia menggertakan giginya. “RHEA KENAPA?! KAU… YANG MELAKUKAN INI SEMUA DARI AWAL?!” ia mengepalkan tangannya kesal, “itu berarti…” ia menoleh ke arah Alan Clark, ayahnya yang sudah tak bernapas itu, “… ITU PERBUATANMU JUGA?!!”
Perempuan bernama Rhea itu tertegun, reaksi Claire diluar ekspektasinya. Claire malah terlihat tambah kesal. Tapi ia menutupi ekspresi terkejutnya dan langsung berpura-pura tenang. Ia tak akan membiarkan rencananya selama ini berakhir sia-sia.
Rhea menyeringai, ia mendekatkan wajahnya dengan Claire, lalu mengecup pipinya. “Jangan kaget, Kak. Pria itu pantas mati, karena kalau tidak…”
“… kau yang akan kubunuh.”
Saat Claire baru membuka mulutnya ingin berbicara, Rhea menempelkan telunjuknya pada bibir Claire. “Ssshh… tak usah berkomentar. Anak istimewa sepertimu tak tahu apa yang aku rasakan.” Ujar Rhea. Tadinya ia hanya mengatakan itu sebagai alasan, tapi entah mengapa kalimatnya barusan keluar dari hatinya yang terdalam. Tanpa direncanakan, ia tulus mengatakan itu dengan emosi.
“Selama ini kau bahkan tak memprihatinkan keadaanku. Terlalu nyaman di atas, sampai tak pernah melihat ke bawah.”
Melihat wajah Claire yang terkejut, Rhea sadar… ternyata dirinya benar. Karena kakaknya itu bahkan tidak mengelak.
Situasinya berbalik.
Rhea kesal melihat wajah itu. Wajah naif seolah tak tahu apa-apa. Tidak. Ini tidak adil untuk Rhea.
Ia tak tahan lagi, Rhea menaruh kedua tangannya di kepala Claire, lalu menekannya sedikit.
“KAU HARUS TAHU APA YANG KURASAKAN!!”
[Rhea memperlihatkan memorinya pada Claire]
Flashback On
1 Desember.
Suara bising memasuki indra pendengaranku.
Pesta yang meriah, tamu-tamu undangan yang tak terhitung. Orang-orang penting, petinggi kelas atas pun ikut hadir. Bervariasi, dari yang bergelar professor, investor ternama, pejabat negara, sampai beberapa agen rahasia. Orang orang yang sudah sukses, yang kalau lewat tercium bau uang.
Hari ini adalah pesta ulang tahun saudaraku, dan yang kusebutkan di atas adalah kenalan-kenalan ayah dan ibu. Memang aneh, yang ulang tahun siapa, tamunya kenalan siapa. Tapi pasti ia takkan masalah. Hidupnya sudah enak, lebih dari cukup. Cairan emas perak yang tertuang di hidupnya sudah penuh, bahkan sekarang sampai tumpah-tumpah.
Bukankah hidupnya adalah idaman?
Aku melihat dari lubang kecil di atap ruangan ini.
Wahh, banyak sekali orang berjalan mondar mandir kesana kemari. Menari penuh kegirangan dengan segelas wine yang mereka genggam di tangannya.
Musik bising memenuhi rumahku tanpa henti. Eh? Apa aku salah?
Ya, sepertinya salah.
Ralat, rumah gadis itu dan orang tuanya. Maaf kebiasaan, aku lupa kalau tak pernah ada ‘aku’ diantara mereka. Haha..
Pasrah dengan kebisingan di atas, aku merebahkan tubuhku di kasur usang ini. Menatap cahaya rembulan yang seolah sedang menghadap kepadaku.
“Kau mau menghiburku lagi kali ini, Tuan Bulan?”
“Ah, kau baik sekali, Tuan. Hanya cahayamu yang menemaniku bersedih di sini setiap tahun.”
Aku terkekeh, “Bukan… bukannya aku tidak bersedih setiap hari, tapi aku paling bersedih setiap hari ini datang.”
Mungkin aku gila?
Hahaha baiklah, tapi kuharap lebih dari itu.
__ADS_1
Bagaimana… kalau mati saja?
Ah, aku selalu berpikir begitu tanpa berani mencuri pisau dari dapur. Maaf lagi, salahku.
Bagaimana, ya? Aku memang sudah se-putus asa ini.
Keluargaku adalah keluarga terpandang. Ayahku adalah seorang billionare ternama, masalah pekerjaannya akan kuberi tahu nanti. Ibuku… ah sebentar, ibu yang mana? Aku punya banyak ibu! Hahaha… tidak, bukan sombong, aku justru membenci fakta ini. Tapi, kalau ibu kandungku… dia sudah meninggal saat melahirkan aku, dan yang terakhir... aku mempunyai saudara tiri.
Ah, perempuan sialan itu. Aku jadi teringat lagi padanya.
Tak masalah, teringat tak teringat pun hidupku sudah hancur karenanya. Tak usah kuperkenalkan, menyebut namanya saja aku bisa muntah.
Aku bangkit dari kasurku, lalu mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen bekas.
Aku akan mencatat rencanaku di kertas ini. Rencana untuk masa depanku. Hanya jaga-jaga kalau aku kalah taruhan.
Iya, taruhan.
Setiap tahun aku bertaruh dengan Tuhan.
Kalau sehari setelah 1 Desember dunia akan kiamat, maka taruhannya aku yang menang. Kalau itu terjadi, Tuhan harus berjanji harus mempertemukanku dengan ibuku.
Tapi kalau tidak kiamat, Tuhan yang memenangkannya, dan aku yang kalah. Dan kalau itu terjadi, aku akan membuat rencana untuk masa depanku. Dengan kata lain, aku terpaksa harus berjalan maju, menghadapi dunia dan tahi-tahinya.
“Baiklah Tuan Bulan, mari kita tunggu sampai besok. Doakan aku agar aku menang taruhan, ya.”
Aku tersenyum, lalu bangkit dari kasurku. Menginjak tissue-tissue bekas air mata, berjalan menghampiri lubang kecil yang ada di atap ruangan kecil ini.
Tempatku ini adalah ruang bawah tanah, bawah pijakan mereka semua yang sedang bersenang-senang. Bukan, ini bukan tempat persembunyianku, laboratorium pribadiku, atau tempat konyol lainnya yang tak mungkin kumiliki.
Tapi ini memang tempat tidurku.
Cukup mengesakan.
Kegelapan sudah menjadi temanku sejak kecil. Tak perlu takut. Bahkan kalau ada hantu, mungkin ia sudah letih mendengarku mengeluh, bercerita, berbicara sendiri.
Aku mengintip keadaan di atas lagi.
“Ah, sudah tak ada orang? Tapi musiknya masih belum berhenti.” Gumamku.
Oh iya. Mereka pasti sedang ada di lapangan pesawat di depan. Hah, bagaimana aku bisa lupa? Haha, maaf lagi.
Setiap ulang tahunnya, ia selalu dibiarkan mengambil bolos dari sekolah dan berlibur di luar negeri untuk sebulan.
Tentu saja itu tak berpengaruh denganku, aku tetap menjalankan kehidupan seperti tikus bawah tanah ini.
Baiklah, cukup mengasihani diri sendirinya untuk hari ini.
Aku ingin keluar, mengambil pisau di dapur. Mumpung ingat.
Baiklah, aku siap.
Dengan cepat, aku membuka pintu yang ada di atap kamar tidurku.
Walau sudah tak ada orang, tapi aku harus cepat.
Aku berlari secepat kilat ke arah dapur.
Ah sial, aku lupa dimana letak dapurnya.
Dimana…
Sial, aku audah lama sekali tidak keluar. Aku lupa dimana letak dapurnya.
Ck, ayo fokus.
Pikirlan pelan-pelan..
Ah, iya.
Nah, akhirnya aku ingat dimana aku bisa mendapatkan sebuah pisau.
HAHAHA, Mendengar diriku sendiri mempunyai niat seperti ini membuatku tertawa. Tapi, mengapa… aku meneteskan air mata?
Ah, tidak. Mataku hanya berkeringat, tak usah khawati- Eh iya, siapa yang khawatir? Aku saja hanya berbicara sendiri dengan pikiranku yang sudah hampir gila. Benar, mari fokus.
Aku berlari menaiki tangga. Jelas tangga, kalau aku memakai lift, pasti akan bertemu tamu ayah.
Tak sejauh yang kupikirkan, di depanku sudah dapur sekarang.
Tak usah membuang waktu lama-lama untuk memilih pisau mana yang paling tajam, aku langsung mengambil pisau secara asal agar tida-
“RHEA, APA YANG KAU LAKUKAN?!!”
Sial, aku ketahuan.
Suara wanita itu…
Aku menoleh kebelakang.
Ah, salah satu pelayan di rumahku- ralat, rumah ayahku. Haha, kan ‘rumahku’ hanya ruangan sempit yang di bawah tanah itu.
“UNTUK APA KAU KELUAR? APA HUKUMANKU WAKTU ITU KURANG SAKIT?! KAU MAU KUTAMBAHKAN, YA? SAMPAI LUKAMU ITU TAMBAH BANYAK, KAN?”
__ADS_1
Sial. Dia berisik sekali.
Wanita brengsek. Sekarang tamu-tamu ayahku menoleh ke arah sini.
Keberadaanku telah diketahui, sialan.
Aku berlari dengan cepat membawa hartaku ini, aku harus segera pergi.
“Eh? Apa itu adalah putri Alan Clark yang dibuang itu?!”
Aku harus cepat sampai di bawah tanah.
“Putrinya?”
Tolong… diam..
“Kau tidak tahu? Pernah ada rumor bahwa Alan Clark mempunyai seorang putri yang tak memiliki kekuatan apapun dari istri keduanya yang sudah meninggal.”
….
“Apa?! Benarkah?!”
“Ssssh! Suaramu terlalu keras, nanti terdengar!”
“Untuk apa dia membawa pisau?”
“Kalau begitu pantas saja dibuang, dia tak pantas hidup.”
“Ehh eh! Dia berhenti!”
“Matilah aku, apa dia akan menghampiriku karena mendengar perkataan tadi?”
Padahal, aku…
… mengambil pisau… untuk bunuh diri.
Haha. Aku bahkan…
… tak pantas menggenggam pisau ini?
Walau untuk mengakhiri hidupku sendiri?
KLONTANG
“Ia menjatuhkan pisaunya!”
“Dia menangis!!”
“Eh, dia berlari turun, bukan menghampiriku. Haha, tak berani, ya? Jelas tak akan berani…
… manusia hina.”
Manusia… hina?
Aku terkekeh.
Setelah menutup pintu kayu ini, aku duduk di pinggir ranjang. Memperhatikan setiap inci pisau ini hanya dengan bantuan cahaya Tuan Bulan.
Aku mencoba menggoreskannya pada jari telunjukku.
“Hmm… cukup tajam.”
Darah mengalir dari jariku, menetes membasahi pinggir ranjang ini.
“Tuan Bulan… kalau besok aku kalah taruhan lagi… aku harus pilih yang ini, atau yang ini?” tanyaku pada Bulan, dengan menunjukkan pisau di tangan kanan dan selembar kertas berisi rencana di tangan kiri.
Aku tersenyum.
“Benar. Kau benar, Tuan.”
KLONTANG
Aku menjatuhkan pisau di tangan kananku.
“Akan konyol kalau aku tak mencoba ini sama sekali.”
Hahaha…
Aku akan menghancurkanmu.
Kau.
Kota ini.
Negara ini.
Benua ini.
Planet ini…
… Dunia ini.
Aku tersenyum puas.
__ADS_1
"Mari kita tunggu besok."