AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
78. Ice and Fire


__ADS_3

Hera mengadahkan wajahnya, menatap Jack tak percaya. "D-ddinginn..." ujarnya dengan suara bergetar. Kedua manik gadis itu berkaca-kaca.


Jack mengerti maksud tatapan itu. Namun ia tak punya cara lain untuk sekarang, lelaki itu menghela napas. Kemudian ia menoleh ke belakang. "Arthur! Tolong bawa pembimbing Hera ke dalam untuk diobati!"


Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke bawah, ia melihat ke arah lantai di sekitar Hera. "Petir-petir itu sudah kembali terserap olehmu." ujarnya pada Hera, kemudian kembali menoleh ke belakang.


"Alex, kemari! Bantu aku!" suara Jack yang berat itu terdengar lantang sampai ujung sana. Keempat temannya itu baru pertama kali mendengar suara lelaki itu selantang ini.


"Alice! Tolong sadarkan Axelia!" ujar Jack lagi. Ia melihat Axelia dari jauh, gadis itu masih memejamkan matanya. "Bahaya kalau rohnya tak bisa masuk ke dalam tubuhnya lagi." gumamnya.


Sudah lewat satu jam. Jangan kira Jack tak memperhatikan situasi dari tadi. Mengenai kecemasannya tadi, ternyata Jack benar. Ia tahu Axelia bukan tidur, tapi rohnya sudah tak ada dalam raganya lagi.


Sebenarnya lelaki itu sudah khawatir sejak awal. Ia tahu Hera belum bisa lancar menggunakan kekuatannya, buktinya, dari awal gadis itu selalu salah sasaran ketika disuruh oleh pembimbingnya untuk mengarahkan petirnya ke bagian tembok yang ditandai dengan lingkaran target.


Dan lagi, Axelia yang terlihat tak berada dalam raganya itu meresahkan Jack. Karena jika Hera lepas kendali, dan Axelia tak bisa langsung mendorong jiwa Hera keluar dari raganya agar pingsan, maka terpaksa Jack akan melakukan hal semacam ini.


Masalahnya, Jack belum tahu akan ada efek samping apa dari hal yang ia lakukan barusan.


Alex yang telah sampai di hadapan Jack dan Hera, menoleh pada Jack. "Aku bantu apaa?"


Jack menunjuk kedua tangan Hera yang telah ia bekukan, es yang tebal menyelimuti tangannya. "Tolong cairkan itu." ujar Jack tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua tangan Hera.


Alex mengangguk, "Bisa, tapi tolong jaga permukaan kulit di sekitarnya supaya gak kebakar atau kepanasan." ujar Alex, sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya. Bersiap-siap.


Jack mengangguk, ia melirik Hera sesekali. Terlihat bekas air mata pada kedua pipi gadis itu, tanda bahwa ia menangis kesakitan karena terlalu dingin. Namun sekarang gadis itu sedang memperhatikan kedua tangannya dengan tegang. Menunggu Alex melelehkan es yang membekukan tangannya.


"Pejamkan matamu." bisik Jack dengan raut wajah serius. Menyadari itu, Hera langsung menutup matanya rapat-rapat. Sebenarnya ia juga takut melihat tangannya dilelehkan. Kedengarannya saja sudah menyeramkan.


"Aku mulai." ujar Alex. Sepersekian detik kemudian, ia mengeluarkan kobaran api kecil dari kedua tangannya, lalu menelungkupkan kedua tangan Hera yang sudah menjadi es itu dengan tangan apinya.


"Jauhkan tanganmu!" ujar Jack tiba-tiba. Ia mengerutkan alisnya panik, "Beri jarak! Kau hanya perlu menghangatkan tangannya, bukan membakarnya." ujarnya serius.


Alex menyernyit, "Bukankah akan lebih cepat cair kalau tanganku bersentuha-"


"Gak bisa. Es gak bisa dibakar dengan api, butuh reaksi kimia dari bubuk kalsium karbid. Dan kita gak punya itu sekarang." sahut Hera tiba-tiba. Tepat setelah mengatakan itu, Jack menatap Hera dengan tatapan serius, sehingga Hera kembali memejamkan matanya rapat-rapat.

__ADS_1


"Jadi kau harus beri jarak, hangatkan saja sampai meleleh." ujar Jack tegas.


Alex mengangguk paham, lalu segera memberi jarak di antara tangannya dan tangan Hera supaya jangan sampai bersentuhan.


Setelah lima detik, tetesan pertama terjatuh. Es itu sudah mulai mencair. Dan lama kelamaan semakin menetes terus menerus.


Saat lapisan es yang menyelimuti tangan Hera sudah tipis, Jack mengulurkan tangannya di atas tangan Hera yang tak beku, untuk memberinya hawa dingin supaya tangannya tak sakit kepanasan.


"Cepat ketik!" Suara Alice dari ujung sana terdengar kencang.


Namun Jack, Hera, dan Alex tak terganggu sedikitpun, mereka tetap fokus menyelesaikan persoalan tangan beku di sini.


Sementara itu, Alice dan Axelia sedang berusaha berkomunikasi satu sama lain. Alice mengulurkan ponselnya pada angin kosong di hadapannya. Begitulah kelihatannya, namun yang sebenarnya terjadi adalah, Axelia sedang berada tepat di depan Alice sekarang, sedang mengumpulkan energinya supaya bisa mengetik apa yang mau ia katakan di layar sentuh ponsel Alice.


"Udah belum?" tanya Alice, mulai merasa pegal. Kemudian ia mengarahkan ponselnya ke arah dirinya untuk membaca apa yang Axelia ketik.


'Aku gak bisa kembali ke ragaku, gak tahu gimana caranya. Tolong panggilkan Kevin saja, dia pasti tahu caranya...'


Alice menghembuskan napasnya, malas tapi pasrah. "Dimana dia?" tanyanya, sambil menoleh ke sekitar. Di lapangan ini tak ada yang lain selain Alex, Jack, Hera, Axelia, dan dirinya.


'Sepertinya dia di dalam gedung, sedang memanggil Professor yang lain untuk meminta bantuan.'


Alice memutar matanya malas. "Astaga.." gumamnya. "Ya udah, tunggu di sini." ujarnya singkat, lalu segera meninggalkan tempat itu dengan kaki yang melayang. Ia terbang, melesat secepat kilat.


Alex menoleh sekilas, lalu menyernyit bingung. 'Apa tuh tadi? Hantu? Salah lihat kali ya, masa ada yang terban'


"Fokus, Al." ujar Jack tegas.


Es yang menyelimuti tangan Hera sudah tinggal bagian-bagian kecil, maka dari itu, Alex harus ekstra hati-hati agar tak melukai tangan gadis itu.


"Selesai." Alex menghela napasnya lega. Lima menit tapi rasanya satu jam, berkat tatapan maut Jack yang menyeramkan.


Jack menyudahi perlindungan hawa dinginnya, lalu menoleh pada Alex. "Terima kasih." Dari nadanya, ia terlihat sama leganya dengan Alex.


Alex mengangguk dengan senyuman tipis, lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Ia mengarah ke tempat raga Axelia berada.

__ADS_1


Hera mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Manik mereka bertemu, dan terkunci selama beberapa detik.


"Terima kas-"


"Ada yang luka?" tanya Jack datar, namun nadanya mengisyaratkan kekhawatiran. "Maaf. Tadi.. aku panik, jadi aku terpaksa harus membekukan tanganmu." ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari manik biru laut itu.


"Aku mengerti... tak apa." ujar Hera dengan senyuman tipis. Dari raut wajahnya tersirat bahwa ia kecewa dengan dirinya sendiri karena selalu jadi sumber masalah. Hera menunduk, merasa bersalah.


Sementara itu, lelaki ini..


...jantungnya berdegup kencang, melihat wajah itu...


Wajah yang biasanya selalu tersenyum manis padanya.


Wajah yang terkadang disembunyikan pemiliknya karena tersipu malu.


Kini, wajah itu dipakai gadis ini... untuk menunduk sedih.


"Hey.."


Hera mengangkat wajahnya, kembali memberikan Jack kesempatan untuk bertemu lagi dengan maniknya.


Lelaki itu tak peduli lagi, entah siapa pun perempuan di hadapannya ini. Yang jelas, ia tak akan membiarkan wajah gadis kesayangannya tertekuk sedih.


"Jam sembilan. Di ruang tamu atas." ujar Jack singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


'Dia berbahaya.' ujar lelaki itu dalam hati, sambil meletakkan tangannya di dada, merasakan degup jantungnya yang berdetak tak karuan.


.


.


.


.

__ADS_1


Next chapter Jack mau ngapain yaa??


__ADS_2