
"Alice.."
"... boleh tidak, kupinjam tugas yang kemarin? Aku tak sempat mengerjakannya.." seorang mahasiswi mengigiti bibir bawahnya, menunggu jawaban dari teman sekelasnya yang dipanggil Alice itu.
Raut wajah Alice tak berubah sama sekali, seolah tak mendengar, ia tetap datar memandang lurus kedepan.
Melihat tak ada tanda-tanda Alice akan menjawab, mahasiswi tadi mengatupkan bibirnya. Berpikir apa yang harus ia katakan lagi agar Alice mau meminjamkan tugasnya sebelum dosen di mata kuliah terakhir datang.
"Please.. aku benar-benar lupa, sebenarnya teman-teman yang lain juga lupa, hanya kamu yang mengerjakan, Lice." mohonnya.
Mahasiswi itu bernama Lula, mahasiswi terpopuler di kampusnya karena kepribadiannya yang supel. Ditambah lagi, ia cantik.
Sebenarnya, jika kecantikannya dibandingkan dengan mahasiswi di depannya sekarang ini, ia masih kalah.
Coba saja jika Alice tak memakai kacamata tebalnya itu, sempurna sudah.
Sayangnya, jika bicara soal keperibadian, Alice kalah jauh dengan Lula.
Masih tak ada respon, kali ini Alice malah memasang headset-nya untuk mendengarkan lagu, sembari membaca buku tebal tentang gravitasi.
"Alice... " Lula masih menggigiti bibir bawahnya, segan.
"... sekali ini saja, lain kali aku janji tak akan meminjam lagi." ujarnya dengan senyuman manis.
Alice menekan tombol pause di headset-nya, menutup bukunya, lalu berdiri dengan buku tebal itu di genggamannya.
Ia menoleh kepada Lula akhirnya. "Permisi" ujarnya dengan ekspresi datar, membuat Lula terpelanga heran.
Ia kaget karena sifat Alice yang sangat dingin. Sejenak ia berpikir, ternyata yang dibicarakan mahasiswi sefakultas itu benar. Faktanya, mahasiswi yang bernama Alice itu memang bersifat seperti itu. Cuek, dan.. sedikit arogan.
Ya.. sedikit.
Alice berjalan keluar kelasnya. Ia berjalan melewati koridor-koridor yang sedang sepi, semua mahasiswa-mahasiswinya sedang duduk manis di kelas mereka masing-masing. Kecuali kelas Alice yang memang belum waktunya dosen untuk masuk.
Ia berjalan sembari membaca bukunya itu, tanggung, tiga halaman lagi sudah selesai.
BRUKH!
Seseorang menabraknya sampai bukunya terjatuh. Alice menoleh, seorang perempuan.
"Maaf, maaf." ujar perempuan itu, lalu berjongkok untuk mengambil buku yang ia jatuhkan.
Saat ia melihat buku tebal itu, diam-diam ia menyeringai.
Namun seringaian itu hilang secepat kilat saat ia mengembalikan buku itu pada Alice.
"Terimakasih." ujar Alice dengan tatapan datar, lalu berjalan pergi.
Ia bertanya-tanya dalam hati.
Siapa perempuan itu?
__ADS_1
Secuek-cueknya, ia hafal wajah satu persatu 'temannya' di berbagai macam kelas yang ia ikuti.
Dan wajah perempuan itu asing.
Lagipula seharusnya jika ia mengikuti kelas selain kelas yang diikuti Alice, tidak seharusnya ia berkeliaran di koridor.
Iya yakin pasti, perempuan itu mencurigakan.
Dan juga secuek-cueknya, tentu ia dapat melihat sekilas bahwa ada alat pendengar di telinga perempuan tadi.
Ia menautkan alisnya, berpikir keras."Earzoom?"
"Profesor, tak kusangka akan semudah ini. Aku udah menemukan mahasiswi yang persis seperti ciri-ciri yang kau berikan."
...●●●...
Kelas terakhir telah berakhir, semua mahasiswa-mahasiswi berjalan keluar kelas dengan ekspresi menyedihkan karena diberi setumpuk tugas oleh sang dosen. Kecuali gadis dengan kacamata tebal itu. Faktanya, Alice tak mencatat satupun tugas yang diberikan tadi.
Tapi, tebak apa.
Ia sudah menyelesaikan semua tugas itu. Baru saja.
Ia menjadi yang terakhir keluar kelas karena mengerjakan tugasnya terlebih dahulu.
Cukup sepuluh menit.
Itu mudah baginya. Karena buku-buku tebal tentang teori berbagai macam mata pelajaran sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Sembari berjalan pulang, ia memikirkan kelanjutan penelitian rahasianya yang kebetulan sedang buntu.
Di usianya yang sebentar lagi 18 tahun (jangan tanya mengapa diumur 17 tahun ia sudah berada di bangku kuliah), cukup membuat orang tertegun jika mengetahui isi kamarnya yang dipenuhi meja-meja penelitian, dan kertas-kertas rumus berserakan dilantai.
Tak henti-hentinya ia memikirkan bagaimana kelanjutan penemuannya.
Semenjak kejadian yang menggemparkan tiga tahun lalu, kabar rusaknya bumi diakibatkan karena sekelompok mutan telah menyebar dan sampai ketelinga semua orang.
Termasuk Alice.
Ia memanfaatkan kepintarannya untuk mencoba membuat sesuatu yang mungkin bisa mengubah dunia.
Penemuannya berkembang dengan lancar, sampai hari ini.
Untuk pertama kalinya, otaknya sudah buntu...
Ia tak tahu lagi racikan itu harus diapakan.
DRRT DRRRT..
Ponselnya bergetar, panggilan masuk memecahkan lamunannya.
"Alice?"
__ADS_1
Suara wanita berumur tiga puluhan terdengar dari ponselnya.
"Maaf sayang, hari ini mama harus membatalkan penerbangan untuk pulang. Mama masih harus mengerjakan suatu proyek di kota Neuren." Hal yang sudah Alice duga.
"Sayang? Maafkan mama, ya?"
Ia terlalu malas untuk membuka mulutnya sekarang.
Menurut Alice, itu terlalu buang-buang tenaga untuk seseorang yang tak pernah memberi waktunya untuk dirinya.
Ia tinggal di suatu mansion di tengah kota Xandar, kota yang terkenal dengan kemajuan sistem pendidikannya, dan kota yang mempunyai murid-murid unggulan.
Tak peduli seberapa beruntungnya Alice menjadi anak dari dua orang milyarder yang sukses dikotanya, tetap saja tak berarti jika orang tuanya hanya mengunjunginya dua kali setahun.
Ditambah lagi, tahun ini, ibunya hanya mengunjunginya sekali.
Bagus sekali, ia sudah resmi membenci hidupnya sekarang.
Ia sudah berencana akan mengakhiri hidupnya setelah sudah menyelesaikan racikan itu.
"Halo? Say-"
"Iya, tak apa."
Tut.
Ia mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Gadis itu sudah tak peduli lagi, yang sekarang ia pikirkan hanya bagaimana cara menyelesaikan penelitiannya.
Dengan sinar matahari senja yang sudah mulai meredup, jalan yang ia lalui menuju ke parkiran kampusnya pun mulai gelap, sebatas diterangi lampu-lampu jalan.
Tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya.
Alice merasa ada yang mengikutinya.
Tapi saat ia menoleh kebelakang, tak ada seorang pun.
Gadis itu mempercepat jalannya.
Tanpa disadari, seorang perempuan sudah ada tepat di belakangnya, "Hai." ujar perempuan itu.
Saat Alice menoleh kebelakang, ia sedikit terkesiap. Perempuan itu tampak... familiar.
Belum sempat mengambil pistolnya--yang ia simpan di dalam tas untuk jaga-jaga-- seseorang yang tak ia ketahui sudah membekap mulutnya dari belakang.
Alice terbelalak, "HMMPPH!! HMMPH!" teriakannya tak bersuara sama sekali. Dengan sigap, ia langsung bersiap menggigit jari orang itu. Tapi terlambat, pengaruh obat bius itu sudah berhasil membuatnya melemas. Sampai akhirnya... ia tak sadarkan diri.
BRUKH.
Orang itu menyeringai, "Mudah sekali." gumamnya. Dari suaranya, orang itu adalah seorang perempuan.
"Professor, manusia percobaan kedua sudah terbius."
__ADS_1