
21.00
Ruang 1
Remang-remang cahaya lampu yang menerangi ruangan tanpa ventilasi menjadi hal pertama yang dilihat gadis berambut hazel se-pundak itu. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, memaksakan pengelihatannya untuk menampilkan pandangan yang jelas.
Ia melihat kebawah, ia duduk di atas kursi yang terbuat dari besi. Dengan kesadaran yang masih delapan puluh persen, ia mencoba menggerakan tangannya, keras dan dingin, se-dingin besi yang ia duduki. Tak bisa. Gadis itu mengoyak-oyakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tak dapat bergerak juga.
Kepalanya teradah ke depan, tiga orang pria dengan kaca mata tebal, berumur sekitar 40-an ke atas, berdiri tegap menatap gadis itu dengan serius. Ketiganya memakai jas laboratorium berwarna putih. Ia menautkan alisnya. Pandangannya teralih pada kedua pria bertubuh kekar yang masing-masing berdiri dengan menyilangkan tangan di sudut ruangan yang kanan, dan yang kiri.
"S-siapa.." gadis itu menelan ludahnya, ".. kalian?" Seseram-seramnya hantu yang seringkali mondar-mandir di hadapannya, ia lebih memilih untuk takut pada orang-orang ini. Mengapa, lebih takut pada mereka? Setidaknya para hantu menatapnya dengan tatapan kepedihan, walau jelek, lebih manusiawi dari orang-orang di hadapannya yang menatapnya seolah akan merogoh ginjalnya untuk dijual.
Salah satu pria berjas laboratorium itu berjalan ke arahnya, lalu menempati kursi di depan gadis itu. Raut wajahnya yang serius berubah seketika. "Profesor J." Ujarnya sambil tersenyum, "Tenang saja... jangan takut, aku tak akan menyakitimu."
Gadis itu mengoyak-oyakan tubuhnya lagi, berusaha melepas tali yang mengikat tubuhnya dengan kursi ini. "Apa-apaan ini?! Dimana aku?! Siapa kau! Mau apa kau dariku?!" Bentaknya keras, menutupi nada aslinya yang gemetar.
Gadis itu memiliki manik cokelat tua yang indah, warna yang sangat serasi dengan rambut lurus se-pundaknya, ditambah kulit putih mengkilap yang tampak sehat. Dari accent-nya, semua orang akan tau benar kalau ia berdarah Jepang.
Ia takut. Siapa yang tak takut jika tiba-tiba berada dalam ruangan kecil tertutup, dengan 5 orang pria dan tubuh diikat pada kursi besi, ditambah kedua tangan yang di borgol di belakang kursi, sementara ingatan terakhir yang ia miliki adalah sedang dalam perjalanan pulang dengan mobil lamborghi-
"KAU BEGAL YANG MENODONGKAN PISTOL TADI KAN!" bukan main, ia meneriaki pria berjas putih di depannya dengan tatapan berapi-api, "LEPASKAN AKU! SETELAH ITU AKAN KUBERIKAN KUNCI MOBILNYA!" Bohongnya. Tentu saja kuncinya ada pada- "Alex! DIMANA ALEX?!"
Pria yang mengaku sebagai Profesor J itu terkekeh.
"Pelankan suaramu, aku tak akan mengambil ginjalmu dari tempatnya atau melukaimu se-gores pun, jadi.. tolong dengarkan," ujar profesor itu tenang, "pertama, maaf sudah mengagetkanmu dan membawamu secara.." secara hipnotis, ujarnya dalam hati, ".. tak semestinya." Begitu melihat gadis itu sudah ingin memotong pembicaraan, ia segera melanjutkan, "Kau sedang ada di markas kami, ilmuwan planet Mars yang baru menjalin hubungan dengan bumi selama 3 tahun ini."
Gadis itu tertegun. Mengetahui ia berada di dalam gedung paling anti dimasuki di planet ini. Atas naungan lembaga pemerintah sementara, Research and Defense Center of Mars, bertempat di Kota Neuren, atau yang biasa disebut-sebut 'markas para ilmuwan'.
Ia menatap pria itu tajam, "A-apa mau-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Profesor J berdecak, "Tunggu dulu.. aku belum selesai."
Ia menghela napas panjang, bersiap menjelaskan semuanya. "Masih ingat peristiwa 3 tahun lalu?"
Gadis itu hanya mengangguk kali ini, pria itu melanjutkan, "Kiamat yang terjadi pada Bumi, menjadi hal yang menghantui ratusan ilmuwan disini. Tak pernah sekalipun kami alpha meneliti tentang kiamat yang disebabkan oleh kumpulan super human itu, sampai akhirnya, Professor Zen, pimpinan di sini, menemukan tanda-tanda yang tak menyedapkan mata," gadis itu terfokus, ia mendengarkan benar-benar, "Kabar buruk yang tak akan mau kau dengar," Profesor J menunduk, menghela napas kecil. Ia juga tak mengira sesuatu seperti ini akan terjadi.
"Ia akan datang, menghampiri planet ini, Axelia Kozuki."
Gadis itu, Axelia, terbelalak.
¤¤¤
[Percakapan yang sama terjadi di ruang ke-dua, ke-tiga, dan ke-empat.]
Ruang 2
"Ia akan datang, menghampiri planet ini, Alex Benedict."
Alih-alih kaget, lelaki itu malah tertawa renyah.
Para professor di depannya menatap satu sama lain dengan bingung.
"... HAHAHAH! Ad-Aduh! perutku sakit.." ujarnya seraya meringis kesakitan, masih dengan sisa-sisa tawanya.
Lelaki itu sampai mengeluarkan air mata, entah karena selera humornya yang aneh atau kewarasannya yang memang harus dipertanyakan, "Jadi..." ia mencoba mengatur napasnya, "kalian menghipnotis bahkan sampai membiusku... untuk lelucon ini?" ujarnya masih dengan tawa kecil.
Sesaat kemudian, ia menoleh ke langit-langit, berusaha agar rambutnya tak mengenai wajahnya, atau ia akan semakin tersiksa karena keringat yang mulai bercucuran dari dahinya akan membuat helai-helai rambutnya menempel, gatal, tapi apa boleh buat? Tangannya itu diborgol tak berdaya.
Ruangan dimana ia ditempati berbanding terbalik dengan Ruang 1, tempat Axelia. Ruangannya justru memiliki lebih dari 4 jendela besar yang sebenarnya muat untuk tubuh se-ukuran Axelia kabur. Sayangnya semuanya tertutup, tapi setidaknya ada cahaya matahari buatan (tak usah kaget, kiamatnya Bumi memang membuat orang-orang disini gila sampai membuat matahari buatan yang waktu singgah dan perginya sama dengan bulan.) yang menyusup terang-terangan dari segala arah untuk mendatangi Alex.
Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan semakin terlihat menyala menekan tone ginger red hair-nya.
"Alex, lihat aku. Apa orang-orang disini terlihat bercanda?" Ujar salah satu professor dengan tenang, tapi tegas.
__ADS_1
Pria bernama Alex itu menatap ketiga profesor di depannya, memeriksa raut wajah mereka satu persatu, mencari tanda-tanda bahwa mereka sedang membual.
Tak mendapat apa yang ia cari, membuat rahangnya jatuh, ia terpelongo, menampilkan wajah idiotnya, "Kalian benar-benar serius?" ia mendekatkan wajahnya dengan professor itu, "Lalu untuk apa kita disini?! Ayo kabur!!" Ujarnya lantang, membuat dua orang penjaga di sisi pintu ruangan itu tersentak kaget.
Salah seorang professor yang berdiri di paling belakang kedua professor--yang sedari tadi meladeni otak lima senti Alex--menghela napas lalu memijat pelipisnya, memikirkan apakah Profesor Ally salah memilih orang. "Kau mau kabur ke mana memang?" Ujarnya lelah.
Alex menyipitkan matanya berpikir, "Hmmm..." ia melihat langit-langit, "Pluto aman tidak?"
"Alex, mutan itu sudah membuat dua ratus juta pasukan mutan dan pasti akan bertambah. Jadi kau memilih untuk serius atau tidak?" Professor itu sudah lelah. Ia berbisik pada temannya, "Langsung saja lah, aku lelah berbicara dengannya, kurasa obat biusnya berefek lain padanya. Jadi nge-fly." Ujarnya lalu dijawab anggukan mantap dari profesor di sebelahnya yang juga malas meladeninya lagi.
"Eh, kenapa kenapa?" Alex memajukan tubuhnya, membuat tali yang mengikatnya tertarik, "Kok aku tidak diajak berunding? Membicarakan apa? Jadi pindah ke Pluto??"
Tak ingin memperlama lagi, salah satu profesor menghampirinya, lalu menduduki kursi di depan Alex yang memang telah disediakan. "Jawablah pertanyaanku ini dengan serius." tegasnya.
Alex memperbaiki posisi duduknya, sorot mata profesor itu akhirnya berhasil memaksa lelaki itu untuk patuh, "Ya, baiklah, apa?" Ujarnya ikhlas-tak ikhlas.
Sang professor galak menghela napas, menyiapkan kesabarannya.
"Jika besok adalah hari kiamat, dan kau diberi pilihan. Yang pertama, kau bisa menangis sambil meminta maaf sepuasnya kepada ayah dan ibumu di rumah, atau kau mau hidup lebih lama lagi?"
"Kalau besok kiamat?" ujarnya dengan kedua alis teragkat, lalu Alex tersenyum, "Mandi emas mungk-"
"Aku ini ilmuwan. Kau membuatku kesal sekali lagi, kuubah kau jadi zombie." Potong professor itu kesal. Kedua temannya di belakangnya memberi tatapan 'Aku tak percaya waktuku akan terbuang untuk makhluk satu ini'.
Alex terkekeh, "Memang kalau aku pilih untuk hidup lebih lama..." Ia mencondongkan tubuhnya lagi, "... memang bisa?" tanyanya, benar-benar penasaran kali ini.
"Ya, bisa." Profesor itu menyeringai penuh kemenangan. Akhirnya lelaki di hadapannya ini menjawab dengan benar.
"E-eh? Tapi jangan mengubahku jadi zombie, lho, bagaimana pacarku nanti." Lalu ia teringat sesuatu, "oh iya sudah putus deng, ya sudah jadi zombie juga tak apa." Ujarnya enteng. Tak tahu serius atau tidak.
Professor itu tertawa kecil, hampir tak terdengar. Ia sudah tenang sekarang. Subjek sudah mengonfirmasi. "Tenang saja, tak akan jadi zombie."
Alex menoleh, ia menautkan alisnya, "Lalu?" Tak dipercaya, ternyata ia benar-benar berpikir akan dijadikan zombie.
"Apa kau bilang?!!" Ujar Alex dengan sangat lantang.
Ketiga professor itu saling melihat satu sama lain dengan pandangan gelisah. Oh tidak. Yang ditakuti para professor terjadi, ia menolak. Ck, bagaimana lagi harus meyakinkannya...
__ADS_1
"Mengapa kalian pakai membiusku?!! Ditawari pun aku akan mau!!"
__ADS_1