
Rabu, 10 Januari 2051
[Claire's POV]
Aku memandang jam dinding di kamarku yang memperlihatkan pukul 06.30, aku ingin segera beranjak dari kasurku, mandi, kemudian pergi ke sekolah.
Ya, sebenarnya usaha itu sudah kutekatkan sejak 20 menit yang lalu, tetapi tubuhku masih lemas. Aku sendiri heran kenapa masih lemas seperti ini, biasanya jika aku tidur, di pagi harinya aku akan kembali segar, tapi tidak dengan sekarang. Aneh.
Apakah kekuatanku kemarin keluar terlalu banyak? Entahlah.
"Claire ayoo! Nanti telat nih!" Ujar Nancy. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Kelihatannya segar.
Aku menghela napas, tak kusangka akan se-melelahkan ini... padahal ini baru hari ke... ke berapa? Ah... aku sedang tak mau berpikir. Seperti tak ada istirahatnya... Maaf kalau aku banyak mengeluh, tapi.. ini benar-benar pertama kalinya aku turun langsung dalam sebuah misi. Tak ku kira akan seperti ini.
Kenapa Kak Brian gak pernah bilang kalo misi ini seperti kerja rodi? Huh!
Uhm..
Bercanda Kak Brian! (Antisipasi siapa tahu jangkauan mind reading-nya bisa sampai sini).
"Kamu masih lemas? Kalau gak kuat, bolos saja hari ini... nanti bisa aku akalin."
S-SUARA SI-SIAP..
..A..
OHH!!
Astaga! Aku lupa... ada Valerie yang bisa telepati... (ia sudah bercerita padaku, di hari ulang tahun ke-17nya, kekuatan yang ditambahkan padanya adalah telepati dan mengendalikan pikiran, keren sekali ya?)
Ih.. Val.. mengagetkan saja..
"Hehehe... ini aku kok, bukan Kak Brian hahaha! Jadi bagaimana? hari ini mau bolos?"
Aku berkontak mata dengan Val lewat cermin. Ia sedang menata rambutnya, bersiap-siap ke sekolah.
Tapi.. kalau dipikir-pikir, ini kan memang sudah misiku, memang beban yang harus kutanggung. Lagipula, aku tak mau jika ada kejadian seperti kemarin lagi dan aku disini.. masa aku gak membantu sih?
Baiklah, aku akan ikut, Val!
Bisa terlihat olehku raut wajah Valerie dari pantulan cermin, ia menaikan kedua alisnya seolah ingin berkata 'Hah yang benar? Padahal baru lima detik yang lalu wajahmu seperti udah mau nangis.'
"Hahahaha! Baru saja kau mau bilang begitu!"
Aku memelototinya lewat cermin, lalu ikut tertawa.
"Claire! Kenapa ih! tertawa sendiri.." Ujar Nancy yang ternyata sedang menatapku dengan tatapan 'Ih kesurupan ya?'
Aku langsung merubah raut wajahku menjadi datar, "Gak kok, gak apa-apa."
Hehe... malu.
Lebih baik aku segera masuk ke kamar mandi.. aduh, Val sih.. hahahaha!
Lumayan, aku jadi lebih bersemangat.
○○○
Seperti perjanjian, kita akan berkumpul di taman belakang asrama untuk menyusun rencana sebentar.
"Sepertinya kita harus berpencar sampai salah satu dari kita bisa menemukan petunjuk tentang kejadian Alexa kemarin." ujar Ruby.
"Iyaa, tapi kita harus lebih hati-hati kalau ada seseorang yang hilang atau keganjilan yang lainnya, usahakan supaya kita gak terlihat panik atau terlihat sedang lagi mencari pencuri itu, karena kalau dia tau sedang dicari, pasti kabur." Rylan menambahkan.
"Iya, sebenarnya 'dia' tak dapat kita remehkan, mungkin Alexa kemarin gak dibunuh karena 'dia' tahu udah ketahuan." kata Val.
"Okay, let's do this together."
Kita semua mulai berangkat sekolah sendiri-sendiri. Lagi-lagi untuk menghindari pembicaraan publik tentunya.
[Author's POV]
Sampai di kelas, Claire mengerutkan alisnya, di wajahnya yang manis terukir jelas raut murkanya sekarang.
Ia melihat Lianna, temannya, sedang di-bully oleh Sally, nama perempuan yang waktu itu memutus kalung pemberian mendiang ibu Claire.
"Damn it!"
Claire berjalan ke arah Sally (ia telah diberi tahu oleh temannya, bahwa kemarin ada perempuan bernama Sally datang mencarinya, jadi ia sudah mengetahui nama Sally) dengan emosi yang masih ia tahan.
"Lepaskan Lianna." Ujar Claire mencoba tersenyum. Senyuman yang dipaksakan karena menahan emosinya.
Lianna sedang berlutut di hadapan Sally yang sedang menjambak rambut panjang Lianna. Lianna mendongak ke atas untuk melihat siapa yang membelanya.
"Ooo... kau yang di lift itu kan?! Mau jadi pahlawan ya... hahaha!" Ujar Sally lalu tertawa.
Sally jelas tidak mengingat kejadian yang telah mengakibatkan Claire kehilangan kontrol telekinesisnya waktu itu, karena Kimberly sudah memutar waktunya sehingga peristiwa itu seolah mundur kembali. Seperti tak pernah terjadi.
Senyum palsu Claire semakin terukir diwajahnya, seolah menekankan senyuman palsu itu karena Claire ingin menjaga emosinya agar kejadian kemarin tidak terulang.
"Take your hand from her... or... run."
"Why should i run? 'cause of you? Haha." ejek Sally dan malah memperkuat jambakannya sehingga Lianna tersentak sampai terjatuh.
Senyum Claire memudar, kemudian timbul seringaian.
"'cause my another soul will come out."
Claire memang mengusahakan menahan emosinya itu, tapi kabar buruknya, ia tidak pandai menenangkan jiwa nya. Jiwanya yang lain, maksudnya.
Dalam sekejap, iris matanya berubah merah tua disertai dengan aura merah gelap yang mulai keluar, membuat orang disekitarnya bergidik ngeri dan lekas pergi terbirit-birit.
Claire menggunakan telekinesisnya untuk melepaskan tangan Sally dari rambut Lianna, dan membuat Lianna terpental menjauh dengan hanya mengarahkan dengan tangannya.
Lalu Claire berjalan dengan santai tetap dengan seringaiannya ke arah Sally berada.
"Wanna play?"
Kemudian Claire mengepalkan tangannya di depan leher Sally, berjarak sekitar 20 senti.
Sally menatap iris merah perempuan di depannya dengan sangat ketakutan sampai menangis, "AAAA!!!" jeritnya, "M-MAKHLUK APA KAU INI?!" teriaknya ketakutan.
Claire membuka kepalan tangannya dan kekuatannya langsung keluar saat itu juga. Lalu Sally terpental mundur, sangat jauh.
Tepat pada waktunya, entah datang darimana Rylan datang dan dengan cepat menangkap Sally sebelum ia mengenai tembok di belakangnya dan berakhir tragis.
Setelah itu Rylan membawa- lebih tepatnya mengamankan Sally ke klinik sekolahnya. Sepertinya berbahaya sekali perempuan itu. Selalu memacu kemarahan Claire.
Tak lama kemudian, muncullah Zav, Val, Ruby yang panik, dan Jack yang sudah panik.
Claire yang melihat Sally sudah dibawa, merasa geram, karena dia belum puas memberi pelajaran kepada Sally.
__ADS_1
Ia membanting-banting meja, kursi, bahkan tembok kelasnya sekarang sudah hampir retak. Tentunya dengan telekinesis miliknya.
"Bagaimana ini!!? Aku tak bisa mengendalikan atau masuk ke pikirannya! Terlalu sakit!" Val mulai panik setelah mencoba memasuki pikiran Claire yang ternyata gagal.
Ruby mencengkram dadanya, ia merasakan aura telekinesis Claire berkobaran menabrak gelombang supersoniknya yang ada di sekitar tubuh Claire. Terlalu kuat.
Akhirnya Zav berteleportasi ke posisi Claire berada, ia langsung berniat membawanya ke tempat yang lebih terbuka dari ini, setidaknya di tempat terbuka dia tak akan mengacaukan isi kelas, tak akan ada korban jiwa.
Namun nihil, sebelum berteleportasi pergi, Zav yang tadinya berada di dekat Claire, terpental menjauh. Dengan spontan, Zav berteleport ke depan kelas, sehingga ia tak sampai terbanting ke tembok.
"Claire!!" Ruby tersentak kaget atas tindakannya barusan. Val segera menghampiri Zav yang sedang terengah-engah, "Kamu gak apa-apa?!"
Zav tersenyum, lalu menggeleng. "Dia gak bisa didekati."
Sekarang hanya ada Jack, Ruby, dan Claire disitu.
Saat Ruby melangkah, berniat ingin mendekati perempuan dengan tatapan mata kosong itu, Jack menghadang Ruby dengan tangannya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Claire.
Ruby menautkan alisnya, 'Kenapa..?' dalam hatinya.
Saat melihat Jack melangkah maju, Ruby tersentak, "Biar aku di belakangmu." Ujarnya. Melihat apa yang terjadi dengan Sally dan Zav, sudah menjadi alasan yang cukup untuk Ruby merasa takut. Jangan sampai temannya terluka semua.
Tapi Jack lagi-lagi memberi isyarat dengan tangannya, sebagai jawaban 'Gak perlu'. Lalu ia lanjut melangkah mendekati Claire.
"Claire.. calm down.. stay there." Ujarnya sambil mendekat.
Ketika ia sudah berada persis di samping Claire, ia mendekap perempuan itu ke dalam pelukannya.
Ruby yang melihat itu refleks menutup mulutnya erat-erat. Ia ingin berteriak. Kalau situasinya sedang normal, ia mau meledek mereka berdua, tapi di situasi ini, ia memilih ingin berteriak karena takut Jack pulang tinggal nama.
Tapi sebaliknya, Jack merasakan tubuh Claire menenang. Ia tak merasakan aura merah gelap itu lagi. Tak lama kemudian, Claire melemas.
Iris coklat terang Claire telah kembali. Ruby melepas cengkraman di dadanya, sudah tak terasa sakit. Claire betul-betul sudah kembali sadar. Secepat itu. Ruby bahkan benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa.
Jack melepas pelukannya perlahan, lalu menatap manik mata perempuan itu yang indah. Hanya dari tatapannya, Jack tahu Claire sudah kehabisan energinya.
"Tenanglah... dan jangan ulangi lagi." Ujar Jack seraya tersenyum, sebelum Claire benar-benar pingsan.
Mari kita catat ini pada buku sejarah, Jack tersenyum.
Dalam waktu yang bersamaan, Kim baru datang sambil terengah-engah, "Maaf tadi-"
"Tolong perbaiki waktunya." Ujar Jack tanpa menoleh. "Val, hapus ingatan orang-orang disini. Sally, yang berdebat dengan Claire tadi juga." Lanjutnya.
Jack menggendong Claire ala bridal style ke taman belakang asrama, kini di daerah yang berbeda.
Kim dan Val menganga melihat itu, sementara Ruby sudah ingin berteriak sedari tadi.
Zav hanya terkekeh. Tak tahu saja mereka, lelaki itu sudah menceritakan tentang Claire padanya sejak pertama kali mereka bertemu di lobby sekolah.
[Claire's POV]
Apa yang terjadi? Aku sangat lemas sekarang... haha bagus sekali. Apa yang kuperbuat tadi?!
Mari kuingat...
Aishh!! Aku tidak bisa mengingat apapun!
T-tunggu... aku merasa ada yang mengusap rambutku.
Bukankah aku di asrama?
Hei! Ini hari Rabu! Seharusnya aku sekolah kan?
Aku penasaran.
Sangat lemas tapi aku harus memaksakannya.
Kubuka mataku perlahan.
"Jack?"
Kenapa dia bisa di asramaku?
Eh?-
Ini taman belakang asrama rupanya.. wahh banyak bunga yang sangat cantik..
EH- TAMAN?!
"Kenapa aku di sini?" Aku dan Jack berada di kursi taman. Aku membenarkan posisiku menjadi duduk, walau masih lemas sekali.
"Jangan dipaksakan." Ujarnya membantuku untuk berposisi tidur lagi.
Aku merasa deja vu. Sepertinya aku pernah begini sebelumnya... iya gak sih?
"Ehm, gak apa-apa kok." Aku duduk lagi.
Kami terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku tetapi terlihat... ragu.
"Claire."
Aku menoleh. Ia menatapku datar, huh! memang tak pernah berubah!
Tapi... aku sendiri tak tahu mengapa tiba-tiba aku ada di sini.. apalagi bersama orang ini.
"Telekinesismu terlalu kuat.."
Apa!? Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa ini!?
"A-apa yang kulakukan?"
Sebentar. Aku mulai mengingat sesuat-
AH!
AKU KAN MEMANG PERNAH BEGINI! INI BUKAN DEJA VU!
Terakhir kali Jack membawaku ke sini, karena aku kehilangan kendaliku.
Astaga... apa aku melakukannya lagi?
Ia menghadap ke pemandangan taman yang indah, "Hm.. tapi jangan panik."
Aku menatapnya lekat-lekat dengan kebingungan. Pasti ada sesuatu yang telah kuperbuat. Apa jangan-jangan benar dugaanku?
"Tadi kau hilang kendali... hampir membuat Zav terbanting ke tembok."
Aku terbelalak kaget. "HAH?!"
"K-KOK DIA YANG TERBANTING.."
__ADS_1
Jack menoleh, ia mengerutkan alisnya, "Ya terus siapa?"
"B-bukan dia.. harusnya kan.." Aku menutup mulutku, "Sally.."
Sekarang aku ingat!!
Sally...
K-kok... aku setega itu, ya...?
TUNGGU.
Omong-omong, kok aku bisa ingat?
"Kau ingat ternyata," Ia menghela napas, "kendalikan emosimu, Claire.. kekuatan ini bisa membunuh orang, tahu tidak?" Ia menatapku serius.
Eum, aku tidak akan mengelak, ia.. lumayan tampan.
Eh? Ck, apasih! Fokus!
Aku menunduk. Sejak kapan kekuatanku ini bisa melukai orang? Atau memang sejak dulu? Eh, iya ya? Mengapa aku jadi linglung begini...
"I-Iya.. maaf.."
Aku menghela napas. "Bagaimana keadaan Zav sekarang? Kok dia bisa sampai terbanting... se-berbahaya itukah aku?"
Ia tak merespon, dan malah mengalihkan pandangannya kepada pemandangan di taman ini. Lagi.
"Sudah sarapan?" Ujarnya mengalihkan topik.
"Belum, jawab dulu, Zav sudah baikan belum?!"
"Pantes lemas, ayo cari makan."
"Nanti saja, jawab duluu!"
"Tapi aku tak mau membawa orang pingsan kelaparan nanti, merepotkan."
Aku berdecak. Memang tidak bisa ya? Seharii saja jangan menyebalkan!
Sebagai ketua di tim ini seharusnya dia lebih halus sedikit dong! Aku heran, bisa-bisanya Kim, Val, dan yang lain tahan dipimpin sama manusia seperti ini. Bicara juga jarang... setahun sekali sepertinya.
Kenapa? kalian kaget? Iya. manusia ini memang pemimpin tim kami ini. Val yang memberitahuku.
"Hei."
Aku tersentak, "Eh? Iya?"
"Mikir apa?"
"Bukan apa-apa." Aku benar-benar berharap kekuatannya tak termasuk membaca pikiran.
"Sudah, ayo." Ujarnya lalu menggenggam tanganku, membantuku berdiri. Ia menuntunku agar bisa berjalan mengikutinya perlahan.
Ia menggenggam tanganku agar aku tidak jatuh, tapi entah kenapa aku merasa energiku bertambah. Ah, perasaanku saja.
Lagi pula ini berlebihan...
"Waktunya sudah berjalan lagi." gumam Jack yang masih bisa terdengar olehku.
Ada apa sih-
Ohh ya ampun! Karena di taman belakang sekolah tadi sepi, aku bahkan tak tahu kalau sedari tadi Kim menghentikan waktu. Sekarang baru kembali normal.
Banyak sekali perempuan yang melihatiku dengan pandangan benci. Astaga aku tidak mau menambah musuh..
"Jack-"
"Tenanglah, jangan dipedulikan."
Tenang bagimana! Sebentar lagi mungkin bukan hanya Sally yang membenciku, tapi 3 kali lipat dari murid di kelasku!
Aku melepas genggamannya, tapi sedetik kemudian ia menggenggam dan menuntun tanganku lagi.
Aneh, perasaanku aneh. Aku merasa sewaktu aku melepaskan genggamannya, energi itu hilang, begitupun sebaliknya.
"Kenapa?" Tanyanya mengagetkanku.
"Gak kenapa-napa."
"Kok senyum?"
Aku terbelalak, "S-senyum itu bagus buat kesehatan tahu, daripada kau! Flat.."
Ia malah terkekeh. Dia membawaku ke tempat makan di kantin sekolah.
"Mba, sandwich sama susu nya satu." Ujarnya.
"Seperti anak kecil saja."
"Biar sehat."
Pramusaji itu datang membawa sandwich dan susu yang tadi dipesan si datar di sebelahku ini. Tapi kurasa datar nya sudah berkurang sekarang... Ah, paling besok juga begitu lagi!
"Wahh cocok sekali sih.. nengnya cantik, masnya tampan." Ujar si pramusaji dengan aksen jawa.
Aku tersentak kaget. "Kita gak pacaran, Mba."
"Ooh, kirain, hahaha.. habisnya cocok." ia tersenyum ke arah kita berdua.
Aduh, aku risih..
Ia membawakan makanan yang dipesan Jack tadi, aku menerimanya, "Terimakasih sandwich-nya, Mba" jawabku sedikit berniat agar dia lekas pergi.
Jack malah tertawa kecil.
Ia menoleh, melihatku yang menangkap basah fenomena setahun sekali barusan, "Makan sana." Ujarnya dengan ekspresi yang berubah seketika menjadi datar.
"Iya.. terimakasih yaa." Ujarku pasrah.
Wuih! Makanan ini yang enak sekali atau akunya yang lapar? Padahal hanya sandwich dan susu, lho.
Aku menoleh, ia hanya memperhatikanku dengan senyuman tipis tanpa alasan, "Mau?" Tawarku.
"Sudah makan." Ujarnya lalu mengalihkan pandangannya.
○○○
Setelah makan, dia tadinya ingin mengantarku kembali ke kelas, takut aku membunuh orang katanya, hm.. benar juga (sebenarnya aku juga takut pada diriku sendiri sejak ia menceritakan apa yang terjadi) tapi bahaya kalau perempuan di kelasku juga membenciku, jadi aku menolak untuk itu.
Aku berjalan menuju kelasku dengan senyum yang tertahan.
__ADS_1
Dia memelukku tadi?
T-TUNGGU, KOK AKU INGAT?