
[Author's POV]
Diam-diam, Kimberly merasakan sesak di dadanya. Detak jantungnya dua kali lebih cepat. Air matanya menetes, mengalir melewati kedua pipinya. Ia sangat tak menginginkan hal seperti ini terjadi pada dirinya dan teman-temannya.
Kalau saja ia bisa mengubah takdir... semua ini tak akan menyakitkan.
Ini.
Inilah akhirnya.
"Saat ini akhirnya tiba... kita akan berpisah di sini." gumam Kimberly pelan. Teman-temannya tak harus mengetahui ini.
Air matanya menetes lagi.
Cukup dia saja yang mengetahui kapan maut itu datang.
Tepat di depannya, Rhea sudah menyadari situasi di depannya sekarang.
Ia telah dikhianati anak buahnya.
Meski wajahnya memanas karena amarah. Ia memutuskan untuk tak bersuara sama sekali.
Rhea tetap diam. Ditambah lagi, tatapan Jack yang sangat bengis, seolah dapat mematahkan lehernya kapanpun ia mau.
Walau Rhea diam, tapi otaknya bekerja. Mencari cara untuk membalikkan keadaan. Tidak. Rhea yakin bahwa ia belum kalah.
Dalam sekejap, raut wajahnya berubah menjadi lebih rileks, lalu ia tersenyum miring. "Hahah... kalian boleh juga." ujarnya sambil terkekeh. "Tapi bagaimana bisa kalian tak memperhatikan bahwa pasukan mutanku bersiap-siap menyerbu kalian sedari tadi?"
Claire tertegun. Ia dan para agen langsung menoleh ke sekitar, mencari-cari pasukan yang Rhea maksud.
Kimberly menelan ludahnya. Ia menunduk. Pasrah.
Claire mengerutkan alisnya heran, masih sambil menoleh ke belakang. "Memang di ruang bawah tanah ini ada pasuka-?"
SRRAATTT!
SRRAATTT!
SRRAATTT!
SRRAATTT!
SRRAATTT!
Claire terpelanga.
Baru saja ia merasa lega, tapi sekarang... detak jantungnya kembali direnggut.
Sesuatu terasa seperti menusuk dadanya dengan ganas.
Darah.
Itulah yang pertama kali membuat dadanya sesak.
Tatapannya kosong melihat Kimberly, sudah tersungkur di tanah.
"K-kimberly... Valerie... Rylan... Ruby... Zav..." Mulut Claire seolah mengabsen nama-nama orang yang sudah tersengkur berlumuran darah di tanah itu.
Tak kuat bertahan, Claire jatuh terduduk. Menatap kelima teman-temannya itu dengan tatapan kosong.
Air matanya mengalir deras. Ia tak mampu berkata-kata.
Melihat kelima teman-temannya dengan keadaan yang mengenaskan, benar-benar merenggut kewarasan Claire saat itu juga.
__ADS_1
Yang terakhir kali Claire tatap adalah Kimberly. Dengan cepat, Claire merangkak ke arah dimana Kimberly terbaring. Manik amber perempuan itu tergenang air mata, menatap Claire dalam, seolah ingin mengatakan sesuatu untuk yang terakhir kalinya.
Claire menggenggam tangan Kimberly yang terkulai lemah, lalu mendekap tangannya erat. Jiwanya seperti hilang begitu saja saat maniknya bertemu dengan manik Kimberly. Biasanya manik perempuan itu memiliki sorot yang tegas dan tajam, membuat siapa saja dapat tunduk di hadapannya sekali memberi perintah. Manik itu adalah manik seseorang yang sudah mengalami banyak kepahitan dan duka dalam hidupnya. Tapi sekarang... manik amber itu penuh air mata, sorot matanya melambangkan kepedihan yang mendalam.
"Kimberly.. ayoo bertahann... kamu kan kuat, Kim... a-ayo..." ujar Claire disela-sela tangisnya.
Kimberly tersenyum tipis. Dari mulutnya, mengalir cairan merah kental yang menandakan masa hidupnya telah usai.
"Tak... a-apa Claire... nanti Jack a...kan...---"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, masa hidupnya sudah lebih dahulu selesai.
"Kimberly?? KIMBERLY?! KIMM?!!" Claire memegangi dadanya yang sesak luar biasa. Dengan panik, ia cepat-cepat merangkak ke temannya yang lain.
"VAL??! VALERIE!!! VAL KAMU JAHAT KALAU GAK BANGUN!!!" Claire mengusap air mata yang membanjiri wajahnya. "VALERIE!!"
Menyadari Valerie yang sama sekali tak membuka matanya, ia langsung menempelkan telinganya di dada Valerie.
Air matanya bercucuran.
Tak ada suara.
"VAL!!! AAAARGHHH!!" Claire berteriak frustasi, dadanya sesak sekali.
Claire mengguncang-guncangkan tubuh Valerie yang terkulai tak bernyawa. "V-VAL... k-kok.. kok sepi sekali di sini??" ujarnya seraya menempelkan telinganya di dada Valerie terus menerus.
Claire mengadah, dengan sesenggukan, ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang sekarang bahkan sudah basah. Ia merangkak menghampiri Rylan dan Zav yang terbaring berdekatan.
"Hiks a-ayolahhhh!! Ha-hahaha! Ini ti-tidak lucu!" Claire menempelkan telinganya di dada Zav, kemudian Rylan, mencari tanda-tanda kehidupan di sana. "Ayolah.. kalian tak boleh sepi begini!! Mana... MANA?? MANA DETAK JANTUNGNYA?!"
Claire tersungkur lemas. Ia sujud, dengan tangisan yang begitu pedih, "AAAAAAAH!!!!" ia berteriak pada alam semesta.
Ia mengepalkan tangannya, lalu memukul-mukul tanah seraya air matanya mengalir deras membanjiri wajahnya.
Satu hal.
Seketika, senyumnya kembali merekah.
Harapannya masih ada!
"JACK?!"
SRAAAATT!
"AAAARGGHH!!"
Bahunya melemas.
Claire berlari terseok-seok ke tempat Jack terjatuh.
"K-kaki..." Claire menangis tersedu-sedu, tangannya gemetar hebat melihat kaki kanan lelaki itu telah ditebas.
Jack menggertakkan giginya kuat-kuat, menahan beribu-ribu sakit yang ia rasakan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum, "Tak apa, Claire... tak apa aku masih ada di sini.. a-aku masih bisa melindungimu.." Jack mengusap air mata gadis itu, lalu menatapnya lembut.
Claire tidak bodoh, ia tak terhibur sama sekali dengan kalimat kosong Jack itu.
Claire merasakan darahnya yang sudah mendidih, ia mengepalkan tangannya dengan amarah yang tercetak jelas pada kedua maniknya.
Maniknya telah berubah.
Menjadi merah gelap yang mengerikan.
Ia bangkit berdiri, masih dengan jejak air mata yang membasahi wajahnya, ia mengalihkan pandangannya pada sesosok perempuan di belakangnya.
__ADS_1
Dalam sekejap, perempuan itu sudah berpindah tempat ke sebelah Jack persis. Ia menggenggam dua belati yang berlumuran darah.
Darah itu...
Darah lima temannya yang sudah tak bernyawa..
Rhea tersenyum miring, ia berjongkok, lalu menempelkan belati berlumuran darah itu pada leher lelaki di sebelahnya, "Pindahkan kekuatan chip itu... padaku." ujarnya dengan penekanan di kata terakhirnya, "atau lelaki tersayangmu ini akan menyusul kelima temannya."
Belati itu memiliki aura merah gelap, Rhea juga memakai telekinesisnya pada belati itu. Darah segar mengalir keluar dari leher lelaki itu. Belati itu telah mengiris leher Jack.
Claire menggertakkan giginya murka.
Aura merah gelap miliknya telah terdorong keluar, menyelimuti tubuh gadis itu dengan kobaran telekinesis yang menyesakkan. Ia benar-benar tak ingin basa-basi lagi, sekarang amarahnya sudah melebihi batas.
Cukup. Sudah cukup Rhea menyiksa jiwanya seperti ini. Mata Claire sudah perih, hatinya terbakar panas.
"AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHNYA KALAU KAU BERAN-"
SRAAAKKK
Belati itu terpental jauh.
Manik merah gelap Claire menatap Rhea dengan penuh kesesakan yang pahit.
Angin berhembus kasar memasuki ruangan itu, sangat kasar dan liar. Angin itu berkeliling dengan liar membuat ruang bawah tanah itu porak poranda. Claire mengeluarkan seluruh kekuatannya, dengan semua hal yang menyakiti jiwanya, gadis itu mengangkat tangannya dengan kuat. Meruntuhkan dinding tebal pada ruangan itu.
Tak lama kemudian, angin itu berhembus semakin liar sehingga meruntuhkan atap ruangan itu.
Aura merah gelap yang berputar di sekitar tubuhnya mengangkat tubuh Claire, sehingga ia mengambang di udara. Gadis itu menatap Rhea tanpa ekspresi, sedangkan Rhea sudah bergidik ketakutan.
Ini bukan... bukanlah rencananya.
Seharusnya tak begini.
Tak peduli dengan tatapan memelas itu, Claire menarik chip mutan itu dengan telekinesisnya, sehingga tak sampai satu detik, benda gemerlap itu sudah berada di genggaman Claire. Ia memperhatikan chip itu sesaat, kemudian ia mengeraskan genggamannya pada chip itu. Air matanya menetes...
"Hanya... karena benda kecil ini... kau merenggut kelima nyawa temanku, Rhea?" tanya Claire dengan suara bergetar.
Claire masih mengambang di udara, dengan segala kekacauan luar biasa di sekitarnya, angin ribut yang mengelilingi tempat itu dengan liar, kekuatan telekinesisnya yang membuat makhluk apapun merasa tercekat. Ia mencengkram chip kecil itu kuat-kuat.
Dengan air mata yang menetes.
Gadis itu melihat kesekelilingnya.
Kimberly.
Valerie.
Ruby.
Rylan.
Zav.
Dan Jack yang sudah tak sadarkan diri.
Seraya menangis, ia mengeraskan cengkramannya.
Lebih kuat.
Lebih kuat.
Lebih ku-
__ADS_1
CRACKK
JDAAARRR!!