
[Author's POV]
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hera sudah berada di ruang tamu seperti yang disuruh Jack tadi siang.
Kedua manik gadis itu memandangi langit malam yang penuh bintang berkelap-kelip. Bahkan ada beberapa planet yang terlihat dari sini, walau jauh sekali, tapi terlihat dengan jelas dan mempesona.
"Sudah lama?" suara berat seorang pria terdengar dari belakang.
Hera menoleh dengan kaget, lalu setelah sadar siapa orang itu, ia langsung tersenyum tipis. "Gak kok..." ujarnya.
Jack datang dengan atasan kaos hitam, dan celana panjang santai berwarna hitam juga. Ia membawa dua kaleng minuman menggunakan satu tangannya. "Jangan bohong, kau sudah di sini dari setengah jam yang lalu, kan?" ujarnya tanpa menoleh pada Hera. Kemudian, ia duduk di samping gadis itu, mereka duduk di kursi panjang yang ada di luar ruangan.
Hera tersentak. "D-dari mana... kau tahu?" tanya Hera dengan ragu. Sebenarnya ia memang sudah berada di sini sejak jam setengah sembilan malam. Tapi ia sangat yakin, saat ia ke sini tadi, tak ada yang melihatnya. Tak seorang pun.
Jack menoleh pada Hera, lalu memberi gadis itu salah satu minuman kaleng yang dibawanya tanpa mengucapkan apa pun.
Hera yang disuguhi minuman kaleng itu pun bingung... harus menerimanya atau bilang 'tidak usah, terima kasih' saja, tapi jika ia menolak, bukankah akan tak sopan, karena Jack sudah repot-repot membawanya ke sini?
Hera menerima minuman kaleng itu akhirnya, "Terima kasih." ujarnya, lalu tersenyum tipis.
Jack mengangguk mengiyakan.
Tepat setelah itu, lelaki itu terdiam. Begitu juga dengan Hera yang tak tahu harus mengangkat topik pembicaraan apa.
Sejak tadi siang, Hera sudah kebingungan setengah mati.
Untuk apa Jack menyuruhnya ke ruang tamu jam sembilan malam? Apa ia mau dimarahi karena terus membuat masalah? Sepertinya kemungkinan besar karena itu. Tapi kalau tidak untuk itu, lalu apa?
Sudah jelas, masalahnya... mereka sama sekali tidak dekat.
Kalau Hera, ia sebenarnya ambivert yang bisa dengan mudah bergaul, tapi ada waktunya juga jadi pendiam. Seperti sekarang ini contohnya...
Suasana di antara mereka lumayan canggung. Hera yang sebenarnya takut dengan Jack karena wajah dinginnya itu, jadi tak bisa membuka topik pembicaraan. Sementara Jack... ia malah tenggelam dengan pikirannya sendiri.
"Kau tak perlu takut denganku." ujar Jack dengan tenang. Walau tanpa menatap lawan bicaranya, tapi ia meradiasikan suasana yang lebih santai dari sebelumnya, menenangkan ketegangan Hera dari tadi.
Hera mengangkat kedua alisnya, sedikit bingung. "Dari mana kau tahu aku takut padamu?" tanyanya dengan enteng.
Mendengar itu, Jack langsung menoleh padanya dengan kaget. "Jadi kau benar-benar takut padaku?" tanyanya dengan alis bertaut.
__ADS_1
Masih harus ditanya ya?
Kau hampir tak pernah tersenyum sedikit pun, Tuan.
Hera tersentak, "Loh yang tadi cuma bercanda?" tanyanya panik. "K-kalau gitu nggak deh, aku gak takut denganmu kok." ujarnya merasa bersalah.
Jack terdiam. Ia mengerutkan alisnya terheran-heran. "Jadi yang benar yang mana?" tanyanya, membuat Hera kebingungan ingin menjawab apa.
"E-eee... maksudnya, tadi aku cuma bercanda, kok! Gak sungguhan! Kau gak menakutkan kok percayala-" belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, suara tawa lelaki di sebelahnya langsung membuat Hera terpelanga.
Hera menyudahi waktu terkejutnya, kemudian langsung ikut tertawa walau dengan canggung. Ia bahkan tak tahu apanya yang lucu... tapi ia terlalu takut untuk tak ikut tertawa.
"Tak usah pura-pura begitu.." ujar Jack yang sudah menormalkan ekspresinya. "Aku tak masalah kalau kau takut padaku." ujarnya tanpa nada dingin seperti biasanya.
"Tapi walau takut, kita semua harus memanfaatkan waktu yang ada supaya lebih dekat dan solid." ujar Jack tanpa menatap Hera. "Karena itulah aku mengajakmu ke sini." ujarnya.
Hera mengangguk paham. "Ternyata begitu ya..." ia menghela napas lega, "Aku kira kau mau memarahiku..." ungkapnya terang-terangan, membuat Jack menoleh padanya dengan bingung.
'Dia kenapa frontal sekali ya dari tadi...' tanyanya dalam hati. Tapi tanpa sadar, sudut bibir pria itu terangkat. Ia tersenyum.
"Aku tak akan memarahimu hanya karena belum bisa mengendalikan kekuatan." Jack membuka tutup minuman kalengnya, lalu meminumnya dengan santai. Setelah selesai dengan beberapa tegukan, ia mengusap mulutnya. "Jadi tenang saja."
Melihat gadis di sebelahnya yang kesulitan membuka minuman kaleng itu, Jack mengambil minuman itu dari genggaman Hera, lalu membukakan penutupnya, setelah itu, ia memberikannya lagi pada Hera.
Saat Hera menerimanya, Jack membuka suara. "Memangnya apa yang membuatmu susah mengendalikan petir-petir itu?" tanyanya.
"Aku... selalu gugup." Hera menunduk, lagi-lagi merasa bersalah karena Jack membahas itu, "Aku takut kalau petir ini akan melukai orang.." ujarnya pelan.
Jack menghembuskan napasnya. "Jadi begitu ternyata..." gumamnya sangat pelan. "Kalau menurutku... justru kalau kau terlalu mudah takut, kekuatanmu malah akan melukai orang nantinya." ujarnya tenang.
Hera menoleh, menatap Jack dari samping. Sedikit kaget akan apa yang barusan ia dengar. Pria di sebelahnya yang baru saja memberi saran dengan tenang dan penuh wibawa itu adalah orang yang sama yang membekukan kedua tangannya dengan wajah dingin tadi siang itu.
"Kuncinya adalah percaya diri. Singkirkan pikiran negatif yang bilang bahwa 'kau tak bisa melakukan ini' atau 'kau tak bisa melakukan itu'... yakinlah kalau kau bisa." lanjut Jack, sambil meneguk minumannya lagi.
Hera terfokus pada pria di sebelahnya itu. "Oohhh.. begitu ya??" ujar Hera dengan wajah serius. Entah kenapa ia merasa seperti baru saja mendapat saran dari ketua yang sudah sangat berpengalaman.
Hera mengangguk paham. "Aku akan coba untuk percaya diri kalau begitu!" ujarnya pada dirinya sendiri dengan semangat.
Melihat itu, Jack tersenyum simpul*. 'Dia mudah sekali termotivasi, ya?' * pikirnya dalam hati.
__ADS_1
"Omong-omong," Hera menoleh pada pria di sebelahnya itu, "kau pernah memimpin begini, ya?" tanya Hera penasaran.
Mendengar itu, tanpa sadar Jack tersenyum, lalu sepersekian detik kemudian ia mengalihkan pandangannya pada langit malam yang memiliki ribuan bintang yang cantik itu. Pemandangan yang seperti ini... ia mengenal seseorang yang sangat menyukainya.
Betapa lucunya takdir ini.
Pertanyaan seperti ini... seolah mereka tak saling kenal.
Namun faktanya, memang tidak...
Tapi... haruskah seperti ini?
Jack masih mempertahankan senyumannya, namun senyum manis itu entah sejak kapan sudah menjadi senyuman pahit. Lelaki itu menoleh pada Hera. Menatap manik biru laut gadis itu lekat-lekat.
*'Mengapa kau menggunakan fisik Claire untuk menanyakan itu padaku?' * ujar Jack lirih, dalam hati.
Lelaki itu tersenyum paksa, "Iya. Dulu aku juga memiliki sebuah tim."
'Dan di dalam tim itu ada kamu.'
'Bukan.'
'Hanya seseorang yang mirip.'
Manik hitam pekat lelaki itu menatap manik biru laut Hera dalam.
Ia menyadari sesuatu.
'Ternyata mereka berbeda.'
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yakin masih ship Jack-Claire nihh?? 🤭