
[Author’s POV]
“Claire, Kim bilang, Apesta baru saja menemuimu?! Mari berkumpul di ruang auditorium! Ceritakan semuanya di sana, ya?” Suara Ruby dari earzoom Claire terdengar.
Wajah cantik itu tetap murung, ia sedang tak mood menjawab Ruby sekarang.
Claire sudah turun dari rooftop asrama. Ia sedang duduk di taman belakang asrama sekarang, ia sedang ingin sendirian, menjernihkan pikirannya yang sedang berantakan.
Tiba-tiba, ia mendengar derap langkah yang mendekat. Refleks, ia langsung menoleh ke belakang.
“Lagi apa?” ujar Jack dengan kedua tangan dimasukkan pada saku celananya. Keren. Keren sampai mau nangis. Tapi sayangnya suasana hati Claire lagi di titik terburuk.
“Gak ngapa-ngapain, pergi sana.” Claire mengalihkan wajahnya.
Tanpa disangka-sangka, alih-alih pergi, lelaki itu malah duduk tepat di sebelah Claire. Ia memperhatikan wajah Claire yang sedang muram. Tak ada hal yang ia lakukan selain itu. Ia hanya menatap manik cantik itu.
Claire melirik Jack dari ujung matanya.
Tatapan itu... Tidak, jangan.
Tatapan lembut yang membuat manik Claire merasa begitu nyaman berkunci pandang dengannya.
Fakta bahwa gadis itu sudah jatuh dalam manik gelap lelaki itu, membuat dirinya semakin kesal.
Claire terkekeh pahit. Sepersekian detik kemudian, ia tersenyum sendu.
Terlalu banyak yang ia ingin katakan. Ia ingin sekali marah, meluapkan semua kekesalannya. Kalau bisa, ia ingin sekali berteriak di depan lelaki ini. Tapi, semuanya ia tahan.
Jack menyernyit bingung, “Kau kenapa, Claire?” ujarnya keheranan.
Claire memalingkan wajahnya, ia menunduk, bergelimang air mata.
Sesak rasanya, sangat sakit. Claire bahkan sudah tak bisa berkata-kata lagi.
Menyadari air mata Claire yang menetes, Jack tersentak.
“Claire-“
__ADS_1
“Di.. am.” Ujar Claire dengan suara gemetar. “Jangan... jangan bersikap baik seperti ini...” Claire menjambak rambutnya frustasi.
“Claire, apa yang terjad-“
“PERGI!” bentak Claire dengan gelimang air mata. Ia sudah lelah menahan emosinya. Kekecewaan itu terlalu besar untuk dikurung. Ia sama sekali bukan orang yang bisa memendam sesuatu, apalagi bersandiwara.
Aura merah kegelapan mulai keluar dari tubuh gadis itu. Hal yang selalu terjadi ketika ia kehilangan kendalinya. Hampir.
Hampir sekali. Sebelum Jack mendekat dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya.
Claire membulatkan matanya.
Hangat. Sangat nyaman. Alih-alih menjadi tenang, tangisan Claire semakin menjadi-jadi.
Claire memukul-mukul dada bidang lelaki itu, “I... hate you...” ujarnya dengan suara gemetar dan sesenggukan.
Jack mempererat pelukannya, ia tak mengatakan apapun. Ia tak tahu apa yang dimaksud Claire sekarang ini, tetapi ia tak ingin melihatnya menangis tanpa ada didekapannya. Lelaki itu sendiri tak tahu jelas mengapa ia merasa sesak saat gadis dipelukannya ini menangis di depannya.
Detak jantungnya berdegup kencang. Entah karena ini pertama kalinya ia mendekap seorang gadis yang sedang menangis, atau... karena ia mendekap... Claire.
Menyadari Claire yang masih belum membaik, ia mengusap-usap puncak kepala gadis di dekapannya itu dengan lembut.
“Su-sudah... lah, a.. aku ma- hiks- mau ke kantin saj- saja!” ujar Claire dengan sesenggukan. Ia mendorong tubuh Jack menjauh. Tapi nihil, Jack tak merasa terdorong karena tenaga Claire sudah lemas.
Sebelum Claire berjalan pergi, Jack menggenggam tangannya, membuat Claire menoleh lagi ke belakang.
Tadinya Jack ingin menahan Claire untuk tak pergi, tetapi benaknya seketika menjadi kosong ketika manik mereka berdua bertemu. Ia tak bisa berkata apa-apa. Pandangan lelah Claire tersirat jelas di matanya. Matanya memerah, begitu juga hidungnya. Bekas aliran air mata terlihat jelas di pipinya.
Jack menghela napas pelan, ia mengakui, gadis ini memang harus istirahat. “Aku antar.”
Claire tak merespon, tetapi ia berjalan dengan lebih pelan, tanda bahwa ia memperbolehkan Jack mengantarnya.
Mereka berdua berjalan beriringan, tanpa ada percakapan. Jack terlalu segan untuk bertanya, karena menurutnya, sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Tapi satu hal yang memenuhi benaknya sekarang.
Apa Claire benar-benar membencinya?
__ADS_1
Apa yang membuat Claire membencinya?
Ia terus memikirkan kesalahan apa yang mungkin tak sengaja ia perbuat.
Sementara itu, Claire merasa bodoh karena sudah melampiaskan kekesalannya pada Jack. Meski subjeknya tak salah, tapi dengan konteks yang tidak jelas begini. Benar-benar Claire merasa malu sekaligus bodoh.
Walau begitu, di lubuk hatinya yang terdalam, ia tetap merasa lega telah mengeluarkan emosinya.
Siapa sangka di misi pertamanya ini, bukan ilmu tentang cara berkelahi dan menembak yang lebih terpakai, melainkan tata cara bersandiwara dengan sempurna dan cara melatih mental agar tahan banting yang lebih berguna.
Tidak boleh. Ia tak boleh menyerah di sini. Ini sudah setengah jalan menuju keberadaan chip itu. Ia tak boleh lemah hanya karena menuruti hatinya. Walau sesak, tapi ia harus melanjutkan ini. Mau tak mau, Claire berjanji pada dirinya sendiri, ia akan memakai otak, bukanlah hati.
Me-nonaktifkan sisi kemanusiaannya sebentar akan menjadi ide bagus, dengan begitu, peluangnya untuk menang lebih banyak. Ia sepakat dengan akal sehatnya, baiklah, akan dilanjutkannya semua ini.
“Jack...”
Lelaki itu menoleh, ia mengangkat kedua alisnya. Sedikit kaget karena Claire tiba-tiba membuka suara.
“Tadi Apesta menemuiku.” Claire menatap manik Jack tanpa ekspresi. Ia menelan ludahnya. “Ia menyuruhku ke AOM pusat, di Amerika Serikat.”
Jack tersentak, “Yang di bilang Kim itu benar?!” ujarnya, tapi, wajahnya berubah menjadi tenang dalam sekejap, mungkin karena ia tahu, ia tak boleh terlihat panik di depan seorang gadis yang baru saja menangis.
Claire mengangguk kecil.
20 meter di depan mereka sudah terpampang gedung asrama perempuan. Yang berarti mereka sudah hampir sampai.
“Claire.”
Claire menoleh, “Apa, Kak?” ujarnya dengan senyuman tipis. Ia akan meneruskan semua ini. Ia sudah meyakinkan dirinya, tak ada salahnya juga untuk mempercayakan semuanya pada Kim, maka berpura-puralah tak terjadi apapun. Tak mengetahui apapun.
Jack membulatkan matanya, “Kak?” tanyanya heran. Jelas saja karena Claire tak pernah menggunakan embel-embel ‘Kak’ pada lelaki itu.
Claire terkekeh kecil, “Iya, kan aku adik kelasmu. Benar kan?” ujar Claire dengan seulas senyuman manis.
Jack tersenyum, menampilkan lesung pipinya. Ia sangat lega perempuan di depannya ini sudah mengukirkan senyum di wajahnya.
Lelaki itu mengacak-acak puncak rambut Claire, “Untukmu gak usah pakai ‘Kak’.” Tangannya turun dari puncak kepala Claire, dan berakhir singgah di pipinya. Ia mengusap bekas air mata di kedua pipi gadis itu. “Jangan menangis lagi, nanti kalau mau menangis lagi, panggil aku dulu.”
__ADS_1
Saat Claire sadar bahwa ia sedang tersenyum, ia langsung memalingkan wajahnya. “A-ah, apa sih! Sudah ya, aku masuk dulu! Makasih- tapi aku gak minta sih, jadi, y- yaudah pergi sanaaa!” ujar Claire sambil melangkah masuk ke dalam asrama perempuan, meninggalkan Jack yang sedang terkekeh.
Jack menatap Claire dari belakang, seulas senyuman terukir di wajahnya.