AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
44. The Mysterious 'She'


__ADS_3

Sementara itu…


[Author’s POV]


Kimberly menghela napas melihat Ruby dan Rylan. Tak seperti biasanya, ditengah-tengah mereka berdua seperti ada jarak kosong yang muat untuk 2 orang.


Ya, tentu saja Kimberly tahu alasannya. Ia meraih pergelangan tangan Ruby, “Yuk.” Ujarnya, lalu ia menggandengnya, meninggalkan Rylan di belakang mereka yang masih berdiri dengan wajah masam.


Dengan kebetulan, mereka bertiga berpas-pasan dalam perjalanan ke gedung AOM bagian barat. Setelah memakirkan motor mereka, Kim langsung menghampiri Ruby, jelas saja ia tahu apa yang terjadi. Karena itu Kim langsung menghampiri Ruby untuk meghiburnya. Agak merepotkan sebenarnya, mengalami hal seperti ini disaat sedang menjalankan misi terpenting.


Begitu mendengar derap langkah di belakang Ruby dan Kim, Kimberly mendengus kesal, “Lima meter dibelakang!” ujarnya lantang, membuat Rylan tersentak, lalu mundur beberapa langkah dengan pasrah.


“Tenang saja Ruby, setelah misi ini selesai, kupastikan kau tak akan pernah melihat wajahnya lagi.” Bisik Kimberly dengan tatapan sinis.


Ruby tersenyum tipis. Bertemu dengan Kimberly membuatnya lebih lega, karena tak harus berada di posisi canggung lagi dengan mantan pacarnya itu.


Dua penjaga yang berdiri tegap di depan lobby gedung AOM barat menoleh, saat mereka menyadari keberadaan Kim, Ruby, dan Rylan, mereka berdua membungkuk 90 derajat. Lalu salah satu dari mereka melapor dengan earzoom-nya, saat mendapat konfirmasi, mereka menonaktifkan perlindungan laser di depan pintu masuk lobby itu.


“Seharusnya aktifkan saja saat Rylan hendak lewat nanti.” Gumam Kimberly yang membuat Ruby terkekeh pelan.


Setelah mereka bertiga masuk, Kim langsung menggandeng Ruby ke arah lift. Mereka bertiga memang sudah tak asing dengan gedung AOM barat. Walau tak sering berkunjung, tapi setidaknya mereka masih mengingat jalannya dengan baik.


Dengan design tekologi yang membuat melongo itu, datang lagi ke gedung itu seharusnya menjadi kunjungan yang menyenangkan.


Kim menghela napas kecewa, sudah lama ia tak menengok keadaan laboratorium khusus untuk meneliti eksistensi makhluk luar angkasa itu, apalagi kalau bukan alien? Dan lagi, laboratorium itu hanya ada di sini. Gedung AOM barat, Amerika Serikat.


Tapi apa boleh buat? Wanita titisan setan itu sudah menunggu di lantai empat.

__ADS_1


Setelah menekan tombol yang bertuliskan angka 4 pada lift, keheningan terjadi dalam lift itu. Bukan hanya karena Ruby dan Rylan yang sedang canggung-canggungnya, tapi pikiran mereka tentu saja sedang kacau sekarang.


Kimberly melepaskan genggamannya dari tangan Ruby. Tubuhnya terasa lemas seketika. Ia menyenderkan kepalanya pada dinding lift itu.


Ruby yang sadar akan hal itu, mengerutkan keningnya. “Ada masalah, Kim?” tanyanya. Kimberly hanya diam, ia tak merespon. Wajahnya lesu.


“We have a proper plan, isn’t that enough?" Ruby mendekat pada Kim, "Lagipula rencana kita sudah matang dan detail, ‘kan?” lanjutnya heran. Mengapa Kim memusingkan hal yang sudah direncanakan dengan matang?


Kimberly menghela napas, “Despite the fact that we already planned it properly,” Kimberly menoleh, ia menatap Ruby dengan tatapan tak terjelaskan, “i know the future, and that makes me insane.”


“Semoga saja Val tak memikirkan apapun, supaya perempuan licik itu tak bisa membaca pikirannya, atau.. rencana kita bisa gagal.”


○○○


“Waahh! Kalian sudah datang!” ujar perempuan itu dengan senyum lebar. Sepersekian detik kemudian, senyum lebar itu sirna. Ia kembali lagi ke ekspresi aslinya. “Tunggu apa lagi? Duduk.” Ujarnya tegas. Auranya langsung berubah.


Tidak, dia bukan bipolar… hanya saja… kewarasannya memang tak ada.


Tepat di hadapan mereka, Valerie dan Zav duduk bersebelahan. Wajah mereka berdua tidak lebih tertekan dari Ruby. Karena di antara mereka, yang paling sering terkena mental adalah Ruby.


Bisa ditebak mereka berdua sudah mendapat perbincangan yang tak mengenakkan.


Perempuan itu melihat hologram yang ada di atas meja di depannya. Hologram itu menampilkan lokasi dan keadaan Claire. Mulai dari gerak-gerik, sampai percakapannya terdengar jelas pada hologram itu.


Perempuan itu tersenyum, “Dia pintar. Gadis itu sepertinya menyadari kejanggalan yang terjadi.” Ujarnya dengan seringaian.


“Tapi itu bukan masalah, sebentar lagi ini semua akan beres.” lanjutnya bangga.

__ADS_1


Kimberly tetap menunjukkan ekspresi datarnya. Ia tak menghiraukan perkataan perempuan itu sedikit pun. Tapi entah bagaimana, perkataannya membuat Kimberly sangat lega, sejujurnya, ia sedang menahan tawa.


Ia menjadi tenang, tak lagi memusingkan kekhawatirannya tentang masa depan. Karena ternyata perempuan di depannya itu tak sepintar yang ia kira.


Bagus.


“Bagaimana dengan Professor?” tanya Rylan.


Perempuan itu tersentak mendengar pertanyaan Rylan, lalu ia tertawa kencang.


“Apa kau benar ingin tahu?”


○○○


BRAKK


Mereka semua tersentak, Zav menggebrak meja itu dengan penuh amarah. Bahkan Valerie sudah tak menahan Zav lagi, ia membiarkan lelaki itu meluapkan emosinya.


Val sendiri tak habis pikir, perempuan itu akan melakukan hal seperti itu.


Kimberly menyernyit heran melihat Zav yang melampiaskan kemarahannya, karena setahunya, rencana mereka sudah jelas sehingga apapun yang terjadi, seharusnya biarkan saja. Lagipula mereka sudah dalam posisi ter-aman.


Suasana di dalam ruangan itu menjadi lebih tegang lagi, selain karena Zav yang berani menentang perempuan itu, tapi juga…


… ada aura merah gelap yang keluar dari kedua tangan perempuan itu.


Ruby mematung, ia bergidik ngeri.

__ADS_1


Zav mengepalkan tangannya geram.


“WANITA GILA! BAGAIMANA KALAU DIA SAMPAI TAHU?!!”


__ADS_2