AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
37. Mars


__ADS_3

[Ruby’s POV]


“Para ilmuwan sudah mendapat hasil pemantauan dan pemeriksaan lebih lanjut mengenai Planet Mars. Kabarnya, tingkat radiasi dan suhu yang ekstrim disana kian membaik, memang melewati tahapan yang termasuk lama. Perlahan tapi pasti, Planet Mars bisa menjadi Bumi kedua.”


“Demikian pernyataan dari Direktur badan antariksa NASA, untuk lebih lanjutnya-”


“Ah, membosankan.” Gumam Rylan. Ia mematikan televisi di depan kita.


Kami ber-tujuh sedang ada di ruang tengah AOM. Tempat berkumpul dan beristirahat.


Ini hari minggu, jadi kami tak bisa berkumpul di ruang auditorium lagi, taman belakang asrama juga akan ramai kalau akhir minggu begini. Jadi mau tak mau, kami harus pergi ke AOM utuk sekedar menyender di sofa, mengobrol bersama dan melepas penat sebelum pergi ke Amerika besok lusa.


“Heh! Kenapa dimatikan?! Itu penting tahu! Siapa tahu kali ini mereka tak omong kosong lagi, lalu kita bisa pindah ke Mars!! Huaah… jadi kepingin.” Omel Val sambil memakan camilannya.


“Ah gak mungkin, jangan berharap sama ilmuwan di sini selain Kak Brian.” Rylan menentang, membuat raut wajah Val cemberut, seolah-olah harapannya lenyap seketika.


“Eh iya… kenapa bukan Kak Brian saja ya yang mencoba meneliti tentang hal seperti itu?” Claire ikut merespon. Waahh... hal random ini menjadi topik sekarang.


“AH! SIAL!” umpat Zav kencang, ia menyingkirkan stick di tangannya, lalu melirik Jack tajam, “Coba tukar stick-mu dengan punyaku! Jangan-jangan kau retas ya game-nya!”


Dengan enteng, Jack memberi stick-nya, lalu mengambil stick Zav yang dilempar tadi.


Aku terkekeh, “Haha! Kalau kalah ya kalah saja, gak usah alasan.” Ujarku santai, yang dibalas decihan dari Zav.


Kim datang dari dapur, lalu duduk di sebelahku membawa secangkir kopi hangat, “Setahuku, Kak Brian sudah pernah meneliti tentang planet Mars, deh.” Ujarnya yang langsung membuat Val dan Rylan menoleh seketika.


“Lalu?? Bagaimana hasilnya? Kok aku gak pernah tahu, ya?” Tanya Val penasaran.


Kim berdehem, “Aku gak tahu, hasilnya gak pernah dipublikasikan.” Ujarnya sambil meniup permukaan kopi yang masih mengepulkan hawa panas.


Setelah mendengar pernyataan Kim, Rylan memalingkan wajahnya, kembali memainkan ponselnya.


Val kembali membaca novel favoritnya sambil terus memakan camilannya.


Claire dan aku sedang bersender di sofa, sambil memakai masker Korea. Segar sekali rasanya. Ah…


Lalu Jack Si Ketua, yang biasanya selalu serius, sekarang sedang beradu hebat bermain video game bersama Zav yang tak henti-hentinya mengumpat dari tadi.


Kalau kupikir-pikir, ini adalah pertama kalinya kami mengobrol santai, sambil melakukan kegiatan sehari-hari yang ringan. Gak pernah kan sebelumnya?


Iya, sebelumnya kami sempat janjian, untuk hari ini saja, tolong bersantai saja dan jangan membahas hal yang berat. Dan langsung disetujui oleh semuanya. Hitung-hitung, sehari sebelum melakukan misi terpenting, kami harus menyegarkan pikiran dan memulihkan energi.


“Sudah mulai bosan nih, pergi yuk!” celetuk Rylan tiba-tiba.


“Gak, sabar. Aku belum menang.” Ujar Zav tanpa memalingkan pandangannya dari layar yang menampilkan game-nya.


“Pantai, yuk?”


Claire terkekeh, “Wah, merasa tak ada beban sekali kita ini. Padahal besok-“ belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Val sudah menyumpal mulutnya dengan roti. “Kita gak membicarakan ini hari ini, Claire.” Bisik Val dengan tatapan maut. Membuat Claire mengangguk takut.


Hahaha…


Aku menghela napas.


Jadi… ini yang terakhir kalinya, ya?


Jack meletakkan stick-nya, lalu berdiri tiba-tiba.


“Hei! Kita belum selesai!” ujar Zav saat melihat Jack meninggalkan ruang bermain mereka.


“Aku bosan menang terus.” Ujar Jack asal. Ia menghampiri kami, eh, salah... Claire maksudnya. Iya lah, siapa lagi?


Ia melepas masker yang masih menempel dengan wajah Claire, sekilas, ia menatap bingung kain putih basah yang ia pegang itu, lalu ia membuangnya. “Ikut aku.” Ujarnya pada Claire.


Nah kan, mulai lagi Si Jack ini...


Claire menatap Jack bingung, tatapannya seolah mengartikan 'Kenapa kau membuang maskerku... uban sialan.' tapi ia tetap berdiri sambil menghela napas pasrah, lalu mengikuti Jack keluar.


“Aku pergi dulu.” ujar Claire padaku.


“Heh!! Mau culik Claire kemana kau!” ujar Val sambil menunjuk Jack.


“Aku perlu memberitahunya suatu rencana.” Ujar Jack datar, lalu pergi.


“Rencana apa?” Tanya Kim bingung.


“Gak tahu.” Ujarku juga bingung.


Zav menghela napas, “Itu hanya alasan.” Ujarnya yang dibalas anggukan setuju oleh Rylan. “Ry, sini gantikan Jack! Kita main!”


Kim meletakkan cangkir kopinya di atas meja, raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius.


“Guys, by the way…”


Rylan menoleh dengan cepat, "Oh no, not again, Kim. Don't kill the happy mood, jebal." ujarnya dengan campuran bahasa.


Aku sebenarnya sudah biasa dengan ini. Kim yang tiba-tiba mengeluarkan gagasan super seriusnya di tengah-tengah kelegaan yang sedang kami nikmati..


Rylan yang langsung menolak, (maklumilah, kalau ia sedang refleks, bahasanya akan tercampur-campur tak karuan), Zav, aku dan Val yang hanya bisa menghela napas pasrah.


“Aku ingin memberitahu sesuatu.” Ujar Kim mengacuhkan Rylan. Ia mengambil empat lembar tissue untuk siap-siap.


Tanpa menunggu lama, kami ber-empat menghentikan kegiatan kami, lalu menatap Kim serius. Biasanya kalau Kim sudah begini, kita tahu Kim akan benar-benar mengatakan hal penting.


Bagaimana kami tahu? Simpel saja, ia mengambil empat lembar tissue.


“Kau yakin akan mengatakannya, Kim?” Tanya Zav.


Kim mengangguk.


Val tersenyum, “Baiklah, aku akan merawatmu sampai seratus persen sembuh kalau kau pingsan.” ujarnya mantap.


“Tentang apa ini , Kim?” tanyaku.


“Ada dua hal.” Ia terdiam sejenak, bersiap-siap menempelkan tissue itu pada hidungnya.


Kami menunggunya dengan mata terbuka lebar, tegang, takut, khawatir. Apakah ini kabar baik… atau kabar buruk?

__ADS_1


“Aku mendapat pengelihatan baru. Kali ini sampai jangka panjang. Benar-benar sampai selesai…"


"... bukan… di Bumi.”


Apa maksudnya? Aishh, detak jantungku berdetak lebih cepat. Begitu pun dengan yang lain, kami semua semakin menegang. Apa maksudnya... bukan di Bumi?


Lalu di mana?


Aku menoleh pada Val, yang juga mengisyaratkan 'Aku tak mengerti sama sekali.'


Apa maksud Kim sebenarnya?


“Dan…” ucapannya terhenti, darah mengalir keluar dari hidung Kim, termasuk banyak untukku, tapi baginya mungkin masih sedikit.


Ia mengambil empat lembar tissue lagi, bersiap-siap untuk pernyataan yang kedua.


Kali ini, Kim tersenyum. Senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan di saat seperti ini.


Senyuman itu… senyuman kemenangan.


"Apa apaa??" tanya Rylan tak sabaran.


“Aku sudah menguasai akses menuju dimensi parallel.”


○○○


Di tempat lain.


[Claire's POV]


Aku dan Jack berada di luar gedung AOM, Jack berdiri membelakangiku dari tadi, sementara aku hanya duduk di sebuah kursi panjang, menunggu dia berbicara.


Sudah kutunggu dari tadi, tapi Jack tetap tak mengatakan sepatah kata pun. Aku jadi bingung…


Setelah membuang maskerku.. hanya ini yang dia lakukan?!


“Tadi katamu mau memberitahuku rencana… rencana apa?” ujarku, yang sepertinya membuat Jack sedikit tersentak.


“A-ah.. itu…” Jack akhirnya membalikkan tubuhnya, ia menggaruk tenguknya, “Tentang rencana kita besok lusa… itu adalah misi puncak kita.”


Uhm… oke…


Kita semua sudah tahu itu, kan?


Jelas saja misi itu menjadi klimaks dari misi kita ini.


Lalu… ? Aku harus berkata apa?


“Iyaa… uhm, memang iya, kan?” ujarku padanya.


Jack tak menatapku, ia seperti menghindari berkontak mata... ANEH SEKALI!


“Kau kenap-“


“Apa kau sudah siap?” tanyanya tiba-tiba, membuatku tertegun.


Aku mengadah, menatapnya tepat di maniknya. Tatapannya… tak terjelaskan. “Apa maksudmu ‘siap’? Bukankah siap tidak siap… kita tetap harus menghadapi Apesta?”


Maksudku... apa kita punya pilihan lain?


Ia menatapku semakin lekat, tatapannya tajam, seolah sedang menantang musuh.


Tapi aku sudah mengenalnya, Jack Grayson Si Ketua Team yang tak pandai mengekspresikan perasaannya. Jika ia memberi tatapan seperti ini, pasti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sebenarnya wajar menurutku, misi puncak kami akan menjadi hal yang benar-benar tak tertebak. Kalaupun kami membuat rencana sematang apapun, kami tetap tak memegang kendali penuh atas peristiwa yang nanti akan terjadi.


Bisa dibilang…


…. Kami menuju area perang musuh. Dengan ketidaktahuan tentang apapun.


Jack mendekat ke arahku, lalu ia duduk di sampingku, masih dengan raut wajah tak terjelaskan itu. Alisnya bertaut, seperti geram akan sesuatu, tapi wajahnya juga sendu. Ia menunduk, menatap lantai.


“Aku takut gagal.”


Aku tertegun, lagi.


Ini pertama kalinya ia jujur akan apa yang sedang ada dipikirannya, apa yang dirasakannya.


Aku menoleh, menatapnya dalam. Memastikan bahwa aku tidak salah.


Benar. Itu adalah manik ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan.


Aku menautkan alisku, “Hei… bagaimana bisa kau sudah khawatir padahal mencoba saja belum?”


Ia tak menjawab. Tatapannya serasa kosong.


“Bagaimana bisa kau putus asa padahal kita tak pernah gagal?”


Ia menoleh padaku, lalu terkekeh.


Bukan. Itu bukanlah hal yang lucu…


“Kita sudah gagal sejak awal, Claire.” Ia menatapku sendu. “Apa tak pernah terpikir olehmu, mengapa Apesta memberi tahu kita tentang lokasi chip itu?”


Tentu saja aku sudah memikirkannya, mencari segala kemungkinan yang bisa jadi alasan dia mengatakan itu. “Untuk… mengantar kita pada chip itu, lalu mungkin membunuh kita selagi mencoba, kan?”


Ia tersenyum tipis, “Itu sih pasti. Tapi… tetap saja, pernahkah kau berpikir, mengapa ia ingin mempermudah kita?”


Aku berpikir keras. Sedikit kaget karena adu otak yang tiba-tiba ini, belum lagi perkataan para agen yang katanya hari ini akan rileks saja jadi terkesan bohong. Huft...


Tapi, tak apa. Ini menarik.


“Iya juga. Kira-kira untuk apa ia mempermudah kita?”


“Pada dasarnya, kita ditugaskan untuk menjalankan misi di sebuah sekolah, kan? Tapi kita malah akan berakhir di AOM Amerika. Bukankah kita bisa mengambil kesimpulan dari situ?”


Tidak, Jack. Bukan ‘kita’, hanya kau dan otakmu.


Tapi raut wajahnya masih tak berubah, oh oke.. ini benar-benar serius.

__ADS_1


“Dia menujukkan, kalau ia lebih unggul dari kita ber-tujuh, dengan cara yang halus. Mungkin memberitahu lokasi chip itu membuat kita lega sekilas, karena sudah dipermudah. Tapi kenyataannya… ia menunjukkan kalau kita sudah gagal sejak awal, kita melakukan semua ini secara sia-sia. Mencari chip di sebuah sekolah, padahal ternyata ada di Amerika.”


Jack menghela napas pelan, tatapannya semakin tajam, rahangnya mengeras. Ia sedang geram.


“Mungkin ia bisa saja memberitahu lokasi chip itu sejak awal, tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Kenapa? Karena mungkin dengan melihat kita bersusah payah disini dapat menghiburnya. Dan fakta bahwa ia akhirnya mengatakan lokasinya, membuat kita merasa tak berdaya. Seolah, dari awal Apesta lah yang menggenggam semua alur yang akan tejadi. Kalau chip-nya ada di Amerika, untuk apa kita mencari di sebuah sekolah dengan sia-sia, dan akhirnya ia dengan entengnya memberitahu lokasi chip itu, membuat kita terdiam melihat jerih payah selama ini yang tak ada harganya.”


“Dengan kata lain… selama ini kita hanya mengikuti alur yang ia miliki, mengikuti kemana pun arah rencananya menuju. Brengsek.”


Aku terdiam.


Masih memproses semua ini di otakku. Dan semuanya… masuk akal.


Mengapa… aku tak pernah terpikir sampai ke sini?


“I-itu artinya… dengan kita menurutinya untuk pergi ke Amerika, kita masih berjalan masuk ke rencananya…”


Aku masih tak bisa mempercayai ini.


“Ya. Rencananya berjalan sangat mulus.”


Aku mengepalkan tanganku. Sialan. Jadi selama ini, kita hanya dibodohi?


Jack menoleh padaku, “Kau kesal?”


AH! Bagaimana bisa aku tak menyadari ini lebih awal?!


Sial! Aku akan membunuh wanita itu!!


“Sudahlah.”


Aku menoleh, “Bagaimana bisa sekarang kau yang menenangkanku?”


“Kau kesalnya telat, sih. Aku sudah menendang enam meja sejak mendengar kabar Apesta memberitahumu itu.”


Aku berdecih, “Tetap saja! Siapa suruh kau telat memberitahuku?”


Ia menatapku datar, “Kukira kau sudah berpikir sampai kesitu.” ujarnya enteng.


Aku memalingkan wajahku kesal. Ck. Tak semua orang sepintar kau, bodoh! Bikin malu saja.


“Kuharap dengan menyadari ini, kau jadi semakin berhasrat untuk membunuhnya.”


Aku menoleh padanya.


“Jangan sampai lemah, siapa pun dia sebenarnya… dia bukanlah orang yang patut dikasihani.”


Aku mengangguk mantap. Aku setuju. Aku tak akan memaafkannya, perempuan sialan!


Jack tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Apa itu?


Sebuah…


... kalung?


Jack menatapku dengan seulas senyum tipis, “Ini untukmu.”


Aku terbelalak, “U-untukku? Ini… kan bukan hari ulang tahunku..."


“Iya… ini untuk menggantikan kalungmu yang dirusak waktu itu.” Jack membuka kait pada kalung itu.


Wah… indah sekali, liontinnya berwarna merah… dan berbentuk planet, eh.. planet apa itu?


“Naikkan rambutmu.”


“Eh? Ini serius? T-tidak perlu begini! Lagipula yang merusak kalungku kan bukan ka-“


“Cepat naikkan, tanganku pegal.” Ujar Jack memotong perkataanku, kedua tangannya memegang ujung-ujung kalung itu.


Aduh…


B-baiklah..


Aku menaikkan rambutku. Sekilas aku melihat Jack terseyum, ia memasangkan kalung itu di leherku, lalu mengaitkannya. “Ini antisipasi tahu. Kurasa kau akan langsung tenang kalau ada aku, jadi kalau suatu saat kau hilang kendali, dan aku sedang tak ada di sisimu, lihatlah benda yang terpasang di lehermu itu, ingatlah aku.” Ujarnya datar. Orang ini benar-benar aneh. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu dengan raut wajah yang datar?!


Aku melototinya, “Ck! Sejak kapan aku begit-“


“Dengar. Itu.hanya.antisipasi. Lagipula aku takkan meninggalkanmu juga. Dan… tak usah mengelak lagi, pipimu sudah merah, tuh.”


“D-D-DIAAM!!!”


“Ayo.” Jack terkekeh, “Ayo kembali ke dalam, aku hanya mau memberimu itu tadi.”


Hah?


Tak jadi memberitahuku tentang 'rencana'?


○○○


“Ini planet apa?” tanyaku pada Jack. Kami sedang berjalan menuju ruang santai lagi.


Ia melirik kalung yang terpasang di leherku, lalu menoleh ke arahku dengan seulas senyum, “Planet Mars.”


Aku mengangkat kedua alisku, “Wahhh.. tapi kenapa Mars?” tanyaku. Omong-omong, kami sudah berada di depan pintu ruangan sekarang.


“Kenapa? Kau tak menyukainya?” tanyanya.


Aku segera menggeleng, “Aku suka! Cuma... mau tahu saja…”


Ia terkekeh, membuat lesung pipinya terlihat, “Karena-“ Jack menghentikan perkataannya, ia tertegun melihat hal di depannya. Aku yang penasaran, ikut menoleh ke depan.


“Kim?”


Kimberly sudah terbaring tak sadarkan diri di sofa, dengan bertumpuk-tumpuk tissue dengan bercak darah memenuhi lembaran tissue itu.


Apa yang terjadi?!

__ADS_1


Kim melanggar hukum alam lagi?


__ADS_2