
[Author’s POV]
“Val, Nancy kemana?” Tanya Claire bingung. Ia baru saja bangun dari tidur nyenyaknya, padahal masih pagi sekali, tapi kasur di sebelahnya sudah kosong. Kasur itu adalah tempat Nancy.
“Dia lagi… dia kan memang suka hilang-hilangan.” Jawab Val seraya memakai sepatunya.
“Lah, itu kamu juga mau kemana pagi-pagi begini?” Claire menguap, matanya masih setengah terbuka lengkap dengan beleknya, tapi kedua teman sekamarnya ini sudah pergi saja.
Val mengikat rambut lurusnya dengan cepat, ia terlihat seperti buru-buru. “Mau jogging, hahahah! Asik, gaya.” Ujar Val menertawakan dirinya sendiri. Mengingat ia memang tak pernah olahraga diluar jam olahraga di sekolah, biasanya, hari sabtu pagi begini, hari-harinya diisi dengan tidur seharian. Melepas lelah yang telat mencekiknya pada hari-hari biasa.
Lebih tepatnya, mencekik mereka semua.
Claire terkekeh, “Aku mau ikut, ya?”
Val terdiam, lalu menoleh pada Claire dengan cengirannya, “Aku janjian dengan Zav.”
“Eh? Ooohh hahaha! mau nge-date ternyata. Ya sudah, aku di asrama saja, deh.” Ujar Claire. Kalau begitu ia langsung memaklumi mengapa Val terlihat buru-buru sedari tadi.
Val masih menyengir, “Hehehe… maaf ya, Claire. Nanti kapan-kapan deh.” Ujar Val yang dibalas anggukan oleh Claire. Val berjalan ke arah pintu, “Aku pergi dulu, ya! Bye!” ujarnya lalu keluar dari
kamar asrama.
Dengan cepat, Val langsung berlari menuju lift, lalu keluar dari gedung asrama.
Saat Val keluar, Zav sudah berdiri di depan asrama perempuan. Berdiri menyender tembok dengan tangan dilipat di depan dadanya. Terlihat beberapa perempuan yang sedang lewat, berbisik-bisik mengagumi ketampanan Zav.
Val buru-buru menghampirinya, “Duh, maaf ya lama.” Val menoleh pada Zav, raut wajahnya terlihat sedang tidak mood, “Marah, ya?” Tanya Val.
Zav menggeleng, lalu menguap. “Gak, kok. Aku masih ngantuk aja.” Ujarnya lalu menggandeng tangan Val. “Mau makan dulu atau langsung?”
Val berpikir sebentar, “Langsung saja.” Dalam sekejap, mood-nya langsung ikut menurun drastis, Val menghela napas lelah. Ia paling malas bertemu orang itu. Tapi bagaimana lagi?
Melihat Val yang menjadi lesu, Zav merangkul Val, membuat jarak di antara mereka berdua lenyap. “Jalan dulu, yuk.” ujarnya dengan senyuman hangat.
Ia tahu Val pasti malas menemui orang itu, begitu pun ia sendiri.
__ADS_1
Val menoleh bingung, “Tapi kan kita sudah tela-“
“Bolos saja. Sudah, gak usah khawatir, kalau aku sama kamu, dia gak bisa apa-apa.” Ujarnya tegas. Memang, Val merasa dirinya aman setiap Zav ada bersamanya. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di hati Valerie.
“Jangan ambil resiko, kita datang saja.” Ujar Val menatap Zav, mencoba terlihat biasa saja. Padahal dalam hatinya, ia juga malas bukan main.
Zav menatap Val dalam, ia tahu perempuan itu membohongi dirinya sendiri. “Val,” panggil Zav, “kamu sudah mulai menyayanginya, ya?”
Valerie tertegun.
Ia harus mengelak!
“T-tid..” ia tak bisa melanjutkan kalimatnya, “Ti…” ujarnya mencoba lagi. Tetap saja. Val tak tahu mengapa ia tak bisa mengucapkan elakan semudah itu. Val menunduk, bergulat dengan pikirannya sendiri.
Zav menatap Val dengan sendu, “Sudahlah.” Ia menghela napas. “Aku sudah tahu.”
“Aku juga.” Lanjut Zav yang membuat Val tersentak.
“Kimberly, Rylan, Ruby, apalagi Jack. Mereka juga merasakan hal yang sama. Tak ada gunanya mereka menyembunyikan itu dari satu sama lain, aku bisa langsung tahu bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya hanya dari perlakuan mereka terhadap dia.”
Zav terkekeh kecil, “Kamu mau pembuktian yang mana dulu?” ia menatap Val sekilas, ia tahu Val masih kehabisan kata-kata.
“Baiklah, kumulai dari Ruby. Dia yang pertama kali melanggar peraturan dengan memasangkan gelombang supersoniknya pada gadis itu untuk melindunginya.” Zav tersenyum, “Aneh bukan?”
Valerie menoleh pada Zav, “I-iya…”
“Jack. Sepertinya yang ini tak usah dibahas. Dia jelas-jelas sudah melewati batas. Padahal peran awalnya tak se-detail itu, lihat dia sekarang hahaha!” Zav menertawai temannya, Jack… karena telah jatuh. Dengan orang tak seharusnya.
Val menyeringai kecil, kalau ia pikir-pikir, benar juga.
“Rylan. Aku tak terlalu yakin dengan bagaimana perasaannya, tapi, aku sempat melihat ia menolongnya disaat-saat mendesak."
“Lalu Kim, aku menemuinya kemarin. Dia tampak sangat berantakan.”
Val membulatkan matanya, “Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Belakangan ini Kim terlihat sangat aneh.” Ujar Val khawatir.
__ADS_1
Zav mengangguk, “Diantara kita semua, dia yang paling tertekan, masa depan menghantuinya setiap saat… ngeri memang. Tapi aku yakin dia baik-baik saja. Kim selalu bisa mengatasi semuanya.”
Val menghela napas. Ia setuju, Kimberly memang perempuan yang memiliki peran terpenting diantara mereka, dan se-’sakit’ apapun dia, Kim tetap selalu berakhir sukses mengatasi semuanya.
“Lalu, apa Kim juga… “ Val tak melanjutkan pertanyaanya, ia yakin Zav sudah tahu maksudnya.
“Ingat saat Apesta menemui Claire?” Tanya Zav.
Val mengangguk.
“Ada Kim saat itu. Aku melihat mereka berdua di rooftop asrama. Dia terlihat menyembunyikan Kim di belakangnya, berhubung Si Apesta memakai tudung yang menutupi matanya, jadi dia pikir, mungkin dengan menyembunyikan Kim bisa membuat Si Apesta tak tahu kalau ada Kim di situ.”
Val mengerutkan alisnya, “Kenapa rooftop asrama?”
Zav tersenyum, “Kamu mengerti kan maksudnya apa?”
“Kim mencoba menentang peraturan, bahkan hukum alam… untuk menyelamatkan dia.”
“Aku gak tahu… siapa yang sebenarnya salah, dan bagaimana kelanjutan ini semua.” Zav menatap Valerie dalam, “Bukankah kita mau bebas? Atau… kamu sudah gak kepingin lagi?”
Val menunduk, ia berpikir sebentar. “Aku mau bebas, Zav. Tapi aku juga mau menikmati kebebasan itu bersama-sama.”
Zav terkekeh, “Aku juga, Val. Tapi, kamu tahu kan… sejak awal, kita gak pernah ditakdirkan untuk mempunyai takdir semudah itu. Kita harus memilih.”
Mereka berdua terdiam, menatap cerahnya langit pagi itu. Berharap suatu hari mereka bisa menikmati pemandangan seperti ini… dengan rasa damai.
“Kira-kira, apa masa depan yang diketahui Kim itu ya, Zav?” Tanya Valerie. Ia menghembuskan napasnya, menikmati segarnya udara di sekitar mereka. Selagi bisa.
Zav mengedikkan bahunya lalu tersenyum tipis, “Apapun itu, kita harus siap.” Ujarnya pelan lalu memalingkan wajahnya. “Akan ada saatnya kita akan mengaku satu sama lain, percayalah.”
“Jadi, Val… kamu gak usah takut, gak perlu sembunyikan apapun dari aku.” Ujar Zav tulus. Ia tersenyum hangat.
Valerie mengangguk, ia membalas dengan senyuman manisnya. Sesak di dadanya sudah hilang, beban di pundaknya sudah lebih ringan. Ia lebih lega sekarang.
“Ayo!”
__ADS_1