AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
PROLOG: The Next War


__ADS_3

Lelaki itu sudah pergi. 


Menyisakan kelima temannya, berdiri mematung. Gemetaran.


Salah seorang gadis yang ditinggalkan, langsung membuka mulut. "Kim... mengapa kau berbohong padanya?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami semua?" tanya salah seorang lelaki di sana. Detak jantungnya berdegup tak karuan.


Gadis dengan manik amber itu bergeming, sorot matanya menggambambarkan ketakutan. "S-sebenarnya... aku belum tahu bagaimana akhir dari semua ini."


"P-pengelihatanku belum selesai... sampai akhir."


Keempat orang itu terbelalak.


"KAU... BELUM TAHU AKHIR DARI SEMUA INI AKAN BAIK ATAU BURUK?! APA KAU BERCANDA?"


Gadis itu menggeleng... tidak. Sama sekali tidak.


Ia serius.


Salah satu dari keempat orang itu tersungkur di atas tanah, tubuhnya sudah tak sanggup berdiri... ia lemas setengah mati. Tatapan matanya kosong.


"Ia... sudah terlanjur pergi."


Gadis bermanik amber itu menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Tetapi ia tidak menyesal, karena ... ia tahu benar apa yang ia lakukan. 


Tiga tahun lagi.


Hanya tiga tahun lagi ia harus menunggu, sampai pengelihatannya lengkap.


Semoga saja... ia tidak terlambat.


...○○○...


Tiga tahun kemudian.


MARS. JUNE 10, 2022.


"Professor Zen! Cepat lihat ini!"

__ADS_1


Seorang pria dengan jas lab berwarna putih menoleh pada asistennya yang tampak gelisah memandangi layar hologram yang menampilkan keadaan luar angkasa.


Pria bernama Zen dengan gelar professor itu langsung berlari untuk melihat hologram tersebut.


Seketika, rahangnya terjatuh, setelah melihat bahwa hologram tersebut mendeteksi planet Bumi dengan... manusia didalamnya.


Ia mengusap matanya tak percaya.


Bumi.


Planet yang sejak tiga tahun yang lalu hanya memiliki satu manusia di dalamnya, manusia terakhir yang tiga tahun lalu tak sengaja tertinggal saat seluruh penduduk bumi dievakuasi ke planet Mars. Sekarang, ia pun sudah dievakuasi ke planet ini.


Jadi dengan kata lain, Bumi telah menjadi planet kosong.


Tapi... sepertinya tidak.


"Profesor Ally, scan berapa jumlahnya."


Asisten professor Zen itu menyentuh tulisan 'scan' pada hologram didepannya, kemudian muncul informasi lengkap tentang keadaan planet Bumi  yang terpantau dari satelit Mars.


Professor Ally membulatkan matanya.


Satu orang.


"Sepertinya dia orang yang tertinggal saat evakuasi massal jug-"


"Tidak mungkin." Professor Zen menaikkan kacamatanya, menatap layar hologram itu tajam. "Terakhir kali ada orang yang tertinggal itu tiga tahun yang lalu, saat itu keadaan bumi sudah tak layak dilihat. Jadi sekarang, tidak mungkin ada orang yang bisa bertahan hidup tiga tahun tanpa makanan dan air bersih." sela Profesor Zen saat ikut melihat hologram itu.


"Atau..."


"... dia bukan manusia?" tebak Profesor Ally sambil memperhatikan hologram itu.


Profesor Zen menoleh dengan alis bertaut.


"Ya, aku tahu ini mustahil, tapi-"


"Ally, tiga tahun yang lalu Bumi hampir musnah hanya karena pertikaian manusia super yang disebut mutan. Jadi tak ada yang mustahil sekarang." sela Profesor Zen.


Ia telah meneliti tragedi kehampir-hancuran Bumi selama tiga tahun ini, dan benar, ia menemukan data tentang eksistensi sekolah khusus makhluk aneh itu. Dan bukan hanya satu, karena sekolah aneh itu ada di setiap negara... di seluruh dunia.

__ADS_1


Makhluk mutan itu memiliki kekuatan supernatural yang tak masuk akal secara logika. Tapi kenyataannya... semua itu buatan. Mutanisasi yang dilakukan oleh professor Bumi untuk menciptakan makhluk seperti itu. Berujung kiamat bagi manusia Bumi.


Beruntungnya, anak perempuan Professor Zen, yang melihat sendiri pertikaian para mutan di Amerika Serikat pada waktu itu.


Tiba-tiba, Profesor Zen gemetar, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia menoleh pada Ally.


Ia melupakan satu hal.


"Selama ini..."


"... mutan yang hampir menghancurkan Bumi itu, apa ia sudah mati?" Tanya Profesor Zen setengah gemetar.


"Professor, kan kita tak pernah berhasil mendeteksinya... selama ini ia menghilang. Memangnya kau lupa?" Profesor Ally menyernyit bingung. Ia belum mengerti apa yang dipikirkan Professor Zen.


Raut wajah Professor Zen berubah pucat, tergambar sebuah ketakutan di wajahnya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Ally, ia pergi meninggalkan asistennya itu.


"Temukan lima orang yang memiliki kemampuan langka,"


"... atau setidaknya, yang cukup tangguh." Ujar Profesor Zen, lalu berjalan keluar ruang penelitian, sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri.


Sudah saatnya ia menggunakan hasil penemuannya yang selama ini ia rahasiakan.


Ia tahu... cepat atau lambat hal seperti itu akan terjadi lagi. Peperangan belum selesai, ia sudah menduganya.


Tapi..


Bagaimana jika ia gagal?


Bisa saja memakan jiwa jika lima orang itu tak kuat menahan efek dari perubahannya.


Tapi ia sudah bertekad, bagaimanapun caranya, ia harus berhasil.


Jika mutan pembunuh itu belum mati, maka tak lama lagi mutan pembunuh itu akan datang ke Mars, mencari mangsa di sini... sudah pasti.


Zen tak akan lalai. Ia berjanji.


Jika dulu Professor Bumi menciptakan mutan dan hampir menghancurkan planetnya sendiri, maka kali ini ia akan menciptakan mutan untuk menjaga planetnya, Mars. Ia tak mau sampai hal yang sama menimpa Mars.


Karena kalau kali ini dihancurkan juga, mungkin itulah akhir dari kehidupan umat manusia.

__ADS_1


__ADS_2