
Oh ayolah, itu bisa membuat kericuhan.
Setidaknya belati atau pisau saja, kek!
Aku berusaha menjatuhkan pistolnya dengan menghajarnya, tapi gagal. Karena tak ada satupun pukulan yang mengenainya.
"Wah wahh… agen dari AOM lemah ini mau melawanku? Hahaha!"
Kok dia tahu?!
BUKAN. BUKAN 'LEMAH' NYA, tetapi kok dia bisa tahu kalau aku adala-
“Kau dimana?” Tenang saja Jack, aku bisa menghadapinya sendiri.
Aku menendang selangkangannya.
… dan akhirnya ia mengerang kesakitan.
Aku langsung mengambil pistolnya kini dengan mudah, lalu aku menodongkan pistol ini ke kepalanya.
Sreet
Aku terlonjak kaget, dan mundur selangkah dengan cepat.
Dia mengeluarkan pisau secara tiba-tiba dan mengerahkannya padaku. Pisau itu merobek jasku, kurasa menembus ke kemejaku juga.
Aku tidak sempat melihat jasku ataupun melihat keadaanku sekarang.
Aku langsung mengeluarkan belatiku dan mengarahkan padanya, berniat menakutinya bahwa aku juga memiliki senjata.
Tapi aku salah.
Dia melempar pisau yang digenggamnya tadi ke arahku, aku refleks menghindar dengan cepat.
Beruntunglah aku, pisau itu menancap ke tembok yang berada di belakangku.
Ah, andai telekinesisku bisa bekerja tanpa menghilangkan kesadaranku...
"Mau apa sekarang, hm?" Dia menyeringai kepadaku.
Aku mencoba mengulang gerakan bela diri yang tadi kupraktekkan dengan target pertama dan kedua. Tetapi bedanya, bela diriku yang sekarang dilengkapi pistol ditangan kanan dan belati ditangan kiri.
Ck, tak ada perubahan. Tetap tidak mengenainya sekali pun!
Tapi camkan ini, aku tidak akan menjadi lemah hanya karena melawan seorang laki-laki bertubuh kekar yang sombong.
Lagipula sekarang dia sudah tak memegang senjata, kan? Pistolnya bersamaku sekarang.
Aku membidiknya dengan pistol yang kugenggam dengan maksud hanya untuk menakutinya saja, karena aku tidak ingin membunuh orang.
Dia mengeluarkan sebuah belati dari sakunya.
Hei! Tak habis-habis senjatanya!
Ia dengan gesit berusaha menikamku.
Dengan cepat aku menghindar lalu menjatuhkan belati di tangannya dengan belatiku, saat aku melompat, kutendang wajahnya sehingga keseimbangannya hilang.
Ia terjatuh.
"Aaargh!!" Erangnya.
Eh ya ampun?! Kok jari tengahnya putus?!
Kurasa saat aku menggunakan belatiku untuk menjatuhkan belatinya, aku tidak sengaja menebas jarinya yang malang itu…
Untungnya dia terlaku fokus dengan jarinya, sehingga aku bisa memukulnya dengan sikutku.
Pelan saja sih, aku tahu ia sudah cukup menderita karena jarinya.
__ADS_1
Dia tergeletak lemas tetapi belum pingsan.
Baiklah, apa yang harus kulakukan? Di tangan kananku ada pistol, dan di tangan kiriku ada belati. Kedua alat ini jika digunakan bisa membuat orang luka parah bahkan bisa membunuh orang. Tapi aku tidak cukup tega untuk itu.
"Jadi? Segini saja?" Tanyaku yang masih dijawab erangannya.
Aku memutuskan menyimpan pistol dan belatinya dalam kantung jasku.
Daripada kugunakan kedua benda itu sesuai fungsinya?
"Cukup bagus." ujar seseorang yang membuatku menoleh.
Jack?
Ia tersenyum, menyenderkan tubuhnya di ambang pintu toilet.
"Jack? Kau dari tadi di sini?"
Ia diam, tak menghiraukanku. Huh, dasar!
"Ayo, kita hampiri target terakhir." Ujarnya lalu keluar duluan.
Aku mengikutinya berjalan dari belakang. Aku baru menyadari kalau dia memakai headset hitam yang kuyakini adalah pengganti earzoom-nya.
Kita berjalan ke arah tempat yang ramai lagi, mencari target terakhir.
"Jalan di sampingku."
"Gak mau."
Mentalku tak cukup kuat untuk terus melihat wajah datarnya yang menyebalkan itu jika berjalan di sampingnya.
Dia berhenti berjalan, lalu menoleh kebelakang. Ia menggenggam tanganku dengan sedikit tarikan agar aku bisa berjalan berdampingan dengannya.
Whatever...
Aku tersentak. Tiba-tiba dia menarikku ke samping sampai tanganku hampir terpelintir.
Wow!!
Oh bukan, bukan kata-kata itu yang harus kupikirkan. Tapi…
Astaga!!
Ia menangkap sebuah belati yang tadi hampir mencium wajahku. Entah darimana belati itu datang.
"Dia ada disekitar sini." ujar Jack seraya menjatuhkan belati itu asal.
Dia kembali menggandengku ke arah yang dia yakini sebagai tempat dimana target terakhir kita itu berada.
Tak lama kemudian, terlihat seorang perempuan dengan jubah hitam. Ia menutupi wajahnya, tetapi aku melihat samar-samar ia menatap kami dengan seringaian.
Melihatnya, aku dan Jack berhenti.
Pakaiannya terlalu mencolok, mengapa target ini tidak menarik perhatian orang-orang?
Apa mungkin… dia tak terlihat?
"Akhirnya aku bertemu juga dengan kalian.” Ia mendekat. “Pemimpin Agen dan Yang Terkuat." Ujarnya dengan penekanan di setiap katanya.
Aku terbelalak. Bukankah target tidak mengetahui informasi apapun dan hanya mengikuti perintah si bom itu kan? Lalu mengapa dia tahu?
Jangan-jangan...
"Ya, salam kenal. Aku adalah si penjahat yang kalian maksud, akhirnya aku bertemu denganmu juga, Claire."
Jack langsung menarikku ke belakang tubuhnya.
"Kau sembunyikan dimana chip itu!?" Jack membentak perempuan itu.
__ADS_1
Astaga…
Aku malah jadi takut dengan Jack, dia bisa mengerikan seperti ini.
"Di suatu tempat. Kalian bisa mengambilnya jika bisa mengalahkanku." ucapnya dengan seringaian. Yang terlihat dari wajahnya hanya mulutnya, selain itu tertutup jubah dan tudungnya.
Sedetik kemudian, saat aku berkedip, bukan keramaian lagi yang di sekitarku, melainkan kami sudah berada di rooftop sekolah yang luas ini.
"Jadi, kau ingin bertanding dengan kami?" Tanyaku menunjukkan diri. Aku melepas genggaman Jack yang menahanku.
Untuk apa takut kepada pengecut? Sekarang aku mengerti, dia sengaja membuat energi kita terkuras dengan menghadapi orang-orang suruhannya tadi, agar saat ia menunjukkan dirinya sekarang, energi kita sudah habis.
Sayangnya aku belum menggunakan kekuatanku sama sekali. Jadi jangan senang dulu.
"Ya, coba saja." Ujar si pencuri chip itu.
Jack mengambil belatinya. Ia melemparnya ke arah perempuan itu secara vertikal dan hampir mengenainya, tetapi perempuan itu menghindar kekiri, saat itu juga, Jack mengambil pistol dan menembakkannya ke sisi kiri, jadi perempuan itu tak dapat menghindar lagi.
Aku terbelalak.
Peluru yang tadi datang kearahnya hancur.
Ya, hancur.
Saat dia mengangkat tangannya dan membuka telapak tangannya, seolah menandakan 'stop', peluru itu berhenti dan hancur dengan sendirinya.
Tunggu sebentar, itu mirip dengan telekinesis (?) Dan cara pelurunya hancur itu sama seperti belati yang kemarin menusuk tanganku.
Bukankah setiap mutan mempunyai kekuatan yang berbeda-beda?
Tapi kenapa-
BRUGHH
"Jack!!"
Aku menghampiri Jack yang terpental jatuh ke belakang karena telekinesis(?) perempuan itu.
"Lihatlah ini!" Perempuan itu menghentakkan tangannya, seolah sedang mengendalikan-
"Aarghh!!" Erang Jack lantang.
"Tolong hentikann!!"
Seperti dugaanku, Jack yang sedang ingin bangkit tadi, dijatuhkan lagi, seolah udara di atasnya menghantamkan dia ke tanah.
Perempuan itu mengepalkan tangannya perlahan. Aku menoleh pada Jack, raut wajah Jack terlihat sangat kesakitan.
Beraninya perempuan ini macam-macam dengannya.
Aku berdiri dengan penuh kekesalan.
"CUKUP!!" Bentakku dengan emosi yang sudah memuncak.
"C-claire.. jang..an.." Jack di menatap Claire sela-sela kesakitannya.
[Author’s POV]
Claire seolah merasakan apa yang Jack rasakan sekarang, ia sangat marah dengan perlakuan perempuan itu padanya.
Sesaat kemudian, air matanya menetes satu demi satu, Claire mengepalkan kedua tangannya.
".. hentikan.." ucapnya samar.
Kemudian ia mengadah ke arah perempuan itu, tetapi dengan kondisi yang berbeda, iris matanya tidak berubah merah gelap seperti biasa, tetapi aura merah itu tetap keluar menyertainya.
Claire membuat perempuan itu melayang dengan telekinesisnya, lalu ia menghentakkan tangannya, sehingga perempuan yang tadinya melayang itu sekarang menghantam tanah dengan 10 kali lipat lebih keras dari yang ia lakukan kepada Jack tadi.
"Claire.. tahan…" ujar Jack yang sedang ingin bangkit berdiri, tetapi gagal.
__ADS_1
"Aku sedang sepenuhnya sadar, kok." ujar Claire menyeringai tanpa menoleh kearah Jack.