
Kini, jam sudah menunjukkan pukul 11.55 malam.
Val dan Zav baru saja bergabung, mereka berdua beristirahat sejenak tadi.
Sekarang, mereka para agen sudah berkumpul tepat di depan ruangan kaca dimana Kim
‘dirawat’.
“Lima menit lagi.” Ujar Rylan lalu berdiri, diikuti yang lain. Tentu saja mereka duduk di lantai, bagaimana lagi? Tak ada kursi di tengah-tengah koridor ini.
Val yang sudah berdiri, menoleh pada Claire yang masih duduk, lebih tepatnya meringkuk.
“Kamu kenapa meringkuk gitu?”
Claire mengadahkan kepalanya, menatap Val sekilas lalu mengalihkan pandangannya pada
Kim... yang sedang bergumam sendiri pada tembok.
Claire cemberut sedih melihat Kim, “A-aku takut...” ujarnya pelan.
“PFFFT.” Rylan menahan tawanya, ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Diam-diam, Jack ikut terkekeh pelan.
“Iya sih, memang menyeramkan.” Ujar Zav yang langsung disambut pelototan oleh Val.
Sebenarnya, tak salah juga memang. Dengan penampilan Kim yang sekarang ini, rambut
panjangnya berantakan, berbicara pada tembok, bahkan tadi ia sempat menangis tersedu-sedu entah kenapa.
Ruby memberi kode ‘oke’ dengan jarinya pada Claire, menandakan bahwa ia diperbolehkan
meringkuk di pojok situ saja alih-alih ikut mendekat ke ruangan kaca Kim.
Lalu mereka kembali mengalihkan pandangan mereka pada Kim.
Keadaan masih terkendali, sampai-
DUGH DUGH DUGH
Kim tiba-tiba memukul-mukul dinding kaca itu sambil berteriak sesuatu.
“E-eh? Kim kenapa?” Val mengerutkan alisnya bingung sekaligus panik, begitu juga dengan
yang lain.
Zav berdecak, “Kenapa ruangan itu dibuat kedap suara, sih?” ujarnya.
Jelas, mereka tak bisa mendengar apa yang diteriakkan Kim, belum lagi, Kim menghadap
membelakangi mereka.
Kemudian suasana diantara para agen kembali hening, namun tegang. Mencoba menggapai gelombang audiosonik yang keluar dari mulut Kim dengan telinga mereka.
Kim benar-benar terlihat mengerikan sekarang. Ia terlihat kebingungan sekaligus sedih, dan marah. Ia terus memukul-mukul dinding kaca itu sambil berteriak. Seolah... ada orang dalam dinding itu.
“Ada apa sih di situ?” Val mengusap-usap matanya, “hanya dinding kaca, kan?”
Rylan mengangguk, masih dengan kerutan bingung di keningnya.
Sementara Claire sudah melipat kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya diantara
lututnya. Siapa sangka perempuan yang pernah menghajar 3 orang habis-habisan
ini adalah penakut? Hanya karena Kim sekarang terlihat seperti Enchantress yang sedang mengamuk.
Ruby menggigit bibir bawahnya, ia mulai cemas. “She will be okay, right?” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Kim yang sekarang terlihat berteriak semakin kencang. Terlihat dari urat-urat di lehernya.
__ADS_1
“Mungkin... memang ini prosesnya,” Rylan mengamati gerak-gerik Kim, “tapi rasanya ada yang tak beres.”
“Bukan tak beres,” ujar Jack. Ia maju selangkah, tangannya menyentuh dinding kaca yang
dingin itu, “dia sedang berusaha berkomunikasi.” Ujarnya membuat lima orang di sekitarnya itu menoleh kebingungan.
“Hah?” ujar Claire dari pojok sana, mewakili kerutan bingung di kening mereka semua.
Jack menatap Kim lagi, “Dimensi paralel.”
Ruby terbelalak, “Ah iya!” rahangnya terjatuh seketika, “jadi... sedari tadi, ia
sedang mencoba berkomunikasi dengan... seseorang dari dimensi paralel?” ujarnya
membuat semuanya terpelongo.
“A-apa...?!” Val menempelkan kedua tangannya pada dinding kaca itu, berharap bisa melihat
Kim lebih dekat.
Claire mengerutkan alisnya, merasa ada yang salah. “Tapi... bukankah Kim hanya bisa
mendapat pengelihatan, bukan berkomunikasi dengan ‘mereka’?” ujarnya lalu bangkit berdiri, mendekati dinding kaca itu.
Jack tersenyum tipis, membiarkan perempuan itu menyelesaikan puzzle-nya sendiri.
“Iya juga..” gumam Rylan.
“Maka dari itu, ia terus-menerus memanggil ‘mereka’, tapi tak terdengar, bahkan mungkin
‘mereka’ tak tahu.” Ujar Claire, menatap Kim dari belakang dengan cermat.
“Woah...” Val menoleh pada Claire, “kamu pintar juga, ya!”
Jack tersenyum sekilas, lalu mempertahankan wajah datarnya lagi.
Keheningan kembali tercipta, sibuk dengan pikirannya masing-masing demi memecahkan suatu teka-teki yang sama.
Siapa ‘mereka’ itu?
“Hei, lihat...” ujar Zav, menunjuk ke arah ruangan itu.
Kim sudah terduduk di lantai, tak lagi berteriak, tak lagi memukul-mukul dinding, tak
melakukan apapun. Ia hanya diam.
“Aduh, kok malah jadi tambah seram...” ujar Claire pelan.
Rylan menoleh pada Jack, “Mungkin dia sudah tenang, haruskah kita membuka pintunya
sekarang?” tanyanya yang membuat Claire terbelalak.
Jack mengecek jam tangannya, sekarang sudah pukul 00.20, dua puluh menit sudah terlewat sejak Kim mendapat kekuatan
barunya.
“Sudah bisa, sih.” Ujar Jack.
“Tapi memang sudah benar-benar tenang?” Zav menyahut, “hati-hati loh, nanti kalau emosinya
belum stabil, kau bisa diubah jadi kakek-kakek.”
Val terkekeh, “Iya juga sih.”
Jack menghela napas, “Aku akan mengecek
keadaannya.” Ujarnya membuat teman-temannya itu menoleh.
__ADS_1
Mereka (kecuali Claire) menjadi hening. Fakta bahwa Kimberly adalah mantan kekasih
Jack, membuat mereka menjadi se-hening sekarang. Tapi bagaimanapun, memang harus profesional.
Jack berjalan melewati Claire, perempuan itu langsung menahan tangannya. “Kau yakin?
Bagaimana kalau, tunggu sampai benar-benar...” Claire melihat Kim dengan sendu, “... aman?” ujarnya pelan.
Tentu saja ia bukan takut Jack kembali dengan wujud kakek-kakek, tapi memang banyak
kemungkinan buruk yang akan terjadi kalau sampai salah bertindak pada mutan
yang masih belum stabil, kan? Apalagi Kim sudah mempunyai akses ke dua dimensi
sekarang. Dimensi dimana mereka berada sekarang, dan dimensi paralel.
'Bagaimana kalau ia marah lalu Jack ditendang ke dimensi paralel?' ujarnya dalam hati.
Seulas senyum terukir di wajah Jack, ia mendekatkan wajahnya pada Claire, “Tenang
saja, aku tak akan berubah jadi kakek-kakek.” Bisiknya lembut, membuat Claire membatu seketika.
Lalu ia melepas genggamannya.
Bohong kalau Claire tak memerah.
“Mereka belum jadian, ya?” bisik Zav pelan pada Val.
Val tersenyum geli, ingin tertawa rasanya, “Belum kayaknya.”
Zav berdecak pelan, “Ck, lelet amat.” Gumamnya. Lalu ia menoleh pada Val yang sedang menutup
mulutnya menahan tawa, membuat Zav ikut tersenyum.
Jack menekan beberapa digit kode pada pintu ruangan tempat Kim berada, lalu terbukalah pintu itu.
Kim tak terusik, ia bahkan tak mengadahkan kepalanya sedikit pun.
Jack berjongkok, untuk melihat wajah Kim lebih jelas. Mata Kim tertutup-ralat, ia
sengaja menutup matanya, selain itu, terlihat bekas air mata di pipinya. Walaupun penampilannya sudah berantakan begini, tetap saja tak memudarkan kecantikannya.
Karena Kim benar-benar tak bergerak, Jack mengambil kesimpulan bahwa perempuan ini sudah pingsan.
Jack melingkarkan tangan Kim di pundaknya, lalu menggendongnya. Kemudian ia membawa
Kim keluar dari ruangan itu. Begitu keluar, Ruby langsung menghampirinya.
Ruby membulatkan matanya, “Sudah pingsan? Kok cep-“ ujarnya yang belum sempat
selesai, sudah ada pergerakan dari Kim.
Kim mengerutkan alisnya, “Claire...” gumamnya pelan, membuat semuanya melihat ke arah Claire, lalu menoleh pada Kim lagi dengan serius.
Claire berjalan menghampiri Kim perlahan, sejujurnya ia masih takut.
Tiba-tiba, Kim membuka matanya.
Ia melihat ke arah langit-langit, tatapannya kosong..
Lalu perlahan, pandangannya beralih, turun... menatap Claire.
Ia menyeringai.
Dengan...
__ADS_1
... mata barunya.