
[Axelia's POV]
"Arahkan senjatamu ke depan, lalu ikuti aba-abaku sekali lagi." ujar Kevin tegas.
Kevin adalah pembimbingku mulai sekarang. Ternyata masing-masing dari kami memiliki pemimbing untuk melatih menggunakan kekuatan super, menajamkan kepekaan pada sekitar, dan pastinya melatih kami memakai senjata yang tersedia.
Pria di sebelahku ini namanya Kevin, kira-kira tujuh tahun lebih tua dariku. Keperawakannya lumayan tinggi, tubuhnya kekar tapi tak berlebihan (sepertinya ia sering berolahraga, tak seperti aku yang malas), kulitnya cokelat eksotis, dan wajahnya lumayan. Tapi tak sampai tampan sekali.
Baguslah kalau begitu, aku paling malas jika dibimbing oleh pria tampan. MASALAHNYA, AKU AKAN GUGUP! Dan berakhir gagal di latihan karena tidak fokus terus.
Jadi ini sungguh melegakan.
"Axelia?" Kevin menyernyit bingung.
"Ah, iya-iya!"
Hehehe..
Baiklah, aku akan fokus!!
Aku menaikkan senjata yang sedang kupegang erat-erat ini. Aku bahkan sudah lupa namanya apa, tadi Kevin sempat memberitahuku, tapi namanya susah sekali! Alhasil, aku sudah lupa.
Tapi benda yang kupegang ini berwarna hitam (semua senjata di sini berdominasi warna hitam), tapi ada sebuah batu berwarna lavender yang berukuran kecil yang cantik tertanam di sisi bawah, tempat pelatuk seharusnya berada.
Aku baru sadar, sepertinya setiap senjata mempunyai warna khas-nya masing-masing. Walau dominan hitam, tapi selalu diselingi warna cerah.
Aku membidik dengan memejamkan sebelah mataku, fokus pada boneka berbentuk manusia yang terpasang sejauh dua puluh meter dariku (aku sempat ragu, apa ini tidak terlalu jauh?) lalu menunggu aba-aba Kevin supaya aku dapat menembak.
Senjata ini aneh, kelihatannya seperti tembakan sepanjang lengan, dan lumayan besar tapi tidak berat. Walau seperti tembakan, senjata ini tidak mempunyai pelatuk. Aku sempat kebingungan tadi, untung saja Kevin memberitahuku cara memakainya.
Diaktifkan dengan sidik jari penembak, lalu akan meluncurkan peluru saat sang penembak menyentuh batu cantik yang berwarna lavender tadi. Begitulah caranya.
Cukup mudah.
"Tembak."
DDAARR!
"AAAA!"
Aku tersentak kaget.
Ada dua hal yang membuatku kaget. Aku harus menoleh kemana dulu?! Kekanan atau kedepan?!
Di sisi kananku, berada sejauh tiga meter dariku, terdapat Hera yang sedang-
ASTAGAA!
"Raa?? Kamu gak apa-apa??" tanyaku khawatir, tapi tak berani mendekat.
Sepertinya tadi dia kaget mendengar suara tembakanku, sampai lututnya melemas dan jatuh berlutut seperti itu.
__ADS_1
Dan... di kedua tangannya.. tampak kilat-kilat kecil merambat dari telapak tangannya sampai ke lengan.
Aku hanya pernah melihat kilat seperti itu sekali seumur hidup.
Aku terpelanga kagum.
Namun tak lama, karena gadis itu terus menatapku dengan tatapan panik.
Sepersekian detik kemudian, seisi lapangan hijau ini dipenuhi suara bising, terlalu banyak yang panik, terlalu banyak yang bersuara.
"HERA!!"
"RA! Astaga!" seorang lelaki, pembimbing Hera mungkin, langsung berlari secepat kilat menghampiri gadis itu. "Lihat aku!" ia menunjuk dirinya sendiri.
Hera mengalihkan pandangannya pada lelaki itu, masih dengan tatapan panik karena tak bisa mengendalikan kekuatannya.
"Sekarang tarik napas..." Hera menarik napasnya.
"Lalu buang... fiuuhhhh..." lelaki itu memperagakan gerakan membuang napas, diikuti oleh Hera, yang bahkan ketakutan dengan kekuatannya sendiri.
Kedua orang itu ditonton oleh kami semua. Aku, Kevin, Jack, Alice, Alex, dan pembimbing-pembimbing mereka. Tak ada yang berkutik. Para pembimbing kami melihat Hera dengan sorot kagum, begitu pun dengan aku dan Alex (ia berada sangat jauh dariku, tapi aku masih dapat melihat ekspresinya). Sementara Jack dan Alice hanya memandangi Hera dari jauh dengan wajah datar.
(Posisi kami adalah: Lapangan ini berbentuk persegi. Aku di sisi kiri paling belakang lapangan, Hera berada di sisi kanan belakang lapangan. Alex berlatih ditengah-tengah lapangan bersama pembimbingnya. Sementara Jack di sisi kiri depan lapangan, berseberangan jauuuhh denganku, dan Alice di sisi kanan depan lapangan, berseberangan jauuuh dengan Hera)
Jadi wajar saja kalau Hera yang paling bisa mendengar suara tembakanku tadi, karena yang lainnya jaraknya terlalu jauh.
Ahh.... aku jadi merasa bersalah...
Aku tidak tahu kalau Hera tak memakai pelindung telinga.
"Eh eh!! Mau kemana?!" Kevin melihatku berjalan ke arah Hera. "Jangan dekat-dekat ke situ!" Aku menoleh, lalu memberi gestur 'tidak apa-apa' padanya, lalu kembali berjalan.
Aku ragu, tapi aku harus minta maaf.
Aku pernah mendengar cerita tentang Zeus, si dewa yunani yang memiliki kekuatan petir(?) atau guntur ya? atau listrik? Ah, apapun itu!! Mirip sekali seperti apa yang ada di depan mataku sekarang ini!
Aku berjalan mendekat ke arah Hera, yang masih diajari untuk tenang oleh pembimbingnya.
Ketika jarak kami menipis, ia mengalihkan pandangannya padaku.
Astagaaaaaa!!!!!
CANTIK CANTIK CANTIIIKK!!!!
AKU MAU PINGSAN!
Tidak, jangan. Jangan sekarang tolonglah Liaa!
Rambut cokelatnya tergerai panjang sampai dada, berkilau terawat. Di sekitar wajahnya menetes sedikit keringat--yang kuyakin karena ia tegang dan panik, belum lagi di lapangan terbuka ini, mataharinya terik sekali--dan karena itu, kedua pipinya merah merona, bibirnya pun berwarna pink segar. Iris biru lautnya menatapku dengan sorot yang tak terjelaskan.
Aku terpelanga sesaat.
__ADS_1
Gila... cantiknya bukan main... sampai dikamar aku akan menangis, titik.
"Hera.." aku melirik petir-petir di tangannya, sudah tinggal percikan-percikan kecil ternyata.
"Aduh, aku minta maaf yaa.." aku melangkah lebih dekat. Tapi ia langsung mundur menjauh.
"Ehh, gak apa-apa kok!! Tenang saja." Hera tersenyum manis. Tapi aku tahu ia hati-hati berdekatan dengan orang lain selama petir itu masih ada di tangannya.
Aku paham. Baiklah, aku berhenti di sini saja. Tak usah mendekat lagi.
Tapi disamping itu... LIHATLAH WAJAH IMUTNYA ITU!
CANTIK SEKALII! MIRIP DENGAN-
Dengan..
"Aku akan memakai pelindung telinga, Lia. Jangan khawatir." ujarnya, mungkin menyadari aku memandangi wajahnya terlalu lama.
Ia tersenyum simpul.
Aku membalas senyumannya, "Sekali lagi maafkan aku ya.. aku akan berlatih memakai senjata yang lain. Lagi pula aku sudah bosan dengan yang ini, haha!"
Bohong sedikit tak masalah.
Tak lama kemudian, Kevin memanggilku untuk kembali latihan dengannya.
Aku pun melambaikan tangan pada Hera, lalu berjalan ke arah Kevin.
"Aku mau ganti senjata saja, takut mengganggu lagi."
Kevin mengangguk, "Ayo ke gudang senjata, kutemani mengambil senjata yang lain."
Aku tersenyum tipis.
Sebelum berjalan pergi, entah mengapa... aku ingin menoleh ke belakang... sekali saja.
Aku ingin mengetahui reaksi seseorang..
Kak Jack.
Pembimbingnya sudah memanggil-manggilnya untuk kembali fokus berlatih.
Tapi...
... ia masih memperhatikan Hera dari jauh.
Benar rupanya, bukan aku saja yang berpikir bahwa Hera mirip dengan dia.
Ishera Harlyn...
.. dan..
__ADS_1
Claire Harlyn...
Ini aneh.