
[Author POV]
Pukul tiga sore, mereka akhirnya bisa landing dan keluar dari bandara LAX, LA International Airport. Banyak sekali taksi dan mobil-mobil yang melintas kemari, diantara menurunkan orang, atau menjemput orang.
Setelah berjalan keluar, Claire mulai bingung mengapa teman-temannya berjalan tak tentu arah begini. Ada yang ke kanan, ada yang ke kiri...
“Ini mau kemana sebenarnya?” gumam Ruby. Raut wajahnya kebingungan melihat para lelaki di depan yang seharusnya menuntun jalan dengan kompak, malah tidak sinkron begitu.
Rylan berjalan mendekati Zav, lalu menepuk bahunya, “Kenapa tidak pakai teleportasimu?”
Zav menoleh, ia menyeringai jahil, “Aku kan harus menghemat energi, bersabarlah, tidak jauh, kok!”
Claire melihat Val disampingnya untuk memastikan apakah dia juga sama bingungnya dengannya.
Tetapi tidak, Val tidak kelihatan bingung sama sekali, ia hanya dengan santainya berjalan mengikuti Zav yang paling depan.
"Val val." panggil Claire.
Val menoleh ke arahnya sambil menarik ikat rambut di pergelangan tangannya untuk menguncir rambut. "Apa?"
"Kita mau kemana, sih?" Tanya Claire akhirnya.
Val tersenyum tipis. "Lihat saja nanti."
Claire mengerutkan alisnya, tidak puas dengan jawaban Val. "Ih! katakan padaku-"
Val tersenyum tipis, "Sudah yuk lari, yang lain sudah di depan, tuh!" ujarnya lalu berlari menyusul yang lain.
Akhirnya Claire pun terpaksa ikut berlari. Yaa… ikut-ikut saja, walaupun dia tak tahu mau kemana.
"Nah kan, sudah kuduga pasti akan berlari-lari seperti ini..." gumam Claire sambil mengerutuki dirinya sendiri karena memakai heels, walaupun sebenarnya itu pistol, tetap saja merepotkan.
Mereka sudah sampai di tempat yang sepi di dekat jalan raya, sudah jauh dari bandara (mari tepuk tangan untuk ketegaran kaki Claire!). Zav yang berlari paling depan tadi sudah berhenti, diikuti semuanya yang juga ikut berhenti.
"Sudah sampai, nih?" tanya Ruby sambil menyeka keringatnya.
“Tidak jauh apanya. Dasar. Akan kujadikan cacing rebus kau nanti.” Ujar Claire seraya mengatur napasnya. Pastinya, Claire lebih menderita dua kali lipat karena heels pada sepatunya itu.
Zav membulatkan matanya, “Telekinesismu bisa membuatku jadi cacing rebus?!”
Claire menghela napas kasar, “Iya!” ujarnya asal. Malas berpikir untuk menjawab pertanyaan bodoh Zav.
Zav terdiam, ia berpikir keras. ‘Memang benar bisa, ya?’ ujarnya dalam hati, tapi belum sampai lima detik, Rylan sudah menyikut lengannya, seolah sebagai kode ‘Hei, kau! Ayo fokus!’
"Ah, iya. Di situ! Ayo!" Ujar Zav sambil menunjuk ke arah samping jalan raya yang sepi ini, tepatnya di sebuah pohon besar dan terdapat...
"Asikkk!! Ada empat motor!" Ujar Kim kegirangan, lalu berlari ketempat motor-motor super sport itu dan menghampiri salah satu motornya.
Dengan terkesima, Kim langsung mengambil helm full face yang terletar di jok motornya. "Ayo! Tunggu apa lagi??" Ujarnya antusias pada teman-temannya.
Sementara itu, Claire yang melihat motor-motor itu masih bingung, karena dia tak tahu apa-apa… sama seperti yang lain.
"Zav? Kok tak bilang padaku kalau mau ambil motor?" Tanya Jack yang bahkan tidak tahu.
"Ih kau kebiasaan... pasti ini dari Kak Brian, kan? Kok tak bilang sih?" ujar Ruby pada Zav yang sudah menghampiri motornya dengan senyum merekah.
Zav hanya menyengir. "Maaf maaf... hehe."
Hanya Kim dan Val yang tahu, karena tentu saja Kim bisa mengetahui masa depan, dan Val satu-satunya orang yang diberi tahu Zav. Pilih kasih memang.
"Oke. Karena ada empat, tiga motor dipakai berdua, salah satu ada yang sendiri." Ujar Jack.
"Aku akuu! Aku sendiri!!" Ujar Kim sumringah, bahkan matanya sampai berbinar-binar. "Sudah lama gak ngebut-ngebutan, nih." Lanjutnya.
Claire terbelalak, "Hahh?" Gumamnya kaget.
"Iya, Kim dulu punya geng motor." bisik Val yang membuat Claire melongo tak percaya.
Kalau ia pikir-pikir, ia jadi semakin menyukai Kimberly, jelas saja bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai panutan. Kim memiliki kepribadian yang tidak biasa. Ia keren.
Sikapnya tegas, terkadang sinis sekali pada orang yang sering mengganggu Claire dulu, dan sebenarnya seringkali menyeramkan. Tetapi di samping semua itu, ia juga bisa asik dan baik.
Belum lagi, hobi-hobinya yang cukup unik menurut Claire, maklum, kepribadian Claire dengan Kim benar-benar beda seratus delapan puluh derajat, Claire cenderung sangat ke-cewek-an, sementara Kim… ya… lihat saja ia sekarang. Sedang meng-gas motornya dengan antusias. Dengan kepribadian yang berbeda begini, apa tidak bingung dengan Jack yang seleranya aneh? Haha. Sampai seratus delapan puluh derajat bedanya…
"Ya sudah Kim, hati-hati ya! Tak usah aneh-aneh di jalan, nanti mimisan." ujar Rylan yang dijawab anggukan semangat oleh Kim.
"Jadi, menurut scanning-ku tentang AOM Los Angeles, di sini ternyata ada tiga AOM, tapi lokasi ketiganya jauh dari sini. Karena diluar jangkauanku, aku tak tahu yang mana yang pusat, jadi kita harus cek satu-satu." Jelas Jack.
"Barusan datanya sudah kupindahkan ke gps di masing-masing motor kalian tentang lokasi-lokasi AOM-nya, sekarang kita berpencar." Lanjutnya yang disambut anggukan mantap oleh yang lain.
__ADS_1
"Oke, nanti saling kasih tahu ya, kalau sudah tahu AOM pusatnya yang mana." ujar Claire setelah mengerti semuanya.
"Siap!"
Setelah itu, Claire terdiam. Ia tersadar bahwa dia tidak bisa mengendarai motor. Sepersekian detik kemudian, ia mengerutuki dirinya dalam hati, yang dulunya sok-sokan mengandalkan telekinesisnya untuk transportasi jarak dekat. Mentang-mentang bisa terbang.
Akhirnya Claire menghampiri Valerie yang sudah bersiap dengan Zav, "Eh eh Val... tapi aku tak bisa mengendarai motor, bagimana dong??" Keluhnya kepada Val.
Val hanya terkekeh lalu melihat ke arah lain, "Tuh."
Claire mengikuti arah mata Val dan menoleh ke belakang.
"Ayo pakai." ujar Jack sambil memberikan sebuah helm kepada Claire.
Claire hanya tersenyum dan menghela napas lega, setidaknya dia tidak mengendarai motor, dia tidak bisa melakukan itu...
Tak lama kemudian, terdengar juga suara Zav dari belakang. "Ayoo sis~ cepatlah sis~" ujar Zav dengan nada aneh kepada Val, sehingga semua yang mendengarnya jadi tertawa.
"Haduh, siapa sih kau. Aku gak kenal." ujar Val sambil mendekat ke arah Zav. Setelah itu Zav memberikan helm-nya kepada Val, lalu Val naik ke jok belakang Zav dan berpegangan.
"Aku babu kamu, sayang." bisik Zav dari balik helm.
"Ce-cepat jalan, ah!" Ujar Val gugup dan membuat Zav terkekeh.
Melihat Valerie dan Zav yang masih terlihat serasi begitu, pasti membuat semua orang yang melihatnya ikut iri. Ya, termasuk Ruby dan Rylan.
"Aku ke arah timur." Ujar Jack yang sudah membonceng Claire.
Zav melihat gps-nya untuk mengetahui letak yang dimaksud Jack. Zav melihat ada tiga titik berwarna merah yang bertuliskan 'AOM', dan ketika Jack memilih kearah AOM timur, warna merah di letak AOM timur itu berganti biru dengan tulisan 'East AOM: Jack Grayson'.
"Aku AOM bagian selatan." ujar Rylan dengan Ruby di jok belakangnya. Tepat setelah itu, ia meng-gas motornya.
"Ya sudah, aku sisanya. Kearah barat." Ujar Zav lalu menoleh kearah Kim yang ternyata sudah mengegas motornya.
BREMM BREMM
"Aku ikut ke Selatan aja, deh!" Ujar Kim lalu..
WEZZZ
Lenyap.
"Aku pergi!" Ujar Rylan lalu pergi yang disusul Zav.
"Pegangan." ujar Jack yang membuyarkan lamunan Claire.
Claire baru menyadari kalau teman-temannya itu keren sekali saat mengendarai motornya.
Lalu Claire mulai berpegangan dengan bagian belakang jok motor Jack.
Tetapi tanpa diduga, saat Jack menjalankan motornya, Claire tersentak dan sedikit berteriak karena refleks.
Karena itu, Jack menepikan motornya sejenak.
"Makanya, pegangan yang benar." ujarnya tanpa menoleh ke belakang. Ia meraih kedua tangan Claire lalu melingkarkannya ke pinggangnya. "Kalau pegangan disitu percuma, nanti jatuh."
Claire hanya menurutinya dengan kikuk, lalu motor mereka mulai berjalan lagi dengan kecepatan minimalnya.
Claire mengerutkan alisnya, ia bergidik ngeri… karena ini pertama kalinya dia menaiki motor secepat ini. "Bisa.. pelan-pelan gak?"
"Oke, Sorry-sorry." Ujar Jack sambil meretas mesin motornya (yang memang cara mengatur kecepatan dan lainnya itu dari screen di depannya). Ia meretasnya karena kecepatan yang sekarang membuat Claire takut itu sudah yang paling pelan.
Matanya kanannya berubah menjadi biru, lalu ia mulai meretas mesinnya dengan kekuatannya, tak butuh waktu lama. Setelah selesai, Jack mendengar helaan napas lega dari Claire di belakangnya, membuat Jack terkekeh diam-diam. “Bagaimana bisa dia takut padahal tadi pelan sekali.” Gumamnya.
Sementara itu..
"Rylan..." panggil Ruby dari belakang.
"Iya?" Jawab Rylan sambil memelankan laju motornya agar suaranya kedengaran.
Rylan berpikir sejenak apa yang kira-kira akan Ruby ucapkan..
Tiba-tiba Rylan baru teringat, kalau hari ini adalah hari ulang tahun Ruby. Bagaimana bisa ia melupakan itu?
"By, hari ini-"
"Aku rasa... kita sudah cukup seperti ini.." ujar Ruby.
Ia sudah tahu. Ia sudah sadar, jelas sadar… kalau hubungan mereka memang tak bisa dilanjutkan lagi.
__ADS_1
"… kita putus saja, ya?" Suaranya bergetar, tapi Ruby berusaha sekuat tenaga agar tak terdengar gemetar.
Rylan tersentak. "Apa… maksudnya?"
"Maaf."
Rylan sudah menduga, cepat atau lambat ini akan terjadi. Tapi, tetap saja...
"Maaf Ry, aku sudah berusaha sabar dan tahan setiap sifatmu berubah padaku, tapi aku sudah tak bisa tahan lagi, karena makin kesini… sifatmu dengan perempuan lain bahkan lebih hangat dibanding saat denganku.." Suara Ruby yang gemetar sudah tak tertahan lagi, ia mulai meneteskan air matanya.
Tak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka berdua belakangan ini, karena Ruby dan Rylan selalu berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Tapi faktanya, Rylan memang agak tak waras. Dia memang orang baik, sifatnya asik, ramah, sehingga dikenal banyak orang dan populer di sekolah. Tapi kelemahannya… ia mudah bosan.
"... jadi, ya sudah... kamu bosan denganku, aku gak bisa apa-apa lagi, ya kan?" Ujar Ruby lirih.
Rylan mencengkram stir motornya kuat-kuat.
Dadanya sesak.
Beribu-ribu memori yang telah ia dengan Ruby lewati melintas dalam pikirannya.
"Hal yang paling kutakutkan… terjadi." gumam Rylan lemas.
Tetapi, Ruby tidak sengaja mendengar itu, tanpa disadari.. air matanya semakin mengalir deras.
Rylan ingin menghentikan motornya agar bisa berbicara dengan face to face, tetapi Ruby melarangnya dan menyuruhnya lanjut jalan saja. Karena dia tak mau Rylan tahu dia menangis.
Tapi alih-alih mendengarkan, Rylan tetap menghentikan motornya di tepi jalan, sehingga ia bisa berbicara empat mata dengan Ruby.
Rylan merasakan sakit yang teramat sangat saat melihat Ruby menangis.
Perempuan itu menatap ke atas, mencegah air matanya untuk menetes, yang jelas saja tak ada gunanya. Entah mengapa air matanya terus mengalir.
Rylan tertegun. Ia tak bisa berkata apa-apa.
Seketika, tenggorokannya terasa seperti tercekik.
Hatinya perih… seperti tertusuk oleh belati.
Lelaki itu mengepalkan tangannya. Ia benar-benar membenci dirinya sendiri sekarang.
Saat Ruby menatap matanya, Rylan semakin melemas. Melihat manik abu-abu perempuan itu berlinang air mata, benar-benar menusuknya dalam.
Rylan masih terdiam, hatinya benar-benar teriris, sampai… terasa mau mati.
‘D-dia… menangis…’
‘Apa… YANG SUDAH KULAKUKAN?!’
‘Aku… BENAR-BENAR… T-TAK BISA DIMAAFKAN!’
Rylan berjalan selangkah mendekati perempuan itu. Menatapnya. Menahan rasa sakit yang mencabik-cabik dadanya.
Ia menggenggam tangannya. “Ruby…”
“… dengan adanya air mata di manikmu, sudah menjadi bukti bahwa aku telah mengingkari janjiku. Ruby… aku membuatmu menangis.
Kau bukan untukku, kau….
… malaikat seperti ini, b-bukan untukku.
Rasanya… tak tahu diri kalau aku mendapatkan kasih dari malaikat sepertinya..
M-maaf, Ruby…
Aku sudah bersalah, aku tak bisa meminta kesempatan lagi…
Sudah…
Cukup.
Dia pantas bahagia.
Dia pantas bahagia, Rylan. Matilah membusuk di lubang penyesalan karena kesalahanmu itu.
Kata-kata Rylan tadi masih berputar di kepala Ruby.
"Hal yang paling kutakutkan… terjadi."
Hal yang paling dia takuti?
__ADS_1
Kesal bercampur kecewa melanda hati perempuan itu.
Mengapa kamu perlakukan aku begini kalau kamu tak mau kehilangan aku?