AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
76. Day 2


__ADS_3

[Author's POV]


Hari ini adalah hari kedua pelatihan kelima mutan baru itu. Mereka berlima sudah berdiri siap di lapangan.


"Jadwal hari ini apa saja?" tanya Axelia pada Ally dengan senyuman simpul. Axelia terlihat penuh semangat hari ini. Senyumnya merekah sejak pertama datang, atau lebih tepatnya, pada seorang pria yang sedang berdiri di seberangnya sekarang ini.


Jack.


Fakta menariknya adalah, Axelia dan Jack memakai atasan yang sewarna hari ini. Axelia memakai sebuah kaos berwarna abu-abu yang pas di tubuhnya, dengan bawahan celana legging dengan warna senada dengan kaosnya.


Sementara itu, Jack memakai hoodie abu-abu yang senada dengan milik Axelia, hanya saja, ia memakai celana training berwarna hitam polos. Rasanya, apapun yang pria itu pakai, tetap membuat pesonanya semakin terpancar (setidaknya begitulah menurut Axelia).


Namun, meski semempesona apapun, kalau pandangannya tak mengarah pada Axelia, ya sama saja bohong..


"Sebenarnya sama seperti kemarin, tapi ada satu yang beda. Nanti kamu juga akan tahu, sekarang ayo! Mulai kelas pertama!" ujar Ally, dengan kalimat keduanya yang ditunjukkan pada kelima mutan itu.


Axelia tersentak, "O-oh, oke! Ayo!"


"Kenapa gak fokus? Perhatiin apa dari tadi?" sebuah suara khas itu terdengar, Axelia menoleh ke sebelahnya.


Alex berdiri di sebelahnya, menatap gadis itu tanpa ekspresi. Lelaki itu memakai kaos berwarna merah tua polos, dengan bawahan celana training Fendi berwarna hitam. Walau atasannya tak terlalu ngepas, tapi bentuk tubuhnya masih terlihat bagus.


"Jawab kali." ujar Alex, membuat Axelia mengalihkan pandangannya pada wajah Alex. Wajahnya yang tampan dan memikat itu kadang membuat Axelia lemas, tapi sebenarnya masih belum apa-apa.. sebelum lelaki itu menyisir rambut merahnya ke belakang dengan kelima jarinya. Kalau itu terjadi, tahu kan apa dampaknya?


"Apa sihhh?!!" Axelia menautkan kedua alisnya tidak suka. Entah reaksi macam apa itu, tapi ia sudah mengusahakan semampunya.


Alex menyernyit, "Lah kok galakan dia?" ujarnya bingung. Kelima jari Alex menyisir rambut merahnya ke belakang sambil melihat ke sekeliling. "Oh Jack ya?" tanyanya pada Axelia.


Sementara Lia... sudah entah berada dimana rohnya sekarang...


Sebagai seorang perempuan, melihat Alex menyisir rambut merahnya ke belakang itu adalah fenomena yang mampu membuat kedua lutut terasa lemas seketika.


Dan sebagai seorang perempuan, Axelia juga begitu (sebenarnya). Tapi apa daya? Gadis itu paling hebat dalam urusan menyangkal perasaan.


'APA SIH? SOK TAMPAN, DEH.' ujar Axelia dalam hati, padahal sebelah lututnya sudah lemas.


"Lia?" Alex semakin menyernyit bingung. Ia heran, mengapa gadis itu sering melamun tanpa sebab, lalu ketika sadar, langsung marah-marah padanya.


"Hah? Apa tadi? Kenapa?" Axelia menaikkan kedua alisnya.


"Tadi gak fokus kenap-"

__ADS_1


"Asshhhhhhhhhut!" Axelia menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Alex. "Udah! Jangan banyak omong, kita ada kelas pertama nih!" ujarnya, kemudian berjalan pergi.


"Tuh kan.." gumam Alex.


Ia terkekeh kecil sambil memandangi Alexia dari belakang.


○○○


Senjata telah digenggam oleh masing-masing mutan, mereka sedang berjalan kembali ke lapangan hijau tempat berlatih itu. Kelas pertama mereka adalah Kelas Senjata.


Ketiga mutan itu sudah berjalan di paling depan, sementara Alice dan Hera baru saja melangkahkan kaki dari ruang persenjataan. Mereka berdua berjalan beriringan, tetapi jarak di antara keduanya sangat jauh. Seolah-olah memang sengaja berjauhan.


Alice melirik Hera dari ujung matanya sekilas, ia sadar bahwa Hera tampak murung hari ini, entah kenapa. Alice jelas tak tahu dan tak mau tahu. Seperti biasa, gadis itu hanya memandang lurus ke depan tanpa repot-repot memikirkan urusan yang tak penting dan yang tak menguntungkan baginya.


Tanpa diduga, Hera berjalan mendekat dengan perlahan, menipiskan jarak diantara mereka.


Alice menyernyit, 'Apa ini? Kalau ini adalah semacam trik untuk kenalan atau sok akrab, aku akan langsung pergi saja.' ujarnya dalam hati.


Tak lama kemudian, saat jarak di antara mereka berdua sudah tipis, Hera membuka suara. "Uhmm.. Alice.. aku boleh tanya gak..?" ujarnya ragu.


Alice semakin menyernyit lagi. Kali ini dengan pandangan kesal.


"Ya." ujar Alice singkat.


Mendengar itu, kedua ujung bibir Hera terangkat seketika, ia tersenyum. "Kamu tahu gak, Professor Zen kemana?"


Alice melirik Hera lagi dari ujung matanya, dengan tatapan yang seolah berarti: 'Serius? Menanyakan hal se-gak penting ini?'


"Gak tahu, aku bukan anaknya. Tanya saja pada Axelia."


"Tapi selama pelatihan, kita memang akan diatur terus oleh Professor Ally, selaku asisten Professor Zen." lanjut Alice tanpa melihat Hera.


Sejak awal, Alice memang tak terlalu menyukai lawan bicaranya itu. Mengapa? Simpel. Alasannya adalah... karena menurut Alice, Hera terlalu lemah dan manja. Kesan pertama Hera bagi Alice adalah gadis yang menangis di depan ruang rapat, memecahkan pintu kacanya, belum lagi ia tak bisa bangun sendiri... sampai harus dibantu Axelia.


"Ohh begituu yaa.." Hera menunduk, ia tampak sedih. Sorot matanya berubah menjadi redup dalam sekejap.


"Iya, gitu." ujar Alice, lalu berjalan lebih cepat, meninggalkan Hera di belakang sendirian.


Yaa.... apa yang diharapkan dari seorang Alice?


Tak lama kemudian, seorang lelaki yang ialah pembimbing Hera berlari menghampirinya, "Ayo, cepat sedikit, Ra! Kita harus dapat tempat yang paling enak untuk berlatih, jangan sampai keduluan!" ujarnya tergesa-gesa.

__ADS_1


Hera mengadah, lalu tersenyum simpul lagi. "Iyaa, ayoo!!"


Sesaat kemudian, mereka berlima, dengan pembimbing masing-masing, mulai berlatih memakai senjata yang berbeda dari kemarin. Mereka memang diizinkan mencoba-coba semua senjata yang ada di ruang persenjataan sepuasnya.


○○○


"Posisi mereka di lapangan persegi yang luas ini adalah: Alex berada di sisi kanan ujung depan lapangan. Alice di sebelah kiri Alex, di ujung depan lapangan juga."


"Jack di ujung kiri lapangan bagian belakang. Hera di sebelah kanan Jack, di ujung belakang lapangan juga."


"Ini adalah Kelas Kekuatan Khusus, jadi semua formasi yang sudah kutentukan tak boleh diubah untuk hari-hari selanjutnya. Karena jika diubah, akan berbahaya." Ally menjelaskan panjang lebar.


Axelia mengangkat tangannya. "Prof.. aku dimana?"


"Kamu ditengah lapangan ya." Ally tersenyum tipis, lalu kembali memandang kelima orang itu bergantian. "Posisi ini ada gunanya, yaitu agar kalian semua berlatih dengan aman."


Alex menautkan alisnya, "Maksudnya aman?"


Ally mengangguk, "Kalian berjarak 15 meter dari satu sama lain, tapi posisi ini ditetapkan untuk berjaga-jaga agar tetap aman."


"Kutempatkan Alex sejajar dengan Alice, karena kalau Alex hilang kendali, Alice yang sudah bisa menguasai kekuatannya, bisa terbang menghindar dengan cepat." Ally menoleh pada Hera, "Lalu... Hera sejajar dengan Jack, agar kalau Hera hilang kendali, Jack yang entah bagaimana sudah sangat terbiasa dengan kekuatannya itu, bisa melindungi dirinya sendiri dengan membuat perlindungan dari es."


"Kemudian Axelia," Ally menoleh pada Axelia, "Kamu ditengah, sambil latihan, sambil perhatikan mereka ber-empat. Kalau ada orang yang tak sengaja membahayakan kalian semua, kau tarik rohnya keluar dari tubuh orang itu. Agar langsung pingsan." ujar Ally panjang lebar.


Kelima mutan itu mengangguk setuju.


"Ide bagus." gumam Jack. Atau mungkin bukan gumaman... karena Axelia (di sebelahnya) masih dapat mendengarnya.


Jack menoleh, "Refleksmu harus cepat. Kalau situasinya sudah lewat dari kata aman, langsung bertindak." ujarnya pada Axelia.


Lia tersentak, kaget mendengar Jack mengajarinya. Ia langsung mengangguk mantap.


"I-i-i-iya.. k-kak!" ia menelan ludahnya, "Pasti!!" ujarnya yakin dua ratus persen.


Axelia dibagi menjadi dua bagian... Yang setengah, terkagum-kagum akan pesona seorang leader yang sudah sejak dulu sudah memimpin tim inti AOM (ia mendengar perkataan Alice waktu itu di ruang rapat saat pertama kali bertemu).


Yang setengah lagi, entahlah... kurasa satu hal cukup untuk mendeskripsikannya... yaitu..


Axelia tersenyum manis, dengan semburat merah di kedua pipinya.


"Baiklah, sekarang semuanya siap di posisi, lalu berlatihlah dengan pembimbing kalian masing-masing. Waktunya adalah empat jam."

__ADS_1


__ADS_2