
Aksara memandang Diva yang berjalan semakin menjauh meninggalkan Aksa di mobil. Emosinya naik tidak terkira, untuk pertama kalinya ia mendapat pukulan dari seorang wanita. Dan parah nya, itu adalah calon istrinya.
Aksara mengepalkan tangan erat, ada kebencian yang menggerayuti pikiran nya. Ingin rasanya ia keluar dan menampar balik gadis itu, namun ia urungkan. Karena bagaimana pun ia tidak mau melakukan kekerasan pada wanita. Selain ia melanggar tindak pidana, ia juga akan mempermalukan dirinya sendiri.
Aksara memutar kemudi meninggalkan apartemen Diva. Ia tidak menyangka, jika karir, hidupnya yang begitu cemerlang harus di lukai oleh seorang wanita.
Wanita yang ia gadang gadang berpikiran dewasa, dan juga mencintainya dengan tulus, ternyata hanya sandiwara dan hanya memanfaatkan dirinya saja.
Aksara tidak menyangka, jika Vania hanya menganggapnya bidak catur saja. Padahal ia sudah dengan tulus membuka hati, dan menuruti setiap kemauan nya.
Di saat ia mendapat pelarian, siapa sangka gadis itu justru gadis bar bar. Sama sekali bukan kriteria dari Aksara. Walau penampilan nya di bilang anggun,namun sangat berbeda karakter nya saat bersama Aksara, yang selalu dalam mode super jutek plus galak.
Entah angin apa yang membawa Aksara pada sebuah bar. Di sana ia coba mengubungi Alex, agar bisa menyiapkan penerbangan untuk dirinya. rencana nya Aksara akan pergi kabur dari pernikahan ini. Persetan dengan janjinya pada tuan Arysad. Ia sangat sakit hati atas apa yang Diva lakukan tadi sore.
Namun sayang, Alex sama sekali tidak mengangkat. Karena suasana yang buruk Aksara memesan minuman keras. Walau minuman itu dengan kadar alkohol yang rendah, namun Karena itu untuk pertama kali, Aksara sudah tepar tak berdaya.
Mungkin karena Alex sadar, jika Aksara memerlukan bantuan, ia mencoba menghubungi Aksara berkali kali. Namun sayang panggilan itu di abaikan oleh Aksara, karena dia sudah dalam keadaan mabuk berat.
Sampai bartender di sana tahu jika ponsel Aksara terus berbunyi, ia pun mengangkat dan memberitahukan keberadaan dan keadaan Aksara malam ini.
Tak berselang lama, Alex pun datang menjemput Tuan nya. Dengan susah payah Alex membimbing Aksara agar bisa berjalan menuju mobil.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Alex melihat Aksara mabuk. Dia pun heran, karena dalam masalah apa pun Aksara tidak pernah menyentuh minuman keras. Namun malam ini, Aksara marah marah sendiri. Dua wanita yang tak lepas dari sumpah serapah nya adalah Diva dan Vania.
Kini Alex mengerti jika Aksara merasa sangat kecewa pada Vania. Alex berpikir jika Aksara tidak mencintai Vania, kini mengerti, sesungguhnya Vania juga pernah mendapat posisi di hati Aksara. Sedangkan Diva, Alex berpikir jika Aksara sudah jatuh cinta pada wanita itu, tapi pada saat ini, kenapa justru Aksara mengatakan benci dan sangat benci.
Alex membawa Aksara pulang ke Apartemen milik Aksara sendiri. Ia membersihkan tubuh Aksara, dan melepas sepatunya. Beruntung Aksa tidak muntah muntah, sehingga membuat dirinya sedikit lega.
Lama tak ada pergerakan, Alex keluar dari kamar Aksara, dia pun menunggu di sofa tamu. Ia takut terjadi sesuatu dengan Aksa. Barulah pagi pagi sekali Alex memilih pulang dan akan segera pergi ke kantor, untuk menggantikan Aksara menemui klient. Karena tidak memungkinkan jika membangunkan Aksara dan memaksa dirinya untuk diajak meeting.
Pagi ini Aksara bangun siang. Ia terbangun saat seseorang terus membunyikan bel rumah. Dengan kepala berat ia pun berjalan gontai menuju ruang utama dan membuka pintu.
" Kak Arya ??? "
Ada nada terkejut saat melihat seseorang di hadapan nya. Karena tak pernah Kakak iparnya itu datang mengunjungi nya secara pribadi. Dan kakak iparnya itu dengan tenang masuk begitu saja, tanpa menunggu di persilahkan oleh yang punya Apartemen.
" Maksudnya?? " Aksara bertanya balik pada Kakak Ipar nya
" Aku dengar kamu mabuk?? " tanya Arya mendongak kan kepala, karena Aksara tidak ikut duduk. Aksara masih berdiri dan memijat mijat pelipis kepalanya yang terasa sangat berat dan pusing.
" Darimana Kak Arya tahu?? " Aksara mencoba mengulur menjawab pertanyaan Aksara, sambil otak nya berpikir, bagaimana cara membohongi Arya yang baik dan bisa di mengerti. Karena Aksara tahu, kakak ipar nya bukan orang bodoh yang bisa ia bohongi dengan mudah.
" Aksara, You Know Me. Tanpa kamu jawab pun aku sudah tahu, jika kamu hanya laki laki pengecut. " terang Arya meremehkan
__ADS_1
" Hanya karena wanita kamu bisa menyentuh barang haram itu. Kamu pikir itu bisa menyelesaikan masalah. Itu justru hanya membuat masalah tambah kacau, juga akan merusak hidupmu, jika kamu teruskan. " terang Arya
Aksara diam, ia berjalan membelakangi Arya dan membuka tirai apartemen, sehingga ia bisa melihat pemandangan luar.
" Jika Kakak tahu semua tentang aku, lalu untuk apa kamu datang kemari? Hanya untuk menertawakan, karena puas sahabat mu menghianatiku?? " kata Aksa masih dalam posisi membelakangi Arya dan menghadap jendela, melihat pemandangan luar.
" Aku sama sekali tidak tahu masalah itu, jika memang hubungan mu kandas, bukan kah itu lebih baik. Kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih muda juga lebih baik. " jawab Arya
Aksara tersenyum kecut mendengar penuturan Kakak Ipar nya. Kemudian ia berbalik menghadap Arya.
" Bisakah Kakak membantu ku untuk kabur dari acara ini? " tanya Aksara yang sudah ikut duduk di samping Arya
Arya masih tenang namun belum menjawab permintaan Aksara.
" Aksa.... Jika kamu mencoba menikah dengan Diva, dan mampu bertahan dalam satu tahun, namun kamu masih tidak merasa cocok, aku akan membantumu. Tapi ingat, setelah satu tahun usia pernikahan mu. Tapi jika selama satu tahun kamu merasa cocok, kamu bisa melanjutkan pernikahan mu dengan Diva, tanpa aku memberi satu orang pun tentang rencana ini. " kata Arya
" Tapi ingat Aksara, jika kamu belum mencintai dengan sepenuh nya, dan belum berniat menjalani hidup lebih panjang dengan Diva.... Aku harap kamu sama sekali tidak menyentuh nya, apalagi merugikan nya. " tambah Arya.
Aksara terdiam menimang ucapan Arya. Jika ia setuju, akan ada seseorang yang akan siap membantunya. Toh memang Aksara bukan tipe pemain wanita. Ia sudah sering di goda oleh ribuan wanita, tapi tidak sedikit pun niatan untuk menyentuhnya. Ia nyakin Pasti bisa menahan rasa itu, pun dengan Diva.
" Oke. Aku setuju. " jawab Aksara
__ADS_1
" Fine. Aku harus kembali ke kantor. Tak perlu kamu bicara pada Kakak mu, jika aku datang mengunjungi mu. " kata Arya sebelum pergi meninggalkan Aksa.
Aksara kembali masuk ke dalam apartemen setelah mengantar Kakak Iparnya pergi. Aksara masih memijat mijat pelipis nya, Ia teringat jika ia mabuk di Bar Samuel, tentu saja Samuel kawan Arya pasti yang memberi tahu kakak ipar nya itu. Tapi itu mungkin lebih baik, ada sedikit kelegaan karena ada seseorang yang membantu menyelesaikan masalah. Karena memang pemikiran Aksara sering klop jika dengan pemikiran Arya. Seperti sebelumnya saat ia terbang ke Itali, itu juga atas saran Arya.