
💮💮💮💮 Budayakan Like tiap Episode Setelah baca Ya... Jangan Lupa,, Memberi Gift, Vote dan Komen Kalian bisa menambah semangat Author untuk Update Ya.... Semakin Banyak hadiah nya,, Semakin besar Terima kasih dari Author 🥰🥰🥰
Begitu sampai di ruangan nya, Diva langsung di sibukan dengan urusan kantor. Setelah satu hari tidak bekerja, banyak sekali pekerjaan yang tertunda. Di tambah hari ini ia akan turun tangan sendiri, tanpa bantuan William di samping nya.
Milly sekretaris Diva lah yang setia mendampingi Diva dalam sidak kantor hari ini. Diva merasa curiga, karena ada beberapa desain milik perusahaan nya bocor sampai di Perusahaan lain. Sehingga ide yang di ciptakan oleh Perusahaan nya, terdedikasi milik Perusahaan lain. Bahkan ada beberapa desain miliknya di katakan plagiat, padahal karya itu di desain langsung oleh dirinya saat itu, membuat nilai baik Perusahaan nya sedikit menurun.
Diva memeriksa semua pegawai dengan berkeliling, namun ia tidak menemukan satu orang pun yang ia curigai. Semua berjalan normal dan sebagai mana mesti nya.
Karen sibuknya dengan sidak Kantor, tak terasa waktu menunjukan setengah satu, waktu makan siang akan segera tiba. Akhirnya Diva memilih kembali ruangan nya dan menyuruh Milly kembali ke ruangan nya pula untuk beristirahat.
Kini Diva duduk di kursi kebesaran nya, ia masih memikirkan ucapan Aksara, jika di belakang usahanya ada Perusahaan ilegal yang berusaha menghancurkan perusahaan milik nya. Tapi Diva merasa, selama ia menjalani dunia bisnis, Diva tidak merasa memiliki musuh.
Diva memijit pelipis kepalanya, dan kembali membuka laptop kerja nya. Ternyata banyak sekali pekerjaan yang menumpuk.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Milly sudah di persilahkan pulang, tinggal Diva yang mengurus pekerjaan sendiri.
Kini ia menyadari, ternyata betapa beratnya pekerjaan tanpa ada nya William yang membantu. Mengandalkan Milly, sangat jauh berbeda dengan William. Jika William bisa mendedikasikan otak dan pemikiran untuk perusahaan, sedangkan Milly hanya bekerja menurut perintah saja.
Diva menatap jam di pergelangan tangan nya, sudah menunjukan pukul enam tiga puluh. Ada sebagian ruangan yang sudah di matikan lampunya. Namun ada beberapa karyawan yang masih lembur, karena dituntut dengan jumlah pesanan yang harus segera di kirimkan.
__ADS_1
Diva keluar ruangan, ia memutuskan untuk berjalan ke depan untuk menunggu taxi. Karena ia mencoba beberapa kali memesan taxi online, namun semuanya penuh. Entah sebuah kebetulan, atau memang ada yang merencanakan, terpaksa Diva memilih menunggu taxi reguler sampai dapat nanti.
Diva melihat mobil Aksara terparkir di depan gedungnya. Ia melihat dengan seksama untuk memastikan, benarkah itu mobil Aksara, atau bukan.
" Iya benar ." gumam Diva sendiri dengan tersenyum. Ia senang karena tidak perlu berjalan kaki ke halte, yang jarak nya agak lumayan dari kantornya.
Diva membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang, di samping Aksara.
" Aku pikir kamu tidak akan turun, sampai matahari terbit dari barat. Jika bukan karena tanggung jawabku pada Tuan Arsyad, sudah ku tinggalkan dirimu sejak tadi." ungkap Aksara jengkel melihat Diva yang tak kunjung turun tadi.
" Sedang aku pikirkan. " kata Diva. Tadinya ia senang, karena tanpa di suruh Aksara sudah perhatian menjemputnya. Tapi mendengar nada kesal Aksara, mood Diva kembali buruk. Apalagi ia tahu alasan Aksara menunggu nya hanya sebuah tanggung jawab pada orang tua nya.
" Sedang aku pikirkan, rencana mu. Untuk aku berada di kantor sampai matahari terbit dari barat. Bukan kah itu yang kamu ucap tadi. " jawab Diva dengan posisi sudah menyandarkan kepalanya di jok dan matanya tertutup. Banyaknya pekerjaan, membuat tubuhnya yang baru sembuh dari sakit terasa letih.
Aksara yang khawatir Diva masih sakit, ia pun berencana memegang kening Diva, ia menghadap Diva. Namun belum sempat tangan itu sampai di kening, Diva sudah menampiknya padahal matanya dalam posisi tertutup, namun Diva bisa tahu jika Aksara ingin menyentuh keningnya.
" Jangan sembarangan menyentuhku. " ketus Diva.
Diva sudah bertekad untuk menjaga jarak, agar perasaan tidak terbawa dan menumbuhkan sebuah rasa cinta. Karena bagaimana pun Diva tahu rencana Aksara akan untuk menceraikan dirinya setelah satu tahun, dan akan mempertimbangkan hubungan nya dengan Vania kembali.
__ADS_1
Sejak dirinya di rawat oleh Aksara, Diva sangat sulit mengatur detak jantungnya yang berpacu cepat dan tak beraturan. Itulah sebabnya, Diva berencana untuk jaga jarak. Agar perasaan itu bisa ia tekan dan kendalikan. Karena yang Diva lihat, Aksara tidak mencintai nya. Aksara hanya mengikuti sebuah permainan rumah rumahan selama satu tahun.
Aksara menatap tangan nya yang di tampik Diva. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya. Kenapa ia begitu reflek ingin menyentuh kening Diva, dan ingin segera tahu keadaan Diva. Padahal ia sudah berjanji pada Arya untuk menghindari kontak fisik dengan diva, dan akan bercerai setelah setahun, setelah itu,barulah ia akan mempertimbangkan hubungan nya dengan Vania. Wanita yang menjadi kriteria pasangan hidupnya. Mandiri, lemah lembut, pendiam, dan keibuan. Yang pasti menurut Aksara, Vania lebih dewasa sehingga lebih pandai mengatur keharmonisan rumah tangganya kelak.
Walau Vania pernah berbuat curang dengan selingkuh, namun sekarang Vania sudah berubah. Sekarang Vania sudah benar benar serius. Vania sangat memperlihatkan kesendirian nya, dan membuktikan kesetiaannya. Sedangkan jika Diva ?? Diva sama sekali tidak menunjukan rasa cinta nya pada Aksara, bahkan ia sengaja memberikan pada Vania secara mudah di hadapan Aksara saat itu, dengan alasan dirinya tidak tertarik dengan Aksara. membuat Aksara sakit hati, sudah di remehkan oleh Diva.
Tapi semakin Aksara menepis perasaan nya untuk Diva, Aksara semakin mengingat Diva. Semakin Aksara bertengkar dengan Diva, membuat Aksara semakin ingin menumbuhkan perselisihan perselisihkan yang lain. Sayangnya semua perasaan itu, tidak pernah Aksara sadari, dan hanya menganggap jika itu hanya sebuah tanggung jawab pada orang tua Diva, sebagai seorang suami yang baik, selama Diva menyanding status istri Aksara .
" Alexx..... !!! " panggil Diva, tanpa membuka mata nya dan tetap pada posisi nya. Sedangkan Aksara menyipitkan matanya, kenapa Diva justru memanggil sang Asisten pribadi nya.
" Iya Nona. " jawab William tanpa menoleh kebelakang.
" Apa kamu berencana berhenti di sini sampai matahari terbit dari barat ??? Jika ia . Carikan Aku taxi !!! Aku tak mau tidur di mobil tak nyaman seperti ini. " ucap Diva masih dengan menutup mata.
Aksara yang semula ingin menyentuh kening Diva dan menghadap Diva, kini membenarkan posisi duduknya. Ia melihat Alex, kemudian menyadarkan tubuhnya di jok.
Alex pun menyalakan mesin nya. Alex sendiri di buat greget, karena untuk pertama kalinya Aksara pulang sore. Ia menyuruh Alex mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai di depan perusahaan Diva. Namun begitu sampai depan perusahaan Diva. Aksara melarang Alex yang akan turun menjemput Diva masuk ke kantornya. Hanya selama di mobil Aksara selalu menatap jam tangan dan melihat keluar jendela dalam kurun waktu hampir dua jam.
" Sangat bodoh, bukan?? " pikir Alex dalam hati.
__ADS_1
Bersambung........