
" Kenapa harus Wiliam, Diva?? " ucap Aksara dengan nada yang sedikit meninggi.
Diva bahkan agak sedikit terkejut dengan intonasi suara Aksara. Apalagi raut wajah Aksara menunjukan rasa tidak suka yang berlebihan.
" Di sekitar mu banyak Pria, kenapa harus Wiliam, yang notabene hanya seorang Asisten, dan justru kamu ingin mintai persetujuan pendapat. Kenapa tidak Papa mu, atau bahkan Aku adalah suamimu, kenapa kamu harus meminta persetujuan dari laki laki lain lagi. " tambah Aksara masih dengan nada yang tinggi
" Aksara..... apa bisa, aku mengambil kesimpulan, jika kamu cemburu?? " tanya Diva hati hati.
" Aku ...??? Cemburu ....??? Kamu bermimpi terlalu tinggi Nona Diva. " kata Aksara sedikit tertawa, seolah meremehkan.
Aksara juga baru menyadari, jika dirinya terlalu emosi mendengar Diva menyebut nama Wiliam, sehingga ia lepas kontrol dan emosi pada Diva tadi. Namun untungnya ia segera memikirkan jawaban yang tepat untuk menutupii kegundahan perasaan nya.
" Jika kamu tidak cemburu, lalu kenapa emosi mu naik, begitu mendengar nama Wiliam ku sebut. " jawab Diva pelan namun dengan pandangan yang tajam.
" Itu karena....... "
" Karenaaaa ........... " Diva menirukan perkataan Aksara, karena Aksara tak kunjung menjawab dan hanya memperpanjang kata 'karena'.
" Karena Wiliam masih dibawah ku IQ nya. " jawab Aksara asal, ia sendiri masih gengsi mengakui jika ia sebenarnya cemburu.
" Jangan merasa sombong seperti itu Aksa, belum tentu jalan yang kamu ambil selalu benar. Ada kalanya kita butuh seseorang yang kita percaya untuk masukan. Seperti dirimu, adakalanya pasti membutuhkan Alex sebagai bahan pertimbangan." kata Diva bijak
" Aku tidak pernah mengambil jalan yang salah." jawab Aksara berbangga
" Jadi menurutmu.... Menikah denganku adalah jalan yang benar?? " tanya Diva dengan intonasi yang sangat jelas di setiap katanya.
__ADS_1
Alex yang mendengar pun ikut tersenyum dengan kecerdasan Diva. Walau Alex sama sekali tidak berani menoleh, namun ia mendengar setiap percakapan Aksara dengan Diva. Alex sebenarnya juga berharap jika Aksara mau mengakui saja yang sebenarnya. Agar tidak perlu lagi menutup nutupi perasaan nya. Dan yang paling utama adalah, dirinya tidak akan menjadi sasaran kemarahan Aksara, akibat cemburu buta yang tidak mau mengakui. Yang lebih utama bagi Alex, jika Aksara mencintai Diva adalah keputusan yang tepat, dibandingkan harus kembali dengan Vania, Alex lebih setuju jika Aksara bersama dengan Diva.
Perbedaan sikap yang sangat berbeda, Alex lebih memberi nilai plus pada Diva. Ya... walau pun Diva lebih sering emosi sesaat, namun jiwa sosialnya tinggi, ia lebih menghargai orang yang di bawah. Dan jika hanya karena sikap Diva tidak keibuan, menurut Aksara, bagi Alex itu adalah hal yang salah. Menurut Alex,Diva adalah tipe penyayang, sehingga ia bisa mendidik anak anaknya dengan penuh kasih sayang. Namun berbeda dengan pemikiran Aksara, Diva sangatlah merepotkan,dan mudah emosi, jadi dia tidak pantas menjadi seorang ibu.
" Hanya itu adalah kesalahan terbesar ku. Namun itu bisa membahagiakan Mama ku, aku rasa itu juga tidak termasuk kesalahan besar. Lagi pula, bukankah aku sudah memberitahumu, jika pernikahan kita tidak akan berjalan lama. Jadi buang jauh jauh pikiran tentang cinta. Karena mencintai wanita sepertimu...... Adalah Mustahilll. " jawab Aksara dengan menekan kata Mustahil
" Jangan merendahkan ku terus seperti itu Aksa, karena setiap kesabaran ada batasan. " kata Diva pelan, namun terlihat jika dirinya sedang kecewa.
" Kenapa??? Apa kamu sangat berharap Aku bisa mencintaimu dengan tulus, Bermimpi cih.....?" kata Aksara
" Tidak aku sangat tidak berharap, jika dicintai Pria seperti dirimu. Sangat angkuh, pemarah, dan suka merendahkan orang " balas Diva yang
" Aku tidak merasa merendahkan. Menurutmu, jika untuk mencapai popularitas dengan menukar tubuhnya, apa ada wanita lebih rendah dibandingkan dengan itu?? " ucap Aksara meremehkan.
" Aku tidak pernah seperti itu. " ketus Diva dengan bibir yang bergetar menahan tangis, dirinya di rendahkan dan hina sedalam dalamnya, padahal ia tidak pernah melakukan. Bukan kah itu sudah bisa di bilang fitnah.
Tanpa terasa air mata Diva ikut mengalir, bagi Diva ini bukan hal pertama yang Aksara lakukan. Sudah berulang kali Aksara merendahkan dan memfitnah dirinya.
Diva yang terbawa emosi, saat mengetahui mobilnya berhenti, ia pikir sudah sampai rumah. Karena biasanya juga seperti itu, jika sedang berdebat dengan Aksara, ia akan menyadari sudah sampai tujuan, jika Alex sudah memberitahunya.
Diva turun dari mobilnya, seperti biasa menjadi kebiasaan Diva adalah membanting pintu mobilnya dengan sangat kencang.
Diva melihat sekeliling tempat itu, sangat ramai mobil dan motor sedang berhenti, berjajar rapi di jalanan.
" Ya Ampun... Ini lampu merah... " batin Diva merutuk kebodohannya,
__ADS_1
Namun Diva sangat malu jika harus masuk kembali ke dalam mobil, karena ia sedang bertengkar dengan Aksara. Lagi pula ia juga sangat sakit hati dengan ucapan Aksara yang terus di ulangi setiap saat.
" Non Diva... "
Alex yang menyadari segera akan turun dengan membuka mobilnya.
" Biarkan saja. " ucap Aksara dingin
" Tapi Tuan...... " kata Alex membela Diva, seakan tidak rela. Bagaimana pun Diva seorang perempuan, dan lagi suasana hati ini sudah malam. Namun lagi lagi Aksara dengan angkuhnya melarang Alex yang akan keluar, dan mengajak Riva masuk kembali.
" Diva atau Aku atasan mu??" kata Aksara menekankan juga tatapan dingin Aksara terlihat di kaca spion, yang bisa di lihat Alex.
Alex pun tidak dapat berkutik, ia kembali menutup pintu mobilnya, dan menyalakan kembali mesin mobil yang semula ia matikan untuk mengejar Diva.
" Jalan !!! " perintah Aksara, karena lampu sudah menunjukan hijau, dan banyak mobil belakangnya yang menyalakan klakson, untuk segera bergegas menjalankan mobilnya, karena Alex tak kunjung menjalankan mobilnya.
Mau tidak mau Alex pun menjalankan mobilnya melaju meninggalkan Diva yang masih berdiri mematung, tidak percaya jika Aksara dan Alex pergi meninggalkan dirinya di persimpangan lampu merah.
Diva pun berjalan mencari halte yang dekat, untuk mencari taxi. Sungguh hatinya sangat terluka dan sakit hati dengan perlakuan Aksara hari ini.
" Seumur hidupku, aku akan selalu mengingat kejadian hari ini. Aku hanya berharap jika karma itu datang, aku tidak akan perduli padamu lagi Aksa. " gumam Diva.
Niatan Diva ingin menghubungi taxi online, namun Sayang baterei ponselnya habis. Diva hanya bisa meneteskan air mata kembali, merutuki nasibnya yang sangat buruk menimpanya kini.
Akhirnya Diva memilih melanjutkan mencari halte terdekat, untuk menyetop taxi, rencananya malam ini Diva berniat akan pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung........