
Begitu melihat Diva masuk kamar mandi, Aksara memutuskan keluar kamar, dan turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi.
Lima belas menit berlalu.......
Taaapp
Taaapp
Taaapp
Terdengar derap langkah tergesa gesa dari tangga, sampai Aksara menghentikan sarapan nya dan menatap ke tangga atas.
Terlihat Diva menuruni tangga dengan wajah masam. Dengan balutan dress pendek hitam, Diva terlihat sangat cantik.
Tapi tunggu dulu....
Aksara seperti melihat ada yang berbeda dari Diva pagi ini.
Rambut di cepol atas seperti tidak di sisir, bibir manyun tapi pucat..... Karena biasanya Diva selalu menggunakan lipstik warna merah menyala, tapi kali ini jangan kan lipstik, bedak pun, Diva tidak menggunakan. Sehingga wajah nya polos seperti bayi, terlihat putih mulus.
Tapi bagi Aksara, justru hari ini Diva sangat imut. Menurut Aksara Diva bagai anak smp yang baru menginjak sma. Postur tubuhnya yang kecil, membuat Diva masih sangat pantas jika memakai seragam putih abu abu.
Buk......
Diva meletakan tas kerjanya di meja makan, sedangkan diri nya menarik kursi bersiap untuk duduk dan menyantap hidangan sarapan yang sudah di sediakan oleh Bik Marni.
" Siapa yang menyuruhmu duduk?? Ini sudah lima belas menit berlalu. Cepat berangkat, atau bersiaplah berjalan kaki dan menunggu taxi. " ucap Aksara
Setelah berbicara seperti itu, Aksara mengelap bibirnya, karena ia baru saja menyelesaikan sarapan nasi goreng buatan Bik Marni.
__ADS_1
Diva hanya bisa mengangnga, Mendengar penuturan Aksara yang sangat keterlaluan bagi nya. Namun Diva masih belum ada pergerakan. Ia hanya menatap punggung Aksara yang semakin menjauh dari nya.
" Hey Tunggu.... !! Aksa.....!! Jahat sekali dirimu. Awas saja, aku akan melaporkan pada Mama Andini juga Kak Ania. " protes Diva sambil mengoles selai coklat ke roti tawar di meja yang ia ambil.
Diva sengaja mengancam Aksara melaporkan pada Mama mertua juga Kakak Ipar nya, karena jika ia lapor pada pihak keluarganya sendiri, pasti mereka lebih memihak pada Aksara. Tapi jika ia lapor pada mama mertua, pasti Andini akan lebih memihak pada diri nya, apalagi Ania kakak ipar nya. Ia pasti lebih percaya pada Diva.
" Coba saja !!! " kata Aksara sambil berjalan keluar, meninggalkan Diva yang masih sibuk mengoles selai.
Tap......
Tap.....
Tap.....
Diva berlari mengejar Aksara, karena lebih baik ia ikut Aksara, dari pada harus berjalan terlebih dahulu agar bisa sampai jalan raya. Mobil Diva pribadi sudah di hadiahkan pada William oleh Papa nya, sebagai dedikasi nya menjaga Diva selama ini. Dan yang lebih menyedihkan adalah, Diva baru mengetahui jika mobil nya di hadiahkan pada Wiliam, setelah William mengucapkan terima kasih pada nya.
" Menyedihkan.. !! Menikah dengan pengusaha kaya, bukan nya hidup enak, justru tersiksa. " gerutu Diva sambil membuka pintu mobil.
Diva sengaja menutup pintu mobil dengan sangat kencang. Bahkan ia yang duduk di mobil bisa bergetar akibat guncangan.
" Kau itu Wanita, apa kamu tidak bisa ----------- "
" Tidak bisa !!! Aku tidak bisa bersikap lembut seperti Vania mu, Aku tidak bisa pelan jika menutup pintu mobil. Itu semua adalah ekspresi ku, karena Hidup harus di ekpresikan. " cerocos Diva dengan nada emosi, memenggal ucapan Aksara yang belum selesai.
Aksara menatap Diva dengan mata menyipit.
" Apppaaa ??? " ketus Diva, ia masih merasa jengkel karena Aksara sudah keterlaluan, membangunkan secara kasar, memaksa harus selesai lima belas menit, bahkan yang keterlaluan Aksara melarang Diva untuk sarapan.
" Tidak ada. Aku hanya heran pada Orang tuaku, kenapa bisa dia menjatuhkan pilihan pada wanita urakan seperti diri mu. " ungkap Aksara dingin kemudian menatap ke depan.
__ADS_1
" Hah. !!! Hey,,, harusnya aku yang berkata seperti itu. Kenapa bisa orang tuaku memilihmu menjadi pendamping hidupku. Padahal setiap apa pun permintaan ku selalu saja di kabulkan. Tapi kenapa menolak pernikahan dengan mu, sama sekali tidak di endahkan. " gerutu Diva sengit.
" Menyebalkan... !!! " ucap Diva sambil membenarkan posisi duduk nya agar berjauhan dengan Aksara, kemudian ia memakan roti tawar yang ia bawa tadi.
Perdebatan demi perdebatan masih terus saja berlanjut. Aksara merasa tak nyaman dengan Diva, sedangkan Diva selalu saja protes setiap ucapan Aksara, sehingga membuat mobil itu terasa sangat bising walau hanya berisikan tiga manusia. Tidak hanya dua manusia, karena Alex hanya seperti patung yang tidak berani bergeser atau bergerak sedikitpun, hanya tangan yang fokus bekerja, dan mata yang serius menatap jalanan saja.
" Aku baru lihat, ada wanita sejorok dirimu. " ucap Aksara yang melihat Diva mengelap tangan nya dengan tisu basah sehabis memakan roti tawarnya, dan memasukan tisu kotor itu di dalam tasnya.
" Kamu pikir jika Aku membuangnya di mobil mu ini, pasti kamu akan memenjarakan aku bukan?? Maka nya setelah aku menaruh di dalam tas ku, kamu berkata seperti itu. Memang kenapa jika aku menaruh di dalam tas ku, nanti Aku juga akan membuangnya setelah di kantorku. " jawab Diva ketus
"Kau itu wanita jorok, hanya saja malu mengakui nya, maka nya banyak alasan. " Aksara kembali membalas
" Non Diva.... " panggil Alex
" Apppaaaa. !!!! " bentak Aksara dan Diva bersamaan.
" Sudah sampai kantor Anda Nona. " jawab Alex setelah terkejut mendapat jawaban yang sangat keras di telinga nya.
" Benarkah ?? " ungkap Diva, melihat sekeliling dari kaca mobil, memastikan jika memang diri nya sudah di depan Kantor milik nya. Dan ternyata memang benar, Diva sudah berada di depan Perusahaan nya.
" Kenapa ?? Apa kamu tidak rela berpisah dengan ku? " ungkap Aksara melihat raut bingung Diva. Walau sebenarnya Aksara juga merasa terkejut, jika secepat itu waktu mereka dalam menempuh perjalanan sampai di depan kantor Diva.
" Cih... Aku ??? .......Tidak rella berpisah dengan mu ?? ......Omong kosong !! " kata Diva sambil membereskan barang barangnya dan akan di bawa turun.
" Tunggu. Sejak kapan nama mu Diva ?? Kenapa saat Alex memanggil nama ku, kamu ikut menjawab dan membentak?? Jangan bilang kamu cemburu ya ?? " ejek Diva dengan menutup pintu mobil dengan sangat kencang.
Aksara membuang nafas kasar melihat Diva berjalan lurus masuk ke Kantor. Terlihat Diva sama sekali tidak menoleh lagi ke belakang. Padahal, Aksara berharap jika Diva menoleh lagi ke belakang.
" Jalan !!! " perintah Aksara, karena sejak tadi Alex belum menjalankan mobil nya. Seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh atasan nya.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kantor Aksara tanpa Diva, suasana terasa hening dan sangat sepi. Bahkan Aksara merasa waktu menempuh jarak nya ke perusahaan terasa sangat lama.
Alex dapat melihat kegelisahan hati Aksara, saat dirinya melihat kaca spion, berkali kali Aksara melihat jam di pergelangan tangan nya, seolah merasa tidak nyaman dengan perasaan nya.