
" Tapi tetap saja, Kakak Ipar yang paling tampan" ucap Deandra memegang lengan Aksara.
Diva yang melihat adiknya mengagumi adiknya pun memutar bola mata malas. Adiknya yang selalu bertindak seenaknya saja itu, justru terlihat sangat mengagumi Aksara.
" Kak... Bagaimana jika aku bersanding dengan kakak ipar? Pantas tidak? " ucap Deandra yang sengaja mengetes kadar cinta Diva untuk Aksara.
" Cocok.... Sangat Cocok. Kenapa dulu kamu tidak meminta Papa, untuk menikah dengan nya saja. " sungut Diva
" Kenapa wajahmu berubah merah seperti itu? Jangan bilang Kak Diva cemburu?? " ucap Deandra yang masih sengaja menggoda Diva.
" Aku....???? Cemburu dengan mu ???? "
" Maaf... !!! Kita nggak level. " ucap Diva mantap.
Deandra memang melihat, Diva tidak menunjukan rasa cemburunya.
" Jika hanya ketampanan, Aku rasa Wiliam lebih bisa diandalkan dalam segala hal. " jawab Diva, memancing agar Deandra menatap Wiliam dengan seksama. Dan benar saja Deandra menatap Wiliam tanpa berkata.
Namun berbeda dengan Aksara, wajahnya berubah dingin. Ia menanggapi serius perkataan Diva. Aksara merasa jika perkataan Diva serius, dan menganggap jika hati Diva benar benar tertambat pada Wiliam.
" Kak... Kenapa banyak sekali sendal di sini?? Apa aku bisa mengambilnya?? " tanya Deandra baru menyadari ternyata banyak sekali sendal jepit berserakan di lantai
" Bisa.... Kau ambil saja semuanya. Anggap saja itu adalah hadiah dariku. " jawab Diva asal
__ADS_1
" Benarkah??? Kak Wiliam.. bisakah kamu tolong bantu Aku, sebelum Kak Diva berubah pikiran. Otaknya kan sering bergeser tiba tiba, jadi bisa berubah sewaktu waktu. " ucap Deandra memungut sendal ke dalam kresek tempatnya tadi.
" Hey adik durhaka !! beraninya kau mengatai kakak mu. Memangnya untuk kau apakan sendal sebanyak itu??" Diva mulai jengkel lagi.
" Tenang saja kak. Jangan berubah pikiran dulu. Sendal sendal ini, akan aku berikan pada teman teman kostku. Kasihan mereka kadang pakai sendal jepitnya sampai di peniti bawah nya, karena putus. Biasa kak Anak kost, mending buat makan dari pada buat beli sendal. " jawab Deandra memunguti sendal, yang kini di bantu Wiliam.
" Tapi bilang itu pemberianku ya. Agar aku juga di doakan rejeki lancar, sehat sentosa dan bahagia selama selamanya... " gurau Diva
" Baru juga kasih sendal jepit, minta doanya sudah kaya mengasih mobil sedan saja. " ucap Deandra
" Kecuali jika sendal ini .... kamu berikan padaku." Deandra menunjukan sendal dior yang baru saja di temukan oleh Alex tadi, dan ikut memasukan di kresek tanpa ada penolakan dari Diva.
" Barang apa sih De... yang ku miliki dan tidak kau incar. "
Aksara kembali menghangat mendengar pertengkaran kakak beradik itu. Apalagi ia benar benar tidak menyangka, jika anak anak Tuan Arsyad sangatlah hangat dan rendah diri. Di balik sikap boros mereka, ada rasa hemat, juga berbagi untuk sesama.
Aksara mengagumi Diva, ia begitu penyayang pada adiknya. Padahal jelas tadi bilang, jika Diva sangat menyayangi sendal itu. Bahkan ia bela belain marah dengan Alex untuk mencari sendal tersebut. Tapi setelah ketemu, sendal itu di berikan begitu saja pada Adik nya, saat Deandra meminta.
Tak jauh berbeda, Alex di buat bengong, karena tadi Diva sempat marah marah, bahkan mengancam dirinya untuk mengganti harga sendal tersebut, namun begitu mudahnya Diva memberikan sendal itu dengan mudah pada Deandra seolah sendal itu tidak berharga.
" Ayo Kak William, kita pulang. Sebelum Kak Diva berubah pikiran. " ucap Deandra seraya menarik tangan William, dan mengajaknya keluar dari kamar Diva.
William sempat terkejut dengan perlakuan Deandra yang tiba tiba menyentuh nya, namun kemudian ikut bergegas keluar. Sebelum benar benar keluar ia sempat menoleh dan menundukan kepala pada Aksara dan Alex, kemudian memberikan senyuman pada Diva, seolah melambangkan ucapan terima kasih, karena sudah membuat Deandra bahagia.
__ADS_1
Diva pun mengerti arti senyuman Wiliam, ia membalas senyuman itu pada Wiliam dengan sangat tulus, sehingga Diva terlihat sangat manis. Walaupun baik Deandra atau Wiliam sering membuatnya jengkel dan emosi, namun kedua orang itu termasuk orang orang berharga bagi Diva.
Diva sangat menyayangi keduanya, apapun yang ia lontarkan dengan kasar, itu semua hanya di bibir saja tidak dengan hati. Karena mereka sudah menjadi orang penting di hati Diva.
Berbeda dengan Aksara, ia melihat senyuman Wiliam pada Diva, sehingga Aksara ikut melihat senyuman Diva yang begitu manis pada Wiliam. Dalam tangkapan Aksara, Diva dan Wiliam sedang di mabuk asmara, sehingga untuk berpisah pun mereka memberikan senyuman terakhir yang begitu indah.
Aksara mengepalkan tangan nya, dadanya bergemuruh, panas yang ia rasakan saat ini. Darahnya mendidih, matanya memerah, rahangnya mengeras menyaksikan pemandangan yang sangat ia benci.
Aksara ikut berdiri, saat mengetahui Alex pun sudah menyusul Wiliam dan Deandra keluar. Tanpa sepatah kata pun Aksara keluar begitu saja.
Blammmmmm
Aksara pun tidak lupa membanting pintu kamar milik Diva dengan sangat kencang, sebagai luapan emosinya pada Diva. Ia begitu kecewa,bisa bisa nya Diva dan William mengumbar senyuman asmara di depan dirinya. Cemburu buta merasuki Aksara, namun ia masih enggan mengakui jika dia mencintai Diva. Atau bahkan dirinya belum menyadari, jika ia mencintai Diva.
Diva Sampai tersentak, mendengar suara pintu kamarnya di banting oleh Aksara. Lagi lagi ia di buat bingung dengan sikap Aksara.
Baru beberapa menit yang lalu, Aksara mendatangi dirinya, memgoleskan obat dengan lembut, merawat kakinya.
Namun kemudian Aksara menekan keras kaki Diva, tanpa bicara, dan sekarang Aksara membanting pintu miliknya dengan sangat keras.
" Dasar orang aneh !!! " gumam Diva, kemudian Diva mencoba menggerak gerakan kaki nya. Ternyata kakinya sudah lumayan untuk menapak di lantai. Diva berencana untuk turun karena sampai siang, tidak ada satu asisten pun, yang mengirimkan sarapan ke atas. Padahal sudah sejak pagi ia kelaparan.
Pelan pelan Diva menuruni tangga, ia menempel di tempat sisi tangga, agar bisa berpegangan. Dengan bermodal satu tangga berhenti, Diva sampai juga di bawah. Semua itu tidak luput dari pengawasan Aksara. Walau ia jengkel pada Diva, namun Aksara khawatir jika terjadi sesuatu pada Diva, sehingga ia hanya melihat dari kejauhan, saat Diva berusaha menuruni tangga.
__ADS_1
Ada perasaan kagum di hati Aksara, ternyata di balik sikap angkuh Diva. Ia sangat mandiri, bahkan Diva tidak marah marah saat sang asisten lupa memberinya makan, untuk di bawa ke atas. Diva hanya duduk di kursi makan dengan tersenyum, ketika sang asisten berulang kali meminta maaf karena tidak memberinya sarapan ke atas.
Bersambung......