Aksara Diva

Aksara Diva
Bab 62 Kecewa


__ADS_3

Suasana makan malam berjalan penuh dengan candaan dari Ania dan Aksara yang terus berdebat, sedangkan Diva dan Arya hanya jadi penonton dan ikut tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.


Selesai makan malam, mereka duduk di ruang tamu, sebuah sofa panjang. Aksara sudah lebih dahulu duduk di sudut kursi, kemudian menarik tubuh Diva agar mendekat duduk di sampingnya.


Berbeda dengan Diva yang malu malu, Ania menempatkan duduknya menempel di samping suaminya. Ia sudah terbiasa selalu menempel pada Arya, sebelum ia juga di tarik seperti Diva.


Mereka kembali terlibat sebuah obrolan hangat, Ania yang menceritakan masa kecilnya bersama Aksara pada Diva, dan baru Diva ketahui jika Aksara pandai bermain gitar, bahkan mengoleksi banyak gitar di kamar milik nya dulu.


" Iyakah ?? Aku tidak melihat satu gitar pun di rumah baru ini. " kata Diva tak percaya


" Itu karena Aksara sudah menganggp dirimu adalah gitar terbaiknya. Makanya semua koleksi gitar lamanya di tinggalkan di rumah utama" jawab Arya asal dan justru di benarkan oleh Aksara, membuat Diva kembali tersipu, karena ia tidak pernah berpacaran, jadi sekarang baru merasakan cinta, jadi Diva merasa seakan kembali puber.


" Kak, apa anak anak tidak mencarimu ?? " tanya Aksara pada Ania.


" Arran dan Amoora sedang di rumah Mama. Jadi itu sebabnya kami kesepian, dan ada waktu kemari. " jawab Ania


" Lihatlah sayang... Apa kamu tidak merasa pengantin baru sedang menyindir kita dengan cara pengusiran secara halus. " kata Arya melihat jam di pergelangan tangan nya yang sebenarnya baru menunjukan pukul delapan malam.


" Tidak Kak. Aksara tidak bermaksud seperti itu. " kata Diva merasa tak enak, seolah benar benar mengusir kedua kakak iparnya pergi.


" Kamu bilang tidak. Tapi lihat wajah sumringah suamimu ketika kami tahu diri, dengan sindiran halusnya. " jawab Ania yang juga merasa terusir.


" Bukankah hari ini, juga hari bahagia untuk kalian. Jadi jangan sia siakan waktu yang terbatas itu. " ejek Aksara sambil bangun dan berdiri untuk mengantar kakak dan kakak iparnya pulang, seolah memang benar benar mengusir.


" Tentu saja kami tidak akan melewatkan. " balas Arya tak mau kalah.


Keduanya pun diantar sampai halaman, ternyata mereka datang tanpa menggunakan sopir, dan Arya sendirilah yang mengemudikan.


" Jangan sampai tidak sampai rumah, dan menepi di bahu jalan ya. " teriak Aksara yang langsung di balas kepalan tangan oleh Arya.

__ADS_1


Aksara menarik tubuh Diva kembali ke dalam rumah. Terlihat Bik Marni sedang membereskan meja makan. Diva menghampiri, namun Aksara menarik pinggang Diva agar tidak ikut membantu Bik Marni.


" Bik, makanan ini di bagikan pada semuanya saja ya bik, tidak perlu dihangatkan. " pinta Diva menyuruh agar makanan yang di beli Ania dan masih tersisa banyak itu di bagikan pada semua anak buah mereka, baik satpam, tukang kebun dan juga Bik Marni sendiri.


" Baik Non. Terima kasih. " jawab bik Marni senang, karena mendapat berbagai makanan dari restoran bintang tujuh, dan masih dengan porsi yang banyak.


" Kenapa kamu perduli dengan mereka, dia saja tidak perduli dengan kita. " kata Aksara menyindir Bik Marni yang tadi tak sengaja membuka pintu kamar dan melihat mereka sedang berciuman.


" Aksaaa... Jangan seperti itu. Bik Marni hanya menjalankan perintah. " jawab Diva tak suka melihat tingkah Arya yang seperti merendahkan orang bawah.


"Benar Tuan, saya benar benar minta maaf. Tadi Non Ania memaksa saya untuk memanggil Anda. Bibik janji tidak akan berani lagi menganggu kalian lagi. " jawab Bik Marni merasa tidak enak dengan sikap Aksara.


" Benar ya bik... !! " jawab Aksara yang langsung di cubit pinggangnya oleh Diva.


" Aw..... sakit Sayang. " teriak Aksara otomatis.


Diva merasa jantungnya berhenti memompa, aliran darahnya berhenti namun dadanya panas, mendengar sebutan sayang dari Aksara.


" Non Diva sudah seperti mengingatkan saya pada masa muda. " kata Bik Marni yang melihat wajah merona dari Diva yang sangat terlihat.


" Ingat bagaimana Bik ?? " tanya Diva mengalihkan pembicaraan


" Malu malu tapi mau. " kata Bik Marni tertawa, sedangkan Diva bertambah merah pipinya


" Jangan bandingkan bandingkan Diva dengan wanita manapun. Karena jawabannya sudah pasti Diva berbeda dari yang lainnya. Hanya ada satu Diva di hati Aksara Widana Pratama. " jawab Aksara dengan mencium pipi istrinya.


Diva dan Aksara pun menaiki tangga, kembali ke kamar untuk beristirahat. Sampai menaiki dua tangga Aksara berhenti, dan menoleh kembali ke belakang.


" ingat ya bik, jangan ada yang menganggu, sekalipun Tuan dan Nyonya Pratama. " kata Aksara tersenyum pada Bik Marni

__ADS_1


" Siap Tuan." jawab Bik Marni dengan tanda hormat tangan di kening, membuat Diva tertawa geli.


Diva bersyukur Bik Marni tidak tersinggung dengan ucapan Aksara yang kadang suka seenaknya sendiri. Mungkin karena Bik Marni sudah lama mengasuh Aksara, jadi tahu sifat dan tabiatnya.


Sampai di dalam kamar, Aksara langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia langsung memggiring Diva ke sisi ranjang, dan tak sabar mencium bibir Diva, ciuman panas pun berlangsung, dengan sangat menuntut dari keduanya.


Aksara melepas semua pakaian yang ia pakai, dan barulah ia membuka pakaian Diva satu per satu, wajah Diva masih merona, malu melihat tubuh Aksara yang sedang menindihnya. Namun betapa terkejutnya Aksara.


" Diva ... Kamu membuatku kecewa !! " ucap Alsara dengan memunguti pakaian nya dan memakai kembali satu persatu, setelah melihat tanda merah di pakaian dalam Diva.


Aksara tak bisa menutupi rasa kecewanya, ia terlihat begitu jengkel. Karena setiap berdekatan dengan Diva membuat Aksara selalu ingin memakannya, Aksara memutuskan keluar kamar, ia memilih pergi ke ruang kerjanya.


Diva melihat dirinya yang sudah hampir tqk berpakaian pun melihat celananya. Barulah ia sadari ternyata ia berhalangan. Ada rasa sedikit sakit di hati Diva. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Aksara, apakah karena ia berhalangan dan tidak bisa berhubungan. Atau Aksara kecewa karena Diva belum hamil.


Diva memakai pakaian nya kembali, dan berbaring di ranjang. Ia masih belum bisa memejamkan matanya, ia berguling ke kanan dan ke kiri. Di lihat jam di dindingnya.


" Sudah pukul sebelas, kemana Aksara. " batin Diva, ia mengigit bibir bawahnya, dan bingung. Harus kah ia menyusul Aksara, atau membiarkan saja.


Lain halnya dengan Aksara, malam ini ia begitu kecewa. Dirinya yang sudah mode on, harus terpaksa berhenti seketika, karena rambu merah yang tidak dapat di terjang.


Aksara mengusap wajahnya kasar, dan memukul meja kencang. Ia yang baru merasakan keindahan dan ingin menikmati harus berhenti karena kedatangan kakaknya. Dan sekarang giliran tidak ada yang menganggu, justru ada lampu merah.


" Sial... Jika kak Ania tidak datang, mungkin aku bisa merasakan sedikit. " gerutu Aksara karena ia baru melihat bercak sedikit di pakaian dalam Diva.


Bersambung.......


Jangan lupa Vote kalian ya....


Mungkin di bab selanjutnya,, akan lebih ke amarah ya... Karena ayang beb Vania udah pulang dari tamasya nya..... Makanya yang mqu terus lanjut... berikan Author secangkir kopi biar tidak ngantuk...😀😀😀🥰😍. Tak lupa seikat bunga dan votenya.... 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2