Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 56 Siapa Dia


__ADS_3

Follow Akun Author ya .... Gratis !!!


❤️❤️❤️@Shanyu❤️❤️❤️


" A... Tidak... tidak...tidak. " jawab Diva panik, karena Aksara serius ingin menghubungi dokter keluarganya.


Setelah berdebat sekian menit, akhirnya Diva meluncurkan jurus terakhirnya. Diva mengalungkan kedua tangan nya ke leher Aksara. Diva meminta Aksara untuk menggendong nya ke kamar, dengan istirahat sebentar, Diva nyakin bisa menyembuhkan perutnya, yang sebenarnya memang tidak sakit.


Diva tidak mau ketahuan oleh dokter keluarga Aksara jika sedang berpura pura sakit. Ia takut sang dokter akan mengira dirinya terlalu mendrama. Terlebih lagi Diva sangat takut dengan dunia medis, mulai dari obat juga jarum suntik. Itulah juga salah satu penyebab yang membuat Diva belum siap untuk mempunyai anak sekarang ini.


Pipi Aksara merona mendapat perlakuan Diva yang tiba tiba mengalungkan kedua tangan nya ke leher, sehingga tubuh Diva menempel di dadanya.


Tidak ingin Diva berubah pikiran lagi, Aksara memasukan ponselnya ke dalam saku kembali dan menghentikan niatnya untuk menghubungi dokter Nihan.


Diva bisa bernafas sedikit lega, karena jurus terakhirnya ternyata berhasil. Walau ada perasaan takut, bagi Diva ini lebih baik, dari pada harus ketahuan berbohong atau lebih buruknya di suntik dan di paksa minum obat.


Aksara menaiki tangga satu per satu dengan pelan, bodohnya Diva, hanya dalam hitungan menit di dalam gendongan Aksara, ia sudah tertidur. Mungkin karena ia kelelahan dan di tambah Sekarang perutnya terasa kenyang membuatnya mengantuk, kini ia benar benar sudah tertidur sebelum masuk kamar.


Dengan pelan Aksara menurunkan tubuh Diva ke ranjang, ia melihat Diva sudah terlelap, walau Aksara merasa aneh, sebegitu mudahnya Diva tertidur, namun ia hanya bisa tersenyum dan tidak marah seperti yang sudah sudah


" Dasar pemalas, mudah sekali tidur mu. " gumam Aksara dengan membelai wajah Diva.

__ADS_1


Setelah puas memandang wajah Diva yang tertidur pulas, Aksara memilih kembali ke kamar lamanya, yang sekarang di sulap menjadi ruang kerja. Ia memilih menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda karena sibuk menguntit Diva pergi.


Diva menggeliat, menatap sekeliling ruangan. Di tatap jam di dinding kamar nya, menunjukan pukul setengah tujuh petang.


Diva terkejut, seolah ia merasa bangun setengah tujuh pagi, sehingga ia harus buru buru berangkat kerja. Ia langsung masuk kamar mandi dan cukup membutuhkan waktu lima belas menit Diva sudah keluar lagi memakai jubah mandi. Ia segera berlari ke walk in closed mencari pakaian ganti.


Namun ia lebih terkejut lagi, karena lemari Aksara yang dulu sempat di sana, kini kembali lagi memenuhi tempat itu. Diva mengingat ingat kembali, sejak kapan lemari itu bisa sampai di sana. Karena memang pada dasarnya Diva adalah seorang pelupa


Barulah ia sadar, saat ia makan tadi bik Marni sempat memberitahukan jika suaminya sedang membereskan kamarnya. Itu berarti, saat ini adalah petang dan bukan pagi. Diva tersenyum mengingat kebodohannya, yang terburu buru berlari untuk mandi tanpa melihat tirai jendela terlebih dahulu, adakah cahaya masuk atau tidak.


Diva mulai mencoba baju yang berada di gantungan dan menempelkan di badan nya satu per satu. Ia mempersiapkan diri, karena malam ini Aksara akan tidur satu ranjang dengan nya. Jadi Diva ingin terlihat cantik.


Begitu Diva merasa sempurna, Diva kembali ke sisi ranjang. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Diva merasa berdegup, nafasnya tidak teratur menunggu kedatangan Aksara.


Setengah delapan berlalu, berganti setengah sembilan. Setengah sembilan berlalu sampai waktu menunjukan pukul setengah sepuluh malam, namun Aksara tak kunjung masuk ke dalam kamar. Jantung yang semula berdegup tak beraturan kini merasa sesak, karena ada perasaan kecewa di diri Diva, karena Aksara tak datang.


Pukul sepuluh malam, Diva sudah kembali tertidur pulas. Ia sudah lelah menunggu kedatangan Aksara, akhirnya mengantuk.


Hingga pukul sebelas malam Aksara masuk ke dalam kamar Diva, yang kini menjadi kamar milik mereka berdua. Terlihat Diva sudah tertidur pulas, tanpa selimut. Aksara menyelimuti Diva terlebih dahulu, barulah ia membersihkan diri, karena sibuk menyelesaikan pekerjaan Aksara sampai lupa waktu jadi sejak tadi belum mandi.


Selesai membersihkan diri, Aksara menyusul Diva untuk tidur, ia membuka selimut dan ikut berbaring menyanding Diva. Di tarik pelan tubuh Diva agar ia bisa memeluk nya. Tercium aroma harum dari tubuh Diva, membuat Aksara ingin memiliki Diva.

__ADS_1


Namun ia berpikir, jika ia tidak boleh egois. Diva pasti sangat capek dan lagi pula ini sudah larut malam, jadi Aksara tidak tega untuk membangunkan Diva. Aksara memejamkan matanya, ikut mencoba tidur, agar besok bisa bangun pagi, karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.


Pagi menjelang, Diva meraih ponselnya. Semalam ia merasa menyalakan alarm, namun sampai pukul setengah tujuh, ia tidak mendengar alarm miliknya berbunyi. Ternyata benar, alarm itu tidak menyala.


Seperti semalam, Diva beranjak bangun dan bergegas membersihkan diri, dan berganti pakaian. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, Diva sudah siap dengan tampilan yang tidak terlalu buruk.


Rok selutut, di padukan dengan blezer warna senada dan kaos putih. Tak lupa ia menggunakan syal untuk menutupi tanda tanda merah yang Aksara ciptakan. Untuk riasan, Diva hanya memakai bedak tipis, dan untuk tidak terlalu pucat, Diva memakai lipstik merah menyala agar terlihat seperti sudah bermake up full. Rambutnya hanya di kuncir gulung ke atas, namun Diva masih saja terlihat sangat cantik.


Diva terburu buru menuruni tangga, walaupun sedang tergesa gesa, tidak membuat niat Diva untuk melewatkan sarapan pagi. Karena bagi Diva sarapan itu penting, dan yang paling utama Diva tidak bisa berpikir jernih jika sedang lapar. Maka seperti pagi ini, walau jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh, ia masih berniat untuk sarapan terlebih dahulu.


Di lihat ada seorang wanita di samping meja makan, yang sedang berdiri, terlihat ia sedang menundukan wajah nya, menyapa dan juga menghormati kedatangan Diva.


Diva yang tetegesa gesa hanya memberikan sedikit senyuman, tanpa bertanya siapa wanita itu. Diva justru sibuk menyiapkan makan pagi hari ini.


Begitu makan separuh dari makanan yang ia ambil, Diva menatap wanita itu kembali. Munculah pertanyaan dalam hatinya. Siapa wanita itu.


" Siapa diri mu?? " tanya Diva yang mulai terusik dengan pertanyaan dan hanya menduga duga dalam hati.


Wanita yang tadinya hanya menunduk, kini mulai menengadah kepalanya menatap Diva yang juga sedang menatap ke arahnya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2