Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 48 Penyesalan Aksara


__ADS_3

Diva sudah tidak Bisa bergerak lagi, Pria itu dengan paksa memeluk kedua lengan Diva dan menciumi pipi Diva, kini hanya air matanya yang mengalir deras membasahi pipi. Bayangan Diva saat ini hanya berharap Wiliam datang menolong nya. Satu satu nya orang yang paling perduli dengan nya. Jika saat ini Wiliam ada di Indonesia kejadian ini pasti tidak akan terjadi pikir Diva. Karena Wiliam pasti tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Diva, sekalipun itu bisa membahayakan keselamatan Wiliam sendiri, pasti Wiliam lebih memperhatikan keselamatan Diva.


Tiba... tiba....


" Bug.....bug...bughh. !!! "


Tanpa ampun Aksara menarik tubuh Pria itu keluar dari mobil dan memukul wajahnya tanpa ampun, dengan sekuat tenaga dan penuh amarah Aksara memukul bagian tubuh mana pun yang ia incar tanpa perlawanan.


" Dasar ba**ngan beraninya kamu menyentuh istriku. Aku akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri. " amarah Aksara tak bisa di bendung lagi, hingga Pria itu jatuh tersungkur pun tidak membuat hati Aksara iba sedikitpun.


" Biar saya selesaikan Tuan. " pinta Alex mencoba melerai Aksara. Karena jika tidak di lerai, pasti Pria itu akan benar benar mati di tangan Aksara yang sudah di selimuti kabut amarah.


" Tidak,Lepaskan !! Aku akan membunuhnya dengan tanganku. " Aksara masih berusaha memukul Pria itu yang sudah tidak sadarkan diri, namun tangan Aksara masih tak berhenti memukul.


" Anda harus cepat menenangkan Nona,Tuan. Non Diva sangat syok. " kata Alex melihat keadaan Diva yang masih berada di mobil dengan tangisan terisak-isak.


Aksara baru bisa kembali menguasai diri, ketika Alex menyebut nama Diva. Aksara segera berlari mendekati mobil dan menatap Diva yang sudah dengan rambut yang acak acakan dan wajah yang basah penuh air mata. Hanya isak tangis yang terdengar, karena kini Diva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya..


" Maafkan Aku Diva" ucap Aksara dengan segera memeluk Diva ke dalam pelukan nya, dan memeluk erat. Sesekali ia mencium pucuk kepala Diva, sungguh saat ini jantung Aksara pun masih berdetak dengan sangat cepat. Ia tidak bisa membayangkan jika saja ia terlambat menyelamatkan Diva, itu akan menjadi penyesalan yang terdalam bagi Aksara.


Aksara masih bersyukur, karena tadi ia sempat mendengar teriakan tolong Diva, sehingga ia bisa segera menyelamatkan Diva. Jika saja tadi ia tidak mendengar suara Diva, mungkin saja ia masih melaju melewati Diva begitu saja.


Diva semakin terisak mendengar suara Aksara, ingin rasanya ia memaki Aksara, namun saat ini ia lebih baik diam.


Aksara pun membimbing Diva keluar mobil,dan membawanya ke mobil pribadi milik Aksara.


" Tenanglah, semua akan baik baik saja. " ucap Aksara.

__ADS_1


Begitu Alex selesai dengan urusan nya, ia kembali ke mobil Aksara untuk mengemudikan. Sedangkan Pria itu sekarang sudah di bawa oleh anak buah Alex.


" Bagaimana?? " tanya Aksara begitu Alex masuk di mobil.


" Mereka akan membawa Dia ke Afrika Tuan. Bisa di pastikan, jika dia tidak akan pernah bisa menginjakan kaki di Indonesia lagi. " jawab Alex yang tahu arah pertanyaan dari Aksara


" Kerja bagus. " jawab Aksara


" Apa perlu Saya panggilkan dokter Elia, Tuan ?? ," tanya Alex.


" Tidak perlu, mungkin aku Akan memanggil Rabel saja. Jika aku memanggil Elia, dia pasti akan bercerita dengan Kak Ania, dan nantinya pasti Mama akan tahu dan akan jadi urusan panjang. " jawab Diva


Walau Alex tidak percaya jika Aksara membiarkan dokter Rabel memeriksa, namun ia memilih diam.


" Apa Tuan nyakin. Bukankah dokter Rabel sangat muda dan tampan. Aku nyakin Tuan Aksara pasti akan cemburu." batin Alex, karena ia tidak berani mengingat kan.


" Baiklah, aku tidak akan memanggil dokter, tapi diamlah dari menangis mu. " kata Aksara dengan tersenyum menahan geli, karena Diva menggelengkan kepala di dadanya membuat Aksara kegelian.


Aksara memeluk Diva dan sesekali membelai rambutnya untuk menenangkan.


" Maafkan Aku Diva. " kata itulah yang sejak tadi keluar dari mulut Aksara di telinga Diva.


Sampai di rumah, Aksara membimbing Diva untuk turun, kemudian membawanya dalam dekapan lagi. Namun itu tak berselang lama, karena Aksara kini membopong tubuh Diva, dan Diva mengalungkan tangan nya di leher Aksara dan menyembunyikan wajahnya di dada Aksara lagi sampai kamar.


Sampai di dalam kamar, Aksara menurunkan dengan hati hati di sisi ranjang.


" Bisakah kamu bersihkan dirimu? " ucap Aksara dengan lembut dan menyibakan rambut yang menutupi wajah Diva. masih ada air mata ternyata di wajah Diva itu tandanya kesedihan Diva masih saja berlanjut.

__ADS_1


" Hey... jangan menangis lagi. Kamu sudah aman Diva. Percayalah, Aku berjanji tidak akan membiarkan kejadian ini terulang kembali. " kata Aksara kemudian duduk di sisi ranjang dan membawa wajah Diva kembali ke dadanya, tak lupa ia mencium puncak kepala Diva.


" Baiklah, bagaimana jika aku membantumu mandi. " goda Aksara agar Diva berhenti menangis, namun tetap saja Diva masih belum reda dari menangis.


Setelah sabar Aksara menunggu Diva, akhirnya Diva beranjak mandi.


Diva masuk ke kamar mandi, ia membuka semua pakaian nya, dan mulai menggosok gosok tubuhnya dengan sangat kencang menggunakan sabun. Seolah ingin menghilangkan jejak Pria itu di tubuhnya. Semakin keras Diva menggosok tubuhnya, semakin Diva teringat Pria itu. memaksanya menciumnya.


" Aaaa.... Hik...hik.... " Diva kembali menangis mengingat kejadian yang sangat menjijikan bagi Diva itu.


Karena Aksara sejak tadi menunggu Diva di kamar Diva, begitu mendengar teriakan Diva, Aksara segera berlari takut terjadi sesuatu dengan nya.


" Diva... "


Semula Aksara terkejut dengan penampilan Fiva yang masih telanjang, dan berdiri di bawah guyuran shower. Ia baru menyadari, jika Aksara begitu tergesa gesa masuk tanpa mengetuk pintu. Diva yang juga menyadari jika dirinya tidak menggunakan satu pakaian pun duduk menutupi tubuhnya dengan kedua tangan nya.


" Kamu tidak apa apa Diva? " tanya Aksara melepas kecanggungan. Aksara segera menarik jubah mandi yang tergantung di tembok dan segera menutupkan di tubuh Diva. Kemudian Alsara membawa Diva keluar dari kamar mandi, dan membawanya di kursi rias, ia membantu mengeringkan rambut Diva yang basah dengan menggunakan handuk dengan lembut.


" Sekarang Aku kotor. Kamu bisa menghinaku sepuasnya Aksa... Kamu sekarang bisa menghinaku !!! " sambil menangis Diva berbalik memukul dada Aksara, melampiaskan kebencian yang ia rasakan.


Aksara memegang tangan Diva, dan membawanya kembali ke dalam pelukannya.


" Aku tidak akan lagi menghinamu Diva. Maafkan Aku !! Ini semua salahku, Aku sangat menyesalinya Diva. " ucap Aksara dengan memeluk erat tubub Diva yang masih duduk di kursi rias.


Bersambung......


Ayo tebak... nanti mereka udah saling cinta belummmm ???

__ADS_1


__ADS_2