
Diva yang merasa diperhatikan semakin percaya diri, ia melewati Aksara begitu saja.
" E...Ehem.... Sebenarnya aku tidak perduli dengan penampilan mu sama sekali. Hanya saja, Aku rasa sangat tidak pantas saja jika memakai pakaian formal seperti itu, tapi menggunakan sendal bulu. " ucap Aksara membelakangi Diva, tanpa melihat wajah Diva
Sontak Diva melihat penampilan nya, benar saja ia masih menggunakan sendal bulu yang motifnya seperti kepunyaan anak kecil.
Sebenarnya Diva sangat malu, karena begitu terburu buru nya ingin memanasi, menampilkan diri di hadapan Vania, sampai ia lupa jika ia masih menggunakan sendal bulu.
" Apa Kamu tidak tahu, ini adalah trend mode Sekarang. " ucap Diva percaya diri untuk menutupi rasa malu nya.
Diva meletakan tas jinjing nya di meja makan, dan membuat roti tawar selai. Perasaan dongkol dan malu bercampur aduk membuat nya bersemangat untuk makan banyak di pagi hari. Sepuluh menit, Diva melihat Aksara menuruni tangga dengan pakaian jas formal, lengkap dengan tas kerja nya.
" Sial.... Kenapa Dia begitu tampan. " batin Diva tanpa sadar, justru Sekarang Diva lah yang begitu terpesona dengan ketampanan Aksara.
" Hapus air liur mu !! Sangat menjijikan jika sarapan harus melihat pemandangan seperti itu. " ucap Aksara, membuat Diva terkejut.
Muka Diva memerah, rasa malu juga benci karena di hina Aksara baru saja , bercampur jadi satu.
" Percaya diri sekali, Anda !!! " ucap Diva sambil kembali menggigit roti tawar nya.
Tak berapa lama, Aksara bangkit dan berdiri meninggalkan meja makan, tanpa berpamitan pada Diva sedikit pun. Entah kenapa, ada perasaan marah, saat Diva mengucapkan pada Vania, untuk mengambil Aksara begitu saja, karena Diva tidak tertarik pada Aksara.
" Kamu pikir kamu siapa, berani membuang ku. Banyak wanita yang tergila gila pada ku, tapi Kamu justru mau membuang ku. Aku akan buat perhitungan dengan mu nanti, Kamu tunggu saja Diva. " batin Aksara sambil keluar menuju halaman, untuk berangkat kerja.
Tidak ada kata cuti setelah menikah dalam kamus Aksara, karena ia hari ini ada tender besar, jika ia berhasil untuk memenangkan.
Diva menatap punggung Aksara yang semakin menghilang di pintu keluar. Diva mengehela nafas kasar, menjalani satu hari hidup satu atap dengan Aksara sangatlah menguras emosi.
__ADS_1
Diva yang sebelumnya sudah ada janji dengan Wiliam untuk melakukan pertemuan dengan klient pun bergegas, merapikan diri.
Tak berselang lama, Wiliam pun menjemput Diva di rumah baru nya. Dengan wajah cemberut Diva masuk ke dalam mobil.
" Kenapa ??? Apa semalam kamu diabaikan oleh Aksara?? Kasihan sekali hidup mu. Seorang Diva, wanita cantik yang diperebutkan banyak Pria, namun malam pertamanya diabaikan oleh sang Suami. " ejek Wiliam mengawali pembicaraan santai mereka.
Sontak Diva memukul pundak Wiliam dengan tas jinjing nya.
" Tutup mulut mu, jika tidak ... akan ku beritahukan pada Deandra, jika kamu pengagum rahasia nya. " Diva mengancam William.
" Jika di lihat dari cara marah mu, seperti nya tebak kan ku benar. " ejek William lagi
" Williammmmm.... " melotot kan mata nya pada sang Mantan manager nya itu.
" Aku punya rencana bagus, untuk membalaskan sakit hati mu itu. " ucap Wiliam melirik Diva
Wiliam pun memberitahukan rencana yang di setujui oleh Diva. Kini Diva dan William sudah sampai dimana akan diadakan persaingan perebutan tender.
Diva berjalan lurus, diikuti William di belakang nya, keduanya berjalan mengikuti sang sekretaris perusahaan yang menunjukan sebuah ruangan dimana akan di gunakan untuk Presentasi masing masing Perusahaan besar.
Ternyata Diva dan William adalah perwakilan Perusahaan yang pertama memasuki ruangan tersebut. William menyiapkan segala keperluan untuk Diva Presentasi, sedangkan Diva memilih mempelajari materi kembali, agar lebih menguasai.
Tak berselang lama, Aksara datang dengan di dampingi Mola sang sekretaris. Alex tidak bisa menemani karena ada kunjungan industri ke Negara Singapura.
Aksara masuk ruangan, ia sedikit berdecak yang bisa di dengar oleh Diva juga William. Namun Diva seolah acuh, dan sama sekali tidak menggubris Aksara, ia sibuk dengan materi yang akan ia presentasikan.
Aksara menyadari, jika diri nya untuk kali ini salah langkah. Ia seharusnya menyuruh Mola lah yang kunjungan industri, karen tidak ada pengaruh dengan tender, seperti yang di lakukan oleh Perusahaan Diva. Ia tetap mengutamakan Tender kali ini, dengan persiapan yang matang. Ia turun tangan sendiri, di dampingi William yang lebih Profesional dalam berbisnis.
__ADS_1
Aksara berubah mood, karena kedatangan nya di dahului Diva. Ia sedikit terlambat karena Mola lupa membawa salah satu file yang sangat penting, sehingga ia tadi harus kembali untuk mengambil nya.
Aksara melirik Diva yang sama sekali tidak menoleh pada Aksara, seolah mereka tidak pernah bertemu atau saling kenal sebelumnya. Hanya William yang menyambut Aksara, dan berbasa basi sebagai sapaan.
" Sial, kenapa dia begitu serius seperti itu. " batin Aksara, menilai Diva.
Setengah jam mereka mempersiapkan diri, saat Diva mendengar sang Pemimpin masuk. Diva barulah melihat sekeliling, ternyata banyak juga yang hadir di sana.
Semua mulai memprentasikan sesuai waktu yang di perkenankan . Kini giliran Diva di persilahkan memprensentasikan apa yang ia sudah agendakan.
Semua memperhatikan Presentasi Diva, banyak pula para Perusahaan pesaing, yang mengakui kehebatan Diva dalam mencetuskan gagasan, membuat mereka minder dan mulai tidak percaya diri, tidak terkecuali Aksara, ia juga mengagumi tentang Presentasi Diva. Aksara tidak menyangka jika Diva sangat kompetitif dalam bisnis. Tidak hanya kecantikan saja yang melekat di diri Diva, tapi ternyata jiwa bisnis nya tidak bisa di pungkiri kehebatan nya.
Karena begitu memukau nya presentasi Diva, Aksara mulai merasakan ketegangan diri. Tidak pernah ia rasakan sebelum nya. Kini giliran Aksara mempresentasikan mewakili Perusahaan nya. Tapi entah kenapa baru kali ini, Aksara merasa berbeda. Sebelum nya, walaupun seribu wanita yang lebih cantik, tidak akan menganggu konsentrasi Aksara, namun kali ini, Aksara merasa lain. Hari ini, Aksara tidak merasa fokus pada Presentasi nya, di tambah sang sekretaris tidak bisa membantu, membuat sang Pemilik tender menjatuhkan pilihan ke tangan Perusahaan Diva.
" Maaf Tuan Aksara, Aku rasa kali ini Anda bisa memaklumi Saya. Saya lebih memilih Perusahaan Glory Company untuk bekerja sama. " ucap Mister Hazura.
" Jangan sungkan. Glory Company adalah milik istri saya. Anda bekerja sama dengan Diva, sama juga bekerja sama dengan Saya. " ucap Aksara, yang mencium gelagat Mister Hazura menaruh simpati pada Diva.
Karena pada acara pernikahan nya, Mister Hazura masih di negara di Jepang. Jadi Mister Hazura tidak mengetahui jika Diva adalah istri Aksara.
" Apa maksud ucapan mu, Aksara. " batin Diva menatap tajam ke wajah Aksara
Bersambung.......
**Jangan Lupa, Like, Komen, Gift dan Vote kalian, sangat membantu Author agar lebih terus semangat untuk Update.🥰🥰🥰
Lope You buanyakkk pokok nya kalo di kasih Vote nya....😍😍😍😍**
__ADS_1