
" Maafkan Aku Diva.... "
Untuk kesekian kalinya Aksara memohon maaf,, ia bahkan semakin mendekap erat pelukan nya, dengan membelai rambut Diva yang setengah basah, karena Aksara hanya mengeringkan dengan handuk.
Lama Diva dalam pelukan Aksara dengan isakan tangis.
" Aku sangat menyesal dengan sikapku Diva. Aku akui aku cemburu saat dirimu dengan Pria mana pun, Aku tak suka kamu berbicara dengan Pria mana pun, apalagi sampai kamu berikan senyum juga perhatian untuk Pria lain. Aku hanya ingin kamu tersenyum hanya padaku Diva. " ucapan Aksara berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.
" Aku..... Aku akui Aku terlanjur mencintai mu, Bahkan sangat mencintaimu Diva. " dengan sekuat keberanian Aksara meruntuhkan egonya untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Diva.
Lama tak ada jawaban dari Diva, hanya suara nafas teratur dari Diva, bahkan tubuhnya pun sudah melemas, ambruk ke dada Aksara. Aksara sedikit merenggangkan pelukannya dan menatap seksama wajah Diva. Ternyata Diva sudah tertidur. Sia sia sudah Aksara mengumpulkan keberanian untuk mengakui dan mengungkapkan perasaannya, karena ternyata Diva sudah tidak mendengar nya. Diva sudah tertidur pulas dalam pelukan Aksara, mungkin karena terlalu kelelahan menangis Diva menjadi mengantuk.
Aksara hanya tersenyum melihat Diva yang sudah tidur, akhirnya Aksara mengangkat tubuh Diva dan membawanya ke sisi ranjang. Aksara menurunkan pelan pelan tubuh Diva, sampai ia sudah benar terbaring dengan baik.
Aksara duduk di sisi ranjang dan menatap wajah Diva yang sembab, karena banyaknya air mata keluar akibat ulahnya. Aksara sangat menyesali egonya, ia tidak bisa membayangkan jika seandainya ia terlambat sedikit saja. Bahkan ia sempat tidak tahu jika di dalam mobil itu adalah Diva, jika ia tidak sempat mendengar teriakan Diva waktu itu. Dan jika sampai ia tidak mendengar suara Diva, mungkin sekarang Aksara adalah orang yang sangat terpukul dan sakit, melebihi sakit yang Diva rasakan nantinya.
" Aku berjanji Diva, air mata ini adalah yang terakhir. Aku akan selalu membuatmu bahagia. " ucap Aksara berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Diva agar tidak menangis lagi. Walau Diva tidak mendengarnya, Aksara tetap mengucapkan kata itu di detapn Diva.
Aksara membayangkan hidup nya semasa muda. Ia yang selalu di beri kebebasan pada orang tuanya. Apapun yang di minta selalu di kabulkan, tapi untuk menikah, Mamanya memaksa untuk harus menikah dengan Diva. Kini ia baru menyadari ternyata Mamanya lebih tahu mana yang terbaik. Banyak sisi positif di diri Diva yang terlihat saat menjalani rumah tangga dengan Diva. Semakin ia mengenal Diva, semakin kebaikan lah yang nampak padanya, sikapnya yang selalu ceria dan suka marah marah membuat hidup Aksara justru semakin lebih berwarna.
__ADS_1
Aksara membelai wajah Diva, mengusap dengan lembut, menyibakan anak rambut yang menutupi wajahnya. Perlahan Aksara membungkukkan wajahnya mendekati wajah Diva, dengan pelan ia mengecup kening Diva lama, lalu ia menjauhkan wajahnya menatap bibir tipis Diva sangat lama. Sungguh sebenarnya ia sangat merindukan menciumnya.
Dengan ragu Aksara kembali membungkuk kan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya di dekat wajah Diva, lama Aksara ingin mengecup Diva, akhirnya ia benar benar memberanikan diri, dan menempelkan bibirnya di bibir Diva.
Entah kenapa kecupan sekarang menghadirkan desiran jantung, Aksara tak bisa menahan gejolak kelakiannya. Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan dengan wanita mana pun. Sekalipun dengan Vania yang dulu pernah memeluknya saat masih berpacaran. Tidak bisa membangkitkan jiwa kelakiannya, tapi sekarang rasa itu tiba tiba muncul mengobrak abrik iman di dadanya.
" Tidak. Aku tidak boleh memyentuhnya sebelum Diva memberikannya. " ucap Aksara beranjak bangun meninggalkan Diva, setelah Aksara menyelimuti tubuh Diva rapat.
Aksara memilih kembali ke kamar miliknya untuk membersihkan diri. Karena sejak ia sampai rumah, Aksara fokus mengurus Diva. Ia lebih baik mandi untuk menetralkan perasaan yang hadir selepas mencium Diva tadi.
Begitu selesai mandi, Aksara ingin melihat kondisi Diva, ia takut Diva masih trauma dan Kembali menangis saat terjaga sendirian.
Aksara membuka pintu dengan pelan dan menutupnya lebih pelan agar tidak terdengar dan tidak membangunkan Diva tentunya.
" Aku kalah Diva. Akulah yang kalah, karena tidak bisa mengendalikan perasaan ku untuk mencintaimu. " batin Aksara ketika Diva sudah dalam pelukan nya. Yang Aksara pikirkan saat ini, adalah sebuah perasaan untuk Diva, tanpa ia sadari, jika ia akan menyakiti hati satu wanita lagi, karena Vania sekarang ini sedang menebus dosanya untuk benar benar menjaga kesetiaan nya dan memberi waktu untuk Aksara agar bisa menyelesaikan urusannya dengan Diva.
Pagi hari matahari menyingsing, sinar matahari menembus ke wajah Diva, sehingga ia merasa silau. Perlahan ia membuka matanya, ia merasakan kehangatan dalam pelukan, tapi bukan guling.
Dengan mata yang masih sepat, ia menekan nekan dan baru ia sadari jika benda itu bukan guling, karena ia bisa merasakan hembusan nafas.
__ADS_1
Dengan terkejut ia segera bangun dan melihat tubuhnya, ia hanya memakai jubah mandi, tanpa memakai pakaian dalam satu pun. Ia melihat sekeliling ruangan, benar itu adalah kamarnya, itu tandanya ia tidak bersalah dalam tidurnya.
Diva kembali menoleh ke belakang melihat sosok orang yang tidur bersama nya.
" Aksa........ ??? " gumam Diva kaget juga tidak percaya.
Sebelum ia marah marah dan membangunkan Aksara, ia mencoba mengingat kembali kejadian semalam, dan barulah ia sadar jika semalam Aksara masuk ke kamar mandi dan memakaikan jubah mandi itu padanya.
Diva mensedakapkan kedua tangan nya di dada, merasa malu karena Aksara sempat melihatnya tanpa menggunakan satu helai benang pun.
" Aksara...... !!!! "
Diva mencoba mendorong tubuh Aksara agar menjauh darinya, dan jatuh dari ranjang. Namun naas, saat Diva mencoba mendorong tubuh Aksara, Aksara menarik tangan Diva sehingga Diva ikut serta jatuh ke bawah.
" Awu..... " keluh keduanya saat mereka mendarat sempurna di lantai dengan posisi berhadapan, kemudian Aksara memposisikan tubuh Diva berada diatas tubuhnya, sehingga Diva bisa menatap wajah tampan Aksara, yang masih terancar walau baru saja bangun tidur.
" Lepaskan Aku !!! " Diva mencoba bergerak gerak minta di lepaskan, karena Aksara justru memeluk tubuh Diva diatasnya dengan sangat kencang, sehingga Diva tidak bisa bergerak atau bahkan untuk kabur.
" Sial... kenapa dengan jantungku??. Seharusnya aku benci padanya, karena ulahnya ..aku hampir saja di perkosa. " batin Diva berperang dengan perasaan nya yang tidak bisa di ajak kompromi untuk membenci Aksara. Karena pada kenyataannya, justru debaran bagai tersengat aliran listrik lah yang Diva rasakan saat ini, saat pandangan mereka saling beradu satu sama lain, dengan posisi wajah yang sangat dekat.
__ADS_1
Bersambung......
Apa yang akan terjadi selanjutnya..... ???? Tunggu Next.. Episode Ya.... Jika dapat sepuluh Vote Minggu ini... Author janji bakal Crazy Up Sampai lima episode .... 🥰🥰🥰