Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 39 Emosi Diva


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Aksara berceloteh, namun ia tidak mendengar satu jawaban pun dari Diva. Barulah Aksara sadar jika Diva tertidur. Jadi dia berbicara panjang lebar tadi, tidak ada gunanya.


Namun Aksara justru memperlambat jalan nya, saat mengetahui jika Diva sudah tertidur.


Setengah jam Aksara menempuh perjalanan, Aksara sampai di gerbang yang langsung di sambut para asisten rumah tangga dengan panik, sampai membangunkan Diva.


Karena Diva sudah terbangun, Aksara menurunkan tubuh Diva di kursi ruang tamu dengan pelan.


Dengan lembut ia menyelonjorkan kaki Diva di kursi panjang, kemudian Aksara ikut duduk di samping Diva dan meletakan kaki Diva diatas pahanya.


Sedangkan Bik Marni menyiapkan obat untuk Diva, dan memberikan nya pada Aksara.


Aksara juga menyuruh Bik Marni untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres kaki Diva.


Semua yang tadinya panik dan mengerubungi Diva dan Aksara kini mulai kembali ke pekerjaan masing masing.


Aksara dengan serius mengurut kaki Diva, sedangkan Diva sendiri meringis menahan sakit. Namun ia tidak berteriak teriak, karena Aksara melakukan nya dengan lembut. Diva menatap wajah Aksara yang serius mengurut kaki Diva.


" Sial... Kenapa Aksara begitu tampan. " batin Diva dengan mengigit bibir atas nya.


Diva membayangkan jika Aksara memperlakukan Diva dengan sangat lembut, dan penuh kasih sayang. Ada kebahagiaan di hati Diva mendapat perlakuan itu.


Kleeek.....


" Awwwww......... !!! " teriak Diva dengan hilang nya bayang bayang tentang berandai andai nya.


" Bukan kah aku sudah memberitahukan, agar kamu menahan, karena akan sedikit sakit nanti. " kata Aksara


"Ya... Tapi Aku tidak mengira akan sesakit ini. " elak Diva walau sesungguhnya Diva tidak mendengar sama sekali Aksara memberitahunya, karena dia sibuk berkhayal, mendapat perlakuan lembut dari Aksara.


" Kamu tidak mengira..... atau kamu sibuk mengagumi ketampanan ku. Sampai kamu Kamu tidak mendengar aku berbicara tadi. " ejek Aksara pada Diva


Diva bersemu merah, karena apa yang diucapkan Aksara padanya adalah benar. Diva menatap Aksara yang juga sedang menatap dirinya,seolah menunggu jawaban dari apa yang Aksara ucap tadi.



" Aku... ??? Mengagumi mu ??? Musatahil... !!! " ucap Diva gugup.

__ADS_1


Saking malu nya, Diva berencana untuk pergi ke kamar, namun naas kakinya ternyata masih sakit saat ia menapakan di lantai, dan ia gunakan jalan.


" Aw....... "


Hilang sudah keseimbangan Diva, ia mulai goyang dan kembali jatuh, dan akan terjengkal ke belakang. Namun beruntung ada Aksara yang menahan tubuh kecil nya. Sehingga Diva berada dalam pelukan Aksara, namun posisi Diva memunggungi Aksara.


" Sebaiknya kaki mu dikompres air hangat dulu supaya tidak kaku,dan lentur kembali. " ucap Aksara di telinga Diva, membuat Diva meremang merasakan sesuatu yang berbeda. Dia pun menjadi kikuk, dan ingin melepaskan pegangan Aksara, namun Aksara tidak melepaskan.


Aksara membimbing Diva, dan menyuruh untuk duduk selonjor, terpaksa Diva pun menyetujui karena kakinya juga masih sakit.


Aksara mengompres dengan air hangat yang di ambilkan Bik Marni tadi. Kaki Diva menjadi lebih nyaman.


" Bagaimana ?? Apa masih sakit ?? " tanya Aksara setelah beberapa waktu tidak ada perbincangan. Karena Aksara pun tidak mengajak berdebat seperti sebelumnya, jadi Diva pun juga diam saja, ketika Aksara terus mengompres dengan air hangat.


" Ya.. Sekarang lebih baik. " kata Diva dengan ingin menurunkan kakinya ke lantai.


Diva Beranjak bangun dengan pelan pelan tidak seperti tadi. Di bantu Aksara yang ikut membimbing nya, keduanya saling berdekatan seperti berpelukan.


Karena Aksara tidak sabar menunggu Diva yang terus berhenti dari satu tangga ke tangga yang lain, karena posisi kamar mereka di lantai dua. Aksara pun mengangkat tubuh Diva tanpa permisi, dan membopongnya seperti bayi.


" Aaa..... Aksara, Aku bisa sendiri. Turunkan aku !!! " Diva terkejut dengan kelakuan Aksara, Diva merasa sangat tidak nyaman dengan posisi ini, karena ia wajah mereka sangat dekat.


" Tapi aku bisa jalan sendiri. " kata Diva ngeyel


" Hmmm... Baiklah. Naiklah sendiri, karena aku tidak sabar menunggu mu menaiki tangga, maka berjalanlah sendiri. " kata Aksara menurunkan Diva


Aksara berjalan lebih dahulu meninggalkan Diva. Sampai di lantai atas, Aksara berbalik. Di lihat Diva justru duduk di tangga seperti anak kecil, dengan memegang kakinya.


" Ckkkk...... "


Aksara berdecak, kemudian ia kembali turun.


" Kenapa kamu selalu saja merepotkan hidupku Diva." kata Aksara dengan tanpa permisi mengambil tubuh Diva tanpa permisi lagi.


" Tapi ini semua karena kamu. " Diva protes dengan ucapan Aksara.


Aksara menatap Diva dengan menautkan alisnya, mencari jawaban kenapa menyalahkan saya.

__ADS_1


" Tentu saja karena kamu. Hari ini harusnya aku berjalan jalan dengan Deandra dan William, harusnya aku tidak ikut lari pagi dengan mu, bahkan aku tidak akan jatuh, jika kamu tidak terus memaksaku berlari. Kamu juga tidak mengijinkan aku memakai sepatu, jadi kaki ku sampai cidera. " cerocos Diva memarahi Aksara


" Baiklah Nona Diva, kali ini saya minta maaf. Jadi beristirahat lah dengan tenang. Sebentar lagi Alex akan datang mengantarkan obat pereda nyeri. " kata Aksara dengan menaruhnya di ranjang kamarnya, karena ia sudah sampai kamar Diva.


" Obat ???" gumam Diva, ia mengingat kembali msa masa minum obat harus perlu ciuman Aksara terlebih dahulu.


" Tidak.... Aku tidak mau minum obat. " ucap Diva ketakutan


Aksara menatap Diva dan menautkan alis. Kemudian Aksara Kembali menggoda Diva.


" Kamu tidak mau minum obat?? Atau kamu memang sengaja ingin terus di perhatikan oleh ku?? " ujar Aksara dengan sedikit nada mengejek.


" Pergilah... Aku juga tidak sudi menerima perlakuan baikmu. " kata Diva


" Tapi tunggu,, kamu harus memenuhi janjimu membelikan aku sedal jepit Dior seratus pasang. Ingat... SERATUS PASANG. Jangan pura pura lupa, oke." kata Aksara semangat


Aksara hanya tersenyum tipis, mendengar penuturan Diva.


" Tenang saja, Alex sudah membawanya kemari bersama obat itu. " kata Aksara


" Benarkah ??? " tanya Diva tak percaya juga curiga. Mana mungkin sendal Dior bisa di dapatkan tanpa PO terlebih dahulu juga dalam jumlah yang sangat banyak.


" Tunggu saja. " jawab Aksara.


Benar saja tak berapa lama kamar Diva di ketuk oleh seseorang dari luar.


" Masuk. " jawab Aksara


Alex masuk dengan membawa satu plastik kecil berisi salep. Namun ia juga membawa satu kresek penuh namun terlihat ringan karena ia hanya membawa dengan satu tangan saja.


" Ini keperluan Anda, Tuan. " ucap Alex


Aksara pun menyerahkan obat juga satu kantong kresek itu kepada Diva. Sedangkan Diva melongo menatap barang yang di berikan Aksara dengan menelisik isi dari kresek itu.


Diva mengobrak abrik isi kantong kresek itu, setelah Ia berhasil membuka kantong kresek itu. Diva mengeluarkan satu persatu isi dari dalam kresek.


Bersambung........

__ADS_1


Dukung Karya Author dengan cara Like, Komen, Gift, juga Vote.... 😘😘. Setangkai mawar pun Author sudah bahagia, jika kalian tidak rela memberikan secangkir kopinya 🙈🙈🤭🤭🥰🥰


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2