Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 57 Teman atau Musuh


__ADS_3

Jangan Lupa layangkan Vote mingguan Kalian Ya... Hari Senin Vote baru,, dari pada mubazir buat Author aja 😀😀😀 Biar Encer dapat idenya...🥰🥰🥰


" Perkenalkan Saya Emyra Nona. Tuan Aksara memberi tugas pada saya, untuk menjadi sopir Pribadi, sekaligus Asisten anda Nona. " jawab Emyra hormat


Diva menatap seksama wajah Emyra, Cantik seperti nya memang cekatan, tapi tetap saja tidak bisa diandalkan seperti Wiliam pastinya' begitu dalam pikiran Diva. Namun tak ingin melukai hati gadis itu, Diva tersenyum dan mengangguk angguk.


Diva pikir pagi ini ia di tinggal Aksara, dan akan berakhir pesan taxi online. Tapi ternyata Aksara sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


Ternyata Aksara memang benar benar berubah. Dan Perubahan itu membuat Diva tersenyum senyum sendiri.


" Apa kamu membawa mobil ?? " tanya Diva bodoh, karena memang ia tidak mempunyai mobil. Mobil pribadi nya sudah di hadiahkan pada Wiliam oleh Tuan Arsyad.


" Tidak Nona. Saya akan mengantar dengan mobil Anda. " jawab Emyra


" Tapi aku tidak punya mobil. " jawab Diva, menatap Emyra dengan senyum kaku.


" Tuan Aksara sudah membelikan mobil baru, di halaman Nona. " jawab Emyra masih dengan nada halus, tanpa ada rasa jengkel pun meladeni kata kata bodoh Diva.


" Iyakah ?? " jawab Diva manggut manggut dengan menyuap nasi goreng ke mulutnya, namun di menit berikutnya ia tersedak makanan.


Dengan sigap Emyra memberikan gelas berisi air putih yang langsung di terima oleh Diva dan di minum hingga tandas.


" Aksara membelikan Aku mobil baru, katamu ?? " Diva mengulang perkataan Emyra guna menyakinkan.


" Benar Nona. " jawab Emyra heran, kenapa dengan majikan wanitanya itu.


Diva benar benar di buat surprise dengan tingkah Aksara. Pertama memberikan sopir, dan sekarang Diva di belikan mobil sendiri, sehingga ia tidak perlu menunggu antar jemput dari Aksara lagi.


Begitu sampai di halaman, Diva menatap mobil Mercedes Benz yang sudah terparkir di sana.

__ADS_1


" Ya... boleh lah. " kata Diva menatap mobil itu, Kemudian masuk, setelah Emyra membukakan pintunya.


Di sepanjang perjalanan tak ada percakapan, baik Diva maupun Emyra. Jika di lihat dari gaya mengendarai mobil, Emyra memang bisa diandalkan. Yang Diva pikirkan, dari mana Aksara mendapatkan gadis seperti itu, untuk menjadi sopirnya. Penampilan layaknya Pria, dengan rambut seperti Pria pula. Namun setelah di lihat seksama, Diva tahu jika ia hanya menggunakan wik atau rambut pasangan saja.


Sampai di kantor, Diva sudah di tunggu dengan banyak laporan pekerjaan yang ia tinggalkan kemarin. Dia mulai berkutat dengan berkas berkas yang sudah di serahkan oleh sekretaris nya untuk di lihat.


Diva memberikan beberapa map pada Emyra untuk di pelajari, namun sayangnya Emyra tersenyum kaku, dan seolah menolak tugasnya.


" Kenapa dengan mu ?? " tanya Diva curiga


" Sebenarnya, saya tidak tahu dunia bisnis Nona. Saya hanya menjadi sopir dan asisten yang membantu keperluan Nona saja, bukan pekerjaan Nona. " jawab Emyra jujur


Diva mengerutkan keningnya, apa yang ia pikirkan ternyata benar, memang dia tidak bisa diandalkan seperti Wiliam. Namun Diva lagi lagi hanya bisa tersenyum agar tidak melukai hati Emyra.


" Baiklah jika begitu. Kamu bisa menungguku di pantry. Jika butuh sesuatu aku akan memanggil mu. " jawab Diva kasihan, membiarkan Emyra yang sejak tadi berdiri, karena tidak mau duduk.


" Tidak Nona. Tuan Aksara meminta saya untuk mengawasi dan selalu melindungi Nona. " jawab Emyra


" Aku tidak akan memberitahukan Aksa, istirahat lah di pantry. " kata Diva menambahkan


" Tidak Nona, terima kasih. Saya akan berdiri di sini tanpa menganggu aktivitas Anda. " jawab Emyra kekeh pada pendiriannya, berdiri di samping tembok ruangan nya.


Diva membuang nafas kasar, tidak hanya yang memerintah yang menyebalkan, karena anak buahnya pun sama menyebalkan. Diva tak habis pikir, apa yang membuat Emyra sepatuh itu pada Aksara, padahal Aksara tidak akan mengetahuinya. Dan juga dari mana Aksara mendapatkan anak buah seperti itu.


" Lupakan tentang itu. Yang terpenting adalah mempersiapkan menyambut Tuan Richard Maurer. " batin Diva, karena sekretaris nya sudah memberitahukan jika akan ada investor yang akan berkunjung ke Perusahaan nya pagi ini.


Benar saja, tak berselang lama Tuan Richard datang. Diva pun menyambut kedatangan Tuan Richard dengan ramah dan senyuman tulus.


Mereka saling berjabat tangan untuk berkenalan, karena mereka baru bertemu untuk yang pertama kali.

__ADS_1


" Ehemt..... " Emyra berdehem seolah mengisyaratkan untuk mereka saling melepaskan tangan, karena terlihat Tuan Richard mengagumi Diva.


Tuan Richard melihat Emyra dengan pandangan tak suka, kemudian melepaskan tangan Diva. Pun dengan Diva, ia sangat tidak enak dengan Tuan Richard karena Emyra memperlihatkan wajah datar, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.


Tak berselang lama di sela percakapan mereka, Diva mendapat sebuah panggilan telepon.


" My Hubby ?? " batin Diva membaca ponselnya, ia bingung, karena selama ini tidak pernah menamai seseorang dalam ponselnya dengan nama ' My Hubby '. Karena merasa tidak tahu siapa, Diva mengabaikan panggilan itu.


Mungkin sudah keempat kalinya panggilan itu berdering, tanpa di jawab, akhirnya panggilan itu berhenti. Walau Tuan Richard sudah menyuruh mengangkat, namun Diva menyangkal jika panggilan itu tidak terlalu penting.


Hampir dua puluh menit mereka terjebak dalam perbincangan bisnis. Dan Emyra masih di tempatnya mengawasi pergerakan dari keduanya, jika ada suatu yang berbeda dari Tuan Richard yang mengarah pembicaraan tentang kekaguman nya dengan Diva, Emyra tak segan untuk berdehem lebih keras agar di dengar.


Diva melihat pintu ruangan nya terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Ia terlihat sangat terkejut, dengan kedatangan Aksara untuk pertama kalinya datang ke ruangannya.


" Aksa ?? " gumam Diva dengan arah mata kepada hadirnya Aksara, yang dengan percaya dirinya masuk begitu saja dan mendekati keduanya.


" Oh Tuan Aksa ??? " sapa Richard dengan hangat dan mengangkat tangan nya untuk berjabat.


Aksara pun menjabat uluran tangan Tuan Richard. Walau ada perasaan sesak di dada padanya karena cemburu, ia tetap menghormati. Karena bagaimana pun Tuan Richard adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis.


" Sayang, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan ku?? " tanya Aksara begitu sejajar dengan Diva, dan dengan tidak tahu malunya ia mengecup bibir Diva, seolah memperlihatkan Diva adalah istrinya.


" Ah... itu... Aku memutuskan akan menghubungi mu nanti. " jawab Diva gugup. Sebenarnya ia tidak tahu, jika yang melakukan panggilan adalah Aksara.


" Senang Anda dapat berkunjung ke Perusahaan istri saya Tuan Richard Maurer. " sapa Aksara pada Tuan Richard. Namun dengan pandangan senyum yang sulit diartikan, entah senyum baik, atau senyum permusuhan.


" Ternyata Nona Diva istri Anda Tuan Pratama ?? " jawab Richard yang langsung menyebutkan nama kebesaran keluarga dan bukan nama panggilan lagi.


" Sayang Saya tidak bisa hadir waktu itu. " jawab Richard, dengan senyum dan biasa saja. Ia tetap tenang, tidak ada rasa emosi yang ia perlihatkan.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2