Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 60 Ania dan Arya Berkunjung


__ADS_3

#3


Setelah sedikit mengeluarkan isi hatinya, Aksara langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Diva menatap coffe yang di pegang oleh Alex juga oleh Emyra.


" Kenapa kamu tidak bilang, jika kamu sempat menolak saat aku menawarimu ?? " teriak Diva, saking sesak dadanya Diva mengeluarkan air mata, karena lagi lagi Aksara mengeluarkan kata kata menyakitkan lagi.


Diva mengikuti masuk ke rumah dan menaiki tangga sedikit berlari, ia perlu bicara pada Aksara. Diva membuka pintu kamar, terlihat Aksara sudah melepaskan jasnya dan ia mulai membuka kemejanya. Dada Diva yang semula panas ingin membalas kata kata kasar Aksara, kini sedikit malu melihat Aksara yang sekarang tinggal mengenakan celana boxer pendek.


Aksara pun mengambil handuk, dan membuka kamar mandi.


Diva menata hatinya, ia hanya diam melihat pintu kamar mandi tertutup kembali, ketika Aksara masuk ke dalam kamar mandi.


" Ayo Diva, kamu jangan lemah melihat dirinya. Kamu harus menunjukan sisi kuatmu, dan marah padanya, agar dia berhenti menyakitimu. " gumam Diva pada dirinya sendiri, yang sedang membicarakan Aksara.


" Tapi jika dia tambah marah bagaimana? Jika Aksara meninggalkan aku bagaimana?? " Diva kembali bimbang.


" Tidak... Tidak... !! Aksara tidak boleh membenciku. Aku tidak mau menjadi janda, dan bagaimana jika aku hamil ?? Aku tidak mau anak ku tidak mempunyai ayah. " Diva semakin ketakutan,karena mengingat perjanjian Aksara dengan Vania dalam satu tahun akan menceraikan dirinya.


" Maafkan aku Vania, kali ini aku tidak akan membiarkan Aksara kembali padamu, karena Aksara harus bertanggung jawab, karena Aksara sudah merenggut kesucian ku, dan aku tidak mau menjadi janda, karena aku akui aku sudah jatuh cinta pada Aksara. " batin Diva dengan duduk di sisi ranjang.


Lama Diva melamun, bagaimana cara membuat Aksara tidak marah padanya, pintu kamar mandi terbuka, dan Aksara keluar hanya dengan menggunakan handuk yang hanya melilitnya di pinggang.


Entah di sengaja atau tidak, Aksara bersikap biasa saja, bahkan ia mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum berganti pakaian. Diva masih ******* ***** kedua tangan nya yang saling bertautan, ingin membuka mulut, namun bibirnya tertutup rapat, enggan untuk terbuka.


Begitu selesai berganti pakaian, Aksara ingin keluar dari kamar.


" Aksara.. Aku ingin bicara. " kata Diva kemudian, Aksara berhenti tanpa membalik badan.


" Katakan !! " jawab Aksara masih membelakangi Diva


" Apa kamu marah padaku?? " tanya Diva ragu ragu


" Kamu tanyakan saja pada dirimu sendiri, bagaimana menurutmu. " jawab Aksara kemudian membuka pintu dan menutup kembali setelah keluar

__ADS_1


" Bagaimana ini?? " gumam Diva.


Diva pun membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum meminta maaf pada Aksara. Bagaimana pun ia tidak mau Aksara melepaskan dirinya, setelah ia mengambil untung.


Diva memakai sweater panjang, dan bermake-up tipis. Tak lupa ia memakai sedikit parfum di leher dan telapak tangan nya.


Diva berencana menyusul Aksara ke dalam ruang kerjanya. Diva ingin mengetuk pintu, namun ia urungkan niatnya, ia berencana ingin membuatkan susu hangat untuk Aksara terlebih dahulu.


Diva pun menuruni tangga menuju dapur untuk membuatkan susu terlebih dahulu. Dan kembali naik dengan membawa satu cangkir susu hangat yang sengaja ia buat.


" Tok..... tok... "


Diva mengetuk pintu kerja Aksara, namun tak mendapat jawaban, Diva membuka sedikit pintu nya dan melongok kan kepalanya melihat ke dalam. Terlihat Aksara sedang serius menatap layar laptop miliknya di meja kerja.


" Aksa... Aku membuatkan susu hangat untukmu. " kata Diva, namun Aksara masih diam saja, tanpa menjawab Diva, Aksara bahkan sama sekali tidak manatap wajah Diva.


Diva menggigit bibir bawahnya, ia bingung bagaimana cara membuat Aksara menjawab ucapannya. Munculah ide agar Aksara mau luluh padanya. Diva melakukan jurus andalan pamungkasnya.


Dengan menata jantungnya yang berdegup kencang, Diva dengan beraninya tiba tiba duduk di pangkuan Aksara yang sedang serius menatap layar laptop.



Namun ternyata Aksara sama sekali tidak mendorongnya, karena pada dasarnya, Aksara berharap Diva melakukan ini padanya. Aksara berharap Diva meminta maaf, walau Aksara juga mengakui, sebenarnya dirinya juga bersalah.


" Ada beberapa masalah dengan laporan ini. " jawab Aksara, mulai mau menjawab pertanyaan Diva.


Diva pun mendengar penjelas penjelasan Aksara dengan meneguk sedikit demi sedikit susu yang seharusnya ia buat untuk Aksara, namun nyatanya susu itu ia minum sendiri hingga habis, karena Aksara serius dengan laporan.


" Berikan susunya. " pinta Aksara sengaja, melihat gelas cangkir milik Diva kosong.


" Sudah habis. " jawab Diva dengan tersenyum semanis mungkin, agar tidak di marahi oleh Aksara.


" Katakan padaku. Bagaimana kamu akan mengganti susu itu. " tanya Aksara dengan memeluk tubuh Diva yang berada di pangkuannya.

__ADS_1


" Aku akan membuat lagi. " jawab Diva dengan mencoba berdiri, namun Aksara sudah memeluk tubuhnya erat sehingga ia tidak bisa berdiri.


" Aku tidak bisa menunggu lama. " jawab Aksara dengan senyuman.


" Aku akan membuatnya cepat. " kata Diva menatap mata Aksara yang memancarkan sebuah cinta untuk nya.


" E.....e...e... " kata Aksara menggeleng kepalanya.


" Aku akan meminum sisa di bibirmu saja. " jawab Aksara dengan memiringkan wajahnya dan mencium bibir Diva.


Diva pun membalas mengalungkan kedua tangan nya yang satu masih memegang cangkir kosong itu.


Diva membalas ciuman Aksara dan membalas lembut, membuat Aksara semangat membalasnya dan ciuman itu kini berubah sebuah tuntutan yang menginginkan lebih dari itu, karena Aksara sudah memasukan telapak tangannya ke dalam sweater milik Diva.


" Tok.... tok..... "


Saking panas api asmara yang membakar tubuh mereka, tidak di hiraukan ketukan pintu yang terdengar berulang ulang itu.


Dan bodohnya, dengan beraninya Bik Marni membuka pintu ruang kerja Aksara, sehingga keduanya menghentikan aktivitas panas mereka, dan menatap Bik Marni yang kikuk karena telah lancang membuka pintu, tanpa jawaban persetujuan terlebih dahulu dari mereka.


Diva semula ingin pindah dari posisi duduk di pangkuan Aksara, namun Aksara masih memeluk erat tubuh Diva, sehingga Diva hanya bisa tersenyum kaku melihat Bik Marni, karena malu sudah tertangkap basah oleh pembantunya. Walau sudah sah suami istri, namun Diva yang tidak suka mengumbar kemesraan di publik dan di umum, merasa sangat canggung.


Terlihat raut wajah jengkel di wajah Aksara. Bagaimana tidak, berani sekali pembantunya memadamkan tiba tiba api asmara yang sempat berkobar dan bergejolak.


" Itu Tuan, Maaf !! Non Ania memaksa saya untuk memanggil Anda, karena ingin bertemu dengan Anda. Sangat penting katanya, Tuan. " kata Bik Marni takut takut karena melihat aura dingin di wajah Aksara.


" Iya Bik. Terima kasih. " jawab Diva ramah, karena ia bisa melihat jika sorot mata Bik Marni sangat ketakutan sudah memergoki mereka.


" Baik Non. Saya permisi turun dulu. " kata Bikarni dengan segera menutup pintu kamar ruangan tersebut.


Bersambung.........


Tinggalkan Like,Komen,Gift dan Vote adalah bentuk Motivasi untuk Author ❤️❤️❤️.

__ADS_1


Follow Author@Shanyu


__ADS_2