
" Kita akan membuat sampai hamil. " jawab Aksara mantap
" Dan jika aku tetap tidak bisa hamil. Atau jika selamanya aku tidak bisa melahirkan anak perempuan, apa yang akan kamu lakukan. " cecar Diva
" Sudah aku katakan, dan jawaban akan tetap sama. Kita akan membuat sampai bisa. Dan jika kamu tetap tidak bisa hamil, itu tandanya Tuhan menyuruh kita agar lebih rajin membuatnya. Mungkin bisa sehari tiga kali seperti minum obat. " jawab Aksara serius namun dengan senyuman, sehingga terlihat bercanda
" Gillla !! " ketus Diva melanjutkan aksi makan nya, dengan menyendok nasi lauk sayur sayuran, dan hanya sedikit rendang daging sapi
Diva melahap makanan itu, setelah perutnya sedikit terisi makanan, otak nya mulai sedikit bekerja, sehingga munculah sedikit ide untuk mengerjai suaminya.
" Aksa.... " panggil Diva dengan pandangan menyendokan nasi di sendok. Kemudian menatap Aksara yang juga sedang menatap dirinya, menunggu Diva berucap, karena tadi memanggil namanya.
" Bukankah jika menanam sesuatu, harus terjamin bibitnya, tidak hanya tergantung dari lahan nya. " kata Diva memenuhi sendok yang akan di suap.
Aksara mengerutkan kening nya, mencium bau bau kelicikan di wajah Diva.
" Jadiiiii..... Kamu juga harus mempersiapkan diri, agar punya bibit yang unggul. Kata Diva sembari melebarkan matanya dan senyum dibuat selebarnya, tangan nya mengarahkan sendok berisi nasi penuh dengan sayuran dan sedikit nasi agar di makan oleh Aksara.
Karena Aksara hanya menatap Diva, tanpa membuka mulutnya, Diva mulai sinis.
" Makan yang banyak ! Agar tercipta benih yang unggul. " kata Diva lagi.
Aksara masih belum membuka mulutnya, ingin menyangkal, namun Diva sudah mendahului bicara kembali.
__ADS_1
" Makan !!! " sinis Diva karena Aksara tak kunjung membuka mulutnya, ingin menjawab namun begitu bibirnya sedikit terbuka, Diva langsung memasukan sendok berisi nasi penuh sayur itu ke mulut Aksara.
" Buka yang lebar ! " kata Diva karena mulut Aksara hanya terbuka sedikit.
Akhirnya Aksaralah yang memakan nasi itu, karena Diva lebih galak dari Aksara, dan karena baru separuh Aksara memakan nya, Diva meletakan piring sisa makanan itu di pangkuan Aksara.
" Habiskan, agar lebih terjamin bibit, bebet dan bobot nya. Aku mau makan yang lebih bergizi dari sayuran yang bervitamin mu. " ketus Diva sambil beranjak bangun dari duduknya.
" Enak saja, aku disuruh makan sayuran, lalu siapa yang akan makan rendang daging request ku semalam. Pelit sekali menghidupi istri. " gerutu Diva sambil berjalan keluar kamar, namun masih bisa di dengar oleh Aksara.
Aksara tersenyum melihat Diva sudah bisa marah marah, dan seperti tidak terjadi sesuatu yang mengguncang hatinya. Itu berarti Diva sudah bisa menerima kejadian pagi dan siang ini.
Aksara berpikir, tubuh Diva yang kurus itu, sangat takut makan daging atau makan makanan yang berlemak. Sehingga ia walau tahu di meja tahu ada rendang daging, sop iga sapi, sambal, tidak mengambilnya. Ia justru mengambil sayur bayam, dan mengambil kan sedikit rendang daging, karena takut Diva menolak atau tidak makan rendang daging.
Terlihat Diva sudah menaruh nasi di piring dengan porsi sedang, hanya saja ia masih sibuk menyendok sayur sop ke mangkuk dalam jumlah yang banyak. Tak lupa ia menaruh rendang daging di piring nya dalam jumlah yang banyak, dan masih di tambah sambal di sisi nasi nya.
Diva kembali duduk bersiap menyantap nasi yang sudah tersedia, tak lupa ia berkomat kamit dengan menutup matanya seperti sedang berdoa, namun hanya sebentar karena sekarang Diva sudah membuka matanya dan mulai menyendok nasi ke dalam mulutnya.
" Mari makan Bik !! " sapa Diva riang ketika melihat Bik Marni baru terlihat masuk dari halaman belakang masuk ke dapur.
" Eh... Iya Non. Terima kasih. Kenapa tidak mencari saya dulu Non, kan saya bisa hangat kan dulu sayur dan rendangnya. " kata bik Marni tak enak hati melihat majikanya makan dengan lauk dan sayur dingin
" Tidak apa apa bik. Tenang saja, selama sayurnya tidak basi,, masuuuukkkk. " kata Diva riang dan sibuk menyendok nasi ke mulutnya dengan lahap, membuat bik Marni tertawa.
__ADS_1
" Perutku tidak pilih pilih, harus hangat, harus dingin. Yang penting enak aja. Dan beruntung nya , masakan bik Marni pas dengan selera saya. " puji Diva membuat bik Marni semakin lega
Aksara yang sejak tadi melihat Diva dari tangga tersenyum, ia begitu mengagumi Diva, jauh dari pikiran sebelumnya, Diva seorang artis papan atas. Pasti makan saja harus di jaga, pakaian harus bermerek, aksesoris harus sesuai tren, dan pasti make up juga perawatan full. Belum lagi sikapnya pasti hanya pencitraan, sebenarnya seorang yang angkuh dan tak menghargai orang di bawah kedudukan nya. Tapi ternyata, itu hanya pikiran buruk saja. Karena semakin ia mengenal Diva, keburukan itu satu pun tidak ada yang nampak. Yang terlihat justru sebuah rasa hangat pada semua asisten rumah tangga nya. Bahkan kehangatan itu melebihi rasa yang Aksara ciptakan. Diva sangat menghargai orang lain, dan itu nyata bukan sebuah pencitraan, di depan layar, atau di belakang layar masih tetap sama.
" Bik, tolong ambilkan piring bekas di kamar Diva ya. " perintah Aksara ketika sudah ada di dekat meja makan, namun kehadiran nya tidak di sadari oleh Diva maupun bik Marni, karena mereka sibuk bercerita panjang lebar.
" Baik Den. " kata bik Marni dengan berdiri dari duduknya karena saat ini Diva dan bik Marni duduk bersampingan
" Kenapa tak di bawa sekalian. Menyuruh orang tua, tak kasihan !! " kata Diva mengejek Aksara.
" Tidak apa apa Non. Saya justru senang masih di butuhkan. " kata bik Marni tak enak. Ia takut jika Diva dan Aksara terlibat cek cok seperti dulu dulu.
Aksara menurunkan pipinya seakan memperlihatkan jika bik Marni saja senang.
Diva sibuk makan tanpa menggubris atau menawarkan makanan pada Aksara. Seakan takut makanan nya di rebut Aksara, ia semakin banyak banyak memasukan nasi juga lauk ke dalam mulutnya, sehingga mulutnya terlihat penuh.
" Pelan pelan. Aku tidak akan merebut nya. " kata Aksara sembari membersihkan sudut bibir Diva yang ada sedikit kotoran bumbu rendang, seketika Diva menghentikan aksi mengunyahnya, dan menatap Aksara.
" Aku hanya membantu membersihkan sudut bibir mu yang kotor. " jawab Aksara santai, membuat Diva mengangguk dan kembali menyuapkan nasi ke mulutnya, namun kali ini tidak sebanyak tadi, karena entah kenapa, dengan perlakuan hangat Aksara membuat jantung Diva senam berirama namun tidak teratur.
Diva menatap sedikit ke arah Aksara, takut perlakuan Aksara berubah kembali. Seperti dahulu, semenit manis, tapi di menit berikutnya berubah dingin.
Bersambung........
__ADS_1
Satu......