Aksara Diva

Aksara Diva
Bab. 33 Berdebat


__ADS_3

" Divaaa !!!! " untuk kesekian kali nya Bik Marni membentak dengan sangat keras, setelah mencoba cara nya mengejutkan Diva tidak berhasil.


" Gimana Non... ?? " Bik Marni ikut penasaran.


Lagi lagi Diva menggoyangkan telapak tangan menandakan belum tertelan. Padahal ia sudah menghabiskan hampir satu botol air putih.


Diva memberi isyarat agar membentak lebih keras, supaya Diva terkejut dengan bahasa tangan. Karena mulut nya sudah menahan pahit pengaruh obat itu. Terlihat Diva meringis bahkan sekarang hampir muntah .


" Divaaa. !!!! "


Kali ini Bik Marni mengeluarkan seluruh tenaganya, untuk membentak Diva.


Kebetulan Aksara yang sudah selesai mandi, ingin melihat kondisi Diva. Namun alangkah terkejutnya Aksara begitu membuka pintu, ia mendengar sang asisten rumah tangga nya membentak Diva dengan sangat keras dan nada tinggi.


" Bik.... Apa maksud Bibik berbicara kasar seperti itu. " ucap Aksara mendekati Diva, ia sangat tidak terima jika Diva di bentak, hanya saja ia tidak mau Diva besar kepala jika terang terangan membela dia.


" Glekkkk "


Terlihat raut wajah marah yang bisa di lihat Bik Marni. Karena Diva duduk di sofa, dan membelakangi tubuh Aksa ia tidak bisa melihat wajah marah Aksa.


" A...... Bik Marni,, Kamu berhasil. !!! " teriak Diva senang, saking senang nya ia berhambur memeluk tubuh Bik Marni.


Sedangkan Bik Marni masih menatap Aksara, hanya bisa tersenyum kaku.


" Terima kasih ya Bik, sudah mau membantuku minum obat. " ucap Diva.


Walau sesungguhnya, Diva bisa minum obat nya begitu mendengar suara Aksara, sedang menegur Bik Marni tadi.


Aksara mengerutkan kening nya, karena apa yang ia lihat, tidak sesuai dengan fakta nya. Ia sedikit mengerti kenapa Bik Marni tadi membentak Diva.


" Ini Den, Non Diva menyuruh saya untuk mengagetkan, supaya bisa menelan obat. Tapi hampir satu botol air minum tidak bisa tertelan. Makanya di ganti dengan di bentak. " terang Bik Marni


" Aduh ... Kenapa juga sih Bik, harus di jelaskan habis satu botol air minum. " batin Diva malu.


" Pfftt....... "


Aksara menahan tawa mendengar Bik Marni menerangkan Diva menghabiskan satu botol air minum. Dan Aksara melihat di meja memang ada botol besar kosong.


" Lain kali, jika mau minum obat bawa galon nya Bik, kalo memang masih kurang. " ejek Aksara

__ADS_1


" Memang kenapa ?? Aku juga berencana menaruh galon di kamar. Minum air putih itu sehat. " Diva membela diri. Walau sebenarnya ia sangat malu, satu botol itu berisi air sekitar dua liter jika penuh.


!" Kamu mau membantuku minum obat kan. Aku sudah minum obat, sekarang keluarlah. " pinta Diva


" Percaya diri sekali kamu. Kamu sangat berharap aku membantu mu. " jawab Aksara


" Aku hanya lewat tadi, tapi Aku dengar Bik Marni berteriak dengan sangat keras, makanya Aku lihat. " imbuh Aksara masih mengelak.


Diva sangat malu lagi, mendengar jawaban Aksara lagi lagi mempermalukan diri nya lagi.


" Saya Permisi Non, Den. "


Ucap Bik Marni setelah membereskan makanan yang tadi di makan Diva. Bik Marni pun keluar kamar, tapi tidak dengan Aksara, ia masih berdiri di dekat Diva.


" Apa ??? Pergilah, Aku mau istirahat. " bersiap membalik badan dan duduk kembali di sofa untuk mengeringkan rambutnya lagi.


Srettt.......


Cup.......


Lagi lagi Diva di kecup bibirnya oleh Aksara, dan Diva hanya diam mematung, karena tidak ada kesiapan untuk di cium.


Begitu pintu tertutup, Diva menyentuh bibir nya lagi. Kini otak nya mulai tersadar.


" Aaaaaa.............. "


Diva mengacak rambutnya yang masih kusut karena belum di sisir.


" Aku sudah minum obat di cium, Aku belum minum obat juga di cium. Aku benci Obatttt !!! " maki Diva pada diri nya sendiri, lagi lagi di cium Aksara.


Aksara masuk kembali ke kamarnya. Ia juga menyentuh bibir nya. Aksara sendiri juga bingung, kenapa setiap melihat Diva, selalu terbesit untuk mengecup bibir Diva. Seolah bibir Diva sudah membuat candu bagi Aksara.


" Tunggu.... Kenapa aku seperti ini. "


Aksara mulai menyadarkan diri nya, jika ia tidak mau menikah serius dengan Diva. Aksara berpikir, Diva tidak akan mampu merawat anak anaknya kelak. Sikap Diva yang belum dewasa dan masih ke kanak kanakan, membuat Aksara tidak mau melanjutkan pernikahan serius dengan Diva.


Karena pada dasarnya Aksara menyukai wanita yang mandiri, dewasa, dan lemah lembut. Tidak seperti Diva yang suka emosi, kasar dan selalu berteriak teriak.


" Tidak... Aku harus menjauh dari nya. Jika tidak aku takut akan menumbuhkan perasaan untuk ku. " batin Aksara

__ADS_1


Aksara mulai menyibukan diri di ruang kerja. Ia tidak mau terlalu memikirkan Diva, yang bisa menggoyahkan pendirian nya.


Aksara bangun pagi, ia sudah rapi dengan setelan jas, dan bersiap ke kantor. Ia keluar kamar, dan begitu menutup pintu, ia melihat pintu Diva yang karena kamar mereka berhadapan.


Ia meraih gagang pintu kamar Diva, yang ternyata tidak terkunci.


" Bodoh... selain bodoh dia juga ceroboh. " batin Aksara mendapati pintu Diva tidak terkunci.


Aksara melihat tubuh Diva masih terbungkus selimut tebal, karena ia menyalakan ac yang cukup dingin. Aksara meraih gagang remot ac lalu mematikan. ia meletakan kembali remot itu ke nakas dengan sedikit kencang agar Diva terbangun. Tapi jangankan bangun, membuka matanya pun tidak. Ia seperti putri pangeran yang sedang tertidur pulas. tidak perduli akan bangun, jika tidak di cium sang Pangeran.


Srttttt.......


Aksara menarik selimut Diva kasar, hingga menimbulkan pergerakan Diva. Dengan perlahan Diva membuka mata nya dengan malas.


" Bangun Pemalas !!! " bentak Aksara


" Aku masih sakit. Aku tidak masuk kerja. " jawab Diva dengan masih malas


" Benarkah ??? Aku tidak melihat raut wajah pucat di wajah mu !! Bangun jangan jadi wanita pemalas. Lihatlah, kamu hanya mengandalkan tubuh dan wajahmu untuk mencari uang, hanya membuatmu jadi pemalas. Gunakan otak mu untuk bekerja, tunjukan otak yang kamu banggakan berkuliah di Stanford itu padaku. " ungkap Aksara


" Hei.... Aku bahkan sudah mengalahkan Perusahaan mu. " bela Diva


" Kamu pikir, Jika aku tidak mengalah, kamu mampu mengungguli ku. Mimpi. "


" Jika hanya mengandalkan otak dangkalmu, mana bisa kamu bersaing dengan Perusahaan ku. Kamu bahkan tidak tahu ada perusahaan ilegal yang berusaha menjatuhkan mu bukan. "


" Cepat,, bersihkan dirimu. Setengah jam tidak turun, aku akan meninggalkan mu. " ucap Aksara berbalik


" Aku akan memerintah Wiliam. Kamu duluan saja. " jawab Diva


" Wiliam ke Singapura. Cepat, dua puluh menit, aku menunggumu. " kata Aksara


Diva mengingat jika Wiliam memang ada pertemuan di Singapura.


" Kenapa berkurang, tadi setengah jam. " Diva menyangkal


" Lima belas menit, atau kamu akan naik taxi dengan berjalan kaki terlebih dahulu. " kata Aksara


" Iya ... Aku bangun. "

__ADS_1


Diva beranjak meninggalkan ranjang yang berantakan dan menuju kamar mandi.


__ADS_2