
Aksara terkejut bangun dari tidurnya. Ia baru menyadari jika semalam untuk melupakan hasrat nya, dengan mengalihkan mengerjakan tugas tugas kantor. Saking seriusnya ia bahkan sampai tertidur di meja kerja ruang kerjanya.
Aksara segera masuk ke kamar, di lihat Diva masih tertidur pulas. Aksara mendekati Diva dan mengecup kening Diva, tak lupa ia membisikan kata I love you dan permintaan maaf karena sudah membuat Diva sedih. Sebelum pergi mandi, Aksara selalu melihat ponsel Diva dan mematikan alarmnya, Aksara mengerutkan keningnya saat melihat ternyata Diva menyalakan alarm pukul lima pagi, padahal biasanya Diva selalu menyalakan alarm pukul setengah enam pagi.
Aksara bergegas mandi dan merapikan diri dengan pelan pelan agar tidak membangunkan Diva, ia segera pergi berangkat kantor, karena ada pertemuan penting di perusahaan pagi ini. Bahkan Aksara tak sempat sarapan karena Alex sudah datang menjemputnya.
Diva membuka matanya perlahan, tangan nya meraba ranjang sebelahnya, lalu sedikit bangun dengan menopang tubuhnya dengan siku, untuk melihat memastikan jika Aksara tidak ada di sampingnya.
Ada perasaan kecewa, namun kini berubah sebuah emosi yang Diva rasakan.
" Kamu pikir aku hanya kamu jadikan budak nafsumu Aksa, kamu pikir kamu tidak bisa menyalurkan hasratmu, lalu kamu bisa sesukamu meninggalkan aku. Aku harus buat perhitungan denganmu. " kata Diva emosi
Diva segera turun ke ranjang untuk mencari Aksara, namun ia kembali menoleh ke belakang, sebuah jendela sudah terang benderang.
" Tunggu, jam berapa ini. " batin Diva
Mata Diva membulat sempurna melihat jam di dinding kamarnya menunjukan pukul tujuh pagi. Padahal pagi ini seharusnya ada kunjungan kedua Tuan Richard ke perusahaan nya.
Diva pun mengurungkan niatnya mencari keberadaan Aksara, berbalik ke ranjang dan mengambil ponselnya di nakas kamarnya.
Diva heran lagi, karena alarmnya mati, padahal jelas jelas ia tidak lupa menyetel alarm ponselnya pukul lima pagi. Diva pun.memguhungi sekretaris nya untuk membuat janji temu dengan Tuan Richard kembali, dengan kompensasi ia yang akan mengunjungi perusahaan Tuan Richard.
__ADS_1
Diva pun membersihkan diri, dan merapikan dirinya. Pagi ini Diva berdandan sangat cantik, bahkan rambutnya hanya di kuncir separuh, sehingga ada beberapa rambut yang tetap tergerai.
Dengan memakai kaos putih, di padukan dengan celana panjang dan blezer warna peach senada tanpa di kancingkan membuat Diva terlihat sangat cantik pagi ini.
Diva menuruni tangga dan bersiap sarapan, ia menatap Emyra yang juga sedang menatapnya, entah mengapa Diva sangat jengkel dengan Emyra, karena Emyra hanya mengambil sisi mentah saja, tanpa melihat kenyataan yang ada langsung mengabarkan pada Aksara hingga timbulah salah paham.
Diva sarapan seperti biasa, tak di hiraukan pagi ini sudah hampir siang, karena pukul delapan ia masih bersantai sarapan.
" Bik, Aksara sudah berangkat ?? " tanya Diva begitu melihat Bik Marni, entah mengapa ia enggan berbicara dengan Emyra.
" Sudah sejak pagi Non. Bahkan Tuan sampai tidak sempat sarapan terlebih dahulu. " jawab Bik Marni
Begitu ia di mobil, Diva memberitahukan jika dirinya akan ke perusahaan Aksara. Emyra pun menyetujui, dengan mengantar kan ke perusahaan Aksara.
Diva melihat dari kaca mobil, terlihat Aksara ada di lobby perusahaan. Tapi tunggu dulu, Diva menajamkan matanya melihat siapa gerangan yang sedang menggandeng lengan Aksara. Dan bodohnya kenapa Aksara diam saja wanita tersebut memegang lengan nya.
" Vania...... !!!! " Diva terkejut karena begitu melihat dengan jelas, Vania lah yang sedang menggandeng tangan Aksara.
" Beraninya kamu Aksa. Setelah mengambil keuntungan, kamu mau kembali dengan mantanmu. Jangan harap !!! " Diva segera membuka pintu mobil dengan bergegas dan menutup pintunya dengan di banting, sehingga beberapa orang sampai menoleh kearahnya, tak terkecuali Aksara. Emyra yang tahu jika Diva sedag marah oun segera ikut turun. Emyra takut di salahkan oleh Aksara karena menyetujui membawa Diva ke perusahaan nya.
" Sayang... Kamu sangat tidak cocok memakai jas ini. Apa kamu tidak berkaca saat memakainya. Cepat lepas, kamu sangat terlihat tua memakai jas ini. " kata Diva langsung melerai tangan Vania yang melingkar di lengan Aksara, dan mencopot kancing jas Aksara. Dan Aksara hanya pasrah mendapat perlakuan seperti itu dari Diva, karena tadi pagi ia tidak sempat berkaca, namun ia sempat bertanya pada Alex tentang penampilan hari ini dan Alex menjawab sempurna.
__ADS_1
Mata Aksara menatap tajam Alex, karena penampilan hari ini di bilang terlihat tua oleh Diva, padahal itu hanya alasan Diva agar jas yang sudah tersentuh oleh tangan vania di lepas.
" Alex... pilihkan jas Aksa dengan warna yang terang, agar Aksa terlihat lebih muda, dan lebih serasi dengan ku. " kata Diva dengan menyerahkan jas itu pada Alex.
" Alex tunggu.... !! Jas itu lebih cocok untukmu, lebih baik untuk kamu. Aku tidak mau Aksa memakai jas itu kembali. " kata Diva, padahal jas itu keluaran terbaru dari produk Louis Vuitton dengan series limited edition, dengan harga yang jangan di tanyakan lagi fantastis nya.
" Berani sekali kamu mengatakan Aksara lebih tua. Ia justru terlihat sangat tampan, apa kamu tidak tahu tentang modis, itu adalah keluaran terbaru dari Louis Vuitton dengan limited edition the series. " kata Vania menarik lengan Diva karena sudah berani mengabaikan keberadaan nya diantara mereka. Karena statusnya sebagai desainer, ia lebih tahu tentang dunia fashion.
" Oh... Mis Vania ternyata, aku pikir siapa. Tidak perduli Louis Vuitton, Dior, atau Giorgio Armani. Jika aku bilang tidak cocok, bagaimana ?? Aku rasa Aksa juga menyadari jika dirinya terlihat lebih tua sari umurnya. Tapi tunggu dulu.... Apa karena ia bersanding dengan gadis tua, jadi ia juga terlihat seperti sudah tua pula. " kata Diva dengan sedikit angkuh, bahkan Aksara juga terkejut dengan ucapan Diva yang biasanya tidak pernah merendahkan orang lain, tapi dengan Vania, Diva berani berkata setajam itu.
" Diva... " kata Aksara sedikit membentak, karena bagaimana pun ucapan Diva sudah sedikit keterlaluan, dan bukannya Diva menyadari perbuatannya, Diva yang sudah berkobar api cemburu, justru semakin tersulut emosi dan semakin tak terkendali lagi kemarahannya.
" Beraninya mengatakan aku gadis tua. Kamu pikir penampilanmu juga tidak terlihat norak. " kata Vania yang ikut emosi mendengar penghinaan Diva, bahkan Vania lebih dahulu menarik rambut Diva yang sebagian tidak terkuncir, membuat Diva berteriak kesakitan dan ikut tergeser badannya ke sebelah kanan Vania.
" Aww..... " teriak Diva
Karena begitu sangat malu terjadi keributan di Perusahaan nya, Aksara ingin segera menarik Diva pergi dari sana. Ia menarik tangan Diva dan mengajaknya segera ke mobil, tanpa melihat lagi wajah wanita yang ia tarik. Aksara menutup kembali pintu mobil dan ikut masuk ke mobil miliknya dengan ia sendiri yang mengemudikan.
Bersambung.........
Layangkan Gift kalian agar Author Crazy Up hari ini......🥰🥰🥰
__ADS_1