
" Cheeers......... !!!! "
Diva memimpin para karyawan untuk meminum anggur dan merayakan keberhasilan perolehan tender besar.
" Diva......... !!! "
William yang baru tahu jika ada pesta minum anggur, segera memanggil Diva untuk keluar sebentar.
" Jangan minum anggur itu, Diva !!! Kamu tidak pernah minum alkohol sebelum nya. " ucap William melarang Diva. William tidak mau di salahkan oleh orang tua Diva, jika terjadi sesuatu pada Diva nanti nya.
" Ini Pesta kita William. Mana mungkin aku tidak ikut merayakan. Lagi pula biarkan aku belajar sedikit meminum alkohol. Jika suatu saat ada pertemuan penting, aku tidak terlalu canggung untuk meminum. " pinta Diva menyanggah ucapan William.
" Ingat Diva, Tuan Arsyad akan marah pada Ku, jika sampai terjadi sesuatu pada mu. " ucap William
" Makaaaa ,,, jangan sampai kamu bilang Tuan Arysad !!! " ucap Diva sambil menepuk pipi Wiliam kemudian masuk kembali ke ruangan.
" Diva... Setelah ini kita masih ada rapat. " Wiliam menarik tangan Diva kembali keluar ruangan.
" Iya aku Tahu. Sebentar lagi kita bergegas. " ucap Diva santai
" Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan menolong mu. " ucap William mengancam
Diva mendelik, menatap jengkel pada Wiliam.
" William, aku hanya mau meminum segelas anggur !! Bukan untuk maju ke medan perang. Kenapa kamu begitu ketakutan, seperti akan takut kehilangan ku. " ucap Diva kemudian mengibaskan tangannya
" Karena wanita minum alkohol itu lebih bahaya, dari pada masuk ke medan perang bodoh. " ucap William yang sudah tidak bisa di dengar oleh Diva karena Diva sudah kembali masuk dan menutup pintu ruangan.
__ADS_1
William begitu menyesal mengadakan gagasan untuk merayakan keberhasilan ini. Ia pikir hanya sebuah pesta makan tanpa alkohol, tapi sekarang entah siapa yang menyiapkan barang haram itu di kantor. Walau anggur itu bagus, anggur dengan jumlah kandungan alkohol terendah. Namum tetap saja William takut, Jika Diva tidak mampu menguasai diri, karena tidak pernah meminum sebelum nya.
William akhir nya kembali ke ruangan nya sebentar untuk menyiapkan beberapa File untuk menghadiri rapat di Perusahaan Mega mustika. Setelah di kira beres ia kembali ke ruangan Diva.
Saat membuka pintu, betapa terkejut nya William, mendapati Diva yang sudah mengoceh tak jelas. Begitu melihat William, para karyawan keluar satu per satu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" Tsk....... "
" Sudah ku bilang ini akan merepotkan. " ucap Wiliam
William bingung sebentar lagi ada rapat, sedangkan Diva sudah mabuk berat seperti itu. William benar benar marah pada karyawan yang memperbolehkan Diva meminum banyak.
Ia keluar dan memberi ultimatum, jika ia akan memberi sangsi pada karyawan yang sudah berani memperlihatkan minuman anggur itu di kantor. Tapi ternyata Diva sendiri yang memesan dan membeli. Lalu William menyalahkan, kenapa Diva di perbolehkan banyak minum. Namun para karyawan bilang, jika Diva hanya minum satu gelas saja sudah mabuk. Dan Diva memaksa minum satu gelas lagi, kemudian Diva benar benar mabuk sekarang.
William menarik nafas panjangnya, mendengar penuturan para karyawan kantor mereka.
********************
Aksara masih mengabaikan Vania yang masih setia menunjukkan semua perhatian untuk nya. Bahkan Vania mengesampingkan rasa malu nya di depan Alex, dengan terus membujuk Aksara untuk makan siang bersama.
" Vania,, aku sudah makan. Jika kamu memerlukan seseorang untuk menemani makan siang mu, Alex tidak keberatan menemani mu. " ucap Aksara masih fokus dengan laptop nya.
Tak berselang lama pintu di ketuk kembali dati luar. Setelah mendengar kata masuk, Mola masuk ke ruangan. Ia mengingatkan sebentar lagi akan ada rapat dengan Perusahaan Mega Mustika .
Alex hanya mengangguk kan kepala, dan mengisyaratkan Mola untuk kembali keluar, karena Alex tahu suasana hati Aksara sedang buruk. Salah bertindak, Mola bisa kena pecat, seperti sekretaris yang sudah sudah, hanya bertahan beberapa bulan saja.
Aksara berdiri merapikan jas nya, dan akan beranjak pergi dari ruangan nya.
__ADS_1
" Tunggu Aksara, lalu makan siang kita bagaimana ?? " tanya Vania
" Bukankah aku tadi sudah menawarkan Alex. Jika kamu keberatan, kamu bisa pergi bersama teman kencanmu. " ucap Aksara
" Teman kencan... Teman kencan. Kamu selalu saja mengungkit teman kencan ku. Aku tidak pernah mempunyai teman kencan. Jangan bilang kamu hanya cari cari alasan, jika sebenarnya kamu hanya ingin memutuskan aku secara sepihak bukan?? " kata Vania mulai emosi
" Ingat Vania, aku sudah mengingatkan mu untuk tidak menganggu ku selama setahun. Tapi jika kamu terus mengganggu seperti ini. Aku sudah pastikan, jika kita tidak akan berhubungan, sekalipun sebatas teman. Aku hapus nama mu dari daftar hidup ku. " ancam Aksara.
Aksara benar benar jengah mendengar kan Vania, semakin lama ia berdekatan dengan Vania, rasa nya Aksara semakin muak. Rasa cinta yang dulu ia tanamkan, kini sudah benar benar hilang. Aksara benar benar sudah mengahapus nama Vania, di hati nya.
" Baik. Aku mengalah. Satu tahun ini aku akan pergi ke Swiss untuk melanjutkan pendidikan Designer ku. Setelah itu, aku menagih janjimu untuk menikahi ku. " ucap Vania
Aksara hanya diam menatap Vania. Seharusnya ia sangat senang jika mendengar Vania meminta menikah. Karena dulu, Aksara sering kali meminang Vania, namun diacuhkan dengan alasan untuk memperlebar jaringan bisnis nya terlebih dahulu.
" Mari Tuan. Waktu kita sudah tidak banyak. " ucap Alex mengingat kan.
Sampai di Perusahaan Mega Mustika, Aksara sedikit kecewa karena ia tidak bertemu Diva kembali. Di sana rapat hanya di wakili oleh William. Aksara juga tidak tahu, kecewa dalam bab apa, karena seharusnya Perusahaan Mega Mustika lah yang kecewa karena tidak di hadiri Diva. Tapi Pimpinan Perusahaan itu bisa menerima dan memaklumi dengan alasan yang di berikan William jika Diva sedang sakit.
Mendengar Diva sakit, perasaan Aksara semakin tidak nyaman. Ia merasa tadi pagi Diva masih normal, dan bisa marah marah seperti orang yang sehat jasmani dan rohani.
Rapat selesai pukul lima sore. William segera bergegas untuk kembali ke kantor. Aksara yang melihat kepanikan William semakin nyakin jika Diva memang benar benar sakit. Ia berencan untuk segera pulang setelah ini, mungkin Diva sudah diantar oleh William pulang ke rumah nya. Aksara sangat gengsi jika harus bertanya pada William tentang keadaan Diva.
Pukul enam sore Aksara sampai rumah, Ia mencari keberadaan Diva, namun tidak menemukan. Ia bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya tentang Diva, namun ia memberitahukan jika Diva belum pulang.
Hampir pukul tujuh, Aksara tidak melihat Diva pulang. Ia sudah mulai panik. Namun muncul emosi, jika membayangkan Diva di rawat oleh William. Emosinya mulai memuncak saat pukul sembilan malam, namun Diva juga masih belum pulang.
Bersambung.........
__ADS_1
Ayo Ayo jangan pelit buat Vote.... biar Author Crazy Up hari ini..... 😂😂🥰🥰