
Namun pandangan Aksara masih hangat, dan teduh pada dirinya membuat Diva sesak nafas.
Diva ingin mengambil sopnya di mangkuk agar ia bisa menelan nasi yang ia kunyah, entah kenapa begitu melihat wajah Aksara yang hangat padanya, membuat nya kesusahan untuk menelan nasi yang sedang ia kunyah.
Namun sayangnya dengan percaya diri Aksara sudah menyeruput sayur di mangkuk itu dengan bibirnya.
" Sayurku.... " kata Diva kecewa karena sayurnya sudah di dahului Aksara.
Kemudian Aksara memberikannya pada Diva, yang hanya tinggal ampas, karena kuahnya sudah ia seruput.
' Mau makan tak mau ambil sendiri. " ketus Diva ia kembali jengkel pada Aksara. Justru perasaan yang berubah ubah kini berganti pada Diva.
" Sudah kewajiban istri itu melayani suami. " kata Aksara pelan.
Diva kembali diam, karena jawaban Aksara adalah benar. Lagi pula Aksara menjawab dengan lembut, berbeda dengan biasanya yang selalu dingin.
Selesai makan nasi, Diva masih mengambil sepotong cake ia sudah di persiapkan, ia bahkan masih muat memasukan buah anggur ke mulut satu per satu.
" Ternyata makanmu banyak juga ya. Aku harus bekerja keras untuk memberimu makan jika seperti itu. " kata Aksara membuat Diva tersedak
" Hanya makan satu piring nasi di bilang banyak. Dasar pelit. " gerutu Diva membela diri
" Satu piring ?? Lihatlah piring kosong yang berjejer di sampingmu ada berapa ? " tanya Aksara dengan menghitung jumlah piring kosong di samping Diva
Satu piring kosong bekas makan Diva, satu piring kosong bekas cake, satu mangkuk sop, satu mangkuk kecil bekas anggur karena ia tadi mengambil di mangkuk kecil.
" Lihat hanya satu piring besar, dan satu mangkuk besar, yang lain kan cuma kecil kecil. " Diva masih membela diri
" Lalu bagaimana dengan itu ?? " kata Aksara dengan mengarahkan pandangan nya pada bik Marni yang berjalan ke arahnya.
" Itukan, yang makan kamu tadi. " ngeyel membela diri
" Aku lihat kamu juga makan hampir separuh tadi. " Aksara masih senang meladeni ucapan Diva
__ADS_1
Memang benar tadi, Saking lapar nya Diva memakan lahap nasinya, barulah ia teringat jika ia masih punya lauk dan cake request bik Marni kemarin pagi.
" Itu kan karena pagi aku juga tidak makan. Lagi pula tidak ikhlas sekali kamu memberiku makan. " gerutu Diva sinis, ia menatap Aksara dengan nada meremehkan, orang sekaya Aksara hanya untuk makan saja di perbitungkan
" Aku hanya terkejut saja. Seorang artis itu aku pikir tidak makan makanan berlemak karena takut gemuk. Dan sangat menjaga pola makan. " terang Aksara menjelaskan jika dirinya bukan perhitungan, hanya bisa di bilang ia takjub, melihat Diva yang apa adanya.
" Mantan !! Aku sekarang seorang MANTAN artis. Karena suami ku dengan seenaknya memutuskan kontrak jobku. " terang Diva
" Jadi, apa dulu kamu juga menjaga seperti kebanyakan artis lain nya? " tanya Aksara mulai penasaran dengan kehidupan Diva sebelumnya
" Tidak. " jawab Diva enteng
" Hidup hanya sekali kenapa hanya makan enak saja harus diatur. " terang Diva lagi
" Tapi jika tidak ketahuan Wiliam. Jika ketahuan dia, maka dia akan menghukum ku olah raga lari atau berenang bolak balik. " kata Diva kembali mengambil sop di mangkuk dan memakan iga sapi
Aksara kembali memanas mendengar nama Wiliam kembali di sebut oleh Diva. Kenapa selalu saja William yang selalu ia dengar di telinga nya, saat berbicara hangat dengan Diva. Sebegitu dekatnya kah Wiliam dengan Diva, walau Aksara masih bisa bernafas lega, karena antara Wiliam dan Diva belum pernah terjadi hubungan terlarang seperti yang ia pikirkan dulu.
" Biar saya cuci Non. Ini sudah tugas bibik. " kata bik Marni dengan mengambil cucian piring kotor dari tangan Diva.
" Aku malah jadi ngantuk bik, jika habis makan duduk. " kata Diva
" Ngobrol saja dengan Tuan, Non. Biar tidak ngantuk. Lagian kan kamarnya baru di bereskan. " kata bik Marni. Ia tadi ke lantai atas, ternyata kamar Diva baru di rapikan oleh para anak buah dan suaminya. Barang barang Aksara di kembalikan ke kamar Diva seperti semula.
Namun Diva masih belum menangkap pembicaraan bik Marni. Ia pikir hanya sebatas di bereskan bersih bersih.
" Lebih baik aku kembali ke kamar saja. " gumam Diva, ia berpikir ia bisa melihat ponselnya, jika ada panggilan dari sekretaris atau masalah pekerjaan.
Ia berjalan di ikuti Aksara berjalan di belakangnya, Diva pun menoleh.
" Kenapa kamu mengikuti ku?? " tanya Diva penuh selidik
" Memang adakah peraturan yang melarang seorang suami mengikuti sang istri?? " tanya Aksara membalik pertanyaan Diva.
__ADS_1
Diva berpikir aneh tentang Aksara, kenapa bisa hanya dengan sebuah hubungan badan, bisa mengubah sikap Aksara berubah tiga ratus delapan puluh derajat.
Aksara yang tadinya angkuh, dingin, ketus dan tidak perduli alias masa bodoh terhadapnya, kini berubah menjadi perhatian, lembut, dan selalu mengikuti kemana pun ia pergi.
Diva bergidik ngeri membayangkan, jika ia kembali ke kamar, pasti Aksara akan memulai lagi permainan . Apalagi ia sudah makan kenyang.
Diva segera berbalik kembali ke belakang dan ke sofa, ruang tamu. Ia segera duduk menyalakan televisi. Sedang kan Aksara mengerutkan keningnya, melihat tingkah Diva yang berjalan terburu buru duduk ke sofa. Padahal ia mengikuti Diva ke kamar, hanya ingin melihat seperti apa keadaan kamar mereka. Sudah selesaikah proses pemindahan, atau jika belum apa perlu pengarahan. Namun karena Diva berbalik ke sofa, ia memutuskan mengikuti Diva, dan menanyakan kenapa Diva terburu buru duduk di sofa, apa ada keluhan yang di rasakan.
" Kamu sakit Diva?? " tanya Aksara penasaran
Sedangkan Diva bingung, kenapa Aksara tiba tiba bertanya seperti itu. Diva hanya menggeleng kan kepalanya.
" Lalu kenapa kamu terburu buru hampir lari ke sofa. Apa perutmu sakit?? " tanya Aksara kembali
" Ah... itu... anu... iya. " bohong Diva beralasan, tidak mungkin ia menjawab, jika ia ketakutan karena Aksara akan menyetubuhi nya lagi.
" Sakit bagian mana? di sini ? di sini ? atau di sini? " tanya Aksara panik, ia menyentuh bagian bagian perut Diva membuat Diva kaget dan melongo
Aksara menatap Diva yang melamun terkejut dengan tingkah Aksara.
" Diva ?? " panggil Aksara, karena Diva tidak menjawab
" Ah.. itu... iya di sini. " jawab Diva gagu karena terkejut dengan panggilan Aksara. Bahkan Diva hanya menyentuh bagian perutnya asal.
" Sepertinya kamu bermasalah dengan bagian rahim mu Diva. Pasti kamu menyakiti calon anak kita, itu karena kamu makan sambal terlalu banyak. " jawab Aksara karena Div menyentuh bagian perutnya sebelah kiri bawah.
" Hah... ??? " Diva semakin terkejut dengan jawaban Aksara yang selalu membahas calon anak.
" Aku harus menghubungi Elia. Tidak, kakaknya saja. Nihan. " kata Aksara dengan merogoh saku nya untuk mengambil ponsel
Bersambung.......
#2
__ADS_1