
Begitu melihat Diva makan, Aksara memutuskan kembali ke kamarnya. Ia tidak mau jika Diva mengetahui, dirinya sedang memperhatikan Diva.
setiap Aksara mengingat senyuman Diva, ia juga teringat senyuman itu di berikan untuk Wiliam. Hatinya kembali memanas, tanpa ia sadari ia meninju tembok kamarnya sebagai luapan emosinya.
" Tunggu.... Kenapa denganku. Bukan kah ini salah. Tidak seharusnya aku marah padanya, senyuman itu ia berikan untuk siapa pun, apa perduliku. Lagi pula dia tidak pantas untukmu, Aksa. Kamu sangat menghargai wanita dengan tidak menyentuhnya. Lalu untuk apa kamu mencintai gadis yang sudah bekas orang lain. " gumam Aksara sendiri. Aksara sangat percaya jika Wiliam sudah pernah mencicipi tubuh Diva.
" Bukankah lebih baik aku menerima Vania, yang sudah jelas jelas berubah mencintaiku dan mau menungguku. Di bandingkan menerima Diva " batin Aksara.
Aksara selalu menilai jika Vania adalah perempuan baik baik, dan selalu mandiri. Sedangkan pemikiran Aksara untuk Diva selalu buruk. Pekerjaan Diva menjadi artis dan terkenal, itu semua pasti hasil menukar tubuhnya dengan popularitas.
Aksara mengusap wajahnya kasar dwngan kedua tangan nya, berusaha menghapus bayang bayang wajah Diva dari ingatanya.
Aksara berusaha melupakan senyum Diva yang terus terlintas di pikirannya dengan mengerjakan beberapa laporan pekerjaan.
Aksara melihat jam Rolex di pergelangan tangan nya, ia melihat sudah hampir pukul dua siang, ia baru menyadari jika dirinya ternyata sejak tadi pun belum makan siang juga, juga sudah melewatkan sarapan.
Aksara memutuskan untuk turun ke bawah, ia pikir Diva sudah kembali, karena sudah hampir dua jam Diva di bawah.
Aksara menuruni tangga, ternyata ia masih melihat Riva masih di meja makan, ia bahkan masih menikmati makanan.
" Sudah hampir dua jam, tapi dia masih makan. Sebenarnya berapa banyak jika ia makan. " batin Aksara
" Aksara, kemarilah !! Aku membuat salad buah yang sangat manis semanis diri ku. " sapa Diva begitu melihat Aksara. Diva terlalu bersemangat membanggakan hasil kreasi menu buatanya.
" Cih... Aku tidak tertarik dengan apapun buatan mu. Lagi pula makanan terlalu manis bisa mempercepat penuaan. " sangkal Aksara dengan ketus, kemudian menarik kursi di sebrang Diva duduk.
" Ih... kalau nggak mau ya sudah, nggak harus marah marah juga kali. " gumam Diva yang bisa di dengar oleh Aksara.
__ADS_1
" Ck.... Aku ke sini mau makan. Jadi jangan merubah moodku menjadi buruk, bikin hilang nafsu makanku saja." ketus Aksara dengan menatap tajam Diva. Ia sengaja ingin benar benar menjauhi Diva, supaya perasaan untuk Diva memudar.
Ada perasaan perih di hati Diva, ia merasa di rendahkan dengan ucapan Aksara. Untuk pertama kalinya ia mendapat penolakan dari laki laki, bahkan cara penolakan nya sangat ketus dan menyakiti hati.
Diva meredupkan senyumnya, ia memanggil Bik Marni sang asisten rumah tangga nya.
" Bik, tolong bantu bawakan mangkuk saladku ke ruang depan ya Bik. " ucap Diva sembari mwncoba berdiri.
" Memangnya tanganmu ikut sakit, hanya bawa mangkuk saja harus memerintah orang tua. Dasar wanita manja. " ucap Aksara tanpa melihat wajah Diva, ia sibuk dengan makanan di piringnya.
" Jika kaki ku tidak kau lukai, Aku juga tidak akan memerintah orang lain. Harusnya kamu bertanggung jawab dengan kaki ku sampai sembuh. " balas Diva tak kalah ketus.
" Bibik ndak Papa kok Den, Non Diva kasian, kaki nya masih sakit." ucap Bik Marni dengan membawa mangkuk itu lebih dulu ke ruang tamu, supaya bisa ikut membimbing Diva berjalan ke ruang depan.
" Aku nyakin jika kaki mu sebenarnya sudah sembuh, hanya saja itu taktikmu, agar Aku selalu memperhatikanmu. Sayangnya, caramu itu terlalu murahan. " ucap Aksara dengan melihat Diva, pandangan nya seperti seseorang yang merendahkan.
Diva mulai emosi dengan ucapan Aksara, baru kali ini ada Pria yang berani menghina dirinya dengan ucapan kasar pula.
" Munafik !! Bukankah itu cara murahanmu dalam menjalankan aksimu. Jujur saja, sudah banyak wanita seperti mu yang menjebak ku. " ucap Aksara dengan makan.
" Dasar laki laki b**ng**k . Jaga mulutmu dari ucapan kotor mu. " jawab Diva saking emosinya ia mengambil air minum dalam gelas, sisa ia minum tadi, dan menyiram nya ke wajah Aksara, membuat Aksara terkejut dan berdiri membersihkan pakaian nya dari air. Aksara juga mengambil tisu, dan mengelapkan pada wajahnya.
" Dasar wanita murahan. " ucap Aksara mau membalas menyiram Diva, namun ia tahan, karena terlihat Bik Marni masuk ke ruang makan, setelah mengantar mangkuk tadi ke ruang depan.
Bik Marni yang tidak mendengar juga tidak tahu apa apa mencoba mendekati Diva.
" Mari Non, saya bantu. " kata Bik Marni menyentuh lengan Diva.
__ADS_1
" Sudah Bik, Aku tidak minat duduk di depan. Bantu aku ke kamar saja. " ucap Diva masih dengan melihat Aksara dengan tatapan benci dan tajam.
" Hla saladnya gimana Non? " tanya Bik Marni
" Taruh kulkas saja Bik, jika nanti sore aku masih tidak berselera, Bibik makan saja,atau kasih pada siapa saja yang mau. Tapi jangan di buang ya Bik. " ucap Diva
" Baik Non. " jawab Bik Marni tersenyum.
Aksara hanya menatap Diva yang sudah berjalan naik tangga menjauh dari nya. Ia kembali mengagumi sikap Diva yang tidak menyia yiakan makanan. Ia bisa saja membuat baru, dan menyuruh membuang, namun tidak Diva lakukan.
Karena pertengkaran tadi membuat nafsu makan Aksara pun juga hilang. Ia juga memutuskan kembali ke kamar.
Terlihat Bik Marni menuruni tangga, sudah selesai mengantar Diva masuk kamar.
" Kenapa buru buru Bik ?? " tanya Aksara penasaran karena ia sebenarnya khawatir jika terjadi sesuatu dengan Diva.
" Non Diva bilang, setelah masuk kamar, nafsu makan nya kembali, jadi Non Diva minta tolong untuk diambilkan salad buahnya, Den. " jawab Bik Marni.
" Makan nya saya buru buru, takut nafsu makan Non Diva berubah lagi Den. hehhe " jawab Bik Marni tersenyum
" Merepotkan orang tua saja. " gumam Aksara yang bisa di dengar Bik Marni
" Tidak Papa Den. Malahan aku sangat senang bisa membantu Non Diva, Den. Karena biasanya Non Diva yang membantu saya. Anda sangat beruntung Den menikah dengan Non Diva, selain sangat cantik, Non Diva juga sangat ramah pada siapa saja. Bahkan Non Diva sering mengasih kami oleh oleh jika pulang kerja. Non Diva sangat baik, Den. " ucap Bik Marni tulus.
" Ya sudah Den, Bibik ambil salad Non Diva dulu Den, kasian menunggu lama. " ucap Bik Marni dengan berjalan agak cepat lagi.
Aksara hanya mengulaskan senyum, yang ia sendiri tidak tahu, apa arti senyuman yang ia kembangkan di bibir.
__ADS_1
Bersambung....
Hai Para Reader yang terLove Love....😘😘. minta dukungan kalian dengan cara Like, Gift dan Vote nya ya... Satu Vote kalian adalah sejuta kebahagiaan untuk Author... Love you segunung buat kalian yang berikan vote Minggu an nya buat Shanyu.... 🥰🥰🥰