
#2
Siang ini Diva keseringan melamun, ia membayangkan kata katanya. Apakah ia sudah keterlaluan, melarang Aksara yang ingin mencium nya. Namun jika di biarkan, pasti akan berlanjut dan tidak berkesudahan.
Sekretaris Diva pun sering mengulang kata katanya, ketika meminta persetujuan masalah pekerjaan. Ia melihat, hari ini Diva tidak seperti biasanya, hari ini Diva hanya sering melamun dan tidak fokus semenjak kepergian Aksara.
Tidak berbeda dengan Diva, di kantornya pun Aksara juga gelisah. Ia memikirkan kembali sikapnya yang langsung pergi meninggalkan Diva begitu saja, ketika Diva sedikit membentaknya.
Ada perasaan menyesal, meninggalkan Diva tanpa kata. Ia takut jika Diva berbalik menyambut cinta Richard, jika Aksara tidak bisa mengendalikan kecemburuan itu.
Baik Aksara maupun Diva kini saling menatap ponsel di tempat yang berbeda. Ingin rasanya menghubungi terlebih dahulu, namun keduanya masih enggan mengakui jika sebenarnya keduanya menyesal dengan sikapnya.
Aksara berharap, Diva mau menghubungi nya terlebih dahulu, dan meminta maaf padanya. Namun Diva juga berharap, jika Aksara meminta maaf padanya, karena meninggalkan dirinya tanpa kata.
Berkali kali Alex meminta persetujuan mengenai laporan yang ia kerjakan, namun Aksara sama sekali tak menjawab, seolah tak mendengarkan Alex sedang meminta jawaban darinya.
" Alex.... Menurutmu, bagaimana cara memisahkan seseorang agar ia tidak terlibat kerja sama dengan Pria lain. " tanya Aksara tiba tiba, yang seharusnya menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, namun justru membuat pertanyaan yang di luar Masalah pekerjaan.
" Putuskan saja pekerjaan nya . Biarkan dia tidak bekerja. " jawab Alex asal. Ia sendiri sedang pusing mengenai laporan, malah justru di tanyai masalah yang tidak penting menurut Alex.
Aksara tersenyum mendengar jawaban Alex, yang justru membenarkan dan sependapat dengan jawaban Alex.
" Kamu benar Alex. Diva harus berhenti bekerja. Aku harus membuat dia di rumah saja, dan menjadi ibu yang baik untuk anak anak ku. " jawab Aksara senang.
Sedangkan Alex ternganga sekaligus takut, jika sampai idenya itu di ketahui oleh Diva, bisa mati berdiri ia mendapat hukuman dari Diva. Ia tidak menyangka jika arah pertanyaan Aksara adalah tertuju pada Diva.
Alex mengelap keringat dingin yang tiba tiba saja ia rasakan. Ia hanya bisa berdoa, semoga Diva tidak pernah tahu, jika suatu saat Aksara memintanya berhenti bekerja, atas saran masukan dari dirinya.
Aksara berharap sore segera datang, ia ingin segera bertemu dengan Diva di rumah. Ia tidak mau Diva berpaling pada Richard nantinya. Aksara sudah menyusun rencana agar Diva tetap berada di sisi nya.
Sama halnya dengan Aksara, sejak tadi Diva menatap jam di pergelangan tangan nya. Berharap hari cepat sore. Ia akan meminta maaf pada Aksara karena sudah sedikit membentak dan bertindak sedikit kasar pada Aksara.
__ADS_1
Begitu waktu menunjukan pukul lima sore, Diva bergegas merapikan berkas berkas, dan segera keluar ruangan, di ikuti Emyra yang setia mengikut di belakang Diva.
Diva masuk ke mobil, begitu mobilnya beehenti di hadapan nya. Sepanjang perjalanan ia memikirkan cara yang bagus agar Aksara memaafkan dirinya.
Diva menatap toko coffe yang sepi, ia memutuskan ingin membeli terlebih dahulu, agar pikiran nya sedikit jernih.
" Emyra berhenti di Starbucks terlebih dahulu. " pinta Diva, meminta Emyra memarkirkan mobilnya ke tepi.
" Apa perlu saya belikan Nona? " tanya Emyra
" Tidak perlu. " jawab Diva kemudian membuka pintu mobil dan membawa tas jinjingnya.
Ia membuka pintu kaca, kemudian mendekati meja, dan memesan.
" Satu (dua) Coffe latte. " ucap Diva bersamaan dengan seseorang yang berada di sebelahnya tanpa ia sadari keberadaan nya. Diva pun menoleh pada seseorang yang memesan sama dengan nya.
" Tuan Richard ( Diva) " ucap mereka bersamaan pula.
" Ternyata selera kita sama. " ucap Richard tersenyum
Karena Richard memaksa Diva agar mau di bayar, akhirnya Diva pun mengalah, toh harganya juga masih di bilang murah.
" Bukankah Aksara menyukai carramel macchiato? " pancing Richard memulai pembicaraan, untuk memastikan, untuk siapakah satu menu coffe yang di pesan Diva.
" Semenjak menikah, Aksara menyukai Coffe latte. " jawab Diva asal.
Sedangkan Richard hanya tersenyum, dan menganguk angguk. Diva pun pamit segera pergi meninggalkan Richard setelah mengucapkan terima kasih.
Begitu sampai mobil, barulah Diva menyadari jika ia tidak membelikan untuk Emyra, saking pikiran nya hanya tertuju pada Aksara.
" Emyra maafkan aku, aku lupa membelikan dirimu. Bisakah kamu membeli yang kamu suka? " tanya Diva dengan mengulurkan uang seratus ribuan pada Emyra.
__ADS_1
" Tidak perlu Nona. " jawab Emyra dingin.
Emyra kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan tempat itu. Sedangkan Diva heran, kenapa Emyra menunjukan sikap tidak bersahabat padanya, Diva merasa tidak melakukan kesalahan padanya.
" Apa kamu marah karena aku lupa membelikan Coffe untukmu Emyra? " tanya Diva berterus terang.
" Tidak Nona. " jawab Emyra singkat, namun masih terkesan dingin.
Diva mengerutkan dagunya, dan membiarkan Emyra seperti itu.
Begitu sampai rumah, bertepatan dengan Aksara yang baru saja turun dari mobilnya. Diva segera memberikan senyum pada Aksara, sebagai mana rencana yang ia susun sejak di mobil tadi.
Berbeda dengan Aksara, niatnya untuk meminta maaf hilang sudah, setelah melihat foto yang Emyra kirimkan. Aksara termakan cemburu buta lagi. Aksara berpikir jika Diva dan Richard ada janji di tempat tersebut.
" Aksara.. Aku membelikan Satu coffe latte untukmu. " kata Riva dengan menyodorkan coffe itu pada Aksara.
" Apa Richard tidak memberitahukan menu kesukaan ku. " sindir Aksara sinis tanpa menerima coffe pemberian Diva.
Diva menatap coffe yang diabaikan Aksara, dan menatap punggung Aksara yang sudah berjalan masuk.
" Sebenarnya tadi Richard memberi tahu, tapi aku bilang padanya,jika setelah menikah kamu menyukai Coffe latte, karena dengan melihatku coffe itu sudah terlalu manis. " jawab Diva polos.
Aksara mengepalkan tangan nya mendengar penuturan Diva.
" Beraninya kamu berbicara tak perlu seperti itu pada Richard Diva. " batin Aksara kepanasan.
Diva akhirnya memberikan coffe itu pada Alex, karena tadi Emyra sempat menolak ketika di mobil.
" Alex, dari pada mubazir lebih baik kamu minum. " kata Diva dengan menyodorkan cup coffe itu
Siapa sangka Aksara merebut cup coffe itu dari tangan Diva, dan memberikan pada Emyra.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak memberikan pada Emyra yang sesama wanita denganmu. Kenapa kamu lebih suka menggoda Pria Diva. " kata Aksara sedikit membentak, membuat Diva sedikit sesak, mendengar penuturan kasar dari Aksara.
Bersambung.......