
Authornya sedih gak ada yang vote mingguan,, jadi lemes buat update...😞😞😞ðŸ˜
Dengan terpaksa Diva pun menggosok gosok tangan nya dan membilas dengan air yang banyak, karena Aksa menaruh sabun cair ke tangan nya dalam porsi banyak, sehingga busa di tangan Diva tak kunjung habis.
Begitu selesai mencuci tangan nya Diva menarik tangan Aksa ganti. Ia memposisikan tangan Aksara di bawah kran wastafel.
" Kamu pikir tangan mu juga tidak kotor. Sekarang banyak virus jahat yang sedang mengincar, jadi kamu juga harus selalu menjaga kebersihan. " kata Diva dengan menyalakan kran kemudian memberikan sabun cair tak kalah banyaknya ke telapak tangan Aksa, kemudian ia meninggalkan Aksara begitu saja, kembali duduk di meja semula.
Begitu Diva meninggalkan nya dan memilih duduk bersama Richard, Aksara kembali memanas. Ia pun segera menggosok gosok tangan nya yang semakin di gosok namun busanya, membuat Aksara semakin jengkel. Terlihat Vania berjalan ke arahnya. Namun begitu sampai di hadapan nya, Aksara justru pergi begitu saja meninggalkan Vania begitu saja. Aksara ikut duduk di samping Diva membuat Vania jengkel ingin marah, ia merasa diacuhkan oleh Aksara, namun ia kembali ikut duduk di samping Aksara.
Richard melihat Aksara dan Diva memang sedang ada masalah, membuat hatinya senang, karena ia bisa merasa ada kesempatan untuk mendekati Diva, karena menurut informasi yang di berikan oleh anak buahnya Richard, Diva dan Aksara menikah karena perjodohan. Dan bisa di prediksi, hubungan mereka hanya sebuah settingan belaka, atau hanya sebuah kontrak hitam diatas putih.
" Nona Diva, aku rasa pertemuan kita bukan pertemuan keluarga. " ucap Richard begitu melihat Vania ikut duduk di samping Aksara.
" Sebaiknya anda selesaikan masalah keluarga Anda dahulu. Saya pamit undur diri dahulu. " ucap Richard, ia yang melihat pandangan tak bersahabat dari Aksara pun sama sekali tidak menyapa.
" Maafkan ssaya Tuan Richard. Saya tidak bermaksud menyepelekan Anda. Tolong beri saya kesempatan. " kata Diva tak enak hati, karena sudah kesekian kalinya pertemuan dengan Richard harus gagal.
" Saya akan memberikan satu kesempatan di lain waktu. Saya permisi. " kata Richard dengan mengulurkan tangan nya namun segera di sambut uluran tangan itu oleh Aksara, dan menariknya agar tidak perlu berjabat tangan pada Diva.
" Terima kasih Tuan Richard. Kami sangat minta maaf atas ketidak nyamanan ini. Mari saya antar. " kata Aksara tanpa melepas jabatan tangan itu.
Diva menatap Vania, begitu juga dengan Vania. Terlihat aura kebencian di wajah Vania, walau sebenarnya Diva tidak menunjukan wajah kebencian terlebih dahulu.
__ADS_1
" Ingat Diva, Aksara adalah kekasihku. Dan dia akan menjadi milik ku selamanya. " kata Vania berusaha menggertak Diva.
" Tapi Anda jangan lupa Miss Vania.... Aksara adalah suami saya. Dan dia sudah menjadi milik ku seutuhnya. Tidak akan yang bisa mengambil atau bahkan merebutnya dari ku. Karena aku akan menggenggam erat apa yang sudah menjadi milikku. " jawab Diva dengan berani.
Aksara langsung kembali setelah mengantar Richard sampai di halaman parkir. Bagaimana pun ia harus menghargai klien.
Tanpa permisi Aksara mengangkat tubuh Diva ke pundaknya, karena Aksara tidak mau tertukar kembali salah tangan yang ia tarik. Dan lagi lagi Aksara meninggalkan Vania tanpa sepatah kata pun, membuat Vania benar benar frustasi. Ia ingin berusaha mengejar, namun sayangnya seorang pelayan datang menghadangnya.
" Maaf Nona, Anda harus membayar tagihan di meja ini. " kata pelayan itu.
Sungguh Vania sangat marah, bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak memesan, namun harus di suruh membayar. Namun di detik berikutnya Vania berusaha menjaga diri, begitu melihat banyak pengunjung di sana . Vania mengambil beberapa lembar uang ratusan dan menyerahkan pada pelayan itu, untuk menutupi rasa malunya.
" Ambil kembalian nya !! " kata Vania dengan ketus.
" Lepaskan aku Aksara.... apa kau gilla !! " kata Diva dengan memukul pundak Aksara, ia sanagt malu mendapat perlakuan seperti itu di tempat umum.
Aksara menurunkan diva di mobil miliknya tadi, dan menutupnya, kemudian ia langsung berputar ke mobil duduk di kursi kemudinya.
Aksara melihat Diva yang duduk merengut di sampingnya, walau terlihat marah, sama sekali tidak mengurangi kecantikan istrinya. Ia justru terlihat semakin imut, karena bibirnya yang manyun.
" Beraninya kamu berkencan di belakangku Diva. " kata Aksara menatap Diva
" Lalu bagaimana denganmu?? Kamu bahkan jelas jelas di depanku, lebih memilih membawa pergi kekasihmu, di banding aku istrimu. " kata Diva tak mau kalah
__ADS_1
" Itu karenaaa... " Aksara tak mungkin melanjutkan perkataannya, jika ia bisa salah menarik tangan, karena pasti Diva tidak akan percaya.
" Karena apa ?? Jangan bilang kamu keliru, yang sudah sangat jelas perbedaan fisik diantara kami. " kata Diva yang memang benar adanya. Sebenarnya perbedaan fisik sudah sangat jelas, Diva bertubuh kecil dan pendek, berbeda dengan Vania yang tinggi semampai.
" Ingat Aksa... Kamu selingkuh, Aku Balas. Kamu tak jelas.. Aku lepas !!! " kata Diva sok sok an, padahal ia sangat ketakutan jika Aksara memang lebih memilih Vania.
" Berani kamu akan melepasku ?? " kata Aksara langsung menerkam bibir Diva dan mengigitnya, sehingga Diva memukul dada Aksara, karena ia begitu kesakitan.
Diva menyentuh bibirnya yang seketika membengkak karena ulah Aksara, Diva mencari kaca dalam tasnya, dan berkaca. Diva jengkel karena bibirnya tidak hanya bengkak bahkan sampai membiru.
" Itu hukuman untuk istri berkata tidak tidak. " jawab Aksara.
" Aku tidak akan melepasmu, sampai kapan pun. " kata Aksara menatap Diva dingin. Walau ia sangat kecewa dengan ucapan Diva, ia juga menyadari kesalahannya.
" Tapi aku tidak mau, jika kamu bertemu dengan kekasihmu lagi. Aku tidak mau berhubungan dengan wanita mana pun. " kata Diva meluapkan isi hatinya
" Apa kamu sedang cemburu Diva ?? " tanya Aksara memperjelas perkataan Diva.
" Lalu bagaimana denganmu, apa kamu pikir kamu tidak sedang cemburu. " kata Diva membalik kata
" Ya aku tahu aku cemburu. Tapi aku baru tahu jika dirimu juga sedang cemburu padaku. " kwta Aksara senang, karena jika jawaban Diva cemburu, itu berarti Diva juga mencintai dirinya. Karena belum ada kejelasan dari Diva, jika ia membalas cinta Aksara.
Begitu pun juga dengan Diva ia sangat bahagia mendengar penuturan rasa cemburu Aksara, ia bahkan sampai melupakan jika tadi hatinya sempat terluka.
__ADS_1
" Ya mau bagaimana lagi. Aku terpaksa jatuh cinta pada laki laki yang sudah merenggut kesucianku. " jawab Diva sambil membuang muka ke arah jendela, tanpa melihat wajah Aksara yang sudah sejak tadi menatap dirinya.
Bersambung.......