
Satu minggu sudah hari hari di lewati Diva di rumah barunya bersama Aksara. Namun bukan tercipta kedekatan antara keduanya, justru Diva benar benar menepati janji nya. Diva benar benar menjaga jarak dengan Aksara. Apalagi semenjak Wiliam sudah kembali ke Indonesia tiga hari yang lalu, Diva sudah tidak lagi satu mobil dengan Aksara.
Sedangkan Aksara menjadi semakin resah, saat Diva sudah benar benar mengacuhkan nya. Aksara merasa ada yang hilang, saat Diva sudah tidak berangkat dan pulang lagi bersama sama. Dan semenjak itu pula, Aksara tidak pernah bertegur sapa dengan Diva, karena untuk berjumpa pun jarang.
Namun pagi ini berbeda, karena hari ini adalah hari minggu, Diva yang sudah mulai terbiasa bangun pagi, pukul lima ini tidak bisa kembali memejamkan matanya. Karena bingung harus mengerjakan apa, akhirnya Diva memutuskan keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
Di sana ia mendapati Bik Marni sedang berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi.
" Pagi Bik..... " sapa Diva sudah berada di samping Pembantu paruh baya itu, sampai membuatnya terkejut.
"Pagi Non. Bibik sampai terkejut Non. " jawab Bik Marni
" Diva mau dong Bik, diajarin masak. " pinta Diva
Akhirnya Diva di bantu Bik Marni menyiapkan sarapan, ya... walaupun hanya dibilang lima persen saja Diva membantu, dan yang sembilan puluh lima persen Bik Marni sendiri yang mengerjakan.
Di dapur Diva bercanda, dan membantu Bik Marni sambil sesekali ia berbalas pesan dengan Deandra, mereka akan berbelanja bersama siang ini, dengan diantar Wiliam. Begitu membuat sarapan sudah selesai, Diva membantu menyiapkan, padahal dulu Diva tak pernah tahu tentang urusan masak sama sekali, justru Wiliam lah yang selalu setia memasakan untuk Diva.
" Taraaaa.... Sudah siap semua. Menu sarapan made in Diva Lea Arsyad.... !!! " ucap Diva dengan bangganya menaruh menu sarapan di meja. Padahal jelas jelas Diva hanya jadi sembilan puluh lima persen penonton saja.
Aksara yang semula diam akan menuruni tangga, terkejut dengan suara Diva yang cempreng. Ia sedikit tersenyum, ia tidak menyangka jika ternyata Diva bisa memasak. Karena Aksara mendengar jika Diva memamerkan hasil masakan nya di meja.
" Bik.. Aku mau mandi dulu. Aku tak sabar ingin memakan hasil kreasiku pagi ini. " ucap Diva
" Iya Non. " jawab Bik Marni tersenyum, ia juga senang mendapati majikan yang sangat ramah seperti Riva, seperti tidak ada kesenjangan sosial dalam berbaur.
__ADS_1
Diva melihat Aksara yang menuruni tangga. Semula Diva begitu terpesona dengan tampilan Aksara yang memakai celana olah raga di padukan dengan jaket Hoodie, Aksara seperti pangeran yang sangat tampan bagi Diva, bahkan Diva terlihat seperti sangat mengagumi Aksara. Namun di detik berikutnya ekspresi wajah Diva berubah seratus sembilan puluh derajat, saat tiba tiba saja bayangan Aksara yang selalu saja menjengkelkan terhadap Diva. Wajah yang tadi menampakan kekaguman, kini berubah menjadi terlihat sangat jengah.
Diva melewati Aksara yang akan melakukan olah raga pagi. Namun tertarik kembali karena lengan nya di tarik mundur oleh Aksara, sehingga tubuhnya ikut berjalan mundur.
" Walau ini hari libur, jangan bermalas malasan. Biasakan hidup sehat. Ayo ikut aku lari pagi. " kata Aksara tanpa ekspresi
" Maaf Tuan Aksara, saya sangat sibuk hari ini. Aku sudah ada janji dengan some one. " ucap Diva dengan lenjehnya, sambil tangan kanan nya menyingkir kan tangan Aksara yang sedang memegang tangan kiri nya.
Diva pun melanjutkan berjalan ingin menaiki tangga, namun lagi lagi tertarik mundur kembali, karena kali ini kaosnya belakang nya, yang ditarik oleh Aksara.
" Tidak ada penolakan. Seorang istri itu harus menurut kata suami. " ucap Aksara.
" Suami-istri......Suami-istri... Kamu bahkan tidak pernah memberikan aku nafkah, jadi jangan berani mengatur aku. Aku bisa menuntutmu ke Komnasham, dengan pengaduan penindasan jika berani memaksaku. " ucap Diva mengancam
Aksara menarik Diva tanpa memperdulikan teriakan Diva yang marah marah. Sampai di depan pintu Diva merubah strategi, dari yang marah marah, kini berubah memohon. Dengan wajah memelas juga merayu, Diva mengajukan permohonan agar Aksara membebaskan dirinya.
" Aksa... Lihat diriku !! Aku hanya memakai pakaian seperti ini, sedangkan dirimu sudah siap dengan pakaian olah raga seperti itu. Jadi lain kali saja ya... Kita olah raga bareng nya, Pliiisss !! " pinta Diva dengan mengatupkan kedua tangan nya dengan memohon.
Aksara melihat Diva memakai celana pendek diatas paha, juga kaos putih yang tipis saja. Aksara mengerutkan kening juga menaikan bibir atas nya, menilai penampilan Diva pagi ini. Sedangkan Diva tersenyum semanis mungkin, walau wajahnya berantakan karena baru selesai membantu Bik Marni memasak di dapur, tidak mengurangi kepercayaan diri Diva untuk menampakan senyum semanis mungkin pada Aksara, agar permohonannya di kabulkan.
Namun semua penilaian itu tidak ada gunanya karena Aksara tetap saja menarik Diva untuk ikut joging pagi bersama.
" Aaa..... Baiklah !!! Tunggu aku mengambil ponsel dulu !! " teriak Diva karena Aksara masih menarik kaosnya.
__ADS_1
" Tidak perlu !! " ucap Aksara tanpa perdulikan Diva yang marah marah.
Sampai perjalanan,, Aksara masih saja menarik tangan Diva. Ada beberapa yang berbisik bisik memuja ketampanan Aksara yang begitu sempurna. Sedangkan Diva semakin jengkel, karena Diva merasa sangat tidak adil. Aksara memakai pakaian sempurna untuk olah raga, sedangkan dirinya ??? hanya memakai kaos dan celana pendek, tanpa make up, tanpa parfum. Bahkan Diva masih tercium aroma masakan.
Diva melirik ke samping, dimana Aksara berjalan menatap ke depan, sangat tampan dan berwibawa. Karena jengkelnya pada Aksara yang sangat tidak adil, tidak memberinya kesempatan untuk berdandan dan berganti terlebih dahulu, dengan segala kekuatannya ia memukul lengan Aksara dengan tangan kanan nya, karena tangan kirinya masih dalam genggaman Aksara.
Aksara terkejut karena Diva memukul nya.
" Ada apa dengan mu ?? " tanya Aksara, karena sebelumnya Diva sudah diam dan mengikuti berlari pelan.
" Kamu tahu, kamu sangat curang. " protes Diva menghentikan lari nya
Sedangkan Aksara tak mengerti maksud pembicaraan Diva pun menyipitkan mata nya.
" Maksudmu ?? " tanya Aksara
" Lihatlah, para wanita begitu mengagumi mu, karena kamu berpenampilan maksimal. Sedangkan aku ???? Aku seperti upik abu yang mengikuti mu, karena kamu tidak mengijinkan aku berganti pakaian dulu tadi. Sekarang lihatlah penampilanku !!sangat acak acakan. Bahkan parfumku pun bau masakan. " cerocos Diva mencium kedua belah ketiaknya memastikan aroma tubuhnya.
Siapa sangka Aksara menarik satu tangan kiri Diva, yang sejak tadi sudah ia pegang.
Cup.......
Diva membulatkan matanya karena terkejut. Di tepi jalan Aksara menciumnya tiba tiba
" Aku tahu kamu cemburu padaku. Jadi biar semua wanita tahu, jika aku suami mu. " ucap Aksara percaya diri
__ADS_1