
Shine menjelaskan pada Sand, kalau ia akan menginap di rumahnya hingga oma Hara tidak
marah lagi dan memberikan restunya, karena Shine tidak mau menikah jika orang tua tidak memberikan restu.
Sand menjadi kesenangan mendengar kalau Shine hendak menginap di rumah, itu menjadi kesempatan bagus untuk bisa bermesraan dengannya.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Shine yang melihat wajah Sand menjadi nakal.
“Aku sangat mendukung rencana ini, seratus persen tidak, seribu persen” ucap Sand senyum nakal.
“Tapi kita harus meminta ijin dulu pada papa dan mommy, pasti mereka juga ingin mendengar penjelasan kita tentang lamaran tadi” minta Shine sedikit menjauh dari Sand.
Sand mengantarkan Shine pulang dan berpamitan pada oma Hara yang masih menutup mulut dan tidak menganggap mereka.
Ternyata papa Drake dan Danira tidak resah, justru sangat bahagia ketika melihat berita Shine yang dilamar Sand. terutama papa Drake, akhirnya keinginannya terwujud untuk memiliki menantu kaya.
“Pa, pasti itu mereka, cepat keluar” ajak Danira.
Shine senang ketika papa Drake dan Danira menyambut kedatangannya. Dia bersiap memeluk papa yang terlihat menghampirinya untuk memberikan pelukan, tapi pelukan itu ditujukan pada calon menantunya, bukan putrinya sendiri.
“Menantuku, selamat datang, aku sudah yakin kalau kamu pasti menjadi menantuku, ayo masuklah, bira mbok Janem menyiapkan makanan, kamu lapar kan?” sambut papa Drake pada Sand dan melupakan Shine.
“Udah, jangan kesal begitu, seperti kamu belum tahu papamu gimana aja, ayo masuk, mbok Janem sedang masak, kita makan bersama sambil menceritakan lamaranmu tadi” ucap Danira menenangkan dengan memeluk Shine.
“Malu jadinya, semua orang tahu, tapi nenek Sand marah pada kami, untuk itu kami datang meminta saran pada kalian” kata Shine sambil berjalan ke ruang makan.
Sand duduk di meja makan bersama papa Drake dan mengakrabkan diri sambil menunggu mbok Janem menyelesaikan masakan. Sementara Shine dan Danira membantu menyelesaikan masakan.
“Nak mantu, kapan pernikahan dengan putriku akan dilangsungkan? Aku merasa terharu melihatmu berlutut dan melamar Shine, aku sangat bangga padamu, kapan kamu datang bersama nyonya Hara untuk membicarakan pestanya? Apa aku saja yang
kerumahmu? Kira-kira nanti kamu memberikan hadiah apa pada papa?” tanya papa Drake bertubi-tubi yang memperlihatkan betapa mata duitannya di depan Sand.
“Papa! Ajak DD sebentar, pasti sudah bangun sekarang” minta Danira karena bertanya yang tidak pantas pada Sand.
Papa Drake masih tidak menghiraukan permintaan Danira, karena masih mau banyak bertanya pada Sand tentang pernikahannya dengan Shine.
__ADS_1
“PA! Papa! Cepatlah lihat DD sebentar saja” teriak Danira seolah memarahi anaknya sendiri.
“Iya, iya, sebentar” jawab papa Drake kesal seperti anak kecil.
Sand membuang napas lega, dia tidak bisa bersikap tidak sopan lagi pada calon mertuanya, dia berusaha menghargai dan menghormatinya.
“Maafkan papanya Shine ya Sand, memang orangnya gitu, bisa mengalahkan sikap emak-emak yang super kepo” kata Danira meminta maaf sambil meletakkan masakan yang sudah siap.
“Tapi Sand mengalahkan aku sebagai putrinya sendiri, malah dia yang dianggap anak oleh papa” sahut Shine yang merasa cemburu pada Sand karena lebih banyak
mendapatkan perhatian dari papa Drake.
“Iya? Berarti aku harus memberikan hadiah spesial untuk papa yang sudah menganggapku anaknya sendiri” canda Sand yang sengaja menyindir Shine.
“Yaudah kamu saja yang menikah dengan papa sana, sepertinya tidak ada yang menganggap dan memberi perhatian padaku” kata Shine ngambek.
“Ada mommy Shine, sini” minta Danira memberikan pelukan pada Shine.
“Sand pasti hanya bercanda, tidak mungkin dia menikahi papa, jika itu terjadi, bagaimana nasib mommy dan DD?” kata Danira melanjutkan candaan.
membahas lamaran Sand pada Shine.
“Ada yang mau aku sampaikan sebelum kalian bertanya terkait lamaran Sand, aku meminta ijin untuk tinggal di rumah Sand tanpa batas waktu” ucap Shine membuka diskusi sambil makan malam.
“Kalian belum menikah, mana boleh tinggal di atap yang sama” tolak Danira.
“Bagus itu, aku mendukung, bagus kan kalau Shine bisa beradaptasi sebelum menjadi nyonya Sandyan, bukan begitu Sand?” kata papa Drake yang berkebalikan dengan Danira.
Danira justru berseteru dengan papa Drake yang tidak sependapat, sedangkan Sand dan Shine hanya melihat sambil makan. Tatapan tertuju pada mereka sambil menyuap makanan seirama.
“Kenapa kalian hanya makan, jelas itu tidak pantas dijalankan, kalian setuju denganku kan?” tanya Danira mencari dukungan.
“Tidak bisa, pasti kalian lebih mendukungku kan?” tanya papa Drake tidak mau mengalah.
“Sebenarnya, oma Hara belum memberikan restu pada kami, karena itu aku berencana untuk membujuknya dengan tinggal di rumahnya yang pastinya kita tidur di kamara terpisah” jelas Shine.
__ADS_1
Secara kompak Danira dan papa Drake berteriak, “Apa! Kenapa bisa begitu?”
“Oma marah pada kami karena tahu dari media bukan dari mulut kami sendiri” ungkap Shine.
Setelah mendengar penjelasan Shine mereka berhenti berdebat dan terdiam. Terlihat memikirkan solusi atas masalah Shine.
*****
Keesokan paginya Shine turun dari mobil di depan rumah oma Hara bersama Sand yang membawa koper, siap berjuang demi restu oma Hara.
Secara bersamaan melangkahkan kaki kanannya memasuki rumah yang terbuka lebar, namun tidak ada seorangpun yang menyambut.
Shine menarik lengan Sand hingga menghentikan langkahnya.
“Tunggu dulu, biarkan aku menenangkan diriku sebelum masuk” minta Shine.
Lagi dan lagi Sand menguatkan Shine, dia percaya bahwa oma Hara pasti akan memberikan restunya.
Tanpa sepengetahuan mereka oma Hara sedang mengawasi secara diam-diam. Melihat kemesraan
Shine dan Sand, secuil es telah mencair di hatinya.
“Kita lihat nanti bagaimana kalian bisa meluluhkan hatiku, seberapa kuat cinta kalian dibandingkan kerasnya hatiku ini, dan bertahan sampai kapan kalian bisa menghadapiku” gumam oma Hara sembari mengawasi layar monitor rekaman dari camera CCTV.
Oma Hara sudah memperkirakan kedatangan Shine yang berencana akan mendapatkan restunya, oleh karena itu, dia menyuruh seluruh pelayan di rumahnya tidak boleh menyambut dan menganggap kedatangan Shine walaupun sudah kenal dengannya.
“Pasti oma ada di kamarnya, kita harus menemuinya dulu untuk meminta ijin, bagaimanapun ia terhadapku, pasti oma masih ingin dihormati” kata Shine yang sudah terlihat tenang namun yang sebenarnya pikirannya kemana-mana dan detak jantungnya tak berirama seperti normalnya.
Mereka mendatangi kamar oma Hara, benar saja ia duduk santai dekat balkon sambil membaca buku.
“Oma aku membawa Shine kemari untuk tinggal di sini, aku hanya memberi tahu oma, jika oma tidak mengijinkan dan tidak berkenan, Shine tetap akan tinggal di sini, kami pasti akan mendapatkan restu oma, ayo Shine pergi ke kamarmu yang sudah aku siapkan” ajak Sand karena oma masih tidak menganggap adanya Sand yang membawa Shine.
Setelah Shine dan Sand meninggalkan kamarnya, oma membuang napas karena tidak perlu berakting lagi di hadapan mereka.
“Tunggu saja balasan dariku yang sudah tua renta dan tidak kalian anggap ini” ucap oma Hara yang masih kesal dengan Shine dan Sand.
__ADS_1