AKU AKAN MENYEMBUHKANMU

AKU AKAN MENYEMBUHKANMU
PART 33


__ADS_3

Shine merasa bosan karena tidak ada yang dilakukan, di rumah oma Hara sangat sepi, pelayan-pelayan yang dulunya dibekerjakan belum kembali, sedangkan rumahnya sangat luas.


Shine memutuskan untuk berkeliling rumah, berjalan kaki hitung-hitung pengganti olah raga.


“Tuan muda, anda masih disini, apakah anda tidak capek membaca buku terus ?” tanya Shine mengganggu tuan muda Sand.


“Tidak” jawab Sand singkat.


“Tuan muda buku apa yang sedang anda baca ?” tanya Shine lagi.


“Diam” ucap Sand menyebutkan judul buku.


“Oke, oke saya diam” kata Shine, duduk di sebelah Sand.


“Pergi sana, ganggu saja” kata Sand mengusir.


“Gimana sih tuan muda ini, tadi bilang diam, ya saya diam, tapi malah mengusirku” ucap Shine salah paham.


“Aku tidak menyuruhmubdiam, aku menjawab pertanyaanmu” jawab Sand menjelaskan.


“Pertanyaan yang mana ?” tanya Shine makin bingung.


“Kamu lola banget ya ternyata, udah sana pergi, jangan ganggu !” kata Sand mengusir lagi.


“Katanya kita udah temenan, kok jutek gitu sih ?” ucap Shine menggoda.


“Itu dulu, sekarang udah nggak” kata Sand kasar.


“Jahat banget, maaf deh udah gannggu, enaknya makan apa ya siang-siang gini, pesen pizza kali ya ?” ucap Shine memancing Sand.


“Aku mau satu kotak” kata Sand tiba-tiba.


“Aku kan cuma bergagasan, belum tentu pesen pizza beneran” kata Shine memulai pertikaian.


“Yaudah, makan aja sana gagasanmu” kata Sand emosi.


“Idih marah, ntar gantengnya ilang lho tuan muda ?” ucap Shine mengejek.


“Dasar tikus kecil, mau kemana kamu awas tertangkap” kata Sand marah sambil mengejar Shine yang kabur.


Mereka kejar-kejaran, seperti kucing menangkap tikus, dari ruang tamu ke ruang makan, masuk ke dapur, kembali lagi keruang tamu, hingga keluar rumah sampai di halaman belakang yang luas. Akhirnya Sand berhasil menangkap Shine.


“Ampun, ampun tuan muda, janji tidak akan mengulanginya” ucap Shine memohon ampun.


Mereka kelelahan main kejar-kejaran, lalu berbaring diatas rumput, dibawah pohon rindang.

__ADS_1


“Huh..heh, huh,” suara membuang nafas Sand dan Shine.


“Tuan muda capek ya ?” tanya Shine.


“Iya, capek banget, larimu cepat banget” kata Sand ngos-ngosan.


“Tuan muda, lihatlah awanya begitu indah, langitnya sangat biru, coba anda amati, apa yang anda rasakan ?” tanya Shine.


“Rasanya, aku sangat kecil” jawab Sand.


“Tapi anda tidak boleh berkecil hati, saat anda merasa terpuruk, atau tertekan ingatlah betapa luas langit biru yang sedang kita pandang saat ini” kata Shine menanggapi.


Sand hanya terdiam, meresapi perkataan Shine yang berbaring di sampingnya. Saat melihat langit biru yang di pandangnya, ada awan putih seperti bayangan dokter Rara yang sedang tersenyum, sangat indah, tapi hilang tertiup angin. Seketika Sand tersadar dari lamunannya.


“Apakah kamu mengenal Rara ?” tanya Sand tiba-tiba.


“Yang saya tahu dia calon istri tuan muda” jawab Shine.


“Dia wanita pertama yang kucintai setelah ibuku” kata Sand singkat.


“Apakah boleh, saya mendengar cerita anda tentang Rara ?” tanya Shine.


“Saat aku melihatnya, seakan-akan aku melihat ibuku yang sudah lama meninggal, nyaman, nyaman sekali, saat di pelukannya, aku merasakan pelukan ibuku, aku sangat mencintainya, walaupun kau tahu kalau dia…” ucap Sand terputus.


“Kalau dia sudah menikah” kata Shine meneruskan ucapan Sand.


“Oma yang memberitahuku, oma berusaha keras mencari Rara untuk anda, saya harap anda tidak membenci oma lagi, dia satu-satunya keluarga anda, dan oma sangat menyayangi anda” kata Shine mengingatkan.


“Ya aku tahu, aku akan berusaha juga untuk selalu menghormati dan menjaga oma” ucap Sand bangkit dari tidurnya.


“Tuan muda anda mau kemana ?” tanya Shine cepat.


“Makan pizza” kata Sand meninggalkan Shine.


“Kapan anda memesannya ?, tunggu aku tuan muda !” teriak Shine mengejar Sand.


Mereka makan pizza bersama.


*****


Oma Hara sudah pulang dari kantor, Shine menyambutnya.


“Gimana Shine, kamu sudah berhasil menemui Rara ?” tanya oma Hara sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


“Belum oma, saat saya ke sana nona Rara tidak ada di rumah, menurut tetangganya, senin beru kembali, saya sudah meniitipkan kartu nama saya” kata Shine membuntuti oma Hara.

__ADS_1


“Coba kamu cari informasi lebih banyak lagi, saya tidak mau mengecewakan Sand” ucap oma Hara.


“Baik oma, saya akan berusaha keras” kata Shine.


Shine mencari Big Team, yang kini bekerja ketika dibutuhkan oma Hara atau mengawal Sand saat pergi keluar. Mereka juga tinggal di rumah oma Hara, menempati rumah kecil di dekat gerbang depan.


“Halo, Big Team” sapa Shine.


“Eh ada tikus kecil, ada apa mencari kami kesini ?" tanya Big Two yang suka bercanda.


“Aku meminta bantuan kalian untuk mencari informasi lebih banyak lagi tentang calon istri tuan muda, kalo bisa besok harus dapet, oma Hara yang minta” ucap Shine menyampaikan pesan.


“Oke, siap laksanakan !” kata Big Two.


Pencarian dokter Rara dimulai kembali, sesuai perintah oma Hara.


“Saya bersama Big Two ke rumah dokter Rara, kalian berempat cari informasi tentang suaminya” ucap Shine memberi perintah.


“Kenapa hanya Big Two ?, aku juga mau ikut Tiki (tikus kecil) !” kata Big Three.


“Oke kalian berdua ikut saya, tapi jangan pakai ginian dong, kesannya menakutkan, ganti yang lebih santai gitu…” ucap Shine.


Shine kembali ke alamat rumah dokter Rara bersama Big Two yang enak diajak bicara dan Big Three yang memilih ikut Shine. Big One dan anggota lainnya mencari informasi suami dokter Rara.


“Permisi !, permisi ! tidak ada jawaban rumahnya juga masih tertutup, permisi !” teriak Shine di depan rumah dokter Rara.


Terlihat banyak tetangganya, berkumpul di ujung jalan hendak pergi bersama.


“Tiki, lihat, ada banyak orang di sana, coba tanya kesana ?” ucap Big Three.


“Tiki, aku saja yang kesana tanya” minta Big Two.


“Permisi, bapak…ibu, saya mau bertanya, apakah kalian tahu ibu Rara ?, soalnya kami kesana rumahnya tutup terkunci” tanya Big Two.


Salah seorang berteriak untuk cepat naik mobil kerena akan segera berangkat.


“Masnya kebetulan, kita mau pergi kondangan ke rumah ibunya bu Rara, kalau masnya mau bertemu bu Rara, pasti dia di sana”, ucap salah satu tetangga dokter Rara.


“Iya, mas, ikuti mobil kami saja” ucap ibu-ibu tetangga dokter Rara.


“Tiki, katanya, mereka mau kondangan ke rumah orangtua dokter Rara, kita disuruh ngikutin mobilnya” kata Big Two habis lari.


“Kalo gitu ayo cepat ikuti mobilnya !” kata Shine bergegas.


Mereka menempuh jarak tidak begitu jauh, hanya setengah jam perjalanan. Disana ramai, banyak orang datang dan pergi. Ternyata pesta pernikahan adik dokter Rara.

__ADS_1


“Di sini banyak sekali orang, gimana kita bisa bertemu dengan dokter Rara ?” tanya Shine pada Big Two dan Big Three.


__ADS_2