
“DD, kamu masih sangat kecil, jangan cepat besar ya, menjadi orang dewasa sangatlah rumit, lihatlah kakakmu ini, jika menerima lamaran Ben, aku tidak punya perasaan sama sekali padanya, walaupun dia orang yang sangat baik, bertanggung jawab, pengertian, sangat cocok sekali untuk dijadikan suami, tapi ada orang lain yang aku tidak tahu perasaan apa terhadapnya, merasa nyaman di dekatnya, merasa cemburu jika dekat dengan wanita lain, merasa jengkel saat tidak diperhatikan, tapi dia tidak cocok sama sekali denganku, aku harus gimana? Aku harus pilih yang mana? DD bangun jawab kakak” curhat Shine pada adiknya yang masih bayi sambil memegangi tangan mungil menggemaskan.
“Yang kedua, itulah cinta” sahut Danira yang sedari tadi mendengarkan curhatannya pada DD.
“Mom!, sudah dari tadi kamu berdiri di sana?” tanya Shine kaget.
“Aku tahu orang kedua yang kamu maksud tadi, pasti bos kamu? Ngaku saja” tanya Danira memastikan.
Shine menganggukkan kepalanya.
Danira mengajak duduk Shine, berbicara secara intensif.
“Jujurlah pada perasaanmu sendiri Shine, lupakan latar belakangnya, tanya hatimu yang terdalam, apakah kamu benar-benar memiliki perasaan spesial padanya” arahan Danira sebagai sesama wanita.
“Jika aku bertemu dengan, dia sebagai Ben, aku akan langsung menerima lamarannya” ucap Shine mengaku.
“Terlepas dari keluarganya, pekerjaannya, gaya hidupnya dan lingkungannya, kamu mencintainya?” tanya Danira memastikan lagi.
“Aku tidak bisa jauh darinya, aku selalu peduli padanya, aku sangat nyaman di dekatnya, dan aku sangat menyukainya” teriak Shine sudah sangat yakin pada perasaannya.
“Tunggu apa lagi, hubungi dia dan nyatakan cintamu” suruh Danira.
Shine sudah sangat bersemangat untuk menyatakan cintanya pada Sand, tapi dia teringat kalau Shine sendiri yang membantu mempersiapkan pernikahannya dengan Sarah.
“Tapi, tapi, tapi dia akan menikahi wanita pilihan Omanya” tangis Shine pecah.
“APA!” teriak Danira kaget, “Shine, berhenti menangis, ini masalah yang sangat serius, tatap wajahku!” memegang bahu Shine dan menatapnya.
“Akulah yang memaksa untuk menerima perjodohan dari Omanya” ucap Shine sambil menangis.
“Lupakan cintamu dan terima lamaran Ben saja, aku sudah tidak tahu lagi jalan pikiranmu Shine!” ucap Danira kecewa.
“Mom, aku harus gimana? Bantu aku mom, aku sudah memahami perasaanku dan sekarang, haruskah aku menerima lamaran dari laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai, mom” kata Shine terus menangis.
“Renungkan di kamarmu, tangisanmu mengganggu DD” usir Danira.
Shine hanya menurut pada Danira, dia pergi ke kamarnya merenungi keputusan yang harus diambil.
Danira sengaja melalukan itu pada Shine, agar merenungi kesalahan yang ia perbuat. Dan juga demi kebaikan Shine sendiri. Kalau memang sudah waktunya ia mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam sudah. Karena Danira sudah tahu sejak awal kalau Shine memang memiliki perasaan cinta pada Sand, tapi tidak mau membuka pintu hantinya.
Shine dihadapkan pilihan sangat berat, menerima lamaran Ben, atau memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Mondar-mandir berpikir dengan keras, sambil rebahan, berguling-guling di kasur, duduk dipojokan, berpindah lagi hingga ia tidak bisa tertidur.
Hari mulai terang, dan Shine belum mendapatkan jawaban.
“Shine bangun, sarapannya sudah siap” teriak Danira di depan kamar Shine.
“Hah, sudah pagi, aku belum dapat jawaban, bagaimana ini” ucap Shine panik.
Ting
“Shine, bagaimana? Apakah kamu bersedia menemui orang tuaku?” pesan Ben lewat HP.
Shine membuang HP nya, saat sekilas melihat mendapat pesan baru dari Ben.
Seharian Shine tidak keluar kamar, dia masih memikirkan jawaban yang harus ia pilih, hingga HP nya mati.
Ben yang tak kunjung mendapat balasan dari Shine, dia berkali-kali menelepon nya, tapi tidak ada jawaban juga dari Shine.
Ben nekat menemui Shine ke rumahnya.
“Shine, keluarlah, ada Ben di bawah!” panggil Danira.
“Dia kesini, mencariku, aku harus bersembunyi, tidak-tidak aku harus kabur sekarang juga, itu hal konyol, aku harus apa?” ucap Shine seperti orang gila, mengacak-acak rambutnya, wajahnya terlihat seperti panda karena tidak bisa tidur semalaman, dan belum mandi, bisa bayangkan keadaan Shine.
“Shine, apasih yang kamu lakukan, keluarlah, Ben sudah menunggumu!” panggil Danira lagi.
Bayangan Shine hilang seketika.
“Ya mom, aku akan segera keluar” jawab Shine sudah tersadar.
Mau tidak mau Shine harus menemui Ben di bawah, dia merapikan rambutnya dan membasuh muka dan berganti pakaian terus turun ke bawah.
“Ben, maaf menunggu lama, ada apa sampai menemuiku ke sini?” tanya Shine seakan tidak terjadi apa-apa.
Karena hari itu weekend, jadi semua berkumpul di ruang tamu. Papa Drake dan Danira memperhatikan Ben dan juga Shine.
Ben mengkode Shine agar menyuruh papa Drake dan Danira meninggalkan mereka berdua.
“Pa, mom, bisakan kalian pergi dulu, ini urusan anak muda” usir Shine pada papa dan mommynya.
“Aku juga masih muda kali Shine, berarti aku boleh gabung dong” canda Danira.
__ADS_1
“Apaan sih mom, aku juga masih muda lho, kita mengalah saja, yuk ke belakang” ajak papa Drake pada Danira.
“Shine, bagaimana permintaanku kemarin? Apakah kamu bersedia?” tanya Ben langsung ke intinya.
“Kapan aku harus bersiap?” tanya Shine balik.
“Sekarang juga mereka sudah siap, jika kamu mau, aku akan mengantarkanmu pada mereka” ucap Ben sangat senang.
“Aku akan bersiap sebentar, gak papa kan?” tanya Shine menahan kegugupannya.
Shine berjalan setengah berlari menuju ke kamarnya, menutup pintu dengan keras. Meluapkan kegugupannya, loncat-loncat, berteriak-teriak tidak jelas.
“Shine, tenang, anggap saja bersilaturahmi, it’s okay, come on, deep breath, fiuh” ucap Shine menenangkan diri.
Shine berdandan seperti biasa, tidak berlebihan.
“Ayo Ben, aku sudah siap, pa, mom, aku pergi dulu” kata Shine berpamitan.
Selama perjalanan, Shine hanya diam, dan Ben tidak berani mengajaknya bicara, hingga sampai di rumah Ben.
“Masuklah Shine, akan aku panggilkan mereka dulu!” kata Ben sangat bersemangat.
Shine duduk sambil melihat sekelilingnya.
“Nak Shine, ibun sudah membuat masakan yang kamu suka, ayo makan dulu” ajak ibu Ben
Ibunya Ben menyambut Shine dengan sangat ramah, ia sudah menganggap Shine sebagai anaknya sendiri, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Iya, tante” jawab Shine menurut.
“Ayo, Shine duduklah di sini, anggap saja seperti rumahmu sendiri” kata Ben sangat
perhatian, menarikkan kursi untuk Shine.
“Saya ayahnya Ben, duduk nak” ucap ayah Ben mempersilahkan.
“Iya om” kata Shine tidak tahu harus berbuat apa.
“Tidak usah tante, saya akan ambil sendiri” sahut Shine pada ibunya Ben yang mengambilkan makanan untuk Shine.
“Biar aku aja bun, pasti kamu suka ini kan Shine” ucap Ben mengambilkan nasi dan lauk di piring Shine.
__ADS_1
“Panggil saja Ibun ya Shine, Aku sudah lama mendengar tentangmu dari Ben, baru sekarang bisa bertemu ya Shine, ayo dicicipi masakan ibun, semoga cocok sesuai seleramu” ucap ibunya Ben begitu lembut.